Sabtu, 22 Februari 2014

Good Nite

 By : Xue and Trivia
( Facebook : Xue Al Xing &Via Seoyoonnie )


"Selamat malam" ucap Jester mengetuk pintu. Pintu yang dimana, seorang wanita cantik tinggal di dalam nya. Jester menatap jam tangan nya. 5 jam, sudah berlalu. Ia, sebelum nya tak pernah datang ke kota ini.

Sebuah kedatangan yang tidak di ketahui oleh Leen sebelum nya. Ya, pria tegap itu tengah berdiri di depan pintu rumah kekasih nya. Mungkin, kekasih nya ada urusan di luar sana.

Jester pun duduk, dan mengambil sebuah buku bercover hijau gelap. Ada sebuah nama yang tertuliskan dengan warna emas kemilau. Christlle, nama itu tertera di bawah samping buku.

Jester pun, kembali menunggu.
Eileen bisa mendengar suara ketukan dari pintu utama. Posisinya yang berada di dapur membuatnya harus mengambil sedikit jeda untuk memastikan suara yang ia dengar. Ketika suara ketukan kembali terdengar, ia langsung berjalan tergesa-gesa ke arah pintu utama rumahnya.

Sepasang tungkainya yang jenjang membawa ia dengan cepat. Sang gadis sudah berdiri di depan benda kayu kokoh tersebut. Tangannya terulur, meraih engsel dan menariknya tanpa mengecek terlebih dahulu siapa yang datang.
Jester menghentikan aktivitasnya. Ia menutup buku yang ia genggam. " Leen," Ucap Jester, ia tersenyum ketika mendapatkan sosok Leen di ambang pintu. " Apa kabar mu?" Lanjutnya, dan memasukan buku tersebut kedalam saku nya.
Air muka Eileen menunjukkan keterkejutan saat mendapati Jester yang datang. Tapi terang saja ia senang. Eileen melebarkan pintu dan sedikit menyingkir. "Kenapa tidak bilang kalau mau datang?" tanyanya. "Masuklah. Kita bicara di dalam."
" Kau cantik seperti biasanya." Puji Jester, seraya masuk kedalam rumah Leen. Ia melihat interior rumah Leen, setiap sudut nya tampak indah. Kekasih nya memang terkenal cerdas, memukau dan resik. Leen, tak salah jika Jester jatuh cinta kepada nya.
Gadis yang diajak bicara hanya membalas dengan senyuman. Ia menutup pintu dan ikut berjalan menyusul Jester. "Duduklah. Lakukan apa yang kau mau." ramahnya. "Ah, ya, mau minum apa?"
Mata nya pun kembali kepada sosok Leen, yang tengah mempersilakan." Terserah kau saja, asal jangan coffee. Maaf, kita jarang berjumpa" Jester pun duduk di sofa, yang hiasi suatu ruang tamu. Tempat yang tenang.
Eileen mengangguk tanpa menghilangkan senyumnya. "Tak apa, kau sibuk. Sama sekali bukan masalah." jawabnya santai sambil berjalan ke arah dapur.
"Leen, kau tinggal sendiri?" Tanya Jester.
Reflek Eileen mengangguk sambil bergumam tanda mengiyakan. Walaupun Jester pasti tidak akan bisa melihat anggukannya. "Ya, orangtuaku tidak di kota ini." sahutnya dari dapur. Ia meraih dua buah gelas kaca dari tempatnya tergeletak dan mulai membuat minuman.
Jester terdiam sejenak mendengar sahutan Eileen. Lalu ia pun bertanya kembali." Apa alasan kalian tak tinggal bersama?" Jester mengajukan pertanyaan seraya menghampiri Eileen yang berada di dapur.
"Mereka tidak ingin meninggalkan rumah lama kami." jawabnya. Fokusnya masih tertuju pada cangkir teh, sebelum akhirnya suara langkah Jester yang mendekat membuatnya menoleh ke belakang.
" Mungkin, suatu saat nanti... aku akan meminta izin kepada kedua orang tua mu untuk membawa putri mereka kediaman ku." Jester tersenyum melihat Eileen yang tengah sibuk dengan 2 cangkir teh yang ia sediakan untuk mereka berdua. " Atau mungkin, aku kan meminta izin kepada mereka untuk tinggal bersama mu disini?" Lanjut Jester, dan berdiri di samping Eileen.
Kalimat pertama dari bibir Jester berhasil membuat Eileen menahan senyum dalam tundukannya. Tangannya memang mengaduk sendok teh di dalam cangkir, tapi otaknya seolah tidak mengontrol hal itu, melainkan sibuk dengan ledakan aneh hatinya. Kalimat selanjutnya justeru membuat Eileen menoleh. Jester berdiri menatapnya. Dari manik cokelat Eileen, ada keterkejutan yang tersimpan. "Di sini?" tanyanya memastikan.
"Yup, apa ada masalah?" Tanya Jester menahan tawa, karna mendapatkan ekspresi kekasih nya yang tampak nya terkejut dengan kata-kata nya.
"Eum, tidak ada." katanya berusaha mengalihkan rasa malunya. Ia menaruh sendok tehnya di samping cangkir dan diam sejenak. Si gadis menoleh lagi ke samping, mempertemukan lagi dua pasang manik dengan warna yang kontras tersebut. "Jika sekiranya itu bisa membuatku memastikan kau makan sayur dengan baik." Eileen terkekeh di akhir kalimatnya.
" Haha kau ini, ya mungkin begitu." Jester menatap kedalam sinaran cahaya di lensa mata yang dihias garetan iris kecoklatan. Mereka terdiam sejenak. Ada rasa yang mungkin cukup egois, ya... Rasa nya pria ini tak ingin melepaskan gadis di depannya. Sampai kapan pun. " Sini, biar ku bantu." Jester mengambil 2 cangkir teh yang telah Eileen buat. " Aku mencintai mu," bisik Jester dan melangkah mendahului Eileen, keruang tengah.
Eileen diam di tempatnya. Hanya membalikkan badan saat siluet tegap itu membawa pergi dua cangkir teh yang tadi dibuatnya. Ia tersenyum. Meskipun Jester tak akan melihatnya. "Aku juga mencintaimu." balasnya, ikut berbisik.
" Rumah ini sungguh sunyi, aku tak bisa membayangkan jika aku tak menjalin hubungan dengan mu... Apa yang akan terjadi pada mu?" Jester menaruh teh-teh tersebut diatas meja. Ia masih memperhatikan setiap rumah sudut Eileen. Memang tampak sunyi rumah yang ditinggali oleh seorang wanita cantik ini. Namun, apa beda nya rumah Eileen dan Jester? Setidak nya, rumah kekasih nya ini tidak tampak suram seperti rumah Jester. Ya... Rumah ini sunyi tapi, hangat.
"Itulah mengapa aku senang menjamu tamu. Agar bisa menjadi teman mengobrolku." Eileen menyusul Jester, duduk di sebuah sofa panjang.
"Siapa saja yang datang kerumah mu?"
"Biasanya hanya teman-temanku." jawab Eileen. Diiringi sebuah senyuman di akhir ucapannya.
"Kau sudah makan? Kupikir tidak akan ada yang datang, jadi aku tidak masak sesuatu yang spesial." ia tertawa.
" Belum. Tak apa, asalkan kau yang memasak nya. Apa yang kau buat?" Jester tersenyum, membalas wajah ceria Eileen.
"Benar-benar tidak ada yang spesial. Hanya tumisan daging yang kucampur dengan sayuran. Aku tidak pandai memasak." ujarnya sambil menertawai ucapannya sendiri.
" Ya sudah, ayo kita makan." Jester bangkit, dan mendekati Eileen. " Ayo istri ku, haha" Kekehan kecil keluar dari bibir pemuda ini. Ia menarik pelan kekasih nya, untuk segera bangkit menuju dapur.
Eileen ikut menertawai tingkah lucu Jester. Ia menuruti Jester yang menariknya ke arah dapur. Sangat jarang mereka bisa bertemu untuk makan bersama. Kali ini adalah kesempatannya. Namun, hal yang Eileen sayangkan adalah tidak menyimpan stok makanan lain. Ia pikir tidak akan ada yang datang.
Sepasang kekasih itu sampai di depan meja makan. Beruntung meja makan itu selalu tertata dengan rapi, jadi Eileen tidak terlalu malu menjamu Jester makan di sini.
"Duduk saja. Biar aku yang ambilkan."
Jestet tersenyum melihat kekasih nya͵ lalu ia pun duduk ketika di persilakan. “ Baiklah...“ Tutur nya.
Tangan si gadis mulai aktif mengambilkan makanan untuk Jester ke atas piring dengan porsi secukupnya. Ini pertama kali ia menyediakan makan secara langsung pada kekasihnya itu. Ia jadi khawatir sendiri. Takut kalau saja rasa masakannya tidak sesuai dengan selera Jester.
Piring yang sudah terisi itu ia suguhkan ke hadapan sang pria. Ia ikut duduk di sampingnya, menopang dagu dengan tampang penasaran. Menunggu komentar apa yang akan dilontarkan si pria beriris biru tersebut.
Jester terlihat asyik sendiri melihat kekasih nya. Mata nya mengambil potret setiap gerakan Eileen. Gadis nya ini tampak cantik͵ puji Jester sambil tersenyum. Beberapa saat kemudian͵ makanan siap dihidangkan. Terlihat lezat. Jester pun mengambil satu suapan pertama. “ Hm...“ Gumam nya menikmati makanan di mulut nya.
Eileen tampak antusias memandang Jester. Tak sabar ingin dengar komentarnya. Kali pertama kekasihnya makan masakan buatannya. Saat ini rasanya seperti menunggu saat-saat menunggu hasil ujian ketika ia sekolah dulu. Ada perasaan takut dan penasaran yang menyatu.
“ Maaf sebelum nya Leen... Seharus nya aku tak mengatakan nya͵ tapi jika kau meminta komentar baiklah.“ Jester berhenti sejenak dan menghela nafas kasar. “Tak bisa ku pungkiri. Seperti nya͵ aku jatuh cinta dengan masakan mu. Haha“ Lanjut Jester͵ dia tertawa karna ekspresi gadis di depan nya ini.
Eileen berdecih sebal. Sebelumnya ia sudah dibuat berdebar karena kalimat Jester yang terdengar serius, dan ternyata malah gurauan.
"Ish. Kukira ada yang salah." keluhnya tak terima. Lega juga karena Jester menyukai masakannya.
“ Haha kau mau aku jawab apa? Kalau kau minta koreksi͵ hm... Baiklah. Tapi ini bukan sepenuh nya mengenai masakan mu. Kau harus percaya dengan apa yang telah kau perbuat͵ agar hal itu dapat memuaskan dan maksimal.“ Ucap Jester.
Eileen mengulum senyumnya seraya menganggukkan kepalanya. Ada benarnya juga. Setidaknya itu bisa jadi koreksi bagi diri Eileen sendiri. "Wah, Tuan Christlle pintar sekali." ia tertawa. "Lanjutkan makanmu." perintahnya.
Jester pun melanjutkan makan nya. Setelah beberapa menit acara makan pun selesai. Dan jam pun sudah menduduki jam-jam larut malam.
"Minum dulu." si gadis berambut sepunggung itu menyodorkan segelas air. Ia melirik jam yang menempel di dinding, lantas kembali menoleh pada pria di sampingnya tersebut. "Kau tidak akan pulang larut malam begini, kan?" sebelah alisnya terangkat.
Jester meneguk beberapa air. "Hm, ya.. Ini sudah hampir larut malam. Entahlah, apakah kereta menuju tempat tinggal ku masih ada ya?" Jester tersadar bahwa malam-malam begini, mungkin kereta yang menuju kota tempat ia tinggal, sangatlah jarang.
"Kau bisa tinggal kalau kau mau, setidaknya sampai besok jika kereta mulai beroperasi lagi." tawar Eileen.
"Baiklah. Trims." Jester menerima penawaran Leen. Malam begitu larut, dan mereka harus segera tidur. Dan, menjemput hari esok yang memberikan cahya jelita dari mentari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar