Senin, 04 Mei 2015

I Can’t Promise

I Can’t Promise
Haezal Virtan


Aku bahkan ingin terus menangis,
Salah kah jika aku egois?
Aku akan berubah…
Jadi, pergi lah.
Dan mungkin, berubah tidak seperti yang kalian kenal seperti dulu.


“Maaf ya, aku harus pergi.”

“ Kamu harus nurut sama mama!” Wanita cantik ini berkata dengan nada tinggi. Mata nya berlinangan kesedihan, beliau berkata tegar… Tapi mata nya tak mampu bohongi  anak remaja di depan nya. Sudah 16 tahun lama nya, aku bersama nya. Ya, dia mama ku. Wanita yang paling ingin ku sayangi… Kapan pun itu. Tapi…

“Aku gak mau, kenapa harus!?” Ucap ku, suara ku lirih bertolak belaka dengan nada suara nya. Aku tak mampu menahan gemetar hati ku saat ini. “Dengerin mama, jangan kamu jadi anak yang gak penurut seperti ini…” Usaha mama membiarkan ku duduk kembali ketika ku ingin pergi. Beliau memegang pergelangan ku. “Untuk apa? Untuk apa aku mendengarkan mama saat ini? Mama hanya sedang kacau. Ezal gak mau dengerin mama yang kayak gini.” Aku tak mau duduk, enggan untuk ku mendengar kata-kata mama sekarang. Mama pun melepas pergelangan ku. “Terus mau mu apa?” Tanya mama menghapus air mata nya. “Bisa gak sih, kita gak omongin orang itu lagi?” Pinta ku.
Plakk.
Mama menampar ku. “Apa-apaan kamu Haezal!?” nada nya marah. “Aku gak mau, mama terus mikirin orang kayak gitu! Aku sayang mama! Ezal gak mau mama terluka karna orang itu!” Jelas ku. “ Dasar tak sopan! Siapa yang mengajari mu seperti itu hah? Kenapa kau menyebut papa mu sendiri dengan orang itu!?” Ucap mama lebih tinggi dari ku. “Siapa yang peduli. Aku hanya ingin membuat mama senang… Apa salah?” Lukas ku lagi. “Kalau begitu, pergi lah dari hidup mama!”


“Begitu kah?”
“Ya, jangan kembali lagi… Kamu Cuma beban untuk mama.” Suara nya, seperti takut mengutarakan kata-kata itu kembali.
“Jangan bohong ma? Apa salah Ezal? Kenapa harus seperti ini? Udah lupakan orang itu… Kita bisa hidup tanpa dia. Bukan kah sudah 5 tahun mama dan aku hidup tanpa orang itu? Kita bisa ma, kenapa mama harus memikirkan orang yang pernah meninggalkan kita?” Terlalu banyak pertanyaan yang tak adil di kepala ku. Ya, kenapa harus begini…

Sudah malam. Aku duduk di halaman depan. Lebih baik aku di hukum seperti ini, di bandingkan tinggal bersama orang itu. Apa aku salah?
Tiba-tiba ada pesan dari Thasya.
“Zal…” pesan nya yang sangat singkat. Thasya adalah sahabat ku dari aku duduk di bangku kelas 5 SD. Tapi semenjak kelas 8 ia pindah  tempat tinggal. “Ada apa Sya?” Balas ku.
Beberapa menit kemudian aku mendapat kan balasan nya “Kata mama kamu, kamu tidur di rumah Grand-ma aja”
“Aku gak mau Sya.” Tolak ku. “Ih, dasar anak bandel… Jangan kayak gitu, nurut gih!” Kayak nya dia kesal.
“Tolong mengertilah…”.” Maksud nya? Udah nurut aja,”

Setelah beberapa jam mengakhiri percakapan ku dengan Thasya, aku pun pergi ke rumah Grand-ma, nenek dari papa. Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Di rumah Grand-ma saat itu sangatlah sepi. Mungkin karna semua sudah terlelap. Aku pun tidur di ruang tamu, sesungguh nya… Masih ada ruangan untuk ku tiduri. Tapi, aku pergi ke sini bukanlah keinganan ku. Ya, aku malas ke sini… Karna Grand-ma pasti akan memarahi ku dan membicarakan orang itu lagi.

“Zal! Ezal!!!” Suara Dorez yang terdengar.  Suara itu membangunkan ku layak nya alarm pagi. “Hm? Apa sih?” Gumam ku setengah sadar. “Kamu sejak kapan ada disini?” Dorez adalah saudara ku, ya… Aku tahu nama nya sangat tergolong unik. Dorezexen Augentius. “Jangan ganggu tidur ku, aku baru tidur jam 5 tadi…” ucap ku, tidak ingin di ganggu. “Dasar! Ngapain aja kamu baru tidur jam segitu!!” Dia pun duduk di sofa yang aku tiduri. “Terserah kamu aja deh.” Ucap ku menggulung diri dalam selimut. “Kak Ezallll!!!!!!!” Teriak suara anak kecil di telinga ku. “Astaga! Dorlint!? Apa yang kamu lakukan? Sakit telinga kakak.” Ucap ku langsung bangun karna suara nyaring nya. “Bangun, udah pagi.” Ucap nya polos. Anak kecil itu adalah adik Dorez, namanya juga tidak kalah unik. Dorlint Desemstar. “Nanti telat masuk sekolah” Dorlint memeluk ku sebentar.“Ini udah siang! Jangan tidur mulu dong boss..” Dorez memukul kepala ku. “Kamu juga, jangan pukul kepala ku.” Risih ku.
Oh ya, aku di rumah Grand-ma…
“Aku pulang dulu deh.” Lukas ku bangkit dari sofa. “Mau ngapain pulang dulu?” Dorez pindah tempat duduk, ketika ketika aku berusaha bangun. “Mandi, pakai seragam, terus sekolah.” Ucap ku membalas pertanyaan saudara ku ini. “Ya ellah… Anak kecil di percaya. Kebiasaan nih anak, gak pernah denger kata guru. Woii libur! Ente lupa. Njir, masih muda pikun.” Dorez mengubah posisi duduk nya menjadi santai, dia pun menyalakan TV. “Kayak nya, aku tidur saat guru nerangin deh.” Usaha ku mengingat.
“Kalau kamu di kelas ku saat itu, mati dah kamu… Kalau tidur di kelas.” Dorez bicara, sambil mencari acara TV yang seru. “Guru kamu kan beda sama aku rez.” Ucap ku. “Iya sih, sayang kamu gak sekolah bareng Ime lagi, padahal dia sering banget tuh ngingetin kamu haha. Kalian serasi banget sih.” Dorez akhir nya berhenti di suatu channel swasta yang menampilkan kartun. “Ciee, co cwit…” Dorlint ikut-ikutan dalam pembicaraan. Anak ini, selalu mengikuti kata-kata kakak nya, bahkan kata-kata yang kurang di mengerti dia. “So sweet dek, bukan Co cwitt… Njir kapan ente jadi alay gini?” Dorlint menaiki badan Dorez. “Udah ah, aku mau pulang dulu…” Kata ku. “Hei, Zal… Ini titipan baju dari ibu kamu.” Satu lagi, sepupu ku yang datang menyambut pagi ku. What? Kenapa harus mama menitipkan baju ku? Kalau begini, kapan aku harus pulang…
“Cepat mandi,” ucap pria itu, nama nya Kelvin Habibie dia adalah keponakan dari keluarga mama. “Nanti aja di rumah.” Aku pun menerima baju titipan itu. “Dasar, ibu kamu udah bawain baju malah kamu mandi di rumah. Rumah kamu kan jauh?” Kak Kelvin ikut duduk di sofa, dan menonton TV. “Tau tuh si Ezal, gimana sih… Udah mandi, terus abis mandi kan enak mau ngapain juga.” Dorez menyahut lagi. “Ya, ya terserah deh.”  Aku pun pasrah mengikuti kata- kata mereka.
Habis mandi, aku pun langsung berniat pergi dari rumah ini. Jangan sampai Grand-ma menemui ku. “Zal!!!” Dorez tiba-tiba berlari dari ruang sebrang. “Ada apa lagi!?” Tanya ku. Ya Tuhan, kapan aku bisa pulang? “Kamu di panggil Grand-ma tuh…” Ucap nya. “Shit damn it, udah bilang aja… Aku udah pulang.” Kenapa malah aku jadi ketemu Grand-ma. “Kagak bisa b*go, si Dorlint udah ngasih tau Grand-ma kalo kamu udah selesai mandi. Udah nurut aja gih!” Dorez menarik ku paksa. “Rez please lah… Bilang aku udah pulang.” Pinta ku. “Ogah! Nanti malah aku yang kena omelan Grand-ma…” Tolak nya. Ya Tuhan…
Di kamar Grand-ma. Seperti biasa aku duduk di karpet dan Grand-ma di kursi kayu kesayangan nya. Tatapan beliau sangat mengeringakan hari ini. Sudah pasti di marahi, ya. “Kamu gak ucap salam ke Grand-ma?” Seperti biasa suara nya terdengar angkuh. “Ya, I am sorry gran-ma. Grand-ma, selamat pagi.” Turut ku. “Kamu tau kenapa Grand-ma menyuruh kamu kesini?” Tanya nya. Aku menggeleng pelan. Sebuah tata krama untuk Grand-ma, ketika pada saat Grand-ma berbicara pada mu di ruangan nya, dan hanya kalian berdua. Jangan mencoba untuk mendongakkan kepala mu atau melihat nya, kau harus menundukkan kepala mu. Apabila Grand-ma sudah tidak melarang, kau boleh melihat wajah nya. “Kamu tau kenapa kamu di suruh menginap di rumah ini?” Tanya nya lagi. “Tidak tahu..” Ucap ku, pelan. “Karna mama kamu, gak mau lagi urus kamu.” Kata demi kata ia pertegaskan, apa maksud nya itu? Aku kesal, tapi itu memang yang mama inginkan tidak ingin melihat ku. Aku tak mau seperti itu. “Kamu tahu kenapa?”. “Karna Ezal sudah jadi anak yang jahat… Karna Ezal gak pernah buat mama bahagia.” Jawab ku. Grand-ma terdiam untuk beberapa menit. “Kamu mulai sekarang tinggal disini. Nanti pulang bawa baju-baju mu. Nanti sisa nya Grand-ma menyuruh Kelvin yang urusi.” Beliau pun angkat bicara lagi. “Tapi… Tapi Grand-ma, kenapa harus begitu? Ezal masih betah di rumah Ezal. Ezal janji akan berubah jadi anak baik. Jangan pisahin Ezal dengan mama.” Tolak ku, dan memohon pada nya. Aku tak suka arah pembicaraan ini. Kenapa harus?  “Mama kamu yang gak bener jadi seorang ibu, sehingga kamu jadi begini. Dia meninggalkan kamu, karna itu kamu harus tinggal disini.”. “Jangan menilai nya seenak nya! Dia adalah wanita luar biasa yang pernah Ezal lihat! Dia wanita yang hebat, yang selalu bersabar menghadapi masalah… Dia wanita hebat yang terus menerima Ezal. Walau dia tahu Haezal Virtan ini adalah anak yang jahat dan tidak pernah bisa membalas jasa nya…” Aku pun berdiri dari posisi ku. Aku tak suka ini semua. Jangan seenak nya menilai wanita yang paliing aku hormati. Plakk Grand-ma memukul kepala ku dengan tongkat. “Kau bodoh! Dasar anak bodoh!  Tolong kamu pikir! Mama kamu sudah meninggalkan mu! Bukan kah dia memang wanita yang jahat!”. “Siapa yang jahat!? Siapa yang sebenar nya bisa berpikir? Bukan kah papa yang meninggalkan keluarga Ezal? Bukan kah orang itu yang pergi begitu saja!? Bukan nya dia yang selalu membuat mama menderita!? Siapa yang membuat mama selalu mendapatkan ejekkan dan hinaan dari orang-orang? Dan siapa yang kembali seakan-akan dia tidak bersalah!” Bentak ku, aku kesal… Sangat kesal, entah kenapa pada saat itu aku tak bisa kendalikan emosi. Ya, pasti sudah jelas… Aku tak suka mereka menghina mama.“Duduk!!!” Teriak Grand-ma kesal. Aku tetap berdiri, dan menudukkan kepala ku. Aku tak biasa nya, membentak orang tua. Aku biasa nya sering diam apabila Grand-ma memarahi ku. Apa karna sekarang aku sudah muak dengan lontaran kata-kata penghujat yang jelas itu terbalik belaka dengan keadaan mama. “Duduk kembali!!” Grand-ma kembali berteriak. Aku harus pergi… Ya, aku ingin kembali dan memohon kepada mama untuk menerima Ezal. Ya, tapi kenapa hati ku sesakit ini? Kenapa aku tak bisa bergerak? “Haezal Virtan!!” Grand-ma memukul kaki ku keras-keras dengan tongkat nya itu. “Ugh…” rintih ku. “Kumohon, jangan menyuruh Ezal untuk tinggal sama papa…”. Grand-ma tidak mendengarkan ku, selalu begitu. Ia memukul ku terus dan terus.
Sore nya. Berjam-jam aku di marahi Grand-ma. Dan akhir nya, aku memutuskan untuk kembali pulang. Di jalan, aku bertemu Ime. “Ezal, apa kabar?” Sahut nya. “Hm, ada apa Ime?” Tanya ku, tanpa melirih nya. “Kamu punya masalah?” Tanya nya khawatir. “Aku mau pulang sekarang keburu malam.” Kata ku. “Begitu ya, ya sudah… Aku gak mau mengganggu mu. Semoga cepat selesai ya… Oh ya, ini Hand-phone mu, mama mu menitipkan nya pada ku.” Ime pun memberikan ponsel ku. “Trims Ime, maaf gak bisa lama.” Ujar ku. “No problem Ezal…” Dia tetap tersenyum untukku, walau pun sebagai sahabat aku menyembunyikan masalah ku kepada nya. Terimakasih, kau memahami keadaan ku.
Karna kemarin aku datang kerumah Grand-ma hanya membawa sedikit uang yang sudah ada di saku ku. Sore ini, aku harus jalan menuju rumah. Tak masalah, jika aku harus berjalan pulang. Ya, walau aku tahu jarak rumah ku cukup jauh dari rumah Grand-ma. Tapi, masalah nya, hari ini kaki ku sedang sakit karna tongkat Grand-ma. “Ya Tuhan, baru juga sembuh kaki ku, hm… Kasian kaki ku.” Ucap ku kepada diri sendiri. Aku beristirahat sejenak di sebuah halte. Capek. Aku pun mengirimkan pesan kepada mama, meminta nya untuk menjemputku. Kaki ku seperti nya sudah tak sanggup lagi berjalan. “Ya, tunggu ya… Nanti di jemput.” Balas beliau. Aku pun menunggu, sambil iseng aku meng-sms teman ku. Waktu pun berjalan, entah kenapa mama lama sekali… Apakah, memang sibuk kerja ya? Ya sudah, Aku tunggu saja.
Tak terasa… Adzan magrib berkumandang. Seperti nya jam 6. Mama sibuk sekali seperti nya. Aku pun mencoba untuk melihat ponsel ku. Ya Tuhan, ponsel ku kehabisan baterai. Tin-tin, klakson motor di depan ku. Siapa itu? “Zal!” sahut nya, ia pun membuka kaca helm nya. “Kak Kelvin, ada apa?” Tanya ku. Dia pun turun dari motor nya. “Nih pake helm ini.” Kak Kelvin menyuruh ku memakai helm yang ia beri. “Gak ah kak, makasih. Aku lagi nunggu mama. Lagi pula, Ezal mau pulang.” Tolak ku. “Astaghfirrullah, jadi dari tadi kamu nunggu mama kamu?” Tanya nya. “Gak kok, paling sebentar lagi.” Jelas ku. “Udah ikut kakak, kakak kesini tadi nya disuruh check kamu masih ada tau enggak di halte. Sekarang sekalian kakak antar pulang kerumah ya. Tadi mama kamu sms kalau dia gak sempet jemput ada masalah dadakan di kantor nya. Mama kamu udah sms kamu kata nya, tapi gak di bales.” Jelas kak Kelvin. “Oh begitu ya, Handphone Ezal mati kak. Kakak gak masalah antar Ezal pulang? Ezal minta ongkos aja, nanti Ezal pulang sendiri. Besok nanti Ezal ganti.”.“ Kamu tuh ya, kebetulan aku juga lewat sini, ya jadi sekalian jemput kamu aja. Ngapain sih naik angkutan umum,orang ada kakak… Ngapain juga repot-repot.”. “Ya, sudah deh. Trims kak.”
Kami pun sampai. Hari ini melelahkan. “Udah lama kakak gak kerumah kamu Zal” Kak Kelvin pun duduk di bangku meja makan. “Iya kak, kakak sih sibuk…” Aku mengambil sebotol air mineral dingin, dan ku tuju kan kepada kak Kelvin. “Hening ya… Kamu gak bosan?” Tanya nya dan meminum air mineral nya. Aku hanya tersenyum tipis. “Kak… Ezal jahat kah?” Tanya ku. Kenapa masalah terus datang tanpa henti? Selalu begini. Bagaimana cara  nya Ezal dan mama dapat hidup bahagia?. Kak Kelvin terdiam sejenak, ia menundukkan kepala nya dan tersenyum miris. “Apa yang Ezal perbuat, seperti nya… Tak ada yang bisa buat mama senang. Ezal kangen senyuman mama, Ezal pengen banget buat mama bahagia kak. Apa kah Ezal adalah anak yang jahat? Sehingga mama sering marah ke Ezal?” Ku kepalkan kedua tangan ku di atas meja makan. “Enggak kok. Ezal anak baik… Kenapa kamu berpikir begitu? Jika memang kamu ngerasa gak jadi anak yang baik. Kalau begitu, mulai dari sekarang kamu dengarkan apa kata mama mu.” Balas nya. “Jika Ezal gak mampu?” Tanya ku lagi. “Bilang aja, Ezal gak bisa. Lagi pula, apa sih keinginan orang tua selain melihat anak nya sukses dan menjadi anak yang penurut? Ketika orang tua memarahi kita, itu berarti ia inginkan yang terbaik untuk anak nya. Ketika orang tua mengarahkan, itu berarti  adalah jalan yang mungkin harus kita tempuh. Sebelum orang tua memutuskan jalan untuk anak nya, ia pasti berpikir sebelum nya.” Kak Kelvin kembali meminum minuman nya. “Apakah Ezal punya banyak dosa ya? Sehingga Ezal selalu mendapatkan cobaan? Apakah Ezal kurang baik…” Aku pun mengambil segelas air mineral. Hati ku sakit, ya Tuhan. “Kamu kena marah lagi? Grand-ma memukul mu kah?” Kini kak Kelvin yang bertanya. “Enggak kok kak,” balas ku. “Yang sabar ya Zal, sebenar nya kakak juga gak suka kalau kamu di marahi terus sama Grand-ma. Padahal kamu juga gak bandel-bandel amat kan. Kenakalan apa sih yang di buat sama Haezal Virtan.” Kak Kelvin bangkit dari kursi dan menaruh botol mineral kedalam kulkas. “Apa yang harus Ezal perbuat? Kenapa seperti nya kehidupan orang lain terlihat lebih indah dari hidup sendiri?” Ucap ku pelan. “Ketika kita punya masalah, pasti kita kan selalu berpikir hidup kita begitu berat… Tapi, jika di bilang ingin kah bertukar hidup dengan orang lain. Pasti kakak akan menjawab ‘Tidak mau’. Karna aku yakin bahwa hidup ku bukan nya buruk karna sekitar atau bahkan diri ku. Hidup ku kan lebih berharga karna diri ini, yang berusaha menghargai dan menjaga kehidupan ini dengan baik.” Kak Kelvin kembali duduk.
“Apa pendapat  kakak menganai papa Ezal?”
Ia terdiam sejenak, mungkin berpikir apa kata-kata yang tepat untuk di ungkapkan kepada anak di depannya ini. “Kakak gak bisa kasih tau semua jawaban kakak. Tapi yang jelas… Semua orang memiliki kekurangan dan kelebihan.Menurut kakak, Papa kamu… Adalah orang yang baik, ramah. Kakak juga kurang tau sih, soal nya jarang ketemu. Tapi seperti nya dia adalha orang yang menyayangi keluarga dan sangat berbakti kepada orang tua.” Jelas nya. “Jika itu di sebut kelebihan. Apa kekurangan nya?” Tanya ku lagi. Ia terdiam lagi dan menatap mata ku. Entahlah, selama ini aku selalu melihat kehidupan dari keluarga papa, tapi aku tak pernah melihat lebih dalam kehidupan dari keluarga mama. Kak Kelvin adalah sepupu ku dari kakak mama. “Udah ah, sudah malam nih… Kakak pulang dulu.” Kak Kelvin bangkit. Alasan nya seperti hanya untuk mengganti topik yang tengah di bahas. “Kakak pulang ya, Zal.“Tambah nya berpamitan. “Kumohon, jawab kak…” Aku tertuunduk. Mungkin… Ia… “Kakak benci kan?” Tanya ku. Beberapa saat terlihat lebih hening di banding kata hening. “Entahlah,” balas nya. “Kumohon, beri aku jawaban sesungguh nya… Aku hanya ingin tahu.” Pinta ku. “Jika kau meminta kejujuran, kakak tidak bisa bohong. Semua orang bertanya hal yang sama pun jawaban ku mungkin kan tetap sama. Ya, aku memang membenci nya.” Jawab nya. Tak ada kata yang mampu keluar lagi dari bibir ku. “Dia memang orang yang baik, orang yang baik sehingga membuat bibi Mariana mencintai nya. Yang membuat bibi pindah agama. Mungkin kakak kesal karna ia merebut mama mu dari keluarga kami. Tapi, yang membuat kakak membencinya adalah… Ia meninggalkan kalian. Meninggalkan bibi, tanpa berpikir kembali… Siapa yang membawa bibi masuk kedunia yang berbeda? Siapa yang membuat permasalahan di keluarga kami? Siapa yang membuat nama baik bibi menjadi tercemar? Siapa yang membuat seorang pria yang sudah tua menjadi sakit dan meninggal dunia karna kehilangan putri yang di sayangi nya!?” Suara nya tak tinggi, namun rasa kesal terdengar jelas. Kak Kelvin sangat menyayangi mama ku, mungkin sebagai keponakkan ia tak mau melihat bibinya terluka dan di sakiti oleh orang yang tak di kenal. “Maafkan kami kak. Maafkan aku,” Ucapku berdiri. Ia hanya terdiam, kenapa? Jika kakak benci kepada keluarga papa, kenapa kakak tinggal di keluarga papa?. “Jika kakak membenci, kenapa kakak mau tinggal di rumah Grand-ma?” Pertanyaan itu pun keluar. “Untuk menjaga mama mu,” balas nya datar. “Begitu kah? “. “Ya, jika kalian melukai lebih dari ini… Aku akan mengambil kembali bibi kedalam keluarga kami. Dan, akan ku usahakan tak kan bertemu lagi. Sehingga bibi tak kan terluka.” Ucap nya. “Apakah kakak membenci ku?” Ku pun memberanikan diri untuk bertanya. Hati ku sakit, bahkan ternyata ada yang membenci papa selain aku. Aku tak tahu, aku memang membenci papa… Tapi, entah kenapa, rasa nya sesak jika mengetahui bahwa ada orang yang membenci nya selain aku. Apa lagi, dari keluarga sendiri. Kak Kelvin pun berjalan menuju pintu. “Jawab aku.” Pinta ku sebelum ia pulang. “Maaf, jawaban kakak adalah ‘iya’.” Ia pun keluar dari rumah. Perlahan air mata ku terjatuh. Sakit, aku benci ini… Kenapa begini? Kenapa seperti ini? Apakah memang… Aku terlalu banyak dosa, sehingga Tuhan menguji ku seperti ini?

                Ya, kakak dari mama sangat menyayangi mama. Yang ku dengar, mama bahkan di usir oleh keluarga nya karna menikah dengan papa. Tapi, bagaimana pun… Begitu besar kasih sayang kakak kepada adik nya. Tak lama kemudian, paman menerima mama lagi. Sudah sewajar nya, jika papa di benci oleh paman. Mungkin seperti, seorang pria mengambil bunga yang indah dari perkarangan seorang petani. Petani itu tak menginjinkan nya, namun pria itu memohon. Dengan berat hati, petani itu pun melepas bunga kesayangan nya. Tapi tak lama kemudian, petani itu mendengar kabar, bahwa bunga kesayangan nya mati begitu saja karna terabaikan. Kak Kelvin dan paman, benar-benar ingin melindungi mama. Mungkin, aku memang pantas untuk di benci juga…

                Mama pulang tengah malam. Aku menunggu nya. Entah kenapa, rasa nya sulit sekali untuk ku tidur. Apakah seorang pria di larang menangis? Ya, aku tak boleh menangis. Jika aku ingin melindungi mama, menjaga mama dan membuat mama jadi senang, aku harus kuat. Semenderita nya diri ini, sehancur nya tubuh ini, atau seterluka nya jiwa ini… Tak ada kata untuk menyerah dan bahkan hingga aku harus terhapus dari muka bumi ini, akan ku lakukan. Untuk nya, kuharap ia tahu itu. Ku harap aku dapat melihat nya tersenyum. Walau hanya sekali…
Kumohon…
                Pagi nya, seperti biasa… Ku siapkan roti panggang untuk sarapan. Dengan rapih aku menggunakan seragam ku. “Pagi,” sapa ku ketika melihat mama juga sudah selesai bersiap-siap dengan dandanan nya. Mama tak merespon ku. “Bagaimana kabar mama? Mama pasti lelah ya, kemarin.” Ku oleskan selai strawberry di roti panggang nya. Mama tetap tidak merespon. “Jika ada yang mama sampaikan atau ada yang mama inginkan, kasih tau Ezal saja ma…” Aku pun menyajikan segelas susu segar dan roti panggang di meja makan. Mama pun duduk di meja makan. Tapi, terlihat enggan menyentuh makanan yang kubuat. Mugkin beliau bingung ingin melakukan apa. Menolak atau menerima nya? . “Mama pasti lelah ya… Ezal akan pergi untuk mama, supaya mama tidak merasa lelah lagi. Supaya mama tidak merasa capek lagi.” Mama terdiam dan melihatku. “Ezal hanya beban selama ini… Supaya mama hidup bahagia, Ezal akan pergi mengikuti perintah mama. Jika Ezal memamang beban… Ezal akan pindah ke papa dan menjadi beban untuk papa. Jika mama memang inginkan Ezal membalas rasa sakit mama, Ezal akan lakukan. Atau mungkin, jika mama memang tak ingin Ezal dengan papa atau mama… Ezal akan pergi dan menghilang.” Aku pun meminum juice yang kubuat tadi. Ini yang mama mau kan? Ku harap, ini adalah pilihan yang terbaik untuk mama. “Kamu sudah hubungi papa kamu Zal?” Tanya mama sambil mencari-cari ponsel nya di tas. “Tenang saja, tadi malam Ezal sudah telepon papa. Ezal sudah merapikan barang-barang Ezal, dan… Nanti sepulang sekolah…” Mata mama berair, mata berkaca-kaca… Jangan seperti ini ma, jangan buat Ezal ragu. “Habis pulang sekolah mama gak bakal liat Ezal lagi, karna papa nanti jemput Ezal.” Aku mencoba menahan air mata ku. Shit! Kenapa aku mampu mengatakan hal-hal seperti ini. “Terimakasih,” ucap mama berdiri dan memelukku. “Jangan seperti ini ma, jangan peluk Ezal.” Ucap ku dan menolak pelukkan nya. “Untuk terakhir kali, Ezal harap… Mama jangan hubungi Ezal, karna Ezal gak mau buat mama sedih lagi. Dan, tolong… Bilang ke Ezal kalau mama benci Ezal. Supaya Ezal yakin, Ezal gak salah mengambil keputusan. And, I wanna say ‘I love you forever mom’.’For give me’. ” Lirih ku. Air mata dari pipi nya perlahan turun, mengikuti liuk wajah nya. “Ya, mama membenci mu. Dan terimakasih kembali.” Ucap nya terisak. “Sudah, Ezal sekolah dulu ya… Mama juga, tuh kan dandanan mama luntur. Cepat cuci muka, nanti telat kerja nya. Seeya” Aku pun melangkah pergi ke sekolah.

Tak ada kata yang bisa au tepati
Karna, aku tak kan tahu…
Apa yang akna terjadi nanti
Akan kah ku ingkari,
Atau ku pegang teguh.
Bukan bermaksud membuang janji
Namun sesungguh nya,
Aku sendiri tak tahu
Apa itu JANJI
Karna dahulu,
Ada seseorang yang berjanji,
Namun itu semua adalah dusta
Yang membuat ku terpuruk.


=END=

2 komentar: