Rasyid Senandar
BAB I
Awal semua
"Apa yang diberikan tuhan, adalah hal yang pantas kita terima"
Anak kecil itu, menangis. Ia menangis sendu. "Maafkan aku, bagi ku... Sesulit apapun hidup ini. Tuhan, pasti akan selalu ada."
Ku ingat, percakapan kami. Dia sedih.
Aku tersenyum melihat nya. Ia tertidur. "Seperti nya, aku terlalu banyak omong"Ucapku. "Baiklah! Akan ku antar kau pulang!"
Aku pun bangkit, dan mengantar nya pulang.
BAB 2
Walau ku tak mengeti apa itu derita
"Terukir semua janji yang ku berikan, ketika ku melihat mu terisak tangis di kesunyiaan kegelapan.
Disanalah, ku memulai memahami mu.
Seperti nya menyakitkan, kehidupan kelam mu itu."
Nama ku, Rasyid Senandar. Kini aku duduk di kelas 11, semester genap. Hidup ku sangat menyenangkan, dengan pengalaman ku di dunia ini. Konyol ku rasa. Tapi, sungguh... Tak ada penderitaan yang sangat berarti yang membuat hidup ku menjadi terpuruk. Kadang menyesal dengan hidup seperti ini. Tapi, setelah ku pikirkan lagi...
HIDUP ITU INDAH!
Ya, indah... Apabila kita menikmati nya. Dan terus berjalan.
Walau ku tak pernah merasakan penderitaan, setidak nya... Aku mengerti itu semua. Dengan...
Mencoba memahami penderitaan orang-orang sekeliling ku.
"Hai Kalya,"Sapa ku. Bocah kecil itu, menatap ku. Kalya Alrifin. Aku ingat sekali, saat-saat ia masih menjadi murid baru disini. Pendiam, dan mencoba menjauh. Tapi, entah kenapa. Setelah ku coba terus mendekati nya, dan menyapa nya... Kini, ia mempedulikan ku.
"Boleh ku duduk disini?"Tanya ku, dengan senyum.
"Memang kenapa?"Tanya nya balik. Ia mengkerutkan kening nya.
Aku pun duduk di kursi kosong di sebelah nya. Dan menaruh tas ku. "Teman sebangku ku pindah sekolah, jadi aku tak memiliki teman untuk di ajak bicara. Bersediakah kau menjadi teman sebangku ku?"Ucap ku menatap nya. Seperti biasa, anak di depan ku ini, memegang kamera nya. Kamera video.
"Jika, aku menolak?"
Dengan wajah polos, ia menjawab. Apa yang ia pikirkan? Dengan mudah nya, ia mengatakan itu. Seakan tak ada beban, setidak nya, ia berpikir sejenak dan sedikit memberikan pertanyaan lagi. "Hei, kenapa begitu?"Tanya ku, dia tampak aneh. Ia berdiri, dan mengambil tas ku. "Pergilah dari tempat ku."Katanya datar, dan menaruh tas ku ke lantai. Ku hanya menatap nya. Apa yang ia pikirkan!?
"Mengusir ku?"Tanya ku. Ia menggeleng, pelan. "Lalu?"Tanya ku lagi. Ia hanya diam. "Jawab aku bung"Ucap ku, yang ku harap mendapatkan penjelasan dari tingkah nya ini. "Kau tak pantas"Ucap nya, sambil berdiri. Dia... Anak yang benar-benar aneh. Anak baru, tetapi mengapa bersikap seperti itu?
"Aku tak pantas untuk mu? Apa maksud mu begitu?"Tanya ku. Ia mengangguk. Angkuh, seperti nya. "Apa yang membuat ku, menjadi terlihat rendah dan tak pantas untuk mu?"Ku malas meranjak dari tempat ini, sebelum mendapatkan jawaban yang logis dari nya.
"Bukan,"bisiknya, ia tertunduk.
Ku terdiam, mencoba menerka perkalimat yang lebih menjelaskan kata-kata yang sebelum nya, ia katakan.
"Bukan kau, tapi aku."Lanjut nya.
Kini, apa maksud nya?
"Bukan kau, tapi aku. Kau terlalu tinggi, sehingga... Aku yang ren..."
Ku bangkit dari kursi. Ku tutup mulut nya, dengan jemari ku. Ia terkejut.
"Hentikan bodoh, jangan lanjutkan itu semua."Ucap ku. Ku mengerti, sekarang. Aku lupa, bahwa ada alasan yang membuat nya menolak ku. Seharus nya, aku tak memancing nya tadi.
Ku pun kembali duduk dan mengambil tas ku yang di samping nya. Ia terdiam, menatap ku.
Ding-Dong. Bel sekolah berbunyi, waktu rehat pun selesai.
"Duduklah"ucap ku pelan, dan membenarkan posisi duduk ku. Menatap White Board di depan. Dia hanya diam. Ku menatap nya. "Hei, sudah masuk cantika. Ayo, duduk"Ku menarik nya untuk duduk di bangku nya.
BAB 3
Selanjut nya
"Tuhan tak pernah membenci umat nya, tuhan kan selalu ada.
Cobaan yang ia berikan adalah salah satu tanda kasih nya.
Agar kau tak pernah melupakan nya."
Hari demi hari berlalu. Hujan turun, ku rasa.
Mata ku terasa mengantuk. Berat rasanya. "Hoam,"Aku menguap, ku benamkan wajah ku ke dalam kedua lengan ku yang saling merangkul satu sama lain.
"Ras, kamu ngapain?"Tanya Kalya.
Akhir nya, bocah kecil ini memulai percakapan duluan. "Apa?"Tanya ku, dengan gaya malas. "Sekarang sedang dalam jam belajar"Ucap nya berbisik. Dia mengguncangkan badan ku, pelan. "Lalu? Baru juga bel masuk. Aku sekarang ingin tidur... Semalam aku bergadang nih"Ku berusaha mencoba untuk lebih membenamkan pikiran ku ke alam mimpi. "Ya, sudah. Aku pindah tempat duduk ya?"Tanya nya, dengan suara yang pelan. "Ya, cantika."Balas ku.
Akhirnya, ku pun terbenam dalam buaian mimpi.
.
.
.
.
.
.
Pertandingan yang sangat sengit, tim favorit ku sedang bertanding. Sepak bola. Permainan ini sangatlah di gemari oleh kalangan pencinta olah raga di negara ku. Indonesia, salah satu negara pecinta bola. Bukan hanya kalangan pria, bahkan wanita pun banyak menyukai nya.
Sekarang, aku sedang ada di stadion sepak bola yang terkenal di Eropa. Sangat meriah! Siapa sangka, aku di bolehkan menonton pertandingan tim favorit ku langsung di negara nya!!!
Ini sungguh menyenangkan, jika bisa berteriak, akan ku beteriak dengan penuh semangat. Konyol seperti nya, tapi apa salah nya mengungkapkan kebahagian itu. Lagi pula, sebelum nya... Orang tua ku melarang ku untuk menonton pertandingan Liga Inggris di Eropa. Apa lagi, tanda-tanda musim liburan sekolah sangatlah jauh. Entah apa yang membuat mereka menjadi lunak begini.
Berbagai macam orang menyeruakan semangat nya. Di ujung stadion lain nya, terdapat bangku sporter tim lawan. Dengan merah yang menyala. Aku pun tak mau kalah, dengan kebanggaan ku sebagai suporter tim biru. Chelsea.
Ku terus berteriak. Untuk mendukung, agar tak kalah dengan suporter lawan. Tim kami pasti menang! Tiba-tiba, ada orang yang menepuk bahu ku. Ku menoleh.
Tak ada orang, yang seperti nya menepuk ku, tadi.
Ku hiraukan, dan kembali mensuport tim kebanggan ku itu. Lagi-lagi, ku merasakan, ada yang menepuk ku. Ku menoleh lagi, tak ada siapa pun. Orang-orang disini, tak ada yang seperti menepuk bahu ku. Mereka terlalu sibuk untuk mendunkung tim nya. "Aneh?"Ucap ku, dan kembali meneruskan kegiatanku tadi.
Lagi-lagi, ada yang menepuk ku. Bahkan, sekarang ia mengguncang bahu ku. Ku hiraukan. Orang ini mengganggu sekali. "How much of score?"Tanya seseorang, di belakang ku. Ku terdiam, dan menatap papan skor yang tertera di ujung lapangan, yang berdiri kokoh. "Rasyid..."Entah kenapa, seperti nya ada yang berbisik di telinga ku. "Rasyid senandar!?"Kini, suara nya semakin kencang. "How with this score?"Tanya orang di belakang ku. Ku menolehkan wajah ku dan...
"RASYID SENANDAR....!!!!!!!"
DRUAKK!
"Hah!? Chelsea 3-0!?"Sentak ku. Aku terkejut, ini mimpi.
Ku melihat sekeliling ku. Anak-anak melihat ku dengan wajah yang tertawa. Oh ya, ini sekolah ya. Jantung ku, masih berdetak kencang karna kaget. Ku lihat, guru Sejarah ku berdiri dengan wajah kesal. Guru Killer, memang menyeramkan. "Eh, pak..."Ucap ku menatap nya. Dia ternyata, yang berteriak dan membuat suara yang keras.
"Apa-apaan kau hah!? Tidur dalam jam pelajaran ku?"Tanya nya dengan wajah kesal.
"Ma-maafkan aku"Ucap ku meminta maaf.
Ini memalukan....
BAB 4
Ungkapan Cinta
"Karna memeiliki hati, manusia menjadi sulit membenci."
Taman, adalah tempat favorit untuk menenangkan hati. Ku pasang Head-Phone ku, mendengarkan musik sang Almarhum King of Pop. Ku melantunkan sedikit liriknya. Aku tak hafal sepenuh nya, lirik lagu yang tengah bermain di telinga ku. Dengan baju kaus hitam dan di selimuti jaket tipis berwarna putih. Ku duduk dibangku taman.
Ku buka tas ransel ku, dan mengambil komik Manga di dalam nya.
Ku membaca nya. Hari Minggu ini, sungguh santai. Ada saat nya, ku memerlukan istirahat di tengah kesibukan sekolah di hari biasa nya. Ya, kurasa... Aku terlalu memaksakan diri. Menjadi ketua OSIS, menjadi Ketua tim basket, anak band di sekolah, les privat, les musik, dan bahkan... Aku mengajar, di salah satu tempat penitipan anak.
Terlalu banyak kegiatan. Kurasa, ada yang harus ku korbankan. Tapi, seperti nya sulit. Karna aku mencintai semua itu, aku yang memilih nya. Semoga tubuh ku ini, kuat. Hah, jadi teringat dengan perkataan ibu ku, yang selalu memarahi ku apabila aku selalu pulang malam. Ia menyuruh ku tuk meng-Cancel semua aktivitas. Dengan ancaman, aku tak kan di ajak jalan-jalan, apabila liburan nanti.
Bagaimana lagi, ini sudah jadi tanggung jawab ku sekarang.
Ku tatap langit biru. Pasti, bocah kecil itu sedang mengamati langit biru ini. Bagi ku, Kalya anak cowok yang aneh. Tapi, menarik. Entah kenapa... Seperti ada bisikan yang membuatku untuk terus bersama. Melindungi nya dan menjaga nya.
Dia membuat ku begini. Ku tersenyum, menatap langit...
"Ya, aku sudah berjanji padanya."Bisik ku dan memejamkan mata ku.
Ku hirup udara yang sejuk ini. Jarangkan, ibu kota dalam keadaan sejuk seperti ini. Tenang.
"Hei!"Sapa seseorang. Terdengar seperti suara perempuan. Ku membukakan mata ku.
"Bintang!!?"Seru ku. Kaget.
Aku pun terjatuh dari, bangku ku. Bangku yang tak punya sandaran di punggung.
"Akhh,"rintih ku. Ku pegang punggung ku yang sakit. "Aduh Rasyid, kamu kenapa sih? Ayo bangun"Ucap Bintang membantu ku tuk bangun. Kepala ku sakit. "Makasih ya,"Ucap ku. "Kamu kotor banget, sini aku bersihin."Bintang pun menepuk pelan bajuku.
Aku pun duduk di bangku taman, dengan nya.
"Kamu kok bisa jatuh gitu sih? Hati-hati dong Ras"Bintang memulai. "Kamu bikin aku kaget, tiba-tiba ada di depan muka aja."Ucap ku, dan menatap nya. "Hihi, abis nya... Aku perhatiin kamu dari jauh lagi sendirian. Ya udah aku deketin kamu yang lagi mendongakkan kepala sambil tutup mata."Dia tersenyum, cantik.
Bintang, dia adalah kawan lama ku. Dulu saat aku sedang di bangku sekolah dasar, ia berada di kelas sebelah. Aku hanya mengenal nya, dari desas-desus sebagian teman kelas ku. Ia cukup populer, wajah nya juga cantik. Bintang juga mengikuti tari ballet, sehingga, tubuh nya tinggi dan langsing.
"Ngomong-ngomong... Kau sedang apa disini?"Tanya ku, ku pandangi ia. Tak bosan-bosan nya, ku memandangi nya. Tapi, sampai sekarang ... Aku masih belum dekat dengan nya.
"Aku? Hm, entahlah. Jalan-jalan mungkin?"Jawab nya, senyum nya kembali ia rekahkan. "Oh begitu, seberapa seringkah kau mengunjungi taman?"Tanya ku lagi. "Aku jarang ke taman. Biasa nya, aku pergi ke mall. Karna teman-teman ku sedang sibuk semua. Ku coba isi waktu luang ku ke taman. Kau sendiri?"Tanya nya balik. "Ketika hari Minggu, aku sering mengunjungi taman ini. Untuk Refeshing."Lukas ku. "Hm, apakah tidak bosan?"Tanya nya. "Tidak sama sekali. Di sini menyenangkan."Jawab ku lagi.
Setelah beberapa lama kami bercakap-cakap, akhir nya... Kami memiliki titik hening. Ya hening. Entah, mengapa.
Angin berhembus dengan sejuk. Daun-daun lepas dari tangkai nya, walau tak semua daun melakukan itu.
"Hm,"suara gumaman yang terdengar dari lawan bicara ku.
Ku menoleh. "Ada apa?"Tanya ku, sebagai respon gumaman nya.
"Sebenar nya, aku ingin membicarakan sesuatu kepada mu."
"Apa itu?"
"Aku... Aku menyukai mu. Mau enggak, kamu jadi pacar aku?"Ia menatap ku serius. Mata nya berbinar. Jantung ku berdetak kencang, ingin ku semburatkan senyuman.
Tapi...
"Maaf, aku gak bisa."Ucap ku, dalam. Senyuman nya, kini hilang. Tampak mata harapan nya, kini memberikan kekecewaan. Kecewa. Sakit sekali.
"Kenapa begitu?"Tanya nya, suara nya bergetar. "Aku gak bisa menerima mu"Jelas ku."Kenapa demikian? Apa karna kau adalah anak populer di sekolah, sehingga aku gak pantes buat kamu!?"Tanya nya lagi. Mata nya berkaca-kaca. "Bukan karna itu"Ku coba menjelaskan. Tapi sulit. "Apa karna orang tua mu!? Kamu takut mereka marah?"Bertubi-tubi pertanyaaan dari Bintang, menghantam wajah ku. Tak ada yang bisa ku jawab, aku takut melukai nya. Takut salah bicara. "Ya, mungkin. Aku takut mereka marah padaku."Ucap ku tertunduk. "Cuma karna itu?"Tanya nya, tak percaya. Aku menggeleng.
"Lalu apa?"Sura nya, semakin terdengar bergetar.
Aku menatap nya, bibir ku terasa kelut.
"Apa alasan mu yang lainnya?"Ia mengkerutkan kening nya. Tampak buliran air mata, sudah siap basahi pipi nya. Aku tak dapat menjawab nya. Ku tundukan kepala ku.
"Aku benci kamu...! Jika kamu takut orang tua kamu marah. Gak perlu kamu baik ke aku. Gak perlu kamu terus berikan senyum mu ke aku. Gak perlu kamu ngasih perhatian kamu, sampai ngantar jemput sekolah. Sampai anak-anak cewek cemburu, di kira kita pacaran! Gak perlu! Jangan buat aku salah paham dengan tingkah mu! Kamu tahu!? Dari kecil, kamu lakukan itu ke aku... Lama-lama aku berpikir, mungkin kamu memiliki rasa yang sama seperti ku. Tapi... Hiks, hiks"Bintang menangis, air mata nya menetes.
"Maaf,"Lirih ku, dan mencoba merangkul nya.Tapi ia menepis ku."Jauhin tangan kamu itu! Aku gak perlu kamu lagi! Aku benci kamu Ras!"Ia berlari sambil menangis.
Aku hanya diam. Dan tertunduk.
Pulang nya, aku berjalan menapak setiap jalan yang beraspal. Lesu, hari ini tidak tampak seperti hari-hari sebelum nya. Aku salah. Hati ku.
Ketika ku berjalan. Ku melihat Kalya. Tadi, aku berniat menyapa nya. Tapi...
Ia bersama Bintang.
Ku terdiam, mengamati mereka.
Seperti nya, Kalya sedang menghiburnya.
"Kamu, jangan melakukan itu lagi."Ucap Kalya, cemas.
"Aku benci dia. Dia jahat, Kalya."Balas Bintang dengan mata yang memerah. "Sudahlah. Sekarang kau pulang. Jangan pikirkan masalah itu lagi. Istirahatlah, sudah malam."Kalya duduk di samping Bintang. "Baiklah, terimakasih ya. Kamu memang baik."Ucap Bintang, dan berdiri. "Hapus air mata mu,"Kalya memeberikan sapu tangan. "Makasih sekali lagi."Bintang menerima sapu tangan dari Kalya.
"Mau ku antar pulang?"Tanya Kalya, dan berdiri.
"Gak usah. Aku bisa pulang sendiri kok"Tolak Bintang.
"Baiklah. Hati-hati ya."Kalya pun tersenyum. "Iya, trims."Bintang mendekati Kalya dan mencium pipi Kalya. Lalu, Bintang pun bergegas pergi dengan senyuman.
"..."
BAB 5
Pertanyaan
"Dunia adalah misteri yang harus di ungkapkan oleh kita.
Perasaan dan hawa nafsu adalah teka-teki yang sulit terpecahkan.
Namun, suatu keesaan nya... Adalah hal yang tak kan pernah terbaca oleh akal sehat manusia."
Esok nya.
Gak bisa tidur. Ah! Ya Tuhan.
Ku duduk di kelas. Rasa nya, gak mau makan. Gak mau ngapa-ngapain. Gak tau apa yang mesti dilakukan.
Berulang kali, ku hembuskan nafas. Bosan, bukan... Perasaan ini bukan bosan. Tapi apa?
"Ah!"Seru ku meregangkan badan. Dan ku pun menatap ke bangku belakang. Yang dimana, Kalya duduk. Ia terdiam. Seperti biasa, bocah kecil itu melihat webcam nya. Ku pun bangkit, dan menghampiri nya.
"Ras, tunggu."Langkah ku terhenti, ku menoleh ke sumber suara. Nesha dan teman-teman nya. "Ada apa?"Tanya ku. Mereka mengelilingi ku. Seperti biasa.
"Aku mau tanya, kamu sama si Bintang. Udah putus ya?"Tanya Nasha. "Apaan sih kalian. Jangan mengada-ada deh."Ucap ku merespon. Kenapa berpikiran begitu?
"Denger-denger, si Bintang selingkuh ya?"Tanya yang lain. "Selingkuh? Maksud nya? Emang nya, dia selingkuh sama siapa?"Jawab ku dengan pertanyaan. Aku tersenyum. Lucu, mereka bicarakan apa sih?
"Selingkuh sama anak yang ada di kelas ini."Lanjut nya. Aku terdiam. "Siapa memang nya?"Tanya ku. "Hm, kamu pasti tahu."Ucap Nasha, dengan senyum. Dan ia menatap ke arah seseorang.
Kalya.
"Udahlah, emang si Bintang gak pantes buat kamu kan? Masih ada cewek yang lebih baik dari dia."Nasha merangkul tangan ku. "Sudahlah, kalian ini kenapa sih?"Aku terheran-heran. "Aku pergi ya. Dah!"Ucap ku berpamitan. Dan melangkah ke Kalya.
Aku mengambil kursi, dan menaruh kursi tersebut dekat dengan Kalya.
"Ada apa?"Tanya Kalya.
Aku terdiam, menatap nya. Hati ku sakit. Ia menatap ku heran. Mungkin, aku memang tampak berbeda. Perasaan ku kacau, hari ini. Ku menutup mata ku.
Ku terdiam sejenak, mengatur nafas ku.
Terasa sakit. Aku kenapa? Kenapa?
Seharus nya, aku bisa melupakan nya. Ini hanya masalah kecil. Tak perlu ku terus pikirkan.
"Ras... Kamu kenapa?"Tanya Kalya sekali lagi. Aku tak merespon.
"Baiklah. Aku pergi, maaf mengganggu."Ucap nya, dan tampak nya ia berdiri. "Tunggu,"Ucap ku menghentikan nya. Ku menggenggam telapak tangan nya. "Ku mohon duduklah."Pinta ku. Seperti nya, ia mulai kembali duduk. Kami terdiam, ku masih menggenggam telapak tangan nya.
Tak sepatah kata pun, ia ucapkan.
Air mata ku terjatuh. Perlahan, aku menangis. Sepertinya benar, aku sakit hati. Ku eratkan genggaman ku. Sakit, rasa yang sebelum nya tak pernah ku rasakan. Aku yang melepaskan nya, aku yang membuat nya menangis. Mengapa aku juga yang merasakan sakit?
"Aku membutuhkan mu. Bisakah kau, nanti pulang sekolah meluangkan waktu mu?"Ucap ku dan mengangkat kepala ku. Menghapus air mata ku. Ia hanya menatap ku, seperti nya takut mengusik ku.
"Baiklah. Aku pergi."Ucap Kalya. "Hei! Jangan begitu. Ini tempat duduk kita kan? Lagi pula, aku kan gak ngusir kamu. Ngapain juga kamu pergi?"Kata ku. Ia pun kembali duduk. Menatap ku sebentar, dan tersenyum. "Baiklah."Dia pun Ia membenamkan wajah nya kedalam kedua tangan nya di atas meja. "Dasar, kau ini."Ku acak-acak rambut nya. "Kau kan suka duduk di tempat orang lain. Jadi, aku tidak tahu kau duduk di sebelah ku."Ucap nya dan menghentikan tangan ku yang mengacak-acak rambutnya. "Maaf. Tapi, bukankah itu hanya saat waktu istirahat saja?"Tanya ku. "Hm, aku baru tahu."Kalya berkata seperti bergumam.
"Mengenai?"
"Ternyata pangeran kecil seperti mu, bisa menangis."Lanjut nya. Aku terdiam, dan tersenyum.
Ya, aku juga.
Bab 6
Bakti Sosial
"Tetap tersenyum bukanlah sebuah perkara, karna itu adalah sebuah pintu.
Menuju kebahagiaan."
Pagi, cerah. Sangat cerah. Rasa nya, ingin ku tersenyum.
"Oi! Ras, ceria sekali kamu hari ini!?"Ucap Bayu, sebagai wakil osis. "Haha, kau berkata seakan aku tak penah ceria saja. Hari ini cerah, jadi kita harus cerah juga!"Celoteh ku. "Kamu gak capek apa, ceria mulu?"Tanya Bayu lagi. "Gak lah... Kenapa mesti capek? Aku bahagia kok, bisa senyum terus. Enjoy aja jalanin hidup."Balas ku dan bersandaran di jembatan. "Kamu ini, aku juga mau tapi... Rasa susah banget."Bayu ikut bersandar. "Hei, jangan mikir susah dulu. Postive thinking lah...! Kamu juga pasti bisa kok."Ku tatap langit biru. Awan indah menghias langit.
Damai juga.
"Kamu kan, anak orang kaya, populer, pinter, jago segala bidang, dan bahkan kamu juga punya wajah yang ganteng. Gimana ngerasain susahlah?"Ucap Bayu dan duduk di tanah. "Cih! Kau ini, apa maksud mu? Ada-ada aja. Aku gak merasa susah, karna aku tak membuat beban menjadi beban."Kata ku menatap nya. "Tetep aja, kalau di lihat-lihat hidup kamu tuh bisa dibilang sempurna!"Respon Bayu. "Sempurna?"
Pletak!
"Agghh!"Rintih ku, ku mengelus kepala ku. Sakit. "Hei! Kalian, jangan malas-malasan lah! Kerja dong!!!"Lili datang dengan marah-marah. Dia adalah sekertaris Osis, dan dia sering memukul kepala ku. "Kau ini, berhenti pukul kepala dong."Protes ku. "Tau tuh! Kamu kan cewek, jangan galak-galak!"Dukung Bayu. "Sudahlah! Kalian, dasar cowok-cowok malas... Kalau kalian kerja yang rajin, aku gak bakal pukul kalian! Ngerti?" Lili berkata, seperti berteriak. Suara nya, lantang sekali. "Baru juga sampai, istirahat dulu sebentarlah. Capek tau,"Bayu menatap Lili. "Iya, kasihan yang lain... Mungkin, mereka juga merasa capek. Kamu juga Lili, lebih baik kita istirahat dulu."Ucap ku. "Kau ini,"Lili pun akhir nya terdiam. "Tuh denger, ketua aja bilang istirahat."Bayu berkata lagi. "Ya sudah, deh."Lili pun pergi. "Dia gak capek apa? Marah-marah mulu?"Bayu kembali menceloteh. "Haha, dia disiplin. Gak mau buang-buang waktu."
Hari ini kami, sedang melakukan kegiatan bakti sosial. Ya, inilah kegiatan rutin setiap bulan nya sejak aku menjadi ketua Osis. Setiap bulan, kami mengumpulkan sumbangan dari sumbangan siswa-siswi, sumbangan dari sekolah... Dan bahkan, kami mencoba mencari dari masyarakat sekitar. Ya syukur nya, perlahan waktu berlalu... Sudah 10 panti asuhan kami berikan sumbangan setiap bulannya. Ini menyenangkan, sangat menyenangkan. Dapat membantu sesama. Kami bekerja keras. Dan, ada yang membuat kami lebih bahagia lagi, yaitu...
"Hei, makan yang perlahan. Nanti tersedak,"Ucap ku. "Iya kak, terimakasih!"Jawab anak kecil itu dengan semangat dan tersenyum.
Ya, ketika mereka ucapkan terimakasih dan tersenyum. Itulah... Yang membuat kami bahagia. Seperti sebuah kerja keras menjadi tak sia-sia.
Dan karna kami, melakukan ini semua. Kami menjadi tahu, arti kehidupan, kerja keras, tolong menolong, kesabaran, ketulusan, dan kebahagiaan. Karna ini semua juga, kami mengetahui masing-masing penderitaan, dan menjadi ingin terus menolong sesama. Mensyukuri hidup, mensyukuri apa yang kita miliki.
Sekarang, waktu makan. Istirahat untuk kami sudah berlalu satu jam yang lalu. Sekarang kami tengah sibuk, dengan kegiatan memberikan anak-anak makanan.
Alhamdulillah, makanan yang kami berikan 4 sehat 5 sempurna. Semoga, mereka menyukai nya.
"Ras, kesini sebentar!"Panggil Lili. "Ya, ada apa?"Sahut ku, dan mendekati nya. "Di sini, ada satu anak yang tak hadir dalam acara."Lili berbicara sambil melihat data di tangan nya. "Maksud nya?"Tanya ku. "Lihat, disini... Satu anak yang tak hadir."Ucap Lili memberikan daftar nama. "Kau yakin? Apa kau sudah memeriksa nya?"Tanya ku lagi. "Sudah, ku data sebelum nya. Coba kau cari anak ini."Kata Lili. "Baiklah,"
Benar saja, jumlah nya memang kurang. Ya, satu.
Bab 7
Dunia Mistis
"Tuhan menciptakan makhluk nya, bukan untuk menyiksa nya.
Ada alasan tersembunyi, mengapa ia menciptakan kejahatan dan kebaikan di balik
kehidupan ini."
Aku pun mencari anak itu, sebelum aku mencari... Ku menanyakan kepada pengasuh anak-anak , panti asuhan. Mereka berkata, anak itu memang sering hilang dalam acara. Ia sering kabur, saat jam-jam makan. Jika anak itu diajak makan, biasa nya sangat sulit untuk mengajak nya. Sehingga harus ada sedikit paksaan. Dan, anak ini selalu sendiri. Ia bersembunyi di banyak tempat, sulit untuk mereka mencari nya
"Apa tak ada tempat yang sering ia kunjungi?"Tanya ku kepada pengasuh, Nyonya Tina. "Entahlah, kami tak tahu kemana saja ia bermain."Ucap nya. "Baiklah. Terimakasih bu,"aku pun melanjutkan pencarian ku.
Anak itu, benar-benar pandai melarikan diri. Kenapa ia selalu pergi saat jam-jam makan?
Apakah ia, tak suka makanan yang kami hidangkan?
Aku pun mencari lagi. Melihat setiap ruang dan tempat.
Itu dia, ku menemukannya. Anak itu sedang berlari, sambil melihat sekeliling nya. Seperti ada yang ia sembunyikan. Aku pun mengikuti nya. Ia pun berhenti di sebuah tempat persembunyian di, penyimpanan barang?
"Kenapa kau tak ingin bersama yang lain?"Tanya ku, dan menyamakan tinggi dengan anak itu. Wajah nya tampak terlihat takut. Ia terkejut. "Ada apa?"Tanya ku lagi. Ia menaruh jari telunjuk nya di depan bibir nya. Seperti nya, ia menginginkan ku diam.
Ia menarik ku untuk duduk di samping nya. "Ada apa?"Anak ini, apa yang di pikirkan nya?
Untuk beberapa menit... Ah, kurasa untuk 30 menit kami terdiam. Aku mengikuti permainan bocah kecil ini. Diam. Hanya itu yang ia suruh. Dia pun demikian, tak melakukan apa pun. Hanya duduk, dengan hening. Tuk sekian lama, ia pun bicara. "Ah, seperti nya... Ia tak kan datang."Ucap anak kecil di samping ku. "Hm? Siapa?"Tanya ku. "Teman ku."Jawab nya. "Teman? Kalian sering bertemu disini?"Tanya ku lagi. Anak itu menganggukkan kepala nya. "Oh ya, kau belum makan kan? Ini, aku bawakan roti. Ayo dimakan"Aku pun mengambil roti dari saku ku. Ia menggeleng dengan wajah sedih. "Kenapa?"Aku heran. "Kau tak lapar?"Tutur ku lagi. "Aku tak mau."Tolak nya, dengan suara polos anak-anak. "Apakah makanan nya, kau tak suka?"Tanya ku. "Bukan kak..."Tutur nya. "Lalu?"Lanjut ku.
"Teman ku saja, tak makan."Ucap anak itu. "Apa maksud mu?"Tanya ku. "Mereka tak makan. Mereka tak bisa makan. "Jelas anak itu sambil memainkan sebuah ranting. "Kalau begitu... Kita buat makanan yang cukup dan enak!"Seru ku, bangkit. "Dia tak seperti kita..."Bisik anak itu pelan. "Eh...?"
"Mereka tak terlihat."Anak itu menatap ku. Tak terlihat? Mungkin, khayalan anal ini.
"Jangan seperti itu... Kau harus makan"Ku kembali samakan tinggi ku dengan nya. Ku elus lembut kepala anak itu. "Kau tak percaya?"Tanya anak itu. "Ah aku..."Jawab ku ragu. Ia menatap ke belakang nya. Ku pun ikut melihat belakang nya. Ada... Sosok anak kecil?
Tadi, ku rasa ia tak disana.
"Ah, hai..."Sapa ku kepada anak kecil yang baru aku lihat. Ku tersenyum, dan tak bisa menyembunyikan rasa heran ku. "Dia teman ku..."Anak itu tersenyum. "Iya, si-siapa nama mu? Ku rasa, sebelum nya... Aku tak pernah melihat mu"Tutur ku. "Dia memang tak pernah menampakkan diri nya. Baru pertama kali, ia menampakkan diri ke kakak"Jelas anak kecil itu.
"Rasyid!? Kamu dimana?"Suara Lili memanggil ku. "Ya?"Sahut ku, dan melihat ke sumber suara. "Kamu dimana?"Ucap Lili lagi. "Sebentar lagi...!"Sahut ku. "Baiklah."Balas Lili.
Ku kembali kepada kedua anak itu. "Ayo kalian berdua, ikut kakak... Kita..."Aku tak melanjutkan kalimat ku. Tuk beberapa saat, rasa nya anak itu masih di belakang bocah kecil ini. "Dia... Kemana?"Tanya ku. "Aku duluan ya kak!"Bocah kecil itu berlari, menghampiri Lili. Ku rasa, baru saja bocah kecil itu menunjukkan teman nya. Tapi kemana teman nya?
Karna takut...
Aku segera bangkit dari tempat itu. Mengerikan...
"Eh? Spontan ku, ketika ada yang memegang tangan ku. Ku berpaling ke sosok itu.
Teman bocah itu ada lagi. Ia tersenyum, pucat...
"AGGHHHH....! Ha-HANTU!!!!!!"Teriak ku.
BAB 8
TAWA & TANGIS
"Bagaikan seekor merpati yang harus kembali kesarang nya.
Manusia pun begitu, suatu hari kan kembai kegenggaman sang kuasa"
Kantin. Dimana surga nya pelajar yang sudah hampir overload akan pasokan pelajaran. Dan neraka, untuk sebagian anak yang memiliki ukuran tubuh over weight. Karna, makanan di kantin sekolah ku, akan sukses mematahkan acara diet yang dilakukan oleh sebagian anak-anak yang membutuhkan kata 'Diet'.
"Aneh...?"Ucap pria kecil itu, sambil menyeruput Lemon tea dengan sedotan.
"Kau tidak percaya, aku pernah melihat hantu?"Cetus ku kesal, bocah di depan ku terus saja tak percaya dengan kata-kata ku. "Tentu aku tak percaya."Dengan enteng nya ia menepis setiap perkataan ku.
Bocah ini.
"Berulang kali aku bilangkan!? Kau keras kepala!!!"Geram ku. Sudah hampir 10 kali ku jelaskan bahwa aku pernah melihat penampakan hantu. Tapi, berulang kali juga ia tak percaya. Hebat bung! Untuk kesebelas kalinya lagi... Kau akan mendapatkan sovenir mangkuk cantik. Cih!
"Jika hanya itu yang kau ingin bicarakan, aku pergi."Kalya berdiri dari bangku. "Hei-hei, jangan sombong seperti itu Kalya!"Sahut ku. Kalya terdiam, dia menatap lurus kearah lain...
Aku pun mengikuti arah ekor mata nya memandang.
Bintang...
"Duduklah."Bisikku. Kalya pun menuruti ku.
Sejak saat itu, Bintang tak lagi dekat... Bahkan sebelum aku dekat dengan nya, dia telah menjadi musuhku. Ya, itu kata-kata yang ia ucapkan ketika aku tak sengaja mendengar percakapan nya dengan Kalya suatu hari. Ia berkata, membenci ku dan ingin merebut Kalya dari ku. Konyol, gadis itu masih kekanakan sepeti dulu. Tapi, itu juga kesalahan ku... Aku yang salah.
Bintang berdiri di dekat meja yang kami tempati.
"Hai Bintang."Sapa ku, menatap nya. Seperti yang kukira, dia tak suka aku menyapa nya. Wajah nya seperti menunjukan rasa angkuh. "Kalya,"Bintang memanggil Kalya. Kalya pun tak merespon dan membuka kamera webcam nya. "Kau menolak tawaranku?"Tanya Bintang. "Sudah jelaskan?"Sahut Kalya dingin. Tampak bintang menarik nafas berat. Dia geram...
"Hei-hei, seperti nya jam istirahat akan habis. Lebih baik kita kembali ke kelas masing-masing."Usaha ku tuk mencairkan suasana, ku pun berpura-pura sibuk dengan jam ku. Enggan untuk ku melihat mereka bersiteru. Kalya menolak ajakan Bintang, itu yang terjadi. Usaha untuk membuat Kalya lebih bersinar dari ku, ya... Jika Kalya berkencan dengan Bintang atau menjadi teman Bintang. Mungkin, Kalya akan menjadi anak populer. Karna Bintang, Primadona Sekolah. Gadis ini, berkelas sedari kecil.
"Kau menyebalkan, aku kan berniat membantu mu? Harus berapa kali ku bilang?"Bintang tampak kesal. "Aku memang keras kepala, tanya kan saja kepada Rasyid. Jika kau tak suka tak apa."Kalya berkata dingin. Anak ini memang tidak dekat dengan orang lain, tapi terkadang Kalya menjadi orang yang ramah. Bocah yang merenggut juara umum di sekolah, lebih memilih ku menjadi prisai cahya agar ia tetap berada dalam ketenangan. "Kalian jangan bertengkar..."Aku pun menengahi. Aku tak terlalu mengerti kenapa semua ini, menjadi serumit ini.
"Rasyid ayo kita pergi,"Kalya memegang tangan ku. Dari sekian lama, ia memegang tangan ku baru pertama kali ia mengajak ku pergi mengikutinya. "Tapi Kalya,"aku pun bangkit dari bangku ku. "Menyebalkan!!!"Teriak Bintang, dan menyiram Lemon tea milik Kalya kepada Kalya. "Aku benci kalian berdua!!!"Teriak Bintang. Suasana menjadi riuh, penghuni kantin pun menyorotkan seluruh perhatian nya pada kami. Ya tuhan, kenapa kalian terlalu mendramatisir?
Wajah Bintang merah padam, ia kesal. Terlanjur kesal di buat oleh Kalya.Seperti nya, Kalya lebih membuat Bintang kesal dibanding aku.
Kalya terdiam dengan wajah putih nya yang tertunduk. "Bintang! Hentikan!"Ucap ku memegang tangan Bintang. Ia terdiam dan sesaat kemudian, ia pun ikut tertunduk. Bintang tampak nya menangis, tangan nya bergetar. Kalya malah membalas dengan tersenyum dingin.
"Aku benci kalian,"bisik Bintang dalam.
Aku paham betul sikap dan sifat Bintang. Mungkin, memang kesalahan ku mendekati nya.
"Maaf"Lirih ku.
PLAKK!
Bintang menampar ku, keras.
Kalya pun dengan sigap menarik seragam Bintang. Ia kesal, Kalya kesal. "Kau pikir kau siapa!?"Teriak Kalya. Kali pertama, ku melihat Kalya penuh emosi. "Aku... Ah tidak, Rasyid sudah bersabar selama ini menerima tingkah laku mu yang tak ada habis-habis nya! Berhenti mengganggu nya... Jika kau..."Ucapan Kalya terpotong oleh Bintang yang tak mau kalah. "Apa!!? Seharus nya kamu sadar! Kamu yang siapa? Jangan sok jual mahal, dengan mudah nya kalian menolak ku? Dengan mudah nya kalian mempermalukan ku!?"Teriak Bintang dengan keras. "Kau..."Kalya menatap tajam Bintang. "Apa? Kalau berani pukul aku, jangan karna aku wanita kau tak berani melakukan nya!!!!"Tantang Bintang.
Ini konyol....
"Cukup, hentikan..."Aku pun angkat suara.
Ku memegang tangan Kalya, dan melepaskan Bintang dari genggaman Kalya.
"Jangan bertingkah seperti anak kecil. Sekarang sudah masuk pelajaran terakhir, akhiri ini semua. Apa kalian tidak mendengar suara bel masuk?"Aku pun melangkah pergi dengan mengajak Kalya.
Suara riuh seketika menjadi keheningan.
Aku tak menghadiri kelas, karna ku dipanggil oleh kepala sekolah. 2 jam penuh aku di marahi oleh wali kelas, pembina osis, dan kepala sekolah.
Aku terlalu sembrono seperti nya.
Jam 4 sore, aku pun keluar dari curahan rasa kecewa dari setiap guru di ruang kepala sekolah. Lesu, malas pulang jadinya...
"Kalya,"aku terhenti melihat bocah manis itu berdiri di depan gerbang. "Maaf,"bisik nya. Sinar kejinggaan menyelimuti senja hari. "Haha, untuk apa?"Aku pun melangkahkan kaki ku menghampirinya.
Kami pun pulang bersama, aku mengantar nya pulang dengan motorku.
"Apa yang mereka bicarakan?"Tanya Kalya, dengan suara pelan. "Hm?"Aku pun merespon. "Apa yang mereka katakan kepada mu?"Kalya mengulang makna kalimat nya. "Aku dilepaskan dari tanggung jawab ku sebagai ketua osis."Jawab ku. "Maaf, karna aku..."Suaranya bergetar dan tubuh kecil nya memelukku erat. "Kau tidak salah, jangan seperti itu Kalya."Ucap ku menyemangati nya. "Bagaimana kau akan menjelaskan itu semua kepada orang tua mu?"Kalya kembali mengajukkan pertanyaan. "Katakan saja, apa yang terjadi."Jawab ku enteng.
Sebenar nya, Bukan hanya dicopot jabatan ku sebagai ketua osis... Tapi, aku mendapatkan peringatan keras dari kepala sekolah. Ya, mungkin apabila aku melakukan kesalahan tuk sekali lagi... Aku kan di keluarkan. Kepala sekolah ku adalah kakek dari Bintang, dan Bintang adalah anak dari seorang penjabat. Ini rumit.
"Apa kau akan dikeluarkan dari sekolah?"Tanya Kalya, pelan. "Jika di keluarkan, aku bisa pindah ke sekolah mama ku. Jangan lupa, aku anak seorang kepala sekolah dan dosen.". "Justru itu yang membuat ku khawatir..."Balas nya.
"Sudah sampai,"Aku menghentikan motor ku di depan rumah Kalya. Rumah nya besar, tapi sangat sunyi. "Kapan kau akan memberi tahu orang tua mu?"Kalya turun dari motor dan melepaskan Helm.
"Sebenar nya aku malas pulang, dan ingin cepat-cepat kembali ke kosan ku."
Dia terdiam menatap ku.
"Tapi, mungkin sudah saat nya aku pulang ke rumah orang tua ku..."Lanjut ku.
Ya, aku tidak tinggal dengan orang tua ku. Aku lebih memilih mendapatkan tempat tinggal sewa di sekitar sekolah, karna aku ingin mencoba mandiri. Tapi, mungkin sudah saat nya ku berbagi kisah dengan orang tua ku. Hari ini sangat melelahkan, menguras tenaga ku sepeti nya.
Dan lagi pula, aku merindukan mereka seperti nya. Sangat.
"Baiklah,"Kalya tersenyum. "Ini ku kembalikan... Trims"Ia menyondorkan helm yang ia pakai. Anak ini memang manis. Syukurlah, setidak nya senyuman nya menenangkan hati ku.
"Hati-hati ya."Pamit nya, ia berjalan menuju rumah.
BRUKKK!
Kalya pingsan, aku pun segera menolong nya.
BAB 9
SAKIT
"Teman,
izinkan aku menjadi teman mu hingga akhir.
Walau mungkin,
kau tak pernah menganggap ku ada."
Berberapa hari Kalya di inapkan ke rumah sakit. Aku harap tidak ada hal buruk yang akan terjadi padanya. Sejak saat itu pun aku sering menjenguk Kalya. Dan sekarang...
"Kamu gak apa sekolah?"Tanya ku, ketika ia kembali masuk sekolah. "Ya, pangeran cerewet."Kalya pun menaruh tas nya di bangku yang sudah 2 minggu ia tinggalkan. "Jangan maksain diri mu lah..."Ucap ku seraya duduk di samping bangku Kalya. "Siapa yang memaksakan diri? Seriusan aku udah boleh keluar dari Rumah Sakit... Hanya saja, untuk 1 minggu ini harus sering-sering Check Up."Kalya tersenyum. "Baiklah, terserah kamu aja."Ku coba untuk memahami.
Suara riuh anak-anak ketika guru-guru tengah mengadakan rapat bersama dengan Osis. Sangat berisik. Aku pun terdiam, ku mengingat masa-masa ketika ku masih menjadi anggota Osis. Ku merindukan nya, semua kenangan itu. Jika seperti ini, mungkin akan sedikit sepi hidup ku. Yah, tapi... Aku harus bersyukur mungkin dengan aku di keluarkan dari Osis. Ku bisa memiliki waktu istirahat yang banyak. Ku melihat sekeliling kelas, banyak anak-anak yang asyik bercakap-cakap dengan koloni nya, bernyanyi bersama, dan ada pula yang tidur. Mata ku terhenti, terpaku melihat sosok kakak kelas ku yang sedang kebingungan, dia melihat kesana kemari di depan pintu kelas ku. Tak ada yang mempedulikan nya sepertinya. Kasihan.
"Oi kak Fal!"
Kakak kelas ku itu bernama Naufal, ia se-tim dengan ku di klub Basket. Aku mendekati nya sambil tersenyum. Kalya mengikuti ku. "Ada apa kak?"Tanya ku, dia sedang mencari seseorang ya?
"Ah kamu ternyata Ras. Oh ya, kamu turnamen udah siap?"Tanya kak Naufal kepada ku. "Siap gak siap sih. Habis lawan nya kuat-kuat, apa lagi... Tahun kemarin mereka sempat ke- babak semi final kan?"Respon ku. Lawan yang tangguh. "Iya, denger-denger... Tahun sekarang, angkatan kemarin masih pengen
di pake buat turnamen kali ini."Seru kak Naufal. "Serius? Mereka kan udah kelas 12. Gak keganggu apa? Lagi pula, tuh pelatih kagak ngasih kesempatan buatan adik kelas mereka?". "Gak kayak nya, mereka semua jadi cadangan. Mungkin yang terpenting bisa menang kali ya... Pelatih nya kan gak segan-segan kalau kerahin kekuatan."kak Naufal melanjutkan. "Ya udah deh, siap-siap aja."Ucap ku agak lesu. Jujur, tahun kemarin tim kami tidak masuk ke babak semi final. Dan saat itu juga, aku masih belum di bolehkan masuk klub Basket oleh orang tua ku. Mendengar kabar berita lawan kami yang satu ini, sangat mengejutkan. Pemain yang dimiliki tim lawan ini sangatlah tangguh, bukti nya mereka sampai babak final. Namun sayang, mereka gugur di babak berikut nya karna permainan mereka terlalur kasar.
"Ya udah ya, kakak balik ke kalas. Hari ini gak latihan dulu Ras, siapin tenaga aja ya! Berjuang!"Kak Naufal pun bergegas pergi meninggalkan kelas ku. "Turnamen? Kapan Ras?"Tanya Kalya, yang sedari tadi mendengarkan percakapan kami. "Lusa."Jawab ku. "Lusa? Kenapa gitu? Gak bisa apa di undur?"Tanya Kalya wajah nya memelas. "Gak mungkinlah, cantika. Lagi pula tim sekolah kita sebagai pembukaan turnamen."Jelas ku. Dan akhir nya dia pun memasang wajah kecewa. "Memang nya kenapa sih?"Tanya ku bingung. "Aku kan mau nonton, Ras. Sebelum nya, aku kan gak pernah nonton turnamen kamu."Jelasnya. Iya, Kalya murid baru di sekolah ku. Dia masuk sekolah ku saat semester ganjil, kelas 11. "Sudahlah, gak apa kali. Gak usah di pusingkan. Yang terpenting sekarang kan kesehatan kamu."Hibur ku, kasihan juga anak ini. Ia memasang wajah murung.
Hm...
"Baiklah, Kalya Alrifin..."Ku menghelakan nafas ku di akhir kalimat. Ia menatap ku. "Akan ku ceritakan alur cerita seluruh turnamen ku."Ide itu pun keluar dari kepalaku. Usaha untuk menghiburnya. "Cerita? Tetap saja aku tak mau. Aku ingin melihat mu bertanding!"Seru Kalya. "Hei-hei, sudah untung aku ceritakan. Dasar kau bocah! Kau kan juga sering melihat ku latihan Basket, iya kan?"Aku pun menyentil kening Kalya. "Agh, kau menyebalkan. Aku ingin melihat kau di pertandingan!"Ia kesal. "Ya sudah, kalau begitu akan ku rekam seluruh kejadian."Lukas ku. "Tidak mau! Aku ingin secara Live bodoh!"Kalya memukul lengan ku. "Siapa yang kau bilang bodoh hah!?"Ucap ku pura-pura kesal. "Jelas kau lah Ras. Aku tak peduli pokok nya..."Ia melangkah kearah bangku nya kembali, dan sambil berkata. "Kau ini..."Ku pun tersenyum. Tingkah nya lucu.
"Aku ingin melihat diri mu secara langsung!!"
BAB 10
ENDING
"Aku tak kan marah, apabila kau melupakan ku.
Asalkan, sebelumnya aku telah membuat mu bahagia sampai saat ini.
Itu sudah cukup. Kau tetap bahagia, itu berarti kau masih mengingat ku.
Walau tak lansung."
Yes! Tak di sangka, kami berhasil mengebaskan sayap kami sampai ke babak final!
Kekalahan tahun kemarin, dapat kami balas... Hahaha
"Kamu ke kelas gih..."Ucap ku dan membuka baju kaus ku. Anak ini malah duduk di ruang ganti, bukan nya kekelas. Kelas kan sudah masuk 30 menit yang lalu?
Dia tidak bergeming. "Oi! Kalya Al-ri-finnn...!"Teriak ku di telinga nya. Ia merespon sambil mengelus-elus telinga nya lalu bergeser agak menjauhi ku. "Kamu ini, benar-benar keras kepala ya?"Keluh ku. Dia gak merespon kata-kata ku. "Ayolah Kalya, gak boleh kayak anak kecil dong."Ucap ku, sedikit frustasi. "Ini kan turnamen terakhir mu?"Ucap nya, angkat suara. "Eh? Iya sih. Pokok nya aku gak mau kamu ninggalin kelas dan gak check up!"
Dia terdiam dan menundukkan kepala nya.
Mata nya berbinar.
"Kenapa Kalya?"Tanya ku. Sebelum nya, kami bersiteru masalah kehadiran nya di turnamen basket. Tapi, ini semua di akhiri dengan keputusan dia tak boleh datang, dan sebagai gantinya dia kan mendapatkan video tim ku dalam pertandingan. "Aku... Punya firasat buruk Ras."Lirih dari sura nya. "Firasat? Buruk?"Ucapku mengulang kata-kata nya. "Ya."Ia pun menjawab tegas. "Eh? Kenapa kau berpikiran demikian?"Tanya ku kembali. "Aku memimpikan mu, meninggal Ras..."Dia pun menjelaskan. "I-itu kan cuma mimpi, jangan di omongin. Takut-takut, jadi kenyataan."Sahut ku. "Karna itu, aku ingin ikut kamu!"Bentak Kalya. "Kalya begini..."Jam sudah mendekati pukul delapan, saat nya aku harus bergegas. Aku mengambil seragam basket ku. Dan menggunakan nya.
"Tuhan kan memberikan yang terbaik untuk umat nya. Jangan khawatirkan sebuah mimpi yang telah kau dapatkan. Jangan cemaskan itu semua. Kau hanya cukup berdoa, agar semua yang telah, dan akan terjadi. Mengandung banyak makna di balik semua nya."
Ku mengambil tas ku dan melangkah melewati nya.
"Aku berjanji, untuk kembali."Kata ku, sebelum ku keluar dari ruang ganti.
Tim kami pun telah sampai di tempat turnamen. Sebenarnya, ini bukan turnamen yang besar. Turnamen ini hanya di buat oleh pihak sekolah-sekolah yang ada di satu kawaasan. Hanya saja, turnamen ini cukup bergengsi, dan termasuk hiburan positif untuk para siswa-siswi.
"Bisakah, kau merekam nya lagi?"Ucap ku meminta kepada maneger tim Basket kami. Ia tersenyum sambil mengangguk. "Thanks."Aku pun kembali menseriuskan diri ku.
"Baiklah! Kita sudah sampai Final, jangan sampai kalah di pertandingan berharga ini!! Kerahkan seluruh kemampuan kalian! SMA Venus...!"Teriak Pelatih bersemangat."We are the Winner! What will be happen!"Teriak kami semua. Kalah atau menang, semua kan jadi pelajaran untuk kami semua. Kemenangan adalah awal, dan kekalahan adalah permulaan kemenangan.
Peluit pun di bunyikan. Tim kami sangat tangguh, namun jika mereka mencetak 100 point, sudah cukup untuk kami mencetak 101 untuk mengalahkan mereka. Sorak ria dari setiap siswa dan siswi yang ada. Mereka juga mengerahkan seluruh tenaga mereka untuk men-Support, kami pun akan berjuang sekuat tenaga! Semangat!!
Di tengah pertandingan kak Naufal mengalami cidera. Kaki nya terkilir, untung tidak parah. Padahal kak Naufal sangatlah hebat bermain basket. "Kak gak apa?"Tanya ku. "Haha gak apa kok, ini luka kecil."Kak Naufal berkata sambil tertawa. Kami sebagai adik kelas nya khawatir. Kak Naufal adalah satu-satu nya kakak kelas di tim kami, dia juga kapten di tim yang lama. Ya, semua pemain senior kami mengundurkan diri karna sudah menduduki kelas terakhir. Kak Naufal sebenar nya juga sudah dilarang oleh orang tua nya, tapi ia tidak mendengarkan. Dan pada akhirnya, pelatih memutuskan untuk memasukan kak Naufal ke partindingan hanya di babak ke dua sebanyak 2 kali dan di pertandingan final saja. Kak Naufal tidak boleh mentitik beratkan basket dibanding pelajaran, kalau kami biarkan... Mungkin pelatih dan orang tua kak Naufal akan berdebat hebat. "Benar gak apa kak Fal?"Tanya adik kelas ku. "Iya lah... Lihat lah,ugh."Kak Naufal menggerakkan kaki nya yang terkilir, tapi mau bagaimana pun... Ia tak bisa memaksakan diri nya bahwa kaki nya baik-baik saja. "Terus bagaimana ini?"Sahut yang lain. "Aku akan main kok, tinggal di kasih balsam nanti juga sembuh."Kak Naufal menyemangati adik-adik kelas nya. "Bodoh! Kau tak kan ku turunkan kelapangan lagi!" Pelatih ikut dalam percakapan. "Ah tapi pelatih, kalau kayak gini kita bakalan kalah."Kata adik kelas yang tadi. "Kenapa sikap kapten mu itu Naufal! Dasar bodoh!"Pelatih kami pun memukul kepala kak Naufal dengan buku.
Kak Naufal, dulu pemain Ace di tim kami dan sekarang juga masih tetap begitu. Dia sudah dianggap sebagai anak oleh pelatih. Kata pelatih, diantara semua pemain yang dulu... Yang memiliki potensi dalam basket, hanya kak Naufal. Jadi, kekalahan yang dulu adalah wajar. Karna pada saat itu, walau kak Naufal adalah kapten yang hebat, yang mampu menyatukan tujuan, misi, harapan, dan semangat para tim, tapi mereka tetap saja langsung drop spirit, dan menunjukkan pemainan mereka yang tidak terlalu baik dibabak berikut nya. Semua itu terjadi... Ketika kak Naufal dulu juga Cidera. Ia cidera seperti sekarang, namun cidera yang lalu, cukup parah.
Kak Naufal tertunduk. Sepertinya, ia takut jika tim kami kalah lagi karna ia tak ikut bermain. Jadi ia memaksakan dirinya. "Kau tak bodohkan!? Sesuka apa pun kau kepada basket! Jangan sampai memperparah dengan keegoisan mu Naufal!"Bentak pelatih. Kak Naufal hanya menundukkan kepala nya, dan mengepalkan tangannya dengan erat. "Kak Naufal sudah istirahat saja."Bujuk ku. "Baiklah."Kak Naufal berdiri. "Kita berjuang bersama! Sampai titik darah penghabisan... Kita berjuang bersama! SMA VENUS!!!"Kak Naufal berseru. Semua terdiam, tak ada yang mengerti apa yang ada di pikiran kak Naufal. "Oi-oi, kalian... Apa-apaan ini semua? Kenapa kalian tidak melanjutkan yel-yel tim kita?"Kak Naufal menatap kami semua. "Eh? We are the Winner! What will be happen!!"Seru kami serompak. "Begitu kan bagus,"Kak Naufal tersenyum. "SMA Venus We are the winner! And I always believe, that will be happen!!!"Teriak Kak Naufal. Ia tersenyum puas. Akhirnya kami pun memulai pertandingan, dengan sesekali kak Naufal tidak bisa diam berteriak menyemangati kami dan ia kembali duduk ketika kaki nya terasa sakit lagi. Haha, dasar over. Kak Naufal kapten yang terbaik.
Detik-detik terakhir. Kami pun mendapatkan free shoot. Ini adalah penentuan. Aku yang mendapatkan giliran untuk memasukkan free shoot. Jantung ku, berdetak kencang. Keringat cukup banyak menjelaskan kerja keras ku. Nafas ku tersengah-sengah. Tenang Rasyid... Tenangkan dirimu. Ku melihat sekeliling, Bintang... Melihat ku, dia menonton pertandingan ku. Ya tuhan... Aku semakin gugup saja. Jika masuk, mungkin itu sangat membuat nya bahagia. Tapi, jika tidak masuk? Kenapa semua mata tertuju kepada ku!? Kenapa harus aku yang menentukan point terakhir untuk tim kami? Kenapa aku jadi segugup ini!??
Di belakang ring, kak Naufal berdiri dengan senyum. Dia melihat ku. Kenapa sekarang dia pun melihat ku? Tapi... Ia memperagakan sesuatu, seperti menarik nafas perlahan dan membuang nya perlahan. Dan sekarang ia mengelus dada nya. Apa maksud nya? Apakah itu ditujukan kepada ku. Kembali lagi ia menarik nafas. Ku pun ikut menarik nafas perlahan dan membuang nya perlahan. Dia menyuruh ku tenang... Seperti nya begitu. Setelah itu, kak Naufal menunjuk mata nya, dan menutup nya perlahan. "Tenanglah, aku yakin kau akan bisa!"bibir nya seperti mengatakan itu. Ku kembali memfokuskan tujuan ku ke-Ring. Tarik nafas... Buang perlahan, Tutup mata mu perlahan, tenang ... dan...
Shoot!!!
Semua menjadi hening. Seperti, dunia... Menjadi mute volume.
Tapi, ini tenang.
Ku kembali mejatuhkan kedua kaki ku ketanah.
Setelah itu...
"... Pertandingan, di menangkan oleh SMA Venus!"Wasit berseru sesudah meniup peluit nya kembali. Pertandingan pun, kini usai.
"Horeeee!!!!! SMA Venus memang yang paling OK!!! The Best!!"Teriak Maneger kami.
Aku terdiam, benarkah...?
Mata ku tak berani berkedip, ini mimpi. Mimpikan!? Benarkah?
Kami menang!!!!
"HOREEEE!!!"Kak Naufal berlari dan melompat kearah ku.
"Eh!? A-apaaan kakak ini!?"Teriak ku. BRUKK! Aku pun terjatuh. "Wahahahaha Tadi keren banget lho Ras!!!"Teriak nya sangat-sangat-sangat-sangat bahagia. "I-iya... Lepasin dong kak sesak nih,"pinta ku. "Kapten, makasih ya!"Teriak teman-teman ku. Mungkin, ini perasaan yang dirasakan oleh kak Naufal. Menegangkan sekaligus bahagia. Basket itu menyenangkan. Ah tidak, apa pun yang dilakukan dengan kesungguhan hati pasti rasa nya... Sangatlah indah.
"Tadi kamu beneran keren lho!!"Puji kak Naufal lagi. "Ah gak kok kak, ini juga berkat bantuan kakak."Ucap ku duduk di bangku. "Tadi, apa yang kamu pikirkan?"Tanya kak Naufal. "Yang aku pikirkan adalah... Aku harus menang, untuk orang yang tengah menunggu ku disuatu tempat. Agar rasa kecewa nya berubah menjadi kebahagiaan."Jawab ku. "Ng, bukan kemenangan Ras, tapi... Usaha yang maximal yang bisa buat seseorang itu senang. Tapi, titik dari semua itu adalah hati."Kak Naufal tersenyum bangga. "Ah iya kak,"Aku pun membalas senyum nya. "Lalu, siapakah orang itu?"Tanya kak Naufal. "Kal..."Aku terdiam.
Kalya...
Iya, aku sudah berjanji.
"Aku pergi duluan ya kak!"Teriak ku dan mengambil kamera webcam ku. Ku pun menekan tombol turn on. "Wih...!"Suara ramai yang terdengar dari orang-orang yang tengah bahagia. "Ok, we are the winner..."Ucap ku dan menyorotkan wajah ku ke mata bidik si webcam kecil. "Hey, Kalya... May be aku bukanlah seorang kameramen yang hebat seperti kamu. Tapi, setidak nya aku mencoba tuk merekam suasana bahagia ini agar kamu dapat ikut merasakan nya hehe"Celoteh ku di depan kamera. Tak ada kata-kata yang mampu gambarkan lagi kebahagiaan ku saat ini. "Entahlah, aku harus berkata apa. Yang jelas, aku senang hari ini. Lihatlah... Hasil kerja keras ternyata berbuah manis!"Aku pun membiarkan mata kamera mengambil sekeliling. Senang dan lelah masih bercampur diwajah teman-teman se-tim ku. "Kau lihat piala itu? Piala yang pertama kali ku inginkan saat aku pertama kali masuk klub ini!"Ku tunjukkan piala besar di ujung sana. "All right, sekarang aku akan datang ketempat mu berada..."Aku pun mengambil tas dan melangkah pergi menjauhi kerumunan tim ku. Ku langkah kan kaki ku ke arah tempat parkiran sebrang jalan. Disana, kuda ksatria ku sudah menunggu untuk mengantar ku haha. "Hm, jadi bingung mau ngomong apa lagi. Mungkin karna saking senang nya kali ya? Haha lucu."Dengan berjalan aku terus membiarkan teman kecil ku ini memasukkan gambar wajah ku di dalam memori nya. Teman, aku harap kau bisa merasakan kebahagiaan yang sama dengan ku. Aku sangat berharap, dan suatu hari nanti... Kau mampu melangkahkan kaki mu kearah cahaya. Dan mungkin... Suatu hari nanti, kita kan berjalan di jalan masing-masing dengan mimpi dan masa depan yang berbeda. Ku harap, kau tak melupakan ku. Ah tidak, cukup kau bahagia sekarang atau pun nanti bahagia karna mengenal ku atau pun karna yang lain, aku anggap itu semua sebagai petanda kau ingat, kau mengingat ku. Karna, aku ingin selalu hadir dalam kebahagiaan mu, kapan pun itu. Dan terus membuat hari cerah mu, bukan berarti aku tak kan berada di hari sedih mu. Namun, itu semua karna aku terus berdoa dan terus percaya... Kau akan mendapatkan hari bahagia selamanya...
TIN-TIN-TINNN!!!!
Suara klakson terdengar dari arah samping ku. Ku menoleh, mobil truk besar dengan cepat mendatangi ku.
BRUKKK!
Sakit, tubuh ku bagaikan terasa remuk ketika mobil itu menabrak tubuh ku. Drakkk!! Kamera yang ku pegang terlempar entah kemana. Pandangan ku kalang kabut, perasaan ku semua... nya kacau.
Aku hanya merasakan sakit, sakit, sakit. Benturan berulang kali ku dapati dan akhir nya ku berhenti dengan Kepala ku terbentur aspal.Ku terpental, terbaring jauh dari tempat asal ku semua. Mata ku, buram... Sulit rasa nya ku gerakkan tubuh ku. Perlahan ku melihat mobil yang menabrak ku pergi, meninggalkan ku.
"RASYID!!!"Seperti suara familiar untuk ku. Kak Naufal.
Perlahan ku rasakan cairan hangat yang mengalir dari kepala ku. Nafas ku sesak.
Kenapa?
Apa yang terjadi? Ada apa dengan ku?
"Kamu gak apa?"Ucap kak Naufal menghampiri ku. Ia memeluk ku dalam dekapan nya. Ku merasakan orang-orang sedang mengerumuni ku. "Bertahanlah..."Ucap Kak Naufal yang terdengar samar. Telinga ku terasa sakit.
Ku melihat kamera ku diujung jalan, ku harap benda kecil itu tak rusak.
Tapi...
Air mata ku pun menetes. Kenapa? Aku kenapa? Tak ada suara yang kudengar. Perlahan pandagan ku pun bertambah buram. Ku mencoba meraih benda kecil itu, benda di ujung jalan itu. Hati ku sakit tuk sekali lagi. Aku tak bisa...
Tuhan, tolong lindungi orang yang ku kasihi. Lindungi mereka dalam jalan mu Tuhan. Ini adalah doa ku tuk terakhir. Ya... Terakhir.
Dan...
"Maaf..."
Maaf, aku tak menepati janji ku tuk kembali kepada mu.
.........................
Ku memang tak mengerti apa
itu
arti kehidupan...
Ku ingin terus melangkah maju
Dan meyakini, apa yang ku gengam selama ini
Adalah kebenaran.
Tuhan , berikan kasih mu dan anugrahkan
setiap jalan kisah hidup ku
izin kan ku bernafas untuk merenggut
semua kebajikan di dunia
bukan kefakiran, atas ku dustakan engkau dan hati
ku.
Jika ku terpisah dalam rombongan
yang kau lindungi
Ku mohon tarik kembali jemari ku
Bisik setiap ayat suci mu
Sadar kan ku supaya kembali
Di jalan mu Tuhan ...
Di balik cerita.
Assallammuallaikum kawan!
Sebenarnya, kisah ini termasuk satu cerita dengan 'Slide Of You'. Hanya saja, saya membuat dengan sudut pandang Rasyid.
Nama Rasyid dan kepanjangan nama Kalya, saya ambil dari nama teman saya di media sosial. Sebelum nya, saya tidak meminta izin terlebih dahulu. Setelah cerita ini selesai, baru saya meminta izin hehe. Nama teman saya adalah Rasyid Alfrifin.
Anggap saja, ini adalah kado untuk kakak Al yang menginginkan nama diri nya masuk dalam sebuah tokoh.
Saya juga menyipsipkan beberapa kalimat yang diucapkan oleh teman-teman saya. Terimakasih telah menjadi inspirasi saya :)
Saat cerita Slide Of You berakhir, saya berpikir sangat di sayangkan, jika cerita ini berakhir. Bagaimana jika saya membuat cerita dengan sisi lain?
"Seperti nya menyenangkan!"
Akhirnya, jadilah cerita - Jalan Tuhan - ini :)
Ok,
Terimakasih, untuk kawan-kawan yang telah membaca cerita memusingkan ini hingga akhir. Saya senang, dan berharap dapat terus memperbaiki kesalahan yang ada. Semoga, kisah ini memiliki makna untuk kita semua.
Trims to All ^ ^
Fdlyssa