By : Dwi Krismiari Putri (-SAS-)
Sinar matahari musim semi, memberi rasa nyaman kepada sepasang anak manusia ini. Alan dan Hara, mereka berdua tampak berusia awal atau pertengahan dua puluh tahun. Iris biru safir milik Alan hanya menatap lurus rumput taman ini, sedangkan Hara, gadis Jepang ini hanya menunduk, dan menunggu. Ya menunggu hingga Alan bersuara.
"Aku akan kembali ke New York," kata Alan tiba-tiba. Terkejut? Tentu saja, Hara bahkan menoleh ke arah Alan kurang dari sedetik setelah pemuda ini menyampaikan kalimat pendeknya itu.
"Kenapa?"hanya kata itu yang dapat meluncur dari bibir Hara. Alan tersenyum kecil, ia tidak langsung menjawab. Tidak mungkin ia memberitahu Hara alasan utamanya kembali ke New York, gadis itu pasti khawatir."Ada sedikit masalah keluarga."alasan itu dirasa cukup untuk menjawab rasa penasaran Hara.
"Masalah keluarga?"
"Mm,"gumam Alan, lalu menarik napas dalam."Karena itu aku harus pulang lebih cepat dari yang ku rencanakan."
Hara memalingkan wajah, dan menggigit bibir bawahnya."Kapan?"singkat, saat ini bagi Hara benar-benar sulit untuk berbicara, sulit sekali.
"Secepatnya."
Hara menatap Alan heran. Ia ingin membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, tapi ia urungkan dengan cepat.
"Aku bukannya ingin menghindari mu, Hara,"kata Alan, seolah-olah mengerti apa yang ada dalam pikiran Hara."Aku tidak akan bisa menghindari mu walau pun aku ingin."
Hara menatap Alan tidak mengerti. Apa maksudnya? Apa yang sebenarnya ingin dikata kan oleh Alan?
Alan membuka mulut hendak menjelaskan, namun ia mengurungkan niatnya. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk menyatakan perasaannya. Hara pasti akan mundur teratur begitu mendengar pengakuan Alan. Bahkan mungkin akan menarik diri dan menghindari Alan selamanya. Kalau itu terjadi, Alan tidak yakin ia bisa bertahan untuk mengatasinya.
Tetapi saat ini ia sangat ingin mengatakan apa yang Alan rasakan, apa yang ada dalam hatinya. Alan menoleh ke arah Hara."Ada sesuatu yang ingin kukatakan pada mu sejak dulu,"Alan mencoba bersikap setenang mungkin, senyum kecil terukir jelas di wajah Alan."Sampai sekarang aku belum berani mengatakannya...,yah karena berbagai alasan. Dan alasan utamanya karena aku takut."
Hara mengerutkan keningnya, ia sama sekali tak mengerti hal apa yang sebenarnya ingin disampaikan Alan, namun ia mendapati dirinya menahan napas saat mendengar Alan berbicara dengan nada yang rendah dan pelan.
"Kalau aku mengatakannya, reaksi apa yang akan kau berikan? Apa kau akan menerima pengakuan ku? Apa kah kau masih akan menatap ku seperti ini? Tersenyum pada ku seperti ini? Atau apa kau akan menjauh dari ku? Meninggalkan ku?"saat itu Alan menatap iris kelam milik Hara, Alan menarik napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya,"Tapi aku tahu aku harus mengatakannya pada mu. Aku tidak mungkin menyimpannya selamanya. Entah bagaimana reaksi mu nanti setelah mendengarnya, aku hanya berharap satu hal pada mu."
Menatap balik mata Alan membuat Hara tidak dapat berpikir. Sesuatu dalam mata Alan membuat Hara berdebar-debar, membuat tenggorokannya tercekat, dan membuat hatinya terasa nyeri.
"Jangan pergi dari ku. Tetaplah disisi ku."
Hara tidak bisa mengalihkan pandangannya lagi dari manik mata Alan. Ia masih tidak bisa bernapas. Ia masih tidak bisa bersuara. Ia masih tidak bisa mendengar suara lain, selain suara Alan. Sedetik kemudian Hara menyadari ia masih menahan napas menunggu kalimat Alan selanjutnya. Namun Alan hanya tersenyum kecil penuh makna dan bergumam lirih, "Karena itu...,maukah kau menunggu ku?"
Diam. Bingung dan terkejut. Hara tertegun. Alan menoleh kearah Hara dengan penuh harap. Iris biru safir milik Alan seolah mampu menggali jiwa Hara, saat ini. Saat itu juga Hara mengerti apa yang dimaksud tenggelam dalam mata seseorang. Tatapan Alan membuat Hara sulit bernapas, seolah-olah dunia mengecil di sekeliling mereka, dan menyelubungi mereka.
"Aku tidak akan menuntut banyak. Aku juga tidak akan membebani mu. Aku hanya meminta mu menunggu sampai aku menyelesaikan masalah ku. Sampai saat itu tiba, jangan pergi kemana-mana. Tetaplah bersama ku,"pinta Alan tulus. Sangat tulus.
"Alan, aku..."
"Nanti, saat kita bertemu kembali, kalau perasaan mu masih belum berubah, kalau kau masih sulit percaya pada ku, kalau kau tidak mau melihat ku lagi, tidak mau berurusan dengan ku lagi, kau hanya perlu mengatakannya dan aku akan menuruti apa pun yang kau katakan."
Hara menerawang manik mata Alan sesaat, lalu menunduk. Kalau Alan menatapnya seperti sekarang, hati Hara melemah seketika. Dan sebelum ia benar-benar menyadari apa yang dilakukannya, ia mengangguk. Hara percaya, ia percaya dan ingin selalu begitu.
Fin ^^
Sinar matahari musim semi, memberi rasa nyaman kepada sepasang anak manusia ini. Alan dan Hara, mereka berdua tampak berusia awal atau pertengahan dua puluh tahun. Iris biru safir milik Alan hanya menatap lurus rumput taman ini, sedangkan Hara, gadis Jepang ini hanya menunduk, dan menunggu. Ya menunggu hingga Alan bersuara.
"Aku akan kembali ke New York," kata Alan tiba-tiba. Terkejut? Tentu saja, Hara bahkan menoleh ke arah Alan kurang dari sedetik setelah pemuda ini menyampaikan kalimat pendeknya itu.
"Kenapa?"hanya kata itu yang dapat meluncur dari bibir Hara. Alan tersenyum kecil, ia tidak langsung menjawab. Tidak mungkin ia memberitahu Hara alasan utamanya kembali ke New York, gadis itu pasti khawatir."Ada sedikit masalah keluarga."alasan itu dirasa cukup untuk menjawab rasa penasaran Hara.
"Masalah keluarga?"
"Mm,"gumam Alan, lalu menarik napas dalam."Karena itu aku harus pulang lebih cepat dari yang ku rencanakan."
Hara memalingkan wajah, dan menggigit bibir bawahnya."Kapan?"singkat, saat ini bagi Hara benar-benar sulit untuk berbicara, sulit sekali.
"Secepatnya."
Hara menatap Alan heran. Ia ingin membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, tapi ia urungkan dengan cepat.
"Aku bukannya ingin menghindari mu, Hara,"kata Alan, seolah-olah mengerti apa yang ada dalam pikiran Hara."Aku tidak akan bisa menghindari mu walau pun aku ingin."
Hara menatap Alan tidak mengerti. Apa maksudnya? Apa yang sebenarnya ingin dikata kan oleh Alan?
Alan membuka mulut hendak menjelaskan, namun ia mengurungkan niatnya. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk menyatakan perasaannya. Hara pasti akan mundur teratur begitu mendengar pengakuan Alan. Bahkan mungkin akan menarik diri dan menghindari Alan selamanya. Kalau itu terjadi, Alan tidak yakin ia bisa bertahan untuk mengatasinya.
Tetapi saat ini ia sangat ingin mengatakan apa yang Alan rasakan, apa yang ada dalam hatinya. Alan menoleh ke arah Hara."Ada sesuatu yang ingin kukatakan pada mu sejak dulu,"Alan mencoba bersikap setenang mungkin, senyum kecil terukir jelas di wajah Alan."Sampai sekarang aku belum berani mengatakannya...,yah karena berbagai alasan. Dan alasan utamanya karena aku takut."
Hara mengerutkan keningnya, ia sama sekali tak mengerti hal apa yang sebenarnya ingin disampaikan Alan, namun ia mendapati dirinya menahan napas saat mendengar Alan berbicara dengan nada yang rendah dan pelan.
"Kalau aku mengatakannya, reaksi apa yang akan kau berikan? Apa kau akan menerima pengakuan ku? Apa kah kau masih akan menatap ku seperti ini? Tersenyum pada ku seperti ini? Atau apa kau akan menjauh dari ku? Meninggalkan ku?"saat itu Alan menatap iris kelam milik Hara, Alan menarik napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya,"Tapi aku tahu aku harus mengatakannya pada mu. Aku tidak mungkin menyimpannya selamanya. Entah bagaimana reaksi mu nanti setelah mendengarnya, aku hanya berharap satu hal pada mu."
Menatap balik mata Alan membuat Hara tidak dapat berpikir. Sesuatu dalam mata Alan membuat Hara berdebar-debar, membuat tenggorokannya tercekat, dan membuat hatinya terasa nyeri.
"Jangan pergi dari ku. Tetaplah disisi ku."
Hara tidak bisa mengalihkan pandangannya lagi dari manik mata Alan. Ia masih tidak bisa bernapas. Ia masih tidak bisa bersuara. Ia masih tidak bisa mendengar suara lain, selain suara Alan. Sedetik kemudian Hara menyadari ia masih menahan napas menunggu kalimat Alan selanjutnya. Namun Alan hanya tersenyum kecil penuh makna dan bergumam lirih, "Karena itu...,maukah kau menunggu ku?"
Diam. Bingung dan terkejut. Hara tertegun. Alan menoleh kearah Hara dengan penuh harap. Iris biru safir milik Alan seolah mampu menggali jiwa Hara, saat ini. Saat itu juga Hara mengerti apa yang dimaksud tenggelam dalam mata seseorang. Tatapan Alan membuat Hara sulit bernapas, seolah-olah dunia mengecil di sekeliling mereka, dan menyelubungi mereka.
"Aku tidak akan menuntut banyak. Aku juga tidak akan membebani mu. Aku hanya meminta mu menunggu sampai aku menyelesaikan masalah ku. Sampai saat itu tiba, jangan pergi kemana-mana. Tetaplah bersama ku,"pinta Alan tulus. Sangat tulus.
"Alan, aku..."
"Nanti, saat kita bertemu kembali, kalau perasaan mu masih belum berubah, kalau kau masih sulit percaya pada ku, kalau kau tidak mau melihat ku lagi, tidak mau berurusan dengan ku lagi, kau hanya perlu mengatakannya dan aku akan menuruti apa pun yang kau katakan."
Hara menerawang manik mata Alan sesaat, lalu menunduk. Kalau Alan menatapnya seperti sekarang, hati Hara melemah seketika. Dan sebelum ia benar-benar menyadari apa yang dilakukannya, ia mengangguk. Hara percaya, ia percaya dan ingin selalu begitu.
Fin ^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar