Jumat, 21 Februari 2014

Autumn

Autumn  
Smith Andrew &  Aurora Anatasya

By : Xue ( Facebook : Xue Al Xing )





Musim gugur yang kemilap, ku duduk di sampingnya. Hari ini, ia tampak anggun di mataku. “ Ini untuk mu,” ucapku, menatap mimik matanya, dengan senyuman. “ Apa ini ?” tanya nya menatap benda kecil, yang untuk sebagian orang … benda ini adalah hal yang berharga. “ Kau jangan bergurau” kekeh ku pelan. “ Apa kau senang? Hm?” tutur ku lagi, ia terdiam menatapku. Ku tunggu jawaban, cerianya. 

 “ Kenapa?” tanya nya dengan wajah yang … sungguh ku tak mengharapkannya.

 Ia tampak sayu, pijar. 
“ Bukankah ini yang kau inginkan?” tanyaku ragu, ku pun berdiri dari kursi coklat e’k ini. Ia tertunduk, tampak buliran halus menyelimuti sudut matanya. Apakah ku salah? Menentukan pilihan?. “ Kau miliki kekasih?” tanyaku sekali lagi. Ia berdiri dan bergegas pergi. Tinggalkan ku begitu saja.

“ Maaf,” lirih nya. Suara tangis pelan yang ku ingat, walau sangat pelan dengan deruan angin sepoi menutupi.   

Kau yang inginkan ini semua, selama ini. Apa karna ku mengabaikan mu terlalu lama? Sehingga … kau tak lagi mencintai ku?

 Hari yang indah, dimana hari yang di tentukan untuk menyatukan dua sejoli cinta. Warna putih nan suci mengisi setiap ruangan. Beberapa orang berlalu-lalang menyiapkan ini dan itu. Ku pun tak sabar untuk menemui nya, calon istriku, Ana. Ku langkahkan kaki ku, dengan sedikit senandung kecil. Seakan kemarin bukanlah apa-apa, ya … aku melupakannya. Hari di mana ia menolakku. Itu hanya mimpi buruk.
Namun mengapa, hari ini kembali terulang? Mimpi buruk ini masihkah berjalan?

“ Beri tahu kenapa kau seperti ini? Apa  kau tahu, ku sudah siapkan ini semua untuk mu. Ya, aku tahu … mungkin, aku memang salah. Mengabaikan mu, mencampakkan mu dan seakan memberikan harapan palsu padamu. Tapi tolong, maafkan aku untuk sekarang ini” ku genggam tangan nya. Ia tetap begini, tak berubah dari kemarin. Kenapa, bukankah kita sudah bicarakan hal ini dari sebulan yang lalu? Dan ku  sangat mengingat jelas saat itu … kau tersenyum senang. sangat bahagia.

“ Aku tak menginginkan ini, dasar bodoh.” Ucap nya, dan membalikkan badan. “Kenapa begitu? Bukankah …” lirihku, ini … mimpi kan?. Ku tak berani lanjutkan kata-kata ku. “ Kau bohong.” Lanjutku tak percaya.

“ aku tak mencintai mu”

Kenapa baru sekarang?
Kenapa baru sekarang kau mengatakan itu … Di saat cinta ku berlabuh di hatimu. 
Di saat ku mencintai mu.
Dan kenapa hari ini, hari dimana kita kan mengikat janji suci.

“ Ana, jangan bercanda dengan ku!” ucapku dengan nada tinggi, mata ku memerah. Ia terlihat sedikit terhenyak dengan perkataanku. “ Aku tak bercanda dengan mu Smith. Ini kenyataan nya. Kau tahu? Kau terlalu bodoh” tuturnya, mernertawaiku. “Apa-apaan kau!? Hah!? Kau gila …!?” bentakku lagi, tak percaya. “ Sudahlah, ini hanya pernikahan konyol. Siapa pun bisa membatalkan nya. Lagi pula, ini hal yang wajar … Gagal menikah di saat hari pernikahan.” Katanya enteng.

Ku benar-benar tak percaya dengan apa yang wanita ini katakan. Ada apa dengan dirinya?. Apa kah ada masalah dengan otak nya?

“Kumohon jangan seperti ini,” kucoba redamkan emosi. Ku coba tuk menenangkan pikiranku. Sungguh, pikiran ku kacau. Jangan permainkan aku seperti ini. “Kau pria bodoh! sangat- sangat bodoh! Dengan mudah nya terpedaya oleh ku. Haha, kau lucu sekali. A-aku sungguh tak mencintai mu” ucap nya pelan di akhir kalimat. Dia meremehkan ku? Dia menertawaiku? Apa kau yakin? Suara mu tampak tak seperti itu. Kau berbohong.

“ Jangan bohong padaku!!” bentak ku lagi, dan menggenggam tangannya. “ Katakan pada ku! Sesungguhnya … kau mencintai ku, apa tidak?” tanya ku lagi, dan ku erat pergelangan nya. Tangannya bergetar pelan. “ Lepaskan aku bodoh, aku tak bohong. Ini kenyataan” ucapnya. Suara nya terdengar bergetar.

“ Jika ini kenyataan, tatap aku …! Lihat aku Ana!” ucapku terdengar, memaksa. “ Tidak mau” tolaknya. 
“Katakan sekali lagi, jika kau tak mencintaiku”
“ Aku sungguh tak mencintai mu,” jawabnya pelan, kali ini suaranya … benar-benar begetar.
“ Katakan yang keras!” bentakku.
“ AKU TIDAK MENCINTAI MU!!!” teriaknya, isakkan nya mulai terdengar.

Kini ia menangis.
Kenapa harus berbohong? Jelas-jelas kau mencintai ku.

Ia menjatuhkan tubuhnya, dengan posisi duduk. Ia menangis, dengan masih membelakangiku. 

“ Kenapa …?” tanyaku dan mensejajarkan diri dengannya. “Kenapa kau berbohong?” tutur ku lagi. Ku elus puncak kepalanya pelan. Kenapa harus berbohong? Sebelumnya, kau tak pernah berbohong. 
“ A-a—aku-u …” ia tak bisa berhenti menangis. “Ada apa? Apakah kau tak ingin menikah sekarang? Apa kah kau belum siap?” tanyaku pelan, suara ku agak serak karna menahan untuk tak menangis. Agar ia pun tak menangis terus-menerus. Ia menggeleng pelan. “ Lalu apa?” tanya ku lembut. “Bisakah … kau ikuti permintaan ku?” tanyanya. “ Maksud mu?”

Ia mengantar ku ke suatu tempat. Yang tampak nya, akan ada sebuah acara khusus juga, disini. Seperti pernikahan, namun tampak sepi. Ada apa?

Ku tatap sekeliling. Ku merasa, sebelumnya … aku pernah kemari. Tapi kapan? Dengan siapa? “ Ada apa ini?” ucapku bergetar. Aku dan dia masih mengenakan pakaian pernikahan kami. Ya, kami kabur dari pesta pernikahan yang kami rencanakan satu bulan yang lalu. Atau lebih tepatnya, ia yang memaksaku untuk datang ketempat ini. Ku tatap altar gereja yang berderet rapi. Ruang ini sunyi untuk pesta pernikahan. Wanita ini, tak menjawabku. Ia hanya menarik ku paksa.

Dia berhenti, langkah ku pun terhenti. Kami berhenti di tengah-tengah ruang gereja yang luas itu. “Sebenarnya …” ucapku terpotong oleh Ana. “ Hilda,” panggil Ana kepada wanita yang berdiri menghadap patung tuhan Jesus yang indah. Interior gereja yang klasik membuat ketentraman di ruangan suci ini. Wanita itu membalikkan badannya. Ana pun tersenyum. 

“Siapa wanita ini?” bisikku pada Ana.

“ Dia … Hilda Swan, calon istri mu Smith” jawab Ana.
“ A-apa!?” bisikku lagi, agar tak membuyarkan keheningan yang tercipta. “ Ya, menikahlah dengannya. Wanita ini, yang selama ini kau cari.” Ucap Ana, matanya berbinar. Ku tatap wanita di depan kami itu. Ia menatap … entahlah kearah mana, tampak nya ia tak melihat kami. Tapi, ia tersenyum. Tersenyum sangat manis. “ Apakah ia …? Tuna wisma?” tanya ku pelan. “ Karna kecelakaan 4 bulan yang lalu,” jawab Ana. “ Dan kau juga, ada di sana. Kalian berdua mengalami kecelakaan. Coba ingatlah Smith,” tutur Ana lagi. Ku hanya membalas dengan menatap Ana tak percaya. “ Itu alasan mengapa kau tak mengizinkan ku masuk kehatimu. Walau kau mengalami amnesia. Tapi hati mu, tetap menolak untuk mendapatkan pengganti nya.” Jelas nya. 
“ Ia menghilang, dan … satu minggu yang lalu ku bertemu dengan nya, ia kehilangan penglihatannya. Tapi ia masih mengingatmu, setelah ia bercerita tentang seorang yang ia cintai. Aku langsung mengetahui, itu kau. Orang yang ia ingin nikahi 4 bulan yang lalu. Tanggal yang di tentukan dengan tanggal favorit mu, hari ini.”

Ku tatap wajah wanita itu. Air mataku terjatuh. “  Hilda” ku panggil nama wanita itu. “Smith? Kau datang?” ucapnya tampak senang. 

Aku ingat …
4 bulan lalu.
Tempat ini … adalah tempat di mana ku kan mengadakan pernikahan dengan nya. Hilda. Wanita yang selama ini, ku cintai … ia cinta pertama ku. Ya, mungkin karna ini … aku selalu menolak cinta Ana selama 3 bulan terakhir. Tapi kini, apa yang harus ku perbuat? Saat ku amnesia ku hanya merasakan sesak di dada … ada yang hilang, namun ku tak tahu apa itu. Apa yang membuat ku sakit dan membuat ku menolak Ana. Jika saja, ku tak lupa ingatan mungkin sudah cukup jelas, apa alasan ku menolak nya. Dan Ana, tak kan terluka. Kan terluka karna hari ini. Aku sudah mencintainya … aku tak ingin melepas nya. 
Melepas mereka berdua, ku mencintai 2 wanita di waktu yang berbeda.
Namun kini, kedua waktu tersebut sudah bersatu.
Apa yang harus ku lakukan?

“ Menikahlah,” bisik Ana, mata nya berbinar menatap patung ukir di depan. Ku menatapnya dalam “ Tapi …” ucapku terputus. “ Aku kan menyelesaikan nya, tenang saja. Kan ku jelaskan pada yang lain.” Balas nya cepat. “ Aku pergi …” ucapnya menghapus air mata yang kan segera terjatuh basahi pipisnya, ia pun bergegas berlari meninggalkan kami berdua. Ku hanya menatapnya berlari keluar. Air mata ku terjatuh. “ Maaf kan aku Ana.” Ucapku dalam hati. 

“ Smith?” panggil Hilda. “ Ah ya, ayo kita menikah.” Ucapku, menghapus air mata. “ Ya,” balas Hilda lembut.
Ku sangat yakin. Saat ini, ia sedang melihat kami berdua. Sedang menangis, dengan keputusannya. Kau sangat baik Ana, maafkan aku atas kesalahan yang telah terjadi selama ini. Jika waktu dapat berputar, ku tak ingin bertemu dengan mu. Agar kau tak terluka.
Kami pun memulai pernikahan kami, dengan pastur gereja ini. Walau sangat sepi, walau tak ada seorang pun yang menghadiri, wajah Hilda tampak senang. Sangat senang, mungkin wajah ini yang sangat ku impikan saat itu.

Ini keinginan mu, ku lakukan…
Semoga jalan ini adalah yang terbaik untuk kita semua,
Maafkan aku, telah mencintai mu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar