( Chapt. 1 First Time )
By : Rhea [ FB: Raisha Britania Rivaille ]
By : Rhea [ FB: Raisha Britania Rivaille ]

"Hinata!tangkap!"
Lelaki yang dipanggil Hinata itu melihat bola yang melambung di atasnya. Namun lelaki tersebut gagal dalam menangkap bola yang melambung tersebut.
"Maafkan aku... Karna tidak bisa menangkap bolanya. "Ucap Hinata menyesal.
"Yaaah,padahal tinggal sedikit lagi…" Keluh teman Hinata, membuat Hinata bertambah menyesal.
"Maafkan aku…"
"Sudahlah, ayo kita lanjutkan."
Akhirnya mereka melanjutkan pertandingan. Di akhir pertandingan kedua tim seri, dan tak ada yang menang dan kalah.
"Maafkan aku, aku tak bisa menangkap bolanya." Hinata menunduk dan memohon maaf pada ketua klub Baseball.
"Sudahlah, lagipula hasilnya seri, dan ini juga bukan kejuaraan. Hanya main-main saja." Ketua membalasnya dengan senyuman.
"Tapi…meski begitu…."
"Hinata…" Panggil temannya yang sedari tadi mendengar percakapan antara Hinata dan ketua klub. "Ketua bilang tidak apa-apa, kesalahan bisa terjadi pada manusia kan?".
Hinata mengangguk, dia mengambil sebotol mineral, dan kemudian mengambil tas olahraganya.
'Mengapa aku tidak bisa menangkapnya..." Gumam Hinata, yang kesal pada dirinya sendiri.
Hinata berjalan melewati gerbang sekolah. tak jauh dari sana terdapat lapangan kecil, Hinata pun duduk di lapangan tersebut, sambil merenung dan memandang bola Baseball yang ia pegang. Karena kesal Hinata pun melempar bola tersebut dengan sekuat tenaga.
Prang!!
Tak sengaja bola yang di lempar lelaki bernama Hinata tersebut, terkena jendela dari salah satu rumah yang ada di dekat lapangan tersebut.
'Sial!' Keluh Hinata dalam hati. Hinatapun bergegas menuju rumah itu untuk mengambil bola tersebut.
Hinata menekan bel, ia sedikit takut terhadap ulahnya.
"Ya?" Seorang wanita membukakan pintu. "Ma... Maafkan saya, sa... Saya telah memecahkan jendela rumah anda," Jelasnya menyesal.
"Jadi kau yang memecahkan jendela kamar anakku!" Omel wanita paruh baya tersebut. "A... Ma... Maafkan saya, saya tidak sengaja. Hmm... Saya akan menganti semua kerugiannya." Jelas Hinata untuk ke dua kalinya, sambil menunduk pada wanita tersebut.
"Baiklah." Ucap wanita paruh baya tersebut.
Hinata pun segera melepas sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah. "Maaf, kira-kira bolanya jatuh dimana?" . "Di situ, masuklah ke dalam kamar yang ada di ujung lorong itu, disitu ada anakku."
"terima kasih."
Hinata berjalan menuju lorong, sebelum masuk ia mengetuk pintu terlebih dahulu Hinata menyiapkan mentalnya.
Tok…tok…tok…
"Ibu?masuk saja bu…"
"Maaf, aku bukan ibumu."
"Eh? Siapa kau?" Tanya seorang wanita muda, yang terbaring di atas tempat tidur.
"Buk... Bukan siapa - siapa, aku hanya ingin mengambil bola yang terlempar kesini."
"maksudmu bola yang memecahkan pintu kacaku itu?" Wanita muda itu menunjuk dengan pandangan matanya.
Hinata pun mengambil bola yang ada di samping pintu kaca tersebut, "Maaf, sudah memecahkan kacamu."
"Tidak apa-apa kok." Ucap wanita tersebut, sembari tersenyum ramah. "Baiklah aku akan... Segera pergi..." Pamit Hinata, menuju pintu. "Hei,siapa namamu?" Tanya wanita tersebut penasaran.
"Hinata,Hideki Hinata."
""Hmmm,Hinata ya… Panggil aku Yui."
"Anak muda! Bisakah kau ikut Ibu sebentar? Untuk menelepon orangtuamu?" Panggil Ibu Yui dari luar kamar. "Ba... Baiklah!" Jawab Hinata.
"Tunggu!" Seru Yui, serentak membuat Hinata terdiam. "Bi... Bisakah, kau membantuku untuk pindah ke kursi roda?" Pinta Yui pada Hinata. Ia pun memindahkan Yui dari tempat tidurnya ke kursi roda dan segera pergi ke ruang tengah.
"Nyonya, di mana saya bisa menelepon orangtua saya?," Tanya Hinata pada Ibu Yui. "Di sana!" Seru Yui menunjuk ke sebuah telepon rumah.
"Terimakasih,".
Hinata segera menelepon orang tuanya. Tak beberapa lama, kedua orangtua Hinata pun datang. Mereka berdua berbincang mengenai kesalahan anaknya yaitu Hinata.
Tiga jam berlalu seiring penyelesaian masalah Hinata. "Baiklah, kami pamit pulang." Pamit Ayah Hinata pada Ibu Yui.
"Sudah ku bilang! Jangan buat kerusuhan! Dasar anak nakal!" Omel Ibu Hinata sambil menjewer kuping Hinata.
"Jangan menyalahkanku! Aku tidak sengaja Ibu!" Seru Hinata kesal.
"Sudah! Kalian ini bikin malu saja!. Ma... Maafkan kami, atas ketidak sopanan kami..." Ucap Ayah Hinata merasa malu.
Hinata dan ke dua orangtuanya pun bergegas untuk pulang. "Hi... Hinata! Maukah kau menjadi temanku?!" Pinta Yui pada Hinata. "Eh? Ba... Baiklah!" Jawab Hinata. "Oh ya, kau pemain Baseball kan? Maukah besok kau mampir kemari?" Pinta Yui sekali lagi. "Baiklah, tunggu aku besok!" Seru Hinata.
***
(Chapt 2 Promise )
Hinata terus menekan bel rumah Yui, sekali, dua kali masih tak ada orang yang membukakan pintu. Dan sampailah pada bel ketiga, akhirnya ada seseorang yang membukakan pintu.
"Oh, Hinata ya, masuklah." Ucap Ibu Yui seperti tau apa maksud Hinata.
"Permisi…" Ucap Hinata agak sungkan.
Ia pun diantar oleh Ibu Hinata ke kamar Yui.
"Yui!," Ibu memanggil setelah membukakan pintu kamar Hinata. "Hinata datang!"
"Hinata?! Ternyata kau datang kemari lagi."
Hinata tersenyum Ibu Yui pun meninggalkan mereka berdua. Hinata segera duduk di kursi yang ada di sebelah tempat tidur Yui.
"Hmm... Aku tak kusangka, kau mampir kesini lagi…" Ucap Yui mengawali percakapan.
"I... Iya…" Jawab Hinata agak malu.
Suasananya agak sedikit hening, mereka saling diam tak berbicara satu sama lain.
"Yui...?" Panggil Hinata memecahkan keheningan diantara mereka berdua.
"Hmm?..." Respon Yui.
"Kau mau cake?" Tanya Hinata sambil menunjukkan sekotak cake.
"Cake? Aku mau!" Seru Yui bersemangat.
Hinata pun menyiapkan cake tersebut untuk Yui.
"Ngomong - ngomong... Bagaimana kau tahu, kalau aku suka cake?" Tanya Yui heran sambil memakan cake yang di berikan Hinata.
"Eh... Karena... Semua orangkan suka cake," Jawab Hinata sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
"Bersamamu sangat menyenangkan ya… aku…sebelumnya belum pernah punya teman yang membesuk, bahkan membawakan oleh - oleh pun tidak pernah,"
"Kenapa?apa temanmu memusuhimu?"
"Bukan, lebih dari itu, aku memang tidak punya teman,"
Wajah Yui terlihat sedih, Hinata merasa bersalah membahas masalah teman.
"Ehmm... Yui, kau mau jalan - jalan? Untuk menghabiskan waktu,"
"Eh?"
"Tidak apa-apa kan?"
Yui tersenyum. "Iya! Tapi kau harus keluar, aku ingin menganti baju dahulu... Oh ya... Bisakah kau panggilkan Ibuku?"
Hinata pun menuruti perkataan Yui untuk memanggil Ibu Yui dan menunggu di luar.
"Terima kasih bu…" Ibu Yui mengantarkan Yui yang duduk di kursi roda ke ruang tamu, dimana Hinata menunggu.
"Hinata maaf... Membuatmu menunggu," Ucap Yui.
Hinata melihat penampilan Yui. 'Ia cantik sekali...' Gumam Hinata yang takjub melihat Yui.
Hinata merasa Yui sangat cantik, walaupun baju yang dikenakan Yui sederhana.
"Ayo!," Ajakan Yui seakan membangunkan Hinata dari lamunannya.
"Ah, iya…"
Hinata mengambil alih kursi roda dan mereka pamit pada ibu Yui.
"Kita akan pergi kemana?" Tanya Yui penasaran.
"Hmm, kemana ya... Menurutmu?" Jawab Hinata mencoba bermain tebak - tebakan dengan Yui.
"Menurutku? Yaaah, kita jalan-jalan di sekitar sini saja…"
"Salah!" Seru Hinata "Kita akan ke tempat yang indah, dan jauh dari sini,"
"Hah?" Yui sedikit tercengang akan perkataan Hinata.
"Kau akan tahu nanti."
Jalan raya sangat sepi, secara tiba - tiba Hinata mendorong kursi roda Yui dengan sangat cepat.
"Tu…. Tunggu, Hinata!" Nada Yui sedikit ketakutan.
"Tenang saja, aku akan hati - hati yang kau harus lakukan hanya menikmati pemandangan saja."
Yui heran atas perkataan Hinata, tetapi ia memutuskan untuk diam. Tak lama Yui merasa senang ketika kursi rodanya di dorong dengan kecepatan penuh.
"Ini menyenangkan!" Serunya dengan tawa menghiasi wajahnya.
"Hehe, baru sadar? Nanti akan kutunjukkan yang lebih hebat lagi!"
Tiga puluh menit kemudian. Hinata dan Yui tiba di sebuah tebing, di sana terdapat pohon Maple yang berwarna kuning kecoklatan, menandakan akan memasuki musim gugur.
Yui mengagumi pohon maple itu, tapi Hinata tak hanya menunjuk pohon Maple saja, ia juga menunjukan hamparan bunga yang sangat indah menghiasi lapangan luas.
"Indah bukan?" Tanya Hinata yang juga ikut mengagumi keindahan pemandangan sekitar.
"Hmm... Sangat indah, tak kusangka aku akan mendapatkan pemandangan seperti ini di musim gugur."
Senyuman Yui kini merekah, membuat Yui terlihat lebih cantik di mata Hinata, di tambah lagi matahari senja yang menyinari Yui membangkitkan hati Hinata yang melihat kecantikannya.
Entah sejak kapan Hinata memandangi wajah Yui, dan entah sejak kapan dia mempunyai rasa pada Yui.
"Hinata?"
Hinata mengerjapkan matanya, "Oh, maaf... Kau mengatakan sesuatu?"
"Tidak, hanya saja aku mau bilang... Kau hebat sekali menemukan tempat seindah ini."
"Aah, itu… Aku hanya tidak sengaja menemukan tempat ini ketika pulang sekolah, kebun bunga ini ditanami bunga yang tumbuh setiap musimnya."
"Oh, jadi tiap musim bunganya berganti ya?Aku jadi ingin melihatnya." Mata Yui kini seakan menerawangi bunga - bunga itu, dia seakan melihat, tetapi tidak benar-benar melihat.
"Tak apa, aku akan mengantarkanmu setiap musim."
"…" Yui termenung. "Itu kalau aku masih ada di dunia ini…"
"Apa maksudmu?" Tanya Hinata tak mengerti.
"Ya... Sejak umurku tiga tahun... Aku terkena penyakit yang mengganggu syaraf motorikku, otakku tak dapat merespon, sehingga kakiku tak bisa digerakkan atau lumpuh, dan juga dokter berkata umurku tidak akan panjang." jelas Yui yang membuat Hinata terdiam sejenak.
"Tidak apa - apa, jika kau tidak ada sekalipun, aku akan mengantarkan bunga ke makammu, setiap musim kubawakan bunga yang berbeda."
Yui kembali bangkit dari keterpurukannya, dan menatap Hinata menunjukkan seulas senyumnya. "Kau medoakanku meninggal ya?"
"Bu… Bukan begitu…maksudku… Anu…" Hinata kehabisan kata-kata, dan tergagap.
"Tidak apa-apa, seperti itu saja aku sudah senang kok," Yui tertawa.
***
(Chapt.3 Panic)

"Yui, Hinata datang!" Ibu Yui memberitahukan Yui dari ruang tamu, lalu ia mempersilahkan Hinata masuk ke kamar Yui.
Secara perlahan Hinata membuka pintu kamar. "Yui..."
"Kau lama sekali…"
"Maaf… Maaf…" Hinata menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
Yui pun mencoba mengerti perkataan Hinata. Mata indah Yui tertuju pada tangan Hinata yang menggenggam sesuatu.
"Itu… Apa?"
"Oh ini, untukmu," Jawab Hinata sambil menaruh bungkusan di atas lemari.
"Apa itu?" Tanya Yui penasaran.
"Ini short cake, kuharap kau suka..."
"Suka! Suka sekali!" Yui terlihat riang.
Hinata senang sekali melihat Yui yang kegirangan. Ia pun segera menyiapkan garpu dan piring kecil.
"Apakah... Kau akan menyuapiku?" Tanya Yui ketika Hinata sudah kembali ke kamar Yui.
"Tidak…" Jawabnya dengan nada gurau, ia membuka kotak kue itu dan menaruh kuenya di atas piring kecil.
"Kalau begitu aku akan makan dengan merangkak seperti ular..." Balas Yui.
"Coba saja kalau bisa..."
"Uuuuh…" Yui mulai kesal.
"Aku hanya bercanda... Aaah..." Hinata mulai menyuapi Yui. "Aaah..." Ketika kuenya sudah berada di dekat bibir Yui, dan Yui menyiapkan diri untuk memakannya, tiba - tiba Hinata menarik garpunya kembali, dan memakannya untuk dirinya sendiri. "Hmm... Sepertinya kue ini suka padaku, makanya ia tak mau kau makan..." Candanya.
"Sudah cukup bercandanya…" Yui menggerenyutkan bibirnya.
"Baiklah... Baiklah… Mungkin kali ini kuenya akan mencoba menyukaimu juga,"
Kue itu pun masuk dalam mulut Yui. "Hmm… manis!"
Hinata ikut tersenyum melihat Yui yang menikmati manisnya short cake tersebut.
"Kau tahu, Hinata... Aku lebih menyukai cake ini karna begitu manis!" Jelas Yui.
"Oh… Maksudmu aku tidak manis?"
"Benar… Syukurlah kau menyadarinya…"
"Baiklah, kalau begitu semua cake ini akan kumakan sendiri," Cetus Hinata menarik kembali cake yang dia bawanya.
"Tidak! Cake itu kan untukku!" Seru Yui melarang.
"Itu tadi, tapi... Sekarang aku berubah pikiran."
Yui tetap merengek meminta cake-nya sedangkan Hinata masih ingin meneruskan candaannya pada Yui, karena ia senang melihat Yui merengek seperti itu.
Tak terasa hari sudah hampir malam, ketika Hinata hendak menarik diri dari kursi di samping tempat tidur Yui, semenit kemudian muncul Ibu Yui dari balik pintu kamar untuk menawari makanan pada Hinata, namun ia menolaknya karena hari sudah larut.
"Kau senang, Yui?" Tanya Ibunya ketika ingin menyuapi Yui.
"Hmm... Rasanya duniaku berubah, aku sangat senang Hinata memasuki hari - hariku... Aku merasa…."
"Merasa apa?"
"Aku merasa beruntung telah disayanginya." Yui tersenyum pada ibunya.
Ibunya sedikit lega melihat Yui sangat senang akan hal ini.
---------------------------------
"Hinata... akhir - akhir ini kau pulang malam terus? Ada apa?" Tanya seorang perempuan paruh baya yang adalah Ibu Hinata.
"A... Anu... Aku... Klub... Iya, ada kegiatan klub…"
"Hmm… Tapi kenapa hampir setiap hari?"
"I… Itu… Aku main dengan teman - temanku… Sudah... Aku lelah… Tangan tanya - tanya lagi." Hinata berjalan cepat menuju kamarnya.
"..."
Hinata mencoba menenangkan dirinya. "Kenapa Ibu kalau keadaan seperti ini, ia selalu peka?"
Hinata meninggalkan kamarnya dan langsung menuju kamar mandi. Beberapa menit kemudian, ia keluar dari kamar mandi dengan handuk di kepalanya.
"Hinata…" Goda Ibunya yang berada di samping ambang pintu kamar mandi.
"Huwa…! Ibu mengagetkanku!"
"Siapa itu Yui?"
"Hah?" Hinata terdiam kaku.
"Yui… Gadis bernama Yui itu siapa? Pacarmu ya?" Ibunya menyikut lengan Hinata.
"A… Apaan sih bu… Itu…"
"Ayolah… Kenalkan pada Ibu…"
"…"
"Hinata?"
"Aku…tak bisa mengenalkannya pada Ibu, karna Ibu sudah pernah bertemu dengannya…"
"Ah... Taukah kau tiap kau tertidur, kau selalu begumam, 'Yui, cepatlah sembuh… Aku mencintaimu...' yah, semacam itulah…"
"Ti… Tidak! Mana mungkin begitu?!"
"Iya, aku serius."
"Ibu bohong! Aku tak pernah mengigau seperti itu."
Hinata pun meninggalkan Ibunya yang masih berdiri di depan kamar sambil menggerutu.
---------------------------------
"Yui, apa kau sudah tidur?" Ibunya mengetuk pintu secara perlahan.
Di kamar Yui, terdengar suara tv menyala, akan tetapi Yui tidak menyahut, Ibunya berpikir Yui sudah tidur dan ia ingin mematikan tv yang masih menyala tersebut.
Setelah mematikan tv, Ibunya menengok ke arah Yui dan hendak menyelimutinya. ibu Yui terkejut saat melihat nafas Yui yang tidak beraturan.
"Yui! Yui!" Ibunya mencoba membangunkannya. "Yui!"
Esok pagi, seperti biasa Hinata berkunjung ke rumah Yui. Hinata bermaksud akan mengajak Yui ke suatu tempat.
Namun, setibanya di rumah Yui, tak ada yang membukakan pintu untuknya, dan ia pun berpikiran jikalau Ibu Yui mengajak Yui keluar?
Tak beberapa lama, seorang tetangga yang lewat di depan rumah Yui tiba - tiba menyapa Hinata. "Hei, apa kau mencari seseorang yang ada di rumah itu?" Tanya wanita paruh baya itu.
"Ah... Iya, apa bibi tahu kemana mereka?"
"Semalam, ada ambulans datang dan membawa seorang gadis. Sepertinya keadaan gadis itu sangat gawat, ehmm..." Wanita itu berusaha mengingat sesuatu.
"Apa?" Hinata penasaran, "Yui…"
"Ah... Iya, hampir aku lupa namanya gadis itu."
"sekarang ia dimana?"
"hmm, kalau tidak salah rumah sakit Tengoku."
"Terima kasih bibi!" Setelah mengucapkan itu, Hinata segera berlari menuju rumah sakit Tengoku.
Pikiran Hinata melayang, membayangkan Yui yang sakit dan di larikan ke rumah sakit, ia benar - benar panik.
Setelah ia sampai di rumah sakit, Hinata bertanya pada suster penjaga dengan nafas yang masih tidak beraturan, setelah ia mengetahui kamar Yui, Hinata segera berlari secepat mungkin, tanpa peduli bahwa itu rumah sakit.
Kamar 105, tempat Yui dirawat.
"Yui!" Hinata membuka pintu dengan nafasnya yang tersengal.
"Hinata…" Ucap Ibu Yui yang duduk di sebelah tempat tidur Yui.
Yui melihat Hinata yang berdiri di pintu. "Ada apa? Kenapa nafasmu tidak teratur begitu?"
"Yui… Yui! Kau tidak apa-apa kan?!" Hinata menjauh dari pintu dan menghampiri Yui.
"Aku tidak apa-apa, tak usah panik begitu,"
"Ta... Tapi… tetanggamu…semalam kau…"
"Ah... Hinata…" Selat Ibu Yui. "Bisa kita bicara sebentar di luar?"
"Ah…"
Hinata menuruti ajakan Ibu Yui.
"Begini… Semalam keadaan Yui sangat parah, dengan cepat aku menyadarinya." Jelasnya.
"Kata dokter, ia memiliki penyakit kronis lain. Keadaan Yui sangat buruk, sekarang… dan dokter berkata bahwa umur Yui tidak lama lagi." Jelas Ibu Yui yang mulai menitikkan air mata.
"Nyonya…" Hinata terkejut sekaligus prihatin mendengarnya.
"Tolong jangan bicarakan ini di depan Yui."
Tak lama, Hinata dan Ibu Yui memasuki ruangan dimana Yui berada.
"Kalian lama sekali mengobrolnya!" Keluh Yui.
"Maaf… Tadi aku sekalian membeli minum, aku sedikit haus."
"Aku punya minum, seharusnya kau meminta padaku..."
"Aku lebih suka minuman yang dingin."
"Oh…"
Ibu Yui mengambil buah yang ia simpan di kulkas kecil.
"Hinata mau buah pir? Ku kupaskan ya,"
"Iya… Terima kasih."
Untuk sesaat, Hinata merasa bersyukur masih bisa melihat senyuman, bayangan hitam terus terbayang apabila Yui sudah tidak ada, akankah ia bisa tersenyum dan bersenda gurau lagi? Lalu ia teringat pada janjinya bahwa ia akan memberikan bunga pada musim tertentu setiap musim berganti.
Akhirnya Hinata membuat keputusan bahwa ia akan membelikan bunga untuk Yui... Dan juga Hinata ingin memberikan sesuatu juga kepada Yui…
***
( Chapt 4 Tears Of Sadness )
"Kau masih belum bisa keluar," Larang Ibu Yui, ketika Yui menanyakan apa ia bisa keluar atau tidak.
"Tapi bu…"
"Yui, jangan… Kesehatanmu belum pulih sama sekali,"
"…" Terlihat Yui kesal. "Hinata… Kenapa lama sekali?"
"Mungkin Hinata masih dalam perjalanan,"
"Uuh…"
---------------------------------
"Hei! Hinata…" Sapa seorang teman sekelasnya. "Kenapa akhir - akhir ini kau jarang sekali ikut klub? Lalu… Kau juga selalu pulang lebih cepat, ada sesuatu?"
"Hmm? Tidak… Tak ada yang penting, hanya saja aku tidak ingin ikut klub lagi."
"Kenapa?"
"Ehm… Tidak apa - apa... Sepertinya aku sudah membuang impianku untuk menjadi pemain baseball."
"Hah? Kau serius?!"
"I… Iya…" Hinata sedikit ragu akan perkataannya. "Selain Baseball, ada sesuatu yang ingin kulakukan?"
"Sesuatu?"
Ia sendiri sudah memendam keinginannya untuk menjadi pemain Baseball sejak ia bertemu dengan Yui, sekarang impian Hinata hanya ingin menemani gadis yang ia cintai Yui.
-------------------------------
"Yui, biar kulihat dulu ya keadaanmu..." Ucap Seorang perawat yang datang ke ruangan Yui untuk mengecek keadaan Yui.
"Kakak perawat, apakah aku sudah bisa jalan - jalan keluar?"
Perawat itu menggelengkan kepalanya. "Tidak, Yui. Untuk sekarang kau belum benar - benar pulih."
"..."
"Ya?"
Ucapan perawat itu membuat Yui terdiam.
Tak lama perawat itu keluar, berbarengan dengan ibu Yui yang juga ingin keluar untuk berbicara dengan perawat itu.
"Terima kasih, suster…"
"Sama - sama, aku tidak tahu sejauh mana ku bisa berbohong di depannya, apa Yui akan baik - baik saja kalau kau merahasiakannya?"
"Tidak apa - apa, sebenarnya tidak ada alasan aku berbohong seperti ini, dari awal Yui sudah tahu kalau hidupnya tidak akan lama…"
"… Ini benar - benar ironis… Apabila Tuhan mendengar doa dari Ibu sendiri, mungkin Tuhan akan mengabulkannya."
"Kuharap begitu."
---------------------------------
"Terima kasih." Ucap seorang penjual bunga pada Hinata yang baru saja membeli bunga.
"Apa dia senang bila kuberikan bunga dan benda ini ya?" Pikir Hinata. "Semoga ia menyukainya."
"Hinata lama sekali… Sudah jam 5, tapi dia belum datang." Gerutu Yui.
"Mungkin dia masih ada urusan, bersabarlah" Kata ibunya.
Seseorang membukakan pintu ruangan Yui.
"Permisi," Terdengar suara samar - samar dari luar pintu.
"Siapa? Masuk?" Tanya Yui heran, tetapi orang itu hanya merespon dengan memperlihatkan setangkai bunga krisan.
"Hmm… Siapa kau?" Yui sedikit kesal.
"..."
"Ah... Dasar apa kau tidak mengerti arti dari kata masuk?!" Cetus Yui kesal.
"Yui... Jaga ucapanmu!" Omel Ibu Yui.
"Maaf, menurutmu aku ini siapa?" Tanya orang yang di luar pintu tersebut.
"Cih! Cepatlah masuk! Jangan membuatku kesal! Bodoh!" Jawab Yui dengan nada tiggi karna kesal.
Orang di balik pintu tersebut pun keluar dari tempat persembunyiannya.
"Jadi aku ini tidak pintar?"
"Hi... Hinata?!" Seru Yui tak percaya, Yui segera menutupi wajahnya dengan selimut karna takut sekaligus malu. Ibu Yui hanya bisa terwa karna melihat tingkah anaknya.
"Maaf!... Maaf!..." Seru Yui dari balik selimut. Hinata segera menarik selimut yang di pegang Yui. "Baiklah... Tapi ada satu syarat,"
"Apa itu?"
"Hmm... Kau harus cepat sembuh dan kau harus ikut bersama ku ke suatu tempat,"
Yui menatap wajah Ibunya. "Baiklah!" Seru Yui bersemangat.
"Oh ya... Ini bunga untukmu." Ucap Hinata memberikan satu buket bunga krisan.
******************************
Tiga bulan berlalu di ikuti dengan kesembuhan Yui. "Hinata! Sekarang aku sudah sehat!" Seru Yui kegirangan.
"Cepat sekali... Baiklah kau harus ikut aku ke suatu tempat," Ucap Hinata pada Yui.
Mereka pun pergi ke sebuah padang bunga. "Ayo cepat bangun dari kursi rodamu!" Suruh Hinata, serentak membuat Yui bingung.
"A... Apa maksudmu?"
"Ayo cepatlah... Di sini aku akan mengajarimu berjalan,"
"Benarkah?! Kau bisa?!"
"Aku Hinata Hideki! Apa yang tidak bisa kulakukan!"
"Eh? Kau ini terlalu percaya diri..."
"Ayolah..." Ucap Hinata yang mulai membangunkan tubuh Yui, gadis berambut panjang itu pun menuruti komando yang di berikan oleh Hinata.
Tak disangka hari sudah malam, Hinata pun bergegas mengantarkan Yui pulang ke rumahnya. "Hmm... Hinata aku ingin pulang dengan berjalan," Pinta Yui. "Baiklah..." Ucap Hinata mengijinkan.
Rumah Yui tampak sepi, Yui pun berpikiran kalau Ibunya pergi keluar. Hinata pun segera mengantarkan Yui ke kamar Yui.
"Dimana Ibu?" Tanya Yui sambil melihat ke arah Hinata, namun Hinata hanya menjawab dengan mengangkatkan ke dua bahunya. Jarum jam menunjukkan jam sepuluh kurang. "Hinata... Kau pulang saja, aku bisa sendiri..." Saran Yui.
"Tidak... Tidak..." Jawab Hinata sambil menunduk kepalanya di tempat tidur Yui.
"Nanti orangtuamu memarahimu bagaimana?"
"..."
"Hinata..." Ucap Yui penasaran karna Hinata tak merespon Yui.
"Hmm..." Gumam Hinata dengan posisi yang sama.
"Hinata... Hinata!" Panggil Yui sambil mengoyang - goyangkan tubuh Hinata, tetapi Hinata tidak memberikan respon padanya. "Hinata bangun..." Ucap Yui untuk sekian kalinya. "Eummh..." Gumam Hinata.
"Ish!..." Gerutu Yui karna tingkah Hinata. Ia pun menengok ke arah langit 'Ibu...' Gumam Yui dalam hati.
"Yui..."
"Yui... Aku mencintaimu..." Igau Hinata serontak membuat Yui terkejut dan membuat pipinya menjadi merah padam. 'A... Apa maksudnya itu...' Ucap Yui dalam hati tak percaya.
"Aku pulang!" Seru Ibu Yui sambil membuka pintu kamar Yui.
"I... Ibu!... Kenapa baru pulang?"
"Maaf, Ibu ada urusan..."
"..."
"Hinata menginap?" Tanya Ibu Yui setelah melihat Hinata yang tertidur di sebelah Yui dengan posisi duduk.
"Mungkin..."
---------------------------------
Musim panas sudah tiba, Hinata bermaksud mengajak Yui untuk pergi ke Festival musim panas.
Hinata mulai menekan bel rumah Yui. "Hinata!" Kali ini yang membukakan pintu bukanlah Ibu Yui melainkan Yui sendiri. Hinata tercengang melihat Yui yang sekarang berdiri di depannya. "Hinata! Kau kenapa?! Hei!" Panggil Yui memastikan Hinata tidak apa - apa. Hinata mengerjapkan matanya. "Ka... Kau! Sekarang bisa berjalan?!"
"Sedikit - sedikit..."
"Kau hebat!" Seru Hinata yang langsung memeluk erat Yui. "Jangan memelukku! Sakit!" Larang Yui yang sebenarnya ingin Hinata peluk.
"Oh ya, ada sesuatu yang ingin ku berikan padamu, tapi..."
"Tapi? Tapi apa?"
"Kau harus ikut aku ke festival,"
"Aku belum bisa lama - lama berjalan," Jelas Yui. "Hmm... Jika kau lelah... Aku akan mengendongmu!" Usul Hinata.
"... Baiklah, tunggu sebentar" Ucap Yui setuju.
"Jangan lupa! Kau harus menggunakan Yukatamu!" Seru Hinata.
Hinata pun menunggu Yui di ruang tamu. "Hinata," Panggil Ibu Yui. "Ah... I... Iya nyonya," Hinata berdiri dari tempat duduknya.
"Tidak perlu memanggilku nyonya, cukup panggil aku Ibu saja,"
"Ba... Baik... Nyo... Ibu..."
"Sepertinya kau gugup sekali, santai saja. Oh ya, terimakasih Hinata, karna sudah mau menjadi teman Yui dan mengajarkan Yui berjalan,"
"I... Iya..."
"Ayo berangkat..." Seru Yui yang melihat Ibunya bersama Hinata. Yui dan Hinata pun berpamitan kepada Ibu Yui dan pergi ke festival.
"Hinata, aku lelah..." Lirih Yui sambil bersandar di sebuah tembok toko. Hinata pun langsung menghampiri Yui. "Baiklah..."
Hinata pun langsung mengendong Yui.
"Kau berat sekali,"
"Aku tidak berat, kau pasti berbohong!"
"Aku serius, kau sekarang menjadi berat. Kau mulai gendut" Komentar Hinata sambil tertawa, sedangkan Yui hanya bisa menggerutu karna komentar Hinata.
"Kita sudah sampai!" Ucap Hinata sambil menurun Yui dari gendongannya.
"Indah sekali... Banyak sekali bintang!" Seru Yui memandang indahnya langit.
"Oh ya, katamu kau ingin memberikan sesuatu padaku?"
"Aku hampir lupa, ini bola untukmu." Hinata memberikan sebuah bola Baseball.
"Eh? Apa maksudnya ini?" Tanya Yui penasaran apa maksud Hinata memberikan sebuah bola.
"Coba buka bola itu..."
"Aku ingin membeli makanan, kau tunggu di sini dan lihat apa isi bola itu." Jelas Hinata yang langsung pergi menjauh dari hadapan Yui.
"Apa maksudnya?" Tanya Yui kebingungan.
Yui pun menuruti perkataan Hinata, ternyata di dalam bola tersebut adalah sebuah cincin. "Cincin?" Tanya Yui pada dirinya sendiri. Yui terus menunggu Hinata sambil melihat cincin tersebut. Tak sengaja Yui menjatuhkan cincin tersebut, cincin itu pun terjatuh di tengah jalan.
---------------------------------
Hinata berjalan setapak demi setapak, melewati kerumunan orang - orang yang sedang berjalan, Ia terus memikirkan agar Yui dapat bahagia. Setidaknya sebelum Hinata merasakan kesedihan yang amat dalam, ia harus memikirkan kebahagiaan Yui dan dirinya.
Hinata berhenti bergumam dan melihat Yui yang sedang berusaha menyebrang untuk mengambil sesuatu, tanda jalan yang sedang merah itu tiba - tiba berubah menjadi warna hijau, itu artinya saatnya mobil - mobil berjalan.
Hinata melihat ke arah kanan dan kiri, terlihat ada sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi, Hinata segera berlari ke arah Yui dan mendorongnya.
Yui selamat karena Hinata, sedangkan Hinata terlihat tak sadarkan diri di depan mobil tersebut, Hampir sekujur tubuhnya di lumuri oleh darah.
Mata Yui terbelalak ketika melihat Hinata yang tak berdaya.
"Hinata!" Panggil Yui.
"Bangun!... Hinata..."
"Cepatlah bangun... Jangan bercanda... Hinata..." Lirihnya memeluk Hinata dengan erat.
Tak lama sebuah ambulans dantang dan membawa mereka berdua.
Salah satu perawat mendorong kursi roda yang Yui duduki, diikuti oleh ibu Yui. Yui dan Ibunya hanya bisa berdoa, semoga Hinata bisa diselamatkan.
Sampai di depan ruang operasi. Yui tak diijinkan masuk karena Hinata masih dalam proses dioperasi.
Yui pun menunggu, dengan pikiran yang gelisah.
Beberapa menit kemudian, seorang wanita paruh baya datang kesana untuk menanyakan ruangan Hinata pada perawat.
"Maaf, apa ini ruang operasi tempat Hinata Hideki dirawat?" Tanyanya.
"Iya, benar," Jawab seorang perawat yang tadi mendampingi Yui.
"Bagaimana keadaannya?"
"Saya belum tahu pasti karena saya baru tiba disini."
"Oh, begitu…"
Wanita itu pun segera duduk di bangku, dengan perasaan gelisah, ia masih sempat berdoa akan keselamatan anaknya.
"Maaf, apakah anda Ibu dari Hinata?" Tanya Yui yang sedari tadi melihatnya.
"Iya, aku Ibunya Hinata, anda siapa?"
"Aku Yui..."
"Oh, kau Yui? Hinata sering menyebut namamu,"
"hah?"
"Iya, tak kusangka akan secepat ini Hinata akan memperkenalkanmu, tapi tidak…" Ibu Hinata memerhatikan Yui secara keseluruhan, ia melihat Yui berada di kursi roda. "Kau sakit?"
"Iya…"
Ibunya ingin bertanya penyakit apa yang dideritanya, tapi ia mengurungkan niatnya, Ibunya sedikit mengerti apa yang di derita Yui.
Tak lama Setelah mereka terdiam, pintu operasi pun terbuka, tetapi yang keluar hanya seorang perawat saja.
"Maaf, apakah keluarga Hinata Hideki ada?"tanya perawat itu.
"Iya, aku Ibunya!" Ibu Hinata serentak berdiri ke hadapan perawat itu.
"Hinata saat ini kehilangan banyak darah dan golongan darahnya adalah O, apakah golongan darah anda sama dengan pasien?"
"Golongan darahku B,"
Perawat itu terlihat panik ketika jawaban Ibunya tak sesuai dengan harapannya, "Kalau begitu, apa ibu mempunyai golongan darah yang sama?" Tanya perawat itu pada Ibu Yui.
"Eh, anu… Golongan darahku A, kalau anakku golongan darahnya juga sama…"
"…" Yui merasa sedih mendengarnya, karna ia tak akan bisa mendonorkan darahnya.
Lalu, seorang dokter keluar dari ruang operasi, tersebut, salah satu dokter yang menangani operasi.
"Apa kau sudah menemukan pendonornya?" Tanya dokter itu pada perawat yang sedari tadi menanyakan golongan darah.
"Belum dok, salah satu keluarganya mempunyai golongan darah yang berbeda dengan pasien,"
"Kalau begitu, segera cari orang yang bergolongan sama dengan pasien!"
"Baik!"
Perawat itu segera bergegas untuk mencari pendonor.
"Dokter!" Panggil Yui sebelum dokter itu masuk ke dalam ruangan. "Bolehkah aku masuk? Aku ingin melihat Hinata..."
Dokter tersebut melihat Yui dan memandang mata Yui yang sangat ingin bertemu dengan Hinata, dan dokter pun tak bisa berkata untuk menolak.
"Baiklah, kau boleh masuk, tapi kau akan didampingi oleh perawat yang ada di belakangmu,"
Yui lega mendengar perkataan sang dokter yang memperbolehkannya masuk "Terima kasih!"
Yui yang memakai masker dan baju khusus sedang memandang Hinata dari samping.
"... Kenapa kau bisa… Begini?" Gumam Yui.
Bunyi yang ada di ruang operasi itu masih menunjukkan detak jantung Hinata yang tidak stabil.
"Andai saja… Aku bisa memberikanmu darahku… Tapi... Satu tetes pun tak bisa kuberikan padamu..." Harap Yui dengan air mata yang membasahi pipinya. "Hinata... Kau sudah memberiku kekuatan saat aku sakit… Kau memberiku semangat dan hadiah yang tak ternilai… Tapi apa yang kuberikan padamu? Aku… Banyak merepotkanmu, aku tak bisa memberikanmu sampai detik ini pun aku…"
Yui menggigit bibirnya sendiri dan mulai tak bisa menghapus air matanya, yang kini mulai mengalir deras.
Tiba - tiba Hinata membuka kedua matanya, ia melihat cahaya lampu di ruang operasi yang membuat mata Hinata sedikit silau, terdengar suara isak tangis dari Yui.
Yui masih menangis di sana, ia tertunduk, tak sanggup memandang wajah Hinata karena itu membuat hatinya terasa sakit sekali.
"… Yu… Yui..." Lirihnya, suaranya terasa begitu pelan, ia pikir Yui akan melihatnya apabila ia memanggil namanya. "Yu... I…" Panggilnya lagi, kali ini ia berusaha mengeluarkan semua tenaganya untuk memanggil Yui.
Yui memandang kembali wajah Hinata, karena ia merasa panggilan Hinata yang sekarang ini bukanlah imajinasinya, Hinata benar - benar bangun.
"Hinata!"
"Yu… Yui..."
"Hinata… Kau… Kau sudah… Bangun?"
"Ini… Dimana?"
"Di rumah sakit, kau mengalami kecelakaan,"
"Oh…"
Nafas Hinata menjadi amat berat dan suaranya semakin serak.
"Hinata! Kau tak apa - apa? Jangan bicara dulu."
"... Aku… Tidak apa... Yui..."
"Hinata…"
Hinata mengangkat tangannya yang diinfus itu ke pipi Yui, "Matamu… Merah... Kau… Menangis?"
Yui merasa hangat ketika pipinya di sentuh oleh Hinata.
"Jangan... Menangis... Yui... Aku selalu... Disampingmu…"
Kata-kata Hinata membuat Yui benar-benar tak bisa menghentikan air matanya.
"Aku… Ingin memberimu… Bunga... Seperti janjiku padamu dulu… Tapi sayangnya… Aku tak dapat memberikan… Padamu… Lagi..." Nafas Hinata mulai tersengal - sengal lagi.
"Dok! Pasien dalam keadaan kritis saat ini!" Seru salah seorang dokter anestesi.
Lalu salah satu dokter memberi komando pada dokter tersebut.
"Jangan bicara lagi! Keadaanmu makin kritis!"
"Tidak..." Ucapnya masih dengan nafas yang setengah terhambat. "Aku… Ingin memberimu sesuatu..."
Hinata menarik tangannya dari pipi Yui dan merogoh saku celananya, dengan sisa tenaga yang ia miliki, Hinata menunjukkan benda yang ada di saku, yang adalah cincin yang Yui jatuhkan saat itu.
"Ci… Cincin itu?"
"Iya... Walau… Ini murahan… Tapi… Aku… Ingin kau memiliki… Nya…" Hinata meraih tangan Yui yang ada di pegangan kursi roda itu "Aku janji... Akan menikahimu… Kelak... Jika... Suatu hari... Kita dapat... Bertemu lagi... Walau... Kau tak bisa... melakukan apa - apa... Sekalipun... Kita... Tak bisa memiliki anak... Aku akan menikahimu... Cincin ini… Hanya untuk mengikat hubungan kita… Aku mencintaimu Yui..." Hinata pun segera memasangkan cincin itu di jari manis di tangan kiri Yui.
"Hinata..." Yui kembali menangis, karena terharu.
"Kuharap… Aku bisa memberimu... Yang… Lebih bagus…"
Hinata mulai tak sadarkan diri, matanya mulai berkunang - kunang.
"Hinata!"
"Jangan… Menangis… Yui…"
Itulah kata - kata terakhir Hinata sebelum ia pergi.
"Hinata!"
Tak disangka, Hinata akan mendahului Yui. Tak ada lagi yang menghibur Yui setiap hari, tak ada lagi yang membawakan bunga pada setiap musim, dan tak ada lagi canda tawa yang Yui rasakan setiap hari.
Semua berlalu begitu cepat…
By : Rhea [ FB: Raisha Britania Rivaille ]

Pasca meninggalnya Hinata, kondisi Yui semakin memburuk. Ia tak mau makan dan minum, bahkan ia tak tidur.
"Yui, makanlah... Sesuap saja…"
"…" Yui hanya diam saja memandangi jendela, ia menghiraukan ibunya yang sedang membujuknya.
"Yui…"
Ibunya mulai menyerah, Yui masih larut dalam kesedihannya.
Salah satu keinginan Yui saat ini adalah bertemu Hinata, walau ia meninggal sekalipun. Asalkan ia bertemu lagi dengan Hinata, tak jadi masalah untuknya.
Ya, sekali saja ia ingin dipertemukan oleh Hinata ingin memeluknya dan ingin menggenggam tangannya, karena di kehidupan setelah meninggal, Yui tak akan merasakan penyakitnya lagi, tak lagi khawatir, dan juga bisa bergerak bebas.
Setiap hari Yui melamun sendiri, melihat jendela dengan tatapan kosong, Yui merasakan kesepian dan kesedihan yang amat sangat. Dulu ia pernah merasakan kenangan manis, namun semua itu tidak berlanjut lama.
"Yui…" Ibunya sedih setiap kali melihat Yui seharian ini Yui seperti itu.
"Permisi…" Suara itu menghancurkan keheningan yang terjadi di ruangan tempat Yui dirawat.
"Ya?" Jawab ibunya sambil membuka pintu. "Ah, nyonya Hideki…"
"Syukurlah, ini benar ruangan Yui aku tak tahu marganya, jadi aku menghampiri semua pasien yang bernama Yui." Ibu Hinata tertawa menceritakan kejadian sebelum ia datang.
"Ah, begitu… Maaf ya, aku jadi merepotkanmu." Ibu Yui membungkuk.
"Ah, tidak apa - apa kok, kau tenang saja." Ucap Ibu Hinata. "Oh ya... Aku membawa bunga untuk Yui,"
Mendengar kata bunga, sekilas Yui ingat sekarang mulai mendekati musim bunga yang dibawakan Ibu Hinata adalah bunga krisan ungu.
"Bunga… Krisan…?"
"Iya, yang cocok untuk musim dingin kan?" Jawab Ibu Hinata yang menghampiri Yui di tempat tidurnya.
"…. Kenapa… Nyonya…"
"Kenapa aku mengetahuinya? Itu berkat Hinata,"
"Hinata?"
"Iya, Hinata tak pernah bercerita padaku, tapi ia selalu menuliskannya dalam diam diarinya yang aku baca,"
"Jadi…" Lanjut Ibu Hinata. "Kuberikan bunga krisan ini aku bukan Hinata, tapi kuharap kau mau menerimanya."
"…"
Yui hanya terdiam mendengar Ibu Hinata, Ibunya memberikan vase bunga untuk menaruh bunga tersebut.
"Yui, kau tahu arti bunga krisan ungu?" Tanya Ibu Hinata yang sedang menaruh bunga di vase.
"Tidak…"
"Artinya, semoga kau sehat... Mungkin ia tahu arti dari bunga ini, makanya ia memilih krisan warna ungu." Ucap Ibu Hinata yang sudah selesai menaruh bunganya. "Yui, ia mendoakanmu supaya kau cepat sembuh... Ia benar - benar menyayangimu."
"Hinata…" Yui mulai menitikan air matanya.
Ibu Hinata memeluk Yui, dan mecoba menenangkan Yui.
Di pelukan Ibu Hinata. Entah mengapa, semakin lama Yui mulai pusing dan pandangannya juga samar ia melihat Ibu Hinata melepas pelukannya dan berteriak memanggil nama wanita berambut panjang itu.
Seketika itu juga Yui tak sadarkan diri, Ibu Yui segera memanggil dokter, dan dokter mengatakan bahwa Yui terlalu banyak berpikir, ditambah ia tak makan dan tak tidur, itu mengakibatkan fisiknya menjadi sangat lemah.
Dokter itu sudah mencoba semampunya agar Yui selamat, tapi takdir berkata lain, jantungnya berhenti, matanya masih digenangi air air mata.
Ternyata Tuhan memang mungkin mendengarnya. Ia. dipertemukan dengan orang yang ia cintai yaitu Hinata.
Mereka bertemu, sekalipun mereka tak kenal, mereka akan berkenalan, kemudian jatuh cinta lagi.
-The End -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar