Kamis, 09 Juli 2015

Aishiteru yo! (Part 6)

Aishiteru yo!!! (Part 6)

Fanfict-Yaoi 
Author: Yolan
            Konichiwa :D Sekarang Yolan bawa Kata –kata Xun buat Xun(?) :D Bingung? Hahahahaha… Lanjut aja Ya?“Apa kau tahu? Kau adalah Hidup ku? Kehadiran mu bagai warna dalam hidup ku, Senyum mu… Bagaikan tenaga yang membuat Jantung ku berdetak. Entah apa jadinya jika aku tanpa mu … Mungkin hidup ku akan kelabu, Dan aku pun hidup bagaikan Mayat Hidup? Antara Mati dan tidak.  Ah… Bahkan mungkin aku rela kehilangan tangan dan kaki ku asal kau bahagia :’) Mungkin terdengar konyol, Tapi inilah aku… Pria yang mencintai mu hingga napasku tak terhembus lagi.”            Huaaaaa!!!! Walau beda Genre nya sama Sei. Tapi keduanya sama –sama Romance :3 Switt Swittt … Di cerita sebelumnya. Sei dan Xun kembali menjadi sepasang kekasih. Dan Xun mengajak Sei ke Taman bermain tapi… Ketika pulang Sei pingsan!!? Omo! Apa yang terjadi pada Sei??
Selamat Membaca ^-^)///////////////////////////////////////////

            Terasa air mata yang membasahi pipi ku. Perlahan aku pun membuka mataku. Terlihat samar wajahnya. “Dia menangis?” Kata ku dalam hati. Aku baru sadar dari pingsan ku. “Sei…” Lirih nya dengan senyum ketika menyadari aku bangun. “Xun…” Kata ku lemas. Xun pun mencium tangan ku yang di genggamnya. “Aku mencintai mu.” Katanya dan dengan air mata. “Aku juga mencintai mu.” Jawab ku tersenyum.
            Pulangnya. “Hari ini kau harus istirahat penuh Ok?” Kata Xun membuka pintu Apartemen. Aku menggeleng. “AKu tak mau.” Kata ku cemberut. “Kenapa tak mau?” Tanya Xun seraya masuk. Aku mengikutinya dari belakang. “Ku bilang aku tak mau.” Kata ku dengan sedikit manja. “Sei… Jangan begitu. Kau baru siuman dan kau harus istirahat.” Kata Xun yang mulai kesal dengan sifat keras kepala ku. “… Kenapa memangnya? Seperti aku baru siuman dari koma saja.” Kata ku becanda dengan senyum. Xun terdiam. Matanya berubah tampak menjadi sayu. “Kenapa?” Tanya ku khawatir. “Ya, Kau baru saja sadar dari Koma mu.” Kata Xun memberitahu. “What? Jangan becanda Xun? AKu hanya pingsan satu hari atau tidak beberapa hari… Iya kan?” Tanya ku yang tak percaya. Xun menggeleng. “Tidak. Kau tak sadarkan diri selama sebulan.” Kata Xun meluruskan. “Kau pasti bohong! Itu tak mungkin!!!” Bentak ku. Entah kenapa sekarang aku merasa takut sekali. Apa kini Ia mengetahui semuanya? Apa dia tahu tentang penyakit ku? Oh Tuhan … “Aku tahu sekarang … Kenapa kau tak memberitahu ku sebelumnya? Kenapa? AKu pacar mu Sei…” Kata Xun lembut. “Diam kau! Kau tak tahu apa –apa Xun! Jangan berkata yang tidak –tidak!!!” Bentak ku takut. Air mata mulai membasahi mata ku. Shit! “Jangan sembunyikan lagi!” Bentak Xun balik. AKu terkejut mendengarnya. “Aku tahu semuanya! Jadi ku mohon jangan sembunyikan apapun kepada ku lagi!” Kata Xun dengan nada tinggi. “Tidak! Tak mungkin kau tahu!” Kata ku tak kalah tinggi. “Seichi –kun… Ku mohon, AKu tahu penyakit mu. Apa kau merahasiakannya karena takut aku menjauhi mu?” Kata Xun tampak prihatin. Kenapa… Kenapa matanya melihat ku begitu? Kau tak perlu menatap ku prihatin begitu! Aku bukan anjing kecil yang pantas di kasihani. Aku benar –benar bingung harus berkata apa. Dia kini telah mengetahui semua. Aku pun belari. Ya, Mungkin ini adalah jalan –jalan satu –satunya yang bisa ku lakukan sekarang. “Sei!” Panggil Xun tapi ku hiraukan. Aku pun belari sambil menangis. Aku tak menyangka dia mengetahuinya! Kenapa dia harus tahu Tuhan!! Kenapa kau tak biarkan dia tidak tahu dan biarkan aku menyimpannya sendiri?
            Di Taman. Aku menangis sejadi –jadinya. Rembulan penuh pun tak bisa menyembunyikan duka ku. Kenapa? Kenapa harus begini … Ayah, Bawa aku dengan mu… Ku mohon. “Sedang apa kau di sini?” Tanya Suara yang ku kenal. AKu pun melihat ke arah suara. “Yu’er?” Kata ku melihat malaikat Yunani ku. Dia hanya terdiam dingin melihat ku. Aku pun bangun dari duduk ku. “Ada apa?” Tanya ku dengan sedkit segukan. Plakkk!!! Yu’er menampar ku dengan keras. Aku pun terjatuh. AKu benar –benar tak percaya dia melakukan ini kepada ku. “Kau gila Huh!!? Dasar rendahan! Kau sengaja ingin melakukannya! Kau sengaja ingin membunuh ku! Jawab aku!” Kata Yu’er menendang ku. “Ma… Maaf … Memang saya salah apa Kak? Maaf kan saya.” Kata memeluk kakinya. “Jangan sentuh aku!” Bentak nya menendang kepala ku. hingga pelipis ku berdarah. “Kau… Ingin membunuh ku dengan penyakit mu itukan! Apa mau mu Huh!? Menggoda ku dan ingin menyebarkan HIV mu!!!” Bentak Yu’er Marah. Aku terkejut mendengar nya. Kak … Kak Yu’er tahu itu? Bagaimana ini? Apa yang harus ku lakukan … Aku pun mundur beberapa langkah karena takut. “Jika aku terkena penyakit menular itu… AKan ku tuntut dan ku bunuh kau!” Kata Yu’er dengan nada menggelegar. Air mata ku pun terjatuh. “Maaf …” Bisik ku pelan. “Kau pikir kata Maaf mu bisa menghapus semua?? Huh!!!?” Kata nya lagi –lagi memukul ku. Aku hanya dapat menangis menerima semua pukulan darinya. Mungkin ini cara untuk ku untuk mengakhiri semua. Bunuh saja aku Kak Yu’er … Aku akan sangat berterimakasih sekali akan hal itu. Aku pun muntah darah setelah Kak Yu’er menendang tepat di dada ku. Rasanya tulak rusuk ku patah di buatnya. “Belum selesai …” Kata Kak Yu’er masih dengan wajah dinginnya. Aku hanya dapat memegang dada ku yang sakit. Kak Yu’er pun memukul ku lagi. Bruukkkk!! Aku pun terjatuh. “Huh …Huh …” Kata ku sulit bernapas. Mata ku terasa berkunang –kunang. “Untuk sekarang cukup sampai di sini. Ini hanya sebagai peringatan untuk mu! Selanjutkan akan lebih buruk darii ni.” Kata Yu’er lalu pergi meninggalkan ku. Aku hanya membaringkan diri ku di tanah. Sakit, Sakit rasanya… Air mata ku pun terjatuh dengan lembut di pipi ku. “Ayah … Kau di mana? Sei … Sei…” Kata ku tak kuasa. AKu menutup mata dan membiarkan diri ku menangis di bawah naugan gelapnya malam. Aku tersenyum miris mengingat kenangan ku dengan ayah ku.
            “Akkhhh!!!” Aku terjatuh karena tersandung. “ Kau tak apa sayang?” Tanya Ayah menghampiri ku terjatuh. Saat itu umur ku 5 tahun dan aku telah kehilangan ibu sebelumnya. “Hiks…” Kata ku menangis. “Sudah .. jangan menangis. Kau harus kuat. Sebagai laki -laki kau harus kuat mengerti?” Kata Ayah. Aku pun menghapus air mata ku. “Iya, Ayah. Aku mencintai mu.” Kata ku dengan senyum. “Ayah akan menjaga mu selamanya ayah janji.” Kata nya tersenyum tapi matanya menunjukan bahwa ia sedih.

            “Uhuk … Uhuk…” Kata ku mencoba bangun. Sakit sekali rasanya … Bukan hanya tubuh ku tapi juga hati ku. Aku … Aku… Ingin mati. Aku menutup mata, air mata pun jatuh. “Sei…” Panggil seseorang lembut. Aku pun membuka mata melihatnya. “Xun?” Tanya ku dengan air mata. “Ayo pulang.” Ajaknya lembut dengan senyum. AKu menggeleng. Aku mundur beberapa langkah. “Kenapa?” Tanya nya sedih. “Aku tak mau!” bentak ku lalu melangkah pergi perlahan. Ku coba berjalan dengan kaki yang terasa sakit. “Kau mau kemana?” Tanya Xun yang ternyata masih mengikuti ku. “Jangan ikuti aku!” Kata ku tanpa melihatnya. “Tidak, aku akan terus mengikuti mu. Bagai bayangan… Jika kau tak bisa pulang kembali. Biar aku saja yang mengikuti mu…” Kata Xun pelan. “Bodoh! Pulanglah… AKu tak mau itu! Memangnya kau tidak jijik apa? Bukannya kau sudah tahu semua! Penyakit ku HIV menular! Kau tak takut apa!?” Tanya ku. Dia menggeleng. “Tidak, sekarang tidak. Saat awal aku memang sedikit takut. Tapi, ketika berpikir akan kehilangan mu … Aku merasa akan sangat sakit lagi.” Kata Xun. “Bohong.” Kata ku melanjutkan jalan ku. “… Apa kau tak mencintai ku lagi?” Tanya nya yang mengikuti di belakang. Aku tak menjawab. “Kau tahu, Aku juga pernah merasa putus asa seperti mu … ketika Ibu ku meninggal …” Kata nya pelan. AKu menghentikan langkah ku. Dia pun demikian. “… Dia meninggalkan ku dengan Kak Yu’er. Kami berusaha keras untuk tetap bertahan hidup. Untungnya… Kak Yu’er berhasil menjalankan perusahaan peninggala orang tua kami. Walau demikian aku merasa kesepian selalu… sendiri, sangat sendiri.” Kata nya sedkit serak. Aku tak mengungbris sama sekali. “… Aku juga pernah ingin bunuh diri karena kesepian.” Lanjut Xun dengan sneyum miris. “Diamlah.” Kata ku pelan. “Apa?” Tanyanya. “Ku bilang diam … Aku tak mau mendengar kesedihan mu. Dasar bodoh.” Kata ku menyuruhnya. “Benar juga. Baiklah.”  Balasnya. Aku pun melangkahkan lagi kaki ku tanpa arah tujuan. Ia tetap mengikuti ku bagai bayangan. Sesekali aku berhenti tiba –tiba. Membuatnya menanbrak ku dan ia hanya tertawa kecil. Sampai pagi pun tiba. “Matahari …? Indahnya.” Bisik ku berhenti. Aku pun menoleh ke belakang karena tak mendengar suara kakinya di belakang ku. “Xun …” Lirih ku. Melihat nya terbaring jauh beberapa kaki di belakang ku. Aku pun belari. “Xun!” Kata ku segera memeluknya. “Kau tak apa?” Tanya ku menepuk pipinya yang terasa hangat. Senyuman manis terukir di wajah nya yang pucat. “Maaf… Ayo kita lanjutkan lagi.” Katanya bangun. Dia pun berniat melanjutkan langkah kami. Aku melihatnya dengan air mata. “Xun …Kau kan bayangan ku.” Kata ku menghentikan nya. Ia melihat ku dengan wajah polosnya. “Tetaplah di belakang ku… sebagai bayangan ku. Tetap menemani ku… jangan pergi.” Kata ku dengan air mata. Ia tersenyum di hiasi sinar matahari fajar. Tangannya meraih wajah ku. Ia pun mencium bibir ku. Aku menutup mata.


            Setelah itu, kami pulang dan segera pergi ke sekolah. Saat dijalan hampir dekat sekolah kami berpisah. Agar tak membuat kecurigaan. Xun pun masuk sekolah duluan. Tak lama aku pun pergi. Sesampainya.  Entah kenapa, anak –anak di sekolah melihat ku dengan tatapan aneh. Aku melihat mereka bingung. Ku coba untuk hiraukan saja. Aku pun masuk ke kelas. Mereka pun sama melihat ku. Sepertinya mereka suadah tahu tentang penyakit ku juga. Mungkin Kak Yu’er yang member tahu. Sudahlah … dari awal sekolah hingga akhirnya pulang semua mencoba menghindar dari ku, tak ada yang ingin mendekati ku. Termasuk Reza dan Steven yang malah menghina ku.
           “Bagaimana sekolah mu cantik?” Tanya Xun kepada ku yang baru pulang. “Baik.” Kata ku menyembunyikan. “Sebentar lagi kita akan lulus, tenang saja.” Kata Xun seperti menyemangati ku. “Iya.” Jawab ku dengan senyum.
            Singkat cerita. Setelah ujian sekolah selesai kami semua pun di nyatakan lulus. Xun di ajak oleh team Nasional basket untuk bergabung. Dan itu seperti hadiah besar untuknya. Tanpa pikir panjang ia pun menerimanya. Kami tetap hidup bersama. Sayangnya, Kak Yu’er tampak menjauhi kami semenjak malam itu. Tapi… Kata Xun dia justru senang dan menyuruh ku utnuk tak memikirkannya.
            “Sei… Kemarilah.” Panggil Xun menepuk sebelah sofa, menyuruh ku duduk. “Ada apa?” Tanya ku seraya duduk di sebelahnya. Dia terdiam sejenak. “Ini untuk mu.” Katanya mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. “Apa itu?” Tanya ku. “Bukalah…” Katanya memberikan kotak itu. Aku pun menatapnya Tanya sebelum akhirnya membuka kotak. “Ini … Cincin?” Tanya ku tak mengerti. Dia mengangguk. “Untuk apa?” Kata ku kepadanya. “Aku melamar mu.” Katanya membuat ku terkejut. “WHAT!?” Kata ku sedikit tinggi. Ia tertawa. “Aisshh… Kau ini, kenapa?” Tanya nya dengan senyum. “Kau gila?” Tanya ku. Dia menggeleng. “Aku tak minta jawabannya sekarang. Kau bisa memikirkan dulu.” Kata nya bangkit meninggalkan ku.
            Malamnya. Aku tak bisa tidur sama sekali. Dan beberapa kali aku mencoba menghindar darinya. Aku bingung… Kenapa dia secepat itu memikirkan untuk menikah? Ah ! tidak! Dia gila! Kita laki –laki! Aku berkata demikian bukan karena tidak mencintainya. Melainkan aku sangat mencintainya …  Karena kita laki –laki aku tak bisa. Bagaimana jika orang lain tahu? Apa yang akan terjadi? Mereka tahu hubungan kami… mereka pasti akan menghina kami. Jika hanya aku sih taka pa… Tapi jika xun juga? Aishhhh … Aku memang senang ia mengatakan itu… Tapi… Apa kami bisa bahagia ketika banyak penolakan yang akan segera menghancurkan kami ???

Esok paginya. Aku berncana pergi ke tempat Xun. Hari ini dia agak sibuk karena harus menjadi model iklan. Ya, semenjak dia dan team nya menjuarai pertandingan se Asia dia mulai mendapatkan Job di bidang entertaint dan juga mendapatkan banyak Fans. Tak mengejutkan, Hal itu sudah sangat bisa untuknya yang sebagai anak popular di sekolah. Dia pun menjadi sangat super sibuk. Ya … Setidaknya dia bahagia. Taka pa…  Aku pun mencarinya. Untuk membicarakan masalah kemarin yang benar –benar membuat kiu terkjut. Aku ingin memintanya untuk meikirkan matang –matang.
“Permisi? Apa anda melihat Xun?” Tanya ku kepada Managernya yang berada di depan ruang rias yang bertulis ‘Xun Liu’. “Ah? Sebentar.” Katanya mengakhiri percakapan di telephone-nya dulu. “Ya?” Tanya nya. “Apa kau tahu Xun dimana?” Tanya ku ulang. “Ohw… Dia ada … Di…” Pria itu mencoba mengingat. Aku diam menunggu jawaban. “Ah! Dia tadi ijin ke toilet sebentar… Coba cari saja dia.” Kata Manager. “Ah terimakasih.” Kata ku dengan senyum.

Aku pun mencoba mencari nya. Tapi… Saat ku menemukannya. Langkah ku terhenti. Air mata ku pun tergumpal di seluk mata ku. Sakit sekali hati ku, napas ku pun terasa sangat sesak. “Xun …” Kata ku mendapatkan Xun sedang berciuman dengan seorang wanita. Wanita yang menjadi model bersama nya. Tak mungkin … Xun… Kenapa??? Kenapa kau seperti ini?

Aishiteru Yo!! (Part 5)

Author: Yolan
            Yolan gak bakal banyak Omong Di Sini.  #Gak seperti biasanya? Biarin…. Soalnya Yolan mau kasih Kata –kata dari Sei… Buatan Septian, Tapi… Kayaknya ini sich bukan buat Cerita tapi Buat pacarnya??? @Wew@ #Plakkk!


 “Langit tampak cerah Tapi… Kenapa aku merasa begitu dingin? Waktu terus berjalan Tapi… Kenapa aku merasa hidup ku berhenti? Apa kau tahu itu semua akan ku rasakan setiap kali aku Tanpa mu? Aku mengerti kita berbeda dan tak mungkin sama. Tapi… Aku adalah seseorang yang mengharapkan mu walau aku memaksa mu untuk menjauh dan bersembunyi. Semua itu ku lakukan untuk melindungi mu… Aku tak ingin kau terluka hanya karena Kau memiliki Diri ku yang tak berharga ini.”
            Hiks,Hiks Kata –katanya membuat Yolan Nangis nie… :’( Yolan kali ini ingin membuat Konflik lagi (?) dan Sei yang kembali Luluh akan cinta Xun yang sangat BESAR! :D Horeee! Udah ah~ Yolan Takut lupa kalo bakal gak Omong Panjang kali ini. Selamat Membaca. :d

            “Kau tak apa?” Tanya Xun yang pertama kali ku dengar ketika aku siuman. Aku mengangguk pelan. “Seichi Apa kau sakit? Kita ke Rumah Sakit saja ya?” Kata Xun masih mencemaskan ku. “Tak Usah. Aku baik –baik saja.” Kata ku bangun dengan lemas. “Tapi… “ Kata Xun. “Sudahlah Xun… Aku tak …” Kata ku terhenti ketika melihat air mata nya sudah memenuhi matanya yang lembut itu. “Xun… Kau…” Kata ku, Tiba –tiba Xun memelukku dengan erat. Aku terkejut sejenak. “Aku… Aku sangat mencintai mu… Ku mohon biarkan aku memeluk mu sejenak… Biarkan aku mencium bau mu lebih dekat…” Kata Xun terdengar seperti sedang menangis. Apa dia benar –benar menangis? Aku pun melepas pelukannya. Ia menatap ku heran. Seperti anak kecil yang merindukan Ibunya, dia menatap ku dengan penuh air mata. Aku juga… Aku juga sangat mencintai mu… Bahkan aku rela mati sekarang dalam pelukan mu… “Xun…” Tanpa ku sadar tangan ku meraih wajahnya. Ku dekatkan wajahnya dan ku pun mengecup lembut bibirnya. Perlahan ia pun memainkan lidahnya menyelusuri rongga di mulut ku.
            Pagi. Di kelas. Ku masukan buku ke dalam tas karena pelajaran jam pertama telah usai sudah. Aku tersenyum sambil bersenandung kecil. Entah kenapa hati ku merasa sangat bahagia. Apa yang terjadi dengan ku? Apa aku senang karena telah mengatakannya… Mengatakan bahwa aku juga sangat mencintai nya dan tak rela kehilangannya?? Oh My God! Dan akhirnya kami pun berpacaran lagi  “Kau kenapa Seichi tampaknya kau sangat senang?” Tanya seorang teman ku. Aku menggeleng. “Tak apa. Aku hanya lega saja pelajaran selesai.” Jawab ku masih tersenyum. “Benarkah? Tak seperti biasanya.” Kata teman ku ikut tersenyum. Aku hanya membalas senyumnya.
            Seperti biasa aku melangkah kan kaki mencari Xun ketika istirahat tiba. Tapi… Kemana dia? Sudah banyak tempat aku cari. Dia tak ada di mana –mana. Dengan rasa kecewa aku berusaha mencarinya di halaman belakang. Tak ada…? Ya Tuhan… Kemana dia? Terdengar suara napas ku yang sudah terengah dan dapat ku rasakan keringat ku yang sudah membasahi kemeja ku. Langkah ku pun perlahan mencarinya lagi. ku lihat ada Gudang. Apa aku akan menemukannya? Di tempat itu… Mungkin bodoh. Tapi langkah ku tetap mencarinya di dalam. “Xun…” Panggil ku pelan membuka pintu gudang yang sudah berkarat. Tampak ruangan yang gelap dan juga lembab. Aku pun perlahan masuk ke dalam. Banyak barang yang tak terpakai yang dapat ku temui. “Apa ini?” Kata ku mengambil boneka kelinci yang sudah rusak dan kusam. Brukkk!! Terdengar pintu Gudang tertutup dengan kasar. “Ah!?” Kata ku terkejut melihat ke arah pintu yang telah tertutup. Dengan segera aku menuju pintu. “Ya Tuhan! Terkunci!?” Kata ku tak percaya pintu terkunci. Aku pun berusaha membukanya dengan kuat. “Sial.” Kata ku yang tak bisa membukanya. Terdengar samar suara orang di balik pintu, aku pun mendekatkan kuping ku agar dapat mendengar siapa dia. Walau terdengar samar aku bisa mengetahui itu adalah suara Steven dan Reza!!! Kyakkk! Mereka lagi!? Apa mau mereka? “Kyakkkk!!! Cepat buka pintunya Steven! Reza!!” Kata ku memukul pintu Gudang. Tak ada jawaban. Bel Sekolah pun berbunyi. “Apa!? Sudah masuk?” Kataku mulai cemas. Terdengar suara langkah belari pergi menjauh. Aku pun menjatuhkan diri ku. Aku pasrah dengan apa yang terjadi. AKu hanya dapat menangis. Sepertinya sampai kapan ku aku tak akan pernah berhasil seperti sebelumnya… Mungkin ini saat nya aku mati  “Hah~~” Kata ku menghela napas panjang. Aku mengubah posisi ku menjadi tidur. Merasakan lantai yang begitu dingin. Aku memeluk boneka kelinci yang ku temukkan sebelumnya. Dengan suara lirih aku bersenandung. Air mata ku mengalir begitu saja. Sampai malam pun akhirnya datang.
            Mata ku menjadi sembab, Karena menangis terus. Bahkan suara ku habis… Mungkin karena Dehidrasi atau tidak karena terus bernyanyi untuk menghibur hati? Yang pasti… Aku hanya dapat pasrah. Aku buka Hand Phone ku yang berwalpaper Xun. “Xun…” Kata ku mengingatnya. Aku pun bangun dari posisi tidur ku.”Akhhhh…” Kata ku sakit Terasa kaki ku sangat kaku. Sepertinya kram karena sedari tadi kaki ku berada di posisi yang sama. Aku pun berusaha untuk bangkit sambil menahan sakit di kaki ku. Mata dengan segera mencari –cari barang yang bisa membantu ku. Ada apa dengan diriku? Beberapa Jam yang lalu… Aku sangat putus asa dan berpikir ingin mati saja disini. Tapi… Sekarang setelah hanya melihat wallpaper Xun. Aku berniat untuk Keluar? Oh Tuhan… Kenapa dengan ku… Apa aku benar –benar tak ingin mati karena nya? Aku pun menemukan sebalok kayu dengan tenaga yang tersisa aku ambil balok kayu itu. Lalu aku pun memukul Pintu dengan keras agar terbuka. “Kyakkk!!!” Kata ku berusaha. Tapi… Pintu terbuka. Pukulan balok yang ku layangkan tak sengaja mengenai seseorang yang membuka pintu. “Akkkhh!!” Teriaknya kesakitan, Ia mundur beberapa langkah. “Kau tak apa?” Kata temannya melihat nya berdarah. “Sialan Kamu sei!” Kata Steven menahan sakit akibat pukulan di kepalanya. “Ah… Ma…” Aku menghentikan perkataan dan berpikir lagi. Buat apa aku meminta maaf? Mereka yang mengunci ku… Mereka pantas mendapatkannya. “Rasakan itu!” Kata ku mengubah nada suara. “Apa!?” Kata Reza kesal. “Hajar dia!” Kata Steven. Mereka pun memukul ku hingga terjatuh, Kayu balok yang ku pegang pun dengan mudah mereka rebut dari tangan lemah ku. “Shit!” Kata ku Tahu tak bisa berbuat banyak. Steven pun memukul balok ke kepala ku dengan keras. Seketika darah keluar dan Spontan aku menjerit kesakitan. “Rasakan! Itu balasan nya karena telah memukul Ku.” Kata Steven dengan tawa. “Seichi –kun!?” Terdengar suara yang menghampiri ku. “Xun!?” Kata ku tak percaya. “Apa yang kalian lakukan Huh!?” Kata Xun memelukku. “Kenapa kau di sini? Memang nya dia siapa mu!? Dia hanya lah serangga yang tak berguna!” Kata Reza memaki. “Aishh … Kurang ajar…” Kata Xun tampak kesal. Tangan ku menghalangi nya yang ingin bangkit. ia pun menatap ku. Aku menggeleng. Jangan… Jangan bertengkar dan buat masalah… Dia menatap ku sejenak, lalu melepas tangan ku yang lemas. “Ohw Ya? Kita lihat siapa lebih rendah… Kami si serangga, Atau kalian yang sampah?” Kata Xun dengan nada menghina. Aku hanya dapat menghela napas panjang, Pasrah apa yang terjadi.
            “Kau tak apa?” Tanya Xun kepada ku yang di gendong di belakang punggungnya.  Aku mengangguk. “Maaf…” Kata ku dengan air mata. Karena aku… Dia terluka … karena aku dia harus berkelahi … Apa yang harus ku lakukan? Bagaimana jika Steven dan Reza membuat cerita seakan –akan mereka yang di serang? Dan akhirnya nama Baik Xun hancur seketika hanya karena diri ku … Oh Tuhan!! Seberapa tidak bergunanya aku? “Sei… Jangan menangis lagi, Sebentar lagi kita akan pulang…Dan kau bisa istirahat dengan nyaman.” Kata Xun yang lebih menkhawatirkan luka ku di banding dirinya sendiri.

            Di apartemen Xun. “Kyakkkk!!! Akhirnya sampai juga!” Kata Xun menjatuhkan diri di sofá. “Hm… Xun, Aku mandi dulu ya?” Kata ku meminta ijin. “Ya, setelah itu sembuhkan dirimu…” Kata Xun tersenyum ke arah ku. Entah kenapa senyumnya itu… Senyum hangat yang benar –benar menakjubkan membuat hati ku meleleh seketika. “A… A… Aku mengerti.” Kata terbata –bata karena Salah tingkah.
            Setelah mandi. Xun langsung mengobati ku. “Kepala mu pasti sangat sakit sekali.” Kata Xun membalut luka ku dengan perban. Aku hanya diam tak menjawab. “Besok… Aku ingin mengajak mu ke taman bermain. Kau mau Seichi –kun?” Tanya Xun dengan senyuman lembutnya yang lagi –lagi sukses membuat ku terpana.”A… Ya.” Jawab ku spontan. “Kalau begitu… Sekarang kita tidur, Ayo pangeran kecil ku.” Kata Xun yang tiba –tiba menggendong ku. Aku terkejut dan sedkit berteriak karena terkejut. “A… Apa yang kau lakukan?” Kata ku sedikit gugup. “Membawa mu ke ranjang My Darling…” Kata Xun dengan Senyum nakalnya. Deg!
            Paginya. Sesuai janji Xun ia mengajak ku untuk pergi ke taman bermain. Tapi … Aku merasa belum siap, Karena… Semalam aku di buat tak bisa tidur oleh Xun. =_=a Bukan karena tingkahnya tapi kehadiran nya. Jantung ku terus berdetak tak karuan mengingat dia tidur seranjang dengan ku. Oh Tuhan!? 
            Malam sebelumnya. “Tidurlah…” Kata ku Xun membaringkan ku di ranjang Bak Seorang Suami yang menggendong istri nya dan siap untuk melakukan malam pertama (?) 0/////0)/ Ada apa dengan ku? Ya Tuhan… Dia pun duduk di sebelah ku. “Selamat malam Manis…” Kata Xun mendekati wajah nya kepada ku. AKu pun menutup mata ku. Chu~  Ciuman ringan ia layangkan di kening ku. Sesaat aku masih memejamkan mata ku hingga akhirnya hela napas nya tak terasa lagi… “Ah…” Kata ku tak percaya. Aku sudah memikirkan yang tidak –tidak. Aku pikir dia akan melakukan… Melakukannya!? Tapi… Sampai pagi pun tak ada hal yang terjadi… Padahal aku sudah Was Was dan siap kan hati. Mungkin saja malam itu aku tidak perjaka lagi? (o.Laaaa~~~.o)
            “Kau kenapa Seichi –kun? Apa kau tak enak badan?” Tanya Xun khawatir. “Ah? Tidak apa.” Jawab ku yang setengah jiwa ku masih tertinggal dengan pikiran gila ku. “… Jika kau sakit … Kita undur saja acaranya.” Kata Xun yang benar –benar mencemaskan keadaan ku. “Tak apa kok. Kamu tak percaya aku ya?” Kata Ku sedikit tak nyaman atas tingkah nya yang terlalu mencemaskan ku. Ya… Walau pun aku senang juga ada yang memperhatikan ku… Selama ini, aku belum pernah di perhatikan sampai seperti ini. “Tidak… Ayo kita pergi.” Kata ku belari agar dia mengikutiku. Ia tersenyum lalu berlari mengejarku. “Hey! Tunggu Seichi –kun!”
            “Hm… Kamu mau naik ini?” Kata Xun memperlihatkan peta Wahana bermain. “Hm …” Aku menggeleng. “Bagaimana dengan ini? Kita akan naik ke atas kira –kira 8 Meter dan turun dengan cepat?” Kata Xun memberitahu Wahana. “Tidak… Bagaimana dengan ini? Apa ini?” Kata ku menunjuk salah satu Wahana di peta. “Ini … Kita akan di guncangkan berputar seperti Kapal dalam Ombak? Kau tahu?” Kata Xun menjelaskan dengan senyum. “Ah… Tidak jadi, Yang lain saja.” Kata ku mencari –cari lagi wahana di peta. “Bagaimana dengan ini? Pasti menyenangkan… Walau nanti kita akan ganti baju setelah ini karena basah.” Kata Xun antusias. Aku terdiam sejenak, Berpikir apa yang ingin dia lakukan setelah wahana itu. Kyakkk! Kenapa pikiran kotor selalu menyelimuti otak ku ketika bersama nya?? “Ng … Yang ini? Apa ini?” Kata ku menghiraukannya dan beralih melihat Peta lagi. “…? Ah? Itu … Dunia cermin … Banyak cermin di sana dan seperti labirin kita akan mencari jalan keluar.” Jawab Xun. “Jangan yang itu … Aku tidak mau.” Kata ku. “Hm … Lalu yang mana? Yang ini?” Kata Xun menunjuk salah satu wahana. Aku menggeleng dengan bibir cemberut ku. Xun menghela napas. “Baiklah … Kita jalan –jalan saja dulu. Sekalian kita lihat wahana lalu berpikir apa kita akan menaikinya atau tidak.” Kata Xun. “… Xun, boleh tanya sesuatu?” Kata ku sedikit khawatir. Dia menatap ku sejenak. “Ya apa itu?” Tanya nya. “Hm … Kau marah ya?” Tanya ku. Entah kenapa aku merasa dia marah karena sikap ku dan membuatnya jadi bosan. Dia diam sejenak lalu tertawa. “Kau ini … ada –ada saja. Buat apa aku marah kepada mu?” Kata Xun mengacak rambut ku. “Ihhh …” Kata ku manja merapikan rambut. “Oh … Ya, Aku punya hadiah kecil untuk mu.” Kata Xun mengeluarkan sesuatu dalam sakunya. “Tarraaaa…” Kata Xun menunjukan dua gelang pasangan. “Apa ini?” Tanya ku menatap matanya. “Ini … Tanda Couple kita. Dengan ini … Orang lain tak boleh mendekati mu karena kau sudah menjadi kekasih ku.” Kata Xun menggenakan gelang di tangan ku. Gelang kayu berwarna coklat dengan Tali hitam yang menjadi pengikat dan ukiran ‘X Still For Me.’ Dan yang lainya bertulis ‘Me Still for S.’ “Bagaimana? Apa kau suka?” Tanya Xun. Aku menggangguk dengan senyum. “Dan satu lagi … Selama di Arena ini … Kita tak boleh terpisah dan jangan lupa saling menggenggam tangan yang lainnya kemana pun kita pergi. Oke?” Kata Xun menggenggam tangan ku. … “Apa sich?” Kata ku ketus. Xun melihat ku dengan heran. “Berani nya membuat peraturan tanpa aku tahu.” Kata ku dengan senyum manja. Xun hanya membalas dengan tawa kecil.
            Banyak Wahana yang aku tolak, dan ada juga yang aku tolak mentah –mentah :p Aku langsung kabur menariknya. Hahahahaha , Alasannya sich banyaaakk … dari diriku yang takut ketinggian,Takut gelap, tak mau basah, tak mau pusing karena harus berputar –putar, Tak suka ini , Tak suka itu … Bla bla bla Pokonya banyak. Tapi Xun sama sekali tak pernah mengeluh dan per masalahkan hal itu dan hanya tertawa atau tersenyum. Terimakasih … Kata yang ingin ku ucapkan dan sekarang waktunya makan siang. “Hahahaha bagaimana? Apa kau senang?” Tanya Xun memakan kentang gorengnya. “Kau pasti yang tidak senang …” Kata ku dengan wajah bersalah. “Eh? Kamu ini kenapa? Sudahlah … Lagi pula aku sudah bosan, semuanya sudah aku naiki.” Kata Xun masih asyik dengan kentang nya. “Benarkah? Memangnya sudah berapa kali kau datang ke sini?” Tanya ku. “Hm … Tak terhitung.” Katanya dengan tawa. “Apa?” Kata ku tak percaya. “Yup… Hampir setiap ada waktu, Aku akan datang kesini. Dan ada beberapa wahana yang sudah ku naiki berpuluh kali.” Lanjutnya. “Uhuk…” Kata ku yang sedang minum pun tersedak karena mendengarnya. “Yang benar saja? Lalu kenapa kau ajak aku kesini? Jika seperti itu … Pasti kau sudah bosan kemari bukan?” Kata ku dengan nada sedikit tinggi. Dia menggeleng. “Justru aku punya alasan yang pasti . Karena alasan itu, Aku tak pernah bosan untuk datang, karena alasan itu, menjadikan tempat ini menjadi tempat yang berharga untuk ku, karena alasan itu aku mengajak mu kemari.” Kata Xun dengan senyum menjawab ku. “Lalu… Alasan apa itu?” Kata ku sedikit melunak. “ … Keluarga,” Jawabnya. “Apa?” Tanya ku tak mengerti. “ … Di tempat ini keluarga ku pernah tersenyum dan juga menangis.” Kata Xun melanjutkan. “Apa maksud mu?” Tanya ku yang penasaran. “Dulu … Aku dan keluarga ku sering berkunjung kemari setiap ada wahana baru dan Kami selalu senang dan semua tampak sangat indah tapi suatu waktu kami mengalami musibah salah satu wahana mengalami kerusakan dan jatuh. Kebetulan saat itu orang tua ku menaiki wahana itu dan mereka pun menjadi korban.” Kata Xun tersenyum miris. Aku terdiam mendengarnya. Aku merasa sangat bersalah. “Maaf …” Kata ku. Xun menggeleng. “Ayo … Kita lanjutkan lagi.” Kata Xun bangkit dari kursinya. “Xun …”

            Kami pun melanjutkan acara kami yang sempat tertunda karena acara makan siang. Tangan hangat nya tak pernah lepas menggenggam ku. “Xun … Boleh aku tanya sesuatu?” Tanya ku menghentikan langkahnya. “Ya? Apa itu?” Tanya Xun balik. “Maaf sebelumnya … Jika kau tak suka kau tak apa tak menjawab.” Kata ku sebelum bertanya. Xun hanya menunggu pertanyaan. “ … Wahana apa yang di naiki oleh orang tua mu?” Tanya ku. Xun terdiam sebelum menjawab. “Wahana yang pertama kali kau tolak.” Jawab Xun dengan tawa. “Pertama kali?” Tanya ku menyakinkan. Xun mengangguk. “Ya… Gondola.” Kata Xun memastikan jawaban. “Lalu kenapa kau menyarankannya pertama?” Tanya ku. “Karena wahana itu yang ku lihat pertama kali di peta.” Jawab Xun asal. “Ahhh… Jawab yang benar.” Kata ku kesal. “… Entahlah. Aku hanya ingin bertanya. Tapi untung kau menolaknya.” Kata Xun. “Bagaimana jika tidak? Jika aku tak menolaknya dan memaksa untuk naik.” Tanya ku kepada nya. “Ayo … Itu jawaban ku.” Kata Xun. “Tapi … Bukankah wahana itu …” Kata ku menatapnya dengan sedih. “Kenapa? Jika kau mau apa salahnya? Walau aku takut setengah mati naik wahana tersebut tapi jika kau mau, aku akan naik dan jika akhirnya kita akan jatuh sama seperti Orang Tua ku, Kita pasti akan mati dalam cinta abadi kita.” Kata Xun menjawab.
            Kami pun berbelanja beberapa barang untuk di bawa pulang. Dan setelah itu kami berniat untuk pulang. Tiba –tiba aku merasa berputar seakan –akan di ombang ambing oleh Ombak badai. Pandangan ku pun menggelap , keringat dingin pun jatuh. Rasanya kepala ku sangat sakit. Kaki ku pun tiba –tiba berhenti dan ngenggaman ku terlepas darinya. Banyak kerumunan yang beralu lalang di sekitar kami. “Ada apa?” Tanya Xun pelan. Ia pun kembali mendekati ku. “Pergilah…” Kata ku mengusirnya. “… Sudah ku bilang dari awal kan!? Kita akan bersama dan berpengangan hingga pulang!” Katanya dengan nada sedikit tinggi. Aku pun terhentak dan bahkan pandangan  orang –orang pun tertuju ke kami. Dapat terlihat samar wajah Tampan Xun begitu tegas. Air mata jatuh tanpa ku sadar. “Bodoh.” Kata ku tiba –tiba jatuh pingsan.


Aishiteru Yo! (Part 4)

Author: Yolan
AnnyeoNg Minna –San! Yolan minta Maaf agak terlalu lama ceritanya… Krena Smpat VaCum Bebrapa hari Karena Yolan TrlalU sibuk menangis :’( Krena salah satu perihal Teman Yolan… Hiks. Hiks. Hiks #Lupakan! Klo Di bhas lagi Yolan bisa nangis (LAGI) # Kali ini Yolan mau buat Cerita dimana Sei dan Xun putus Hubungan tapi semakin dekat...??? Maksudnya? @.@? Yolan Gak bisa jelasiN Di Sini,,,, Baca Aja Sndiri Ya?? :D            Di Crita Sblumnya, Sei yang merasa tak pantas dirinya ada di dekat Xun pun membuat rangkaian cerita bohong untuk menjauhi Xun dan memutuskan hubungan. Tapi… Xun Malah menantang balik dengan berkata “Benarkah…? Aku tak yakin… Jika begitu tunjukan kepada ku. Apa pun itu untuk dapat meyakinkan Diri ku bahwa benar  semua ini hanya permainan belaka?”


            “Cepat Tunjukan!” Kata Xun sedikit membentak dapat terdengar dari suaranya bahwa dia sangat takut kehilangan ku walau hanya samar. Aku terdiam menatap nya. Otak ku berusaha mencari –cari cara agar dia Yakin. “Ku Bilang buktikan!” Kata Xun lagi, tak kalah dengan perkataannya sebelumnya. Plakkk! Aku menamparnya keras. Membuat pipi Xun yang putih tampak memerah. Xun sangat terkejut ketika aku menamparnya. Butiran air mata pun terjatuh dengan lembut di pipinya. “Puas? Apa dengan itu… Aku bisa meyakinkan mu?” Kata Ku menahan tangis. Xun tidak menjawab dia masih terkejut atas apa yang ku lakukan. “ Dan perlu kau tahu lagi… Setelah ini, jangan pernah berpikir bahwa kau pernah mengenal ku apa lagi Sok akrab dan menganggap ku adalah teman dekat mu. Itu tampak sangat Konyol sekali dan memalukan…” Kata ku dingin. Aku berusaha sedemikian rupa untuk membentuk kata –kata agar dia membenci ku dan menjauhi ku. Ku mohon… Tolong mengertilah. Aku pun berjalan melewatinya. Aku coba untuk menahan air mata yang sudah siap membasahi pipi ku. “Sei… Kimi dake Aishite iru…” Kata Xun menghentikan langkah ku. “ Kau bilang hanya aku? Apanya yang Cuma aku? Kau pasti bercanda. Banyak orang yang lebih baik dari ku lebih sempurna di bandingkan aku.” Kata ku tak berbalik hanya dapat terdiam membelakangi. “… Kimi wa Watashi no Kokoro. Watashi No sekai Tame Kimi o.” Kata Xun. Terdengar dari suaranya ia sedang menangis sekarang. Aku tertegun mendengarnya. Tak mungkin… jangan seperti ini… berhentilah mencintai ku dan berkata hanya aku yang ada dalam hidup mu. “Kau pasti bohong! Tak mungkin hanya aku! Dan apanya hidup mu untuk ku!? Kau punya segalanya! Popularitas… Kekayaan… Wajah yang sempurna… Carisma… Banyak cinta… dan juga tubuh yang selalu Fit jarang sakit… Bukan kah kau sempurna? Tak mungkin aku dapat di bandingkan dengan kehidupan mu itu. Jangan buat lolucon yang tak masuk akal lagi. Bakaru.” Kata ku lalu pergi meninggalkannya.
           
            Waktu pulang. Hujan pun turun dengan derasnya mendukung setiap hati ku yang sedang gelisah dan juga terluka. Aku memainkan jemari ku di bawah tetesan air yang jatuh dari payung ku. Langkah ku terasa sangat malas untuk pulang. Tapi mau bagaimana lagi… Aku harus pulang, jika tidak. Aku pasti akan di marahi. Ah Tidak! Bahkan walau pulang juga aku pasti akan di marahi lagi. Tiba –tiba pemandangan yang tak inginkan pun ku terima. Restoran sekaligus rumah ku terbakar oleh api besar. Payung yang ku bawa pun terjatuh . Beberapa Unit pemadam berusaha memadamkan api yang terus menjalar tak karuan.  “Tak mungkin.” Kata ku tak percaya. “Ayah!!!!” Kata ku belari untuk masuk. “Jangan nak. Tenang lah.” Kata salah satu pemadam menghentikan ku untuk masuk. “Tapi ayah ku ada di dalam! Ayah ku ada di sana’!!!” Kata ku berteriak histeris. Aku benar –benar takut dan sangat terkejut. Tuhan!! Kenapa kau biarkan semua ini terjadi? Kenapa rumah ku bisa terbakar? Bagaimana dengan ayah ku? Dia adalah satu –satunya keluarga yang ku miliki sejak aku baru lahir dan bernapas di dunia mu.
            Dan akhirnya ayah ku tak dapat di selamatkan ayah ku telah terbakar sampai tak dapat di kenali lagi oleh siapa pun dan termasuk aku putranya yang telah di rawat olehnya sampai besar seperti ini. Hanya ada beberapa barang yang selamat seperti 3 helai baju termasuk baju seragam yang ku pakai, Surat –surat penting yang selamat karena di simpan di brankas besi, dan juga boneka kesayangan ku boneka panda ku yang di berikan oleh ibu sebelum ia melahirkan ku. Esoknya aku dengan sedih hanya bisa termenung di kelas dan sesekali menangis.
            Waktu istirahat. Dengan seketika kelas ku menjadi kosong karena para murid berlari keluar setelah mendengar bel Istirahat di bunyikan. Hanya ada aku di kelas ini. Aku pun menangis sejadi –jadinya. Aku benar –benar bingung dan sangat takut. Kenapa… Kenapa baru saja aku melepas Xun dari sisi ku sekarang aku harus kehilangan lagi? kehilangan Ayah dan semua yang ku miliki. Aku bukankah apa –apa lagi… AKu tak punya apa pun lagi. Aku hanya sendiri… Kenapa Ayah tega meninggalkan ku sendiri?? Aku pun mengambil pisau lipat peninggalan ayah ku. “Ayah… hanya ini yang tersisa dari mu… dan dengan ini pula aku akan menyusul mu ke alam sana. Agar kita dan ibu bisa bersatu kembali.” Kata ku membuka pisau lipat itu dan menggoreskannya perlahan di lengan kiri ku. Tiba –tiba. “Kyakkk!! Sakit! Lepaskan aku!” Kata ku berteriak ketika tangan seseorang memegangku sangat kuat menghentikan apa yang ku lakukan. “Lepaskan aku!” Kata ku berteriak lagi. “Kau Gila apa!? Kau bisa mati tau!?” Kata Xun merebut pisau ku. “Aku memang mau mati!” Kata ku membalasnya. “Kenapa!? Karena Ayah mu sudah tidak ada? Apa karena itu Huh!?” Kata Xun kesal dengan tingkah laku ku. “Xun! Kau tak tahu apa –apa!?” Kata ku marah. “Apanya yang tak tahu! Aku tahu semuanya Seichi –kun!” Kata Xun marah tak kalah dengan suara ku. “Aku tak punya apa –apa lagi… dan sekarang mungkin tak dapat lama lagi bertahan untuk hidup.” Kata ku Xun hanya terdiam melihat ku. “…Daripada mati di jalan tanpa tempat tinggal lebih baik aku mati di sekolah.” Kata ku dengan suara yang vegetar karena menangis. “Baiklah terserah kau.” Kata Xun menggores tangan kanan nya hingga berdarah. Untung bukan Kiri yang dia gores. “Apa kau gila!?” Kata ku berteriak kepada nya. Dia mengagguk pelan. “Seichi –kun tinggalah di rumah ku.” Kata Xun. “Aku tak mau.” Kata ku menolak dengan dingin. “Baiklah… Jika kau tak mau. Berarti kau akan bunuh diri agar tak mati konyol? Jika kau memutuskan saraf nadi mu. Aku juga. Aku akan memotong Nadi ku juga.” Kata Xun malah balik menantang ku seakan ingin memaksa ku tinggal dengannya. “Tidak mau.” Kata ku dengan air mata. Xun tersenyum miris. Ia pun menggores perlahan pergelangan kirinya. “Jangan!!!” Teriak ku menghentinkan nya. Aku pun menjatuhkan diri ku. Rasanya badan ku sangat lemas hingga tak kuat menompang tubuh ku. Xun menatap ku dengan sedih dan bingung. Ya Tuhan… Kenapa kau biarkan ini terjadi? Kenapa tidak biarkan aku mati begitu saja tanpa anda beban dan rasa penyesalan? Kenapa harus kau bawa Malaikat mu ini… Untuk menghentikan ku? Aku sangat takut Dan Bingung Tuhan… “Jangan… Jangan lakukan lagi… Ku mohon pada mu demi seluruh napas yang ku miliki ku mohon jangan lakukan hal Bodoh itu.” Kata ku menangis. Tiba –tiba Xun memelukku. “Seichi… Maaf. Tapi aku tak bisa membiarkan mu sendiri apa lagi membiarkan mu pergi sendiri meninggalkan ku… Jadi ku mohon… Tinggalah bersama ku.” Kata Xun mengelus rambut ku. Terasa Air matanya jatuh dengan hangat di kemeja ku. Aku menggeleng pelan. “Tidak… AKu tak ingin.” Kata ku. ia pun melepas pelukan ku dan melihat wajah dengan penuh perasaan. “Tapi… Jika begitu ijinkan aku ikut dengan mu…” Kata Xun seperti anak kecil yang meminta ikut ibunya yang hendak keluar berbelanja. “Tidak. Sudah ku bilang… AKu membenci mu.” Kata ku lagi. Ia terkejut untuk sekian kalinya. Ia pun mengambil pergelangan kiri ku. “Luka ini harus di sembuhkan… Jika tidak akan terinfeksi dan akan parah.” Kata Xun berusaha tersenyum. Aku hanya diam melihatnya. Ia pun menjilat pergelengan tangan ku. “Apa yang kau lakukan!?” Kata ku terkejut. “Membersihkan darah mu.” Kata nya datar lalu menjilat darah dari pergelangan tangan kiri ku. “Aku memang tidak mau.” Kata Ku tanpa melihatnya. Dia menghiraukan dan tetap menjilat tangan ku yang sudah bersih. “AKu tidak mau tinggal jika Cuma –Cuma… Aku akan membayarnya.” Kata ku lagi. Xun pun menghentikan kegiatannya. “Apa? Apa benar? Tadi kau bilang apa?” Kata Xun terlihat sangat terkejut. “Aku bilang aku mau. Tapi… Aku akan membayar nya.” Kata ku mengulang maksud ku. “Horee!!” Kata Xun mencium ku singkat dan langsung bangkit. “Terimakasih Seichi –kun… Teirmakasih banyak.” Kata Xun sangat senang. “Tapi… AKu tak akan tinggal sekarang di rumah mu. Soalnya aku belum punya pekerjaan dan apa lagi uang untuk membayar.” Kata ku memberitahu dia. “Pekerjaan?” Tanya nya dengan wajah nya bisa di bilang polos/Bodoh? Entahlah… Aku bangkit dan mengangguk pelan tanda mengiyakan. “Jika begitu kau bekerja saja di rumah ku. Jadi kau bisa tinggal dan dapat uang juga bukan?” Kata Xun membuat ku tak percaya di buatnya. Aku terdiam sejanak karena terkejut dan lalu mengangguk. “Ya… Aku akan menerimanya.” Kata ku tersenyum. “Baguslah jika begitu. Kau bisa kerja mulai pulang ini.” Kata Xun. “Pulang? Yang benar saja?” Kata ku. “Ya pulang ini… Memang kenapa? Bukankah kau tak punya tempat untuk tidur?” Kata Xun. “Sial kau.” Kata ku dengan sedikit tawa. Ia hanya tersenyum dengan manis menatap ku dengan dalam. “Ah. Cepat sana pergi.” Kata ku memalingkan muka. “Ya, Sayang. Aku akan segera pergi.” Kata Xun belari. “Sayang?” Kata ku.
            Pulangnya. Pada akhirnya aku benar –benar akan bekerja dan tinggal di Apartemen Xun. “Aku akan bekerja apa?” Kata ku kepada Xun. Kami sedang melewati lobi Hotel. “Merapikan rumah ku.” Jawab Xun. Ia pun membuka pintu Apartemen-nya. “Bukankah itu Apartemen mu?” Kata ku menunjuk pintu Apartemen di sebelah. Xun tertawa kecil. “Bukan… Bukan lagi.” Jawab Xun masih dengan tawa. “Kenapa?” Tanya ku. “Ayo masuk dulu.” Kata Xun mempersilahkan. Aku pun masuk ketika pintu sudah terbuka. “Jadi? Kenapa?” Kata ku mengulang pertanyaan. Xun masuk ke dapur mengambil 2 cangkir Teh hangat. “Karena aku tak betah. Jadi aku minta pindah saja.” Kata Xun memberikan ku teh. “Jadi baru –baru ini?” Tanya ku lagi setelah menerimanya. “Ya. Baru saja pagi ini.” Kata Xun membuat ku tersedak ketika meminum Teh ku. “Uhuk.Uhuk. Uhuk.” Kata ku terbatuk. “Ah… Kau tak apa Seichi –kun.” Kata Xun menepuk nepuk punggung ku. Aku menggeleng pelan. “Ya, Aku tak apa.” Jawab ku dengan sedikit batuk yang tersisa. Ia pun tersenyum kembali melihat ku. “Apa sich!?” Kata Ku SalTing. “Nggak. AKu Cuma takjub dengan mahluk Tuhan di depan ku.” Kata Xun dengan Senyum. “Bakaru.” Kata ku memalingkan wajah ku malu. “Oeh Ne. Seichi –kun…” Serunya. “Jangan panggil Aku Seichi –Kun. Panggil nama saja.” Kata Ku yang merasa tak Nyaman karena melihat status dia adalah majikan ku sekarang. “Hm… Baiklah… Sei.” Katanya tersenyum.  AKu hanya melihat nya datar. “… Ayo Kita main Play Station.” Ajak Xun tiba –tiba. Aku tak percaya dia akan mengatakan itu. “Apa?” Tanya ku. “Apa? Apanya?” Tanya Nya balik yang sepertinya tak dapat menangkap maksud pertanyaan ku. “Kau mengajak ku main Play Station? Kau gila Ya?” Kata ku lebih memperjelas pertanyaan ku. “Oh, Tidak. Aku hanya tergila –gila oleh mu.” Canda Xun dengan sedkit Tawa. “Tak Lucu. AKu serius Xun.” Kata ku. “Ok,Ok. Aku ngerti kok maksud kamu. Mungkin kamu adalah si Genius yang pintar dalam Pelajaran apa lagi dalam Hitung menghitung… Tapi sepertinya kau tak pandai dalam bermain Game.” Kata Xun membuat ku tambah tidak mengerti. “Apa hubungannya diriku dengan Game?” Tanya ku lagi. Dia tersenyum sejenak sebelum menjawab pertanyaan ku. “… Oleh karena itu. Aku akan menganjarkan mu bermain Game. Kau maukan?? Menjadi anak biasanya menikmati hidup dengan bersenang –senang?” Kata Xun dengan mata yang mempesona. Mata nya seakan akan bisa menghipnotis ku hingga tak berdaya lagi. Tuhan… “Hey? Mau tidak?” Tanya Xun menunggu jawaban. “Tapi… Tapi aku di sini untuk bekerja bukan untuk bermain.” Kata ku mencoba menolak. “Ayolah, Aku akan menambah pekerjaan mu untuk menemani ku bermain juga…dan Tenang saja aku pasti akan menaikan Gaji mu.” Kata Xun bersi Keras.
            “Ini…” Kata Xun memberi Stik Play Station. Aku hanya diam melihatnya. “Ayo ambil.” Kata Xun yang tak sabar melihatku. Ia pun menyerahkan Stik itu ke tangan ku. “Bagaimana cara mainnya?” Tanya ku. “Ini… Stik untuk mengatur. Kau lihat 4 Panah ini? ini… Untuk mengarahkan…” Kata nya mengajarkan ku dan ia memberitahu semua yang dia ketahui. Ternyata tak seburuk apa yang ku pikirkan. Game itu ternyata menyenangkan. Terimakasih Xun… AKu menatap Xun dengan dalam. Aku mencintai mu… Aku senang ketika kau ada di sisi ku… Tapi maaf aku tak bisa. Tak bisa seperti Seichi sebelumnya, Aku tak ingin membuat mu lebih mencinta ku. Mencintai seseorang yang tak pantas ada di hidup mu apa lagi mengisi hati mu. Entah kenapa air mata ku mulai terjatuh tanpa ku sadari. “Horee!!! Kita menang Seichi –kun!” Kata Xun senang menyelesaikan Game nya. “Seichi? Kau kenapa?” Tanya Xun yang menyadari aku menangis. “Ah? Apa? AKu tak kenapa –napa kok.” Kata Ku berpaling membelakanginya. Tangan ku dengan cepat menghapus air mata yang membasahi. “Kau yakin?” Tanya Xun di belakang ku. “Ya. Tentu saja.” Kata Ku berbalik kembali. Chuuuuu~ Ciuman nya tiba –tiba melayang mengenai Bibirku. AKu terkejut mendapatkannya. Lidah nya pun mulai memainkan lidah ku. Tuhan!!! Apa yang harus ku lakukan!? Aku pun memejamkan mata. Entah kenapa aku malah menikmatinya dan melupakan bahwa seharusnya aku menolak Karena aku harus menjauh darinya.
            “Maaf…” Kata Xun setelah melepas ciuman. Aku mengangguk pelan atau mungkin Lemas setelah mendapat kecupan dari nya. “… Tidak seharusnya aku mencium mu Seichi –kun… Aku minta maaf. Tapi… Perlu kau ketahui entah kenapa setiap kali aku melihat mu menangis ingin rasanya Bibir ku mencium bibir indah mu itu.” Kata Xun tertunduk. Tampaknya Dia sangat sedih. Kenapa? Bukankah seharusnya dia senang? Atau karena… “Ya. Tak seharusnya kau mencium ku.” Kata ku dingin. Aku bangkit dari duduk ku dan menghapus ciuman nya di bibir Ku. “Maaf.” Katanya lagi melihat ku dengan mata berkaca –kaca. Aku cukup merasa tak enak hati ketika harus berusaha dingin dan menghidar darinya. Tapi… Ini adalah jalan yang telah ku pilih. Jalan yang dingin dan sangat menyakitkan. “Sudahlah lupakan… AKu ingin mandi saja.” Kata ku berjalan menjauh. “Tunggu…” Bisik nya pelan walau hampir tidak terdengar tapi aku tahu dia menyuruh ku untuk berhenti. Aku pun menghentikan langkah ku, Terdiam menunggu kelanjutan perkataannya. “Aku mencium mu… Karena aku berharap dengan Ciuman ku itu aku bisa menghapus setiap Luka dan air mata yang tengah kau rasakan, Lagi pula ketika aku melihat mu menangis rasanya napas dan jantung ku berhenti dengan sendirinya. Karena itu ijinkan lah aku melakukan nya.” Kata Xun melanjutkan perkataannya. Aku terdiam sejenak mencoba menyimak dalam arti perkataannya. Setelah itu aku langsung pergi tanpa memandangnya sedikit pun.
           
            Aku memulai ritual mandi sore ku. Untungnya aku telah membeli peralatan mandi sebelum aku datang ke sini. Jadi aku tak perlu repot –repot memusingkan harus menggunakan apa. Air dengan beruntun membasahi tubuh ku rasanya begitu hangat memanjakan tubuh ku yang merasa sangat lelah sekali. Tuhan… Terimakasih kepada mu. Yang telah membantu ku untuk tinggal sementara di sini. Walau sebenarnya aku lebih suka mati di banding harus hidup tanpa ayah ku. Tapi… Setidaknya aku bisa menikmati hidup dengan Xun sebelum akhirnya Penyakit ku memakan nyawa ku perlahan. “Akhhh…” Rintih ku. Tiba –tiba kepala ku terasa sangat sekali. Pandangan ku pun memudar. Kenapa? Kenapa dengan ku? Aku pun segera mengakhiri mandi ku.
            Aku pun mengambil baju dari tas ku. Tiba –tiba ada yang memeluk ku dari belakang. “Xun?” Kata ku berbalik melihatnya. Ternyata bukan… “KakYu’er?” Kata ku terkejut. “Xun? Kenapa kau pikir Xun?” Kata Yu’er  terlihat tak senang. “ Maaf…” kata ku. “Aku senang melihat mu tak mengenakan baju dan hanya di tutupi dengan sehelai handuk.” Kata Yu’er dengan mata nakalnya menatap ku. “Ah? Memang kenapa?” Kata ku sedikit takut. “Karena aku dengan mudah bisa melihat tubuh kecil mu itu.” Jawab Yu’er melepas handuk ku dengan mudah. “Kyakkk!!” Kata ku Berteriak ketika handuk ku jatuh. “Kenapa? Kita sama –sama laki –laki? Tak usah takut. Apa harus aku membuka celana ku juga manis?” Kata Yu’er mulai meraba Paha atas ku. “Kak…” Kata ku pelan. Aku benar –benar tidak tahu apa yng harus ku lakukan. Yu’er pun mencium bibir ku panas. Ia dengan cepat memainkan lidah ku. Sesekali menggigit Lidah dan bibir ku. Aku hanya dapat sedikit merintih ketika aku menikmati sensasi dan perasaan yang bercampur aduk tak karuan. Tangan nya pun mulai meraba mendekati kemaluan ku. Aku mencegahnya menyentuhnya. Tangan kiri Yu’er pun memegang kepala ku agar aku tak melepaskan ciumannya itu. Dan tangan kanannya membuka seleting celananya dan mebiarkan Juniornya menyentuh junior ku. Aku terkejut ketika dia melakukannya apa lagi ketika dia mulai menggesekan tubuhnya.         
            “Brengsek! Lepasin Seichi –kun!” Kata Xun yang tiba –tiba datang mendorong Yu’er hingga terjatuh. Tanpa sadar aku langsung memeluk Xun. “Kuranga ajar! Berani nya Kau Yu’er melakukan Itu!” Kata Xun marah. Yu’er hanya tersenyum mengejek. “Apanya sayang? Aku hanya baru mencicipi Junior nya sejenak. Kau malah sudah marah kepada ku setengah mati. Ini baru permulaan Sayang.” Kata Yu’er Bangun. “Pergi Yu’er keluar dari sini! Aku tak mau melihat Brengsek kayak kamu masuk kedalam Apartemen kami!” Kata Xun menyuruh Yu’er keluar. “Ok.Ok. santai saja Xun.” Kata Yu’er dengan senyum mengejeknya itu. Ia pun segera melangkah pergi meninggalkan kami. “Kau tak apa Sei?” Kata Xun cemas setelah Yu’er keluar. Aku hanya dapat mengangguk pelan. “Syukurlah.” Kata Xun memelukku dan menangis. “Maafkan AKu Seichi –kun.” Kata Xun terisak. “Akhhh!” Kata ku merintih yang lagi –lagi merasakan sakit di bagian kepalaku. “Sei! Kamu nggak apa?”


Ashiteru Yo!!! (Part 3)


           Author: Yolan
            Annyeong! Konichiwa! Halooooo!!!!? Kembali lagi dengan Yolan di sini! :D Akhirnya FF ini sampai di bagian ke 3. (Hore!!!) Saya terlebih dahulu ingin berterima kasih kepada Teman Saya (Septian ) #Tiup2x Terompet#  Dialah yang menjadi inspirasi (Soalnya dia suka cerita TentAng kehidupan dan kasih saran :D), Pembaca setia (Cuma Septian doank yG Antusias baca Crita2x Yolan di Communitas TT_TT Hks But No Pro!), Dialah yang selalu nyemangati Yolan! Horass!!! DLL  #Plakkk! Kok jadi CurCol?# LanjUuuuuuuTttttt .….Di cerita sebelumnya Sei dan Xun yang baru menjalin hubungan beberapa jam sudah mendapatkan cobaan. Bagaimana jika selanjutnya? Hm… Dan di cerita 2 (sebelumnya) Sei yang di suruh mengantar Mie dan ketemu dengan Malaikat Yunani. Tanpa di duga Malaikat Yunani itu adalah Kakaknya Xun!!! Dan di saat terakhir Xun di buat sangat marah Karna hal yang mengejutkan.!!! Yaitu KaK Yu’Er mencium Sei @o@)/// OMO!! Bagaimana dengan cerita selanjutnya baca saja :D


“Xun… Aku pamit dulu.” Kataku mengelus tangan Xun. “Iya. Pergilah.” Kata Xun lirih. Sepertinya dia berusaha untuk tidak menangis. “Maaf…” Kata ku bersalah. Entah kenapa aku merasa sangat bersalah kepada nya. “Sebentar…” Kata Yu’er menghentikan ku yang hendak keluar mobil. “Ya?” Kata ku melihat Yu’er. Tiba –tiba. Kecupan lembut di layang kan Yu’er di bibir ku. Aku benar –benar terkejut. Xun pun ikut terkejut melihat kejadian itu. “Lepaskan dia! Yu’er!” Kata Xun mendorong Yu’er ke belakang. Semua pun menjadi hening. Xun melihat Yu’er sinis. Aku hanya dapat terdiam. “Apa yang kau lakukan! Dia bukan milik mu! Dia hanya milikku!” Kata Xun marah. “Xun… Tenang lah.” Kata Ku membujuk Xun agar tenang. “Memang kenapa adik kecil ku? Apa salahnya aku mencium pacar mu? Kau tak mau membagi kebahagiaan mu pada Saudara mu Hah!?” Kata Yu’er malah balas menantang. “Kau boleh mengambil semua yang ku miliki! Bahkan kau boleh mengambil Nyawa ku! Tapi tidak! Untuk Seichi –kun! Dia milikku! Hanya aku!” Kata Xun membentak Kakaknya. Baru pertama kali aku lihat Wajahnya yang begitu marah.  Aku menundukan kepala ku. Entah kenapa air mata ku mengalir. Kenapa aku menangis? Apa karena sikap Xun yang sangat menjaga ku? Apa itu artinya dia benar –benar mencintai ku? “Xun…” Bisik ku dalam tangis. “Sei… Kau kenapa?” Tanya Xun dengan lembut ia melihat ku khawatir. “Maaf… Maafkan aku Xun.” Kata ku tak mampu melihat wajah Xun. “Kau kenapa? Apa kau sakit? Beritahu aku… Jangan membuat ku cemas begini dong…” Kata Xun mencemaskan keadaan ku. Aku menggeleng. “Maaf… “ Kata ku lagi. “Lihat aku Sei… Lihat aku. Jangan menangis seperti ini.” Kata Xun mengelus rambut ku. “Tidak! Maafkan aku Xun… Maafkan aku…” Kata Ku tak karuan. “Sei!” Kata Xun dengan nada tinggi. Membuat ku terhentak mendengarnya. Aku pun melihatnya dengan penuh air mata. Tiba –tiba Chu~ Xun mencium bibir ku dalam. Mata ku melebar ketika dia menciumku. Aku benar –benar tak menyangka dia akan mencium ku di depan Kakaknya. Memang nya tak masalah? Bagaimana ini? Aku pun memejamkan mataku. Mencoba melupakan masalah itu… dan menikmati seluk beluk mulutnya. Tes! Terasa tetesan air mengenai pipi ku. Aku pun membuka mata ku. “Xun? Kau menangis?” Kata ku dalam hati melihat Xun yang masih menciumku. Pipinya sudah di penuhi oleh air matanya begitu pula pipi ku. Air matanya turut membasahi pipi ku.  Klik! Suara jepretan Camera dari arah belakang. “Gambar yang bagus.” Kata Yu’er yang diam –diam mengambil Foto kami. Aku pun segera melepas ciuman Xun. “Kyak!!! Apa kau Gila!? Dasar Cabul!” Kata Xun. “Ah. Ah. Ah. Aku tak cabul. Honey… Ini moment sempurna yang pantas di abadikan.” Kata Yu’er seakan tak bersalah. “Cepat Kau hapus foto gila itu!” Kata Xun. “Tak akan. Ini milikku ha…nya… mi… likku… Lagi pula siapa  yang gila? Kalian? Ingat loh kalian yang aku foto. Dan satu lagi ini tak Cabul kecuali kalian buka pakaian kalian baru namanya Cabul.” Kata Yu’er. “Sialan kau…” Kata Xun. Aku menatap Xun tanda tak suka perkataannya barusan. “Ah. Maaf Seichi –kun.” Kata Xun menyadari ketidak sukaan ku. “Oh Ya. Ini uang untuk mu. Aku hampir Lupa.” Kata Yu’er mengeluarkan uang dari dompetnya. “Ah… Iya. Terimakasih Tuan…” Kata ku menerimanya dengan sedikit ragu. Xun hanya diam melihanya. “Sudah larut Sei… Sebaiknyakau segera pergi.” Nasehat Yu’er. Aku mengangguk. “Selamat malam Xun.” Kata ku mencium pipinya sebelum akhirnya aku pergi dari Mobil.
“Tuhan!! Kenapa jadi begini!? Kenapa ke dua malaikat Utusan mu jadi bertengkar?” Kata ku bicara dengan diriku sendiri. Aku membuka Hand Phone ku yang Ber wallpaper Xun. “Xun…” Kata ku mengingat ketika Xun mencium ku dan menangis. Jari telunjuk ku mengusap lembut bibir ku. Aku pun kembali mengingat kejadian saat Yu’er  mencium ku dan menyentuh ku saat di Arpatement nya. Aku pun memejamkan mata. Air mata tanpa seijinku mulai membasahi pipi ku. “Maafkan aku Xun…” Kata ku lirih memeluk bantal.
Di sekolah. “Kyakkkk!!! Itu Xun!” Teriak histeris kerumunan wanita melihat Sang pangeran hati ku datang. Aku pun tersenyum dan ikut masuk dalam kerumunan itu. “Xun~ Sayang… Met Pagi.” Sapa Seorang cewek mengandeng Pangeran ku. Terbesit rasa cemburu dalam hati ku. Sabar… Sabar lah Seichi. Aku berusaha menenangkan diri ku. “Met Pagi Seichi –kun.” Sapa Xun yang ternyata menyadari keberadaan ku. “Ah?” Semua nya terkejut dan melihat ku. “Kau mengenalnya?” Tanya salah satu murid. “Dia… Seichi dari ruang 10-A?” Kata yang lain. “Aku tak mengenalnya… Siapa dia Xun?” Kata teman Xun lagi. “Dia sahabat ku. Teman hatiku.” Kata Xun menjawab dengan senyum begitu indah bak Sang surya memanggil Dunia. “Apa!!!??” Kata kerumunan itu serentak. Mereka tak percaya bahwa Xun benar –benar mengenal ku. “Ah!? Satu lagi. dia adalah My Idol.” Kata Xun tak lepas dari senyumnya. “Gak mungkin!!!” Teriak seorang wanita. “Ya. Gak mungkin’! Xun yang tampan dan Hebat tak mungkin Ngefans sama anak Payah kayak dia!” Sahut siswi yang lain. “Apa maksud mu!? Jangan hina Seichi –kun seperti itu!” Kata Xun marah. “Kenapa kau harus pedulikan dia Xun? Dia sudah membentak dan menolak tawaran mu kemarin… Kenapa masih peduli dengan anak seperti dia?” Kata Wanita yang mengandeng tangan Xun. “Ya. Kamu siapa memangnya Huh!?” Kata Wanita lain kepada ku. “Kalian kira aku suka Apa!? Aku juga tak suka! Dia saja yang bodoh!” Kata ku Dingin. Xun hanya melihat ku dengan heran. “Aku… sama sekali tak mengenalnya. Dan apanya teman? Bahkan aku saja baru tahu namanya dari kalian. Aku tak sudi dekat dengan seorang yang hanya mentebarkan pesona dan ketampanan nya. Tampak sangat bodoh dan juga konyol di mata ku.” Kata ku dengan nada menghina. “Apa kau bilang!” Kata Wanita –wanita itu tak terima perkataan ku. Mereka mendorongku hingga terjatuh. “Hey! Apa yang terjadi! Ayo cepat masuk sebentar lagi kelas akan masuk!” Kata Sensei mengusir kerumunan. Anak –anak yang lain segera meninggalkan tempat ini dengan cibir dan caci maki mereka yang tertinggal. Aku hanya terdiam dan tertunduk. Sebenarnya ada apa dengan diriku? Aku menahan air mata ku yang memenuhi mata ku. “Seichi –kun…” Kata Xun yangmasih berdiri di tempatnya. Aku pun menatap wajah nya. Dia tersenyum simpul berjalan ke arah ku. “Seichi –kun ayo masuk…” Kata nya mengulur kan tangannya. Aku terdiam sejenak. “Tidak pergilah.” Kata ku membuang muka. Xun ikut duduk di lantai. “Sayang…” Kata Xun lembut. “Aku sangat mencintai mu… Terimakasih atas perkataan mu barusan. Aku akan segera pergi.” Bisik Xun di telinga ku. Aku hanya terdiam ketika dia bangkit dan berniat pergi. “Tunggu…” Kata ku menghentikan langkahnya. “Ya?” Kata Xun tak berbalik. Aku pun langsung memeluknya. “Gomennasai… Aishiteru Yo…” Kata Ku menjentikan air mata. “Xun pun berbalik melihat ke arah ku. “Tidak. Kau tak salah… Ashiteru Yo.” Kata Xun meraih dagu ku lalu mengecup bibir ku. Aku terkejut ketika dia mencium ku. Aku pun melepas pelan ciumannya setelah beberapa saat. “Jangan… Jangan di sini.” Kata ku melarangnya. “Lalu dimana? Memangnya kenapa jika di sini? Di sini tak ada siapa pun hanya kita berdua Sayang…” Kata Xun mengelus lembut rambut ku. “Aku hanya takut jika ada yang melihatnya…” Kata ku. “Ya. Aku mengerti.” Kata Xun tersenyum.
Pelajaran Olahraga semua murid berkumpul di Lapangan kecuali aku. Aku tak  ikut dalam setiap pelajaran Olahraga karena penyakit ku. Aku hanya dapat termenung sendiri ketika yang lain asyik di lapangan. “Oh Ya. Sekarang kelas 10-B juga Olahraga  kan?” Kata ku riang bangkit dari kursi ku. Xun adalah murid kelas   10 -B Yaitu kelas untuk para Atlet. Di sekolah ku kelas di bagi –bagi menjadi beberapa bagian. A : Kelas Dominan pembelajaran Akademik. Jadi biasanya di kelas A jarang ada yang bisa atau gemar Olahraga dan setiap hari akan selalu ada pelajaran Matematika jadi Soal hitung menghitung bukanlah kendala bagi anak kelas A mereka sudah hapal di luar kepala. B : Kelas bagi para Atlet di sekolah kami. Di kelas B siswa memiliki bidang Olahraga mereka masing –masing dan mereka memiliki pelajaran Olahraga 4 kali dalam seminggu dan di tambah latihan Eskul mereka masing –masing 3 kali seminggu. C : Kelas dalam bidang Sains. Ruang kelas ini lebih menyerupai ruang Lab. Anak –anak di sini adalah anak –anak yang memiliki kercerdasan Sains di atas rata –rata Atau anak yang lebih suka belajar aktif. Di dalam kelas ini lebih suka ber eksprerimen atau juga melakukan kegiatan belajar dengan rangkaian kegiatan. D : Kelas Seni baik dalam Seni Rupa, Vokal, Sastra, Tari dan sebagainya. Di kelas ini pembelajaran Seni lebih di tonjolkan atau di ajarkan di kelas ini siswa memiliki Selera seni yang tinggi.
 Aku pun berjalan mencari sosok Malaikat ku di setiap ruang Olahraga. Aku pun akhirnya menemukannya di ruang Basket. Mata ku dengan cepat mencari –cari Xun. Anak –anak Basket kebanyakan adalah anak popular karena wajah mereka yang tampan, Karismanya, Style dan juga postur tubuh mereka yang tinggi membuat mereka tampak sangat sempurna bagi sebagian para Siswi. “Ah! Itu Xun!” Kata ku dalam hati. “Tapi… Kenapa dia tak ikut latihan? Kenapa hanya duduk di kursi cadangan? Bukannya dia adalah kartu AS di Team nya?” Hati ku bertanya-tanya ketika melihat Xun hanya duduk memperhatikan. “Xun…” Kata ku mendekatinya. Entah kenapa tubuh ku yang membawa ku untuk datang mendekati. “Oh… Hye! Seichi –kun.” Sapa Xun ramah. “Boleh aku duduk?” Kata ku. Xun hanya mengangguk dan bergeser sedikit agar aku dapat duduk. “Kenapa kau tak ikut latihan?” Tanya ku duduk di sebelahnya. “Kaki ku terkilir. Jadi harus istirahat…” Kata Xun dengan tawa kecil. “Terkilir? Apa tidak sakit? Coba… Biar ku lihat?” Kata ku Khawatir dengan Pacar ku. “Sudah tidak apa –apa kok sekarang. Tadi sudah di obati.” Kata Xun mengurangi kecemasan ku. “Lalu… Kenapa kau di sini? Tidak ikut dengan teman –teman mu? Bukankah sekarang kau ada pelajaran Olahraga?” Tanya Xun yang tahu jam Olahraga dikelas ku. Aku menggeleng dan melihatnya sejenak. “Aku… Aku hanya tak suka berkeringat itu tampak bodoh bagi ku…” Kata ku menutupi kenyataan sesungguhnya. Xun melihat ku dengan dalam. “Bodoh?” Tanya Xun dan raut heran. Eh…? Aku salah bicara? Ya Tuhan! Xun kan sangat suka Olahraga!? Bodohnya Aku menghinanya seperti itu!!! “A… Bu… Bukan maksud ku begitu…” Kata ku Tertunduk. Aku benar –benar merasa bersalah. “Ya aku mengerti.” Kata Xun. Aku pun kembali melihat wajah nya. “Memang… Seseorang yang menghabiskan waktu nya hanya karena Olahraga dan menguras banyak keringat adalah orang Bodoh bagi mu. Tapi… Jika harus menjadi orang bodoh sekalipun aku tak keberatan… Kau tahu kenapa?” Kata Xun bangkit dari duduknya. Aku hanya dapat diam bersalah melihatnya. Ia mengambil bola basket di dekatnya. “…Karena Olahraga itu menyenangkan.” Kata Xun melempar bola basket ke Ring. “Xun…” Kata ku benar –benar takut. Sepertinya dia benar –benar marah pada ku. Ya Tuhan… Apa yang harus ku lakukan? Bodoh nya aku… Aku hanya tertunduk menahan air mata. “Haide aku gantikan kau.” Kata Xun ikut bermain kembali ke dalam latihan. “Tapi… Apa kaki mu sudah baik –baik saja?” Tanya Haide. Xun menggeleng. “Aku ingin memperlihatkan kepada seseorang bahwa aku sangat menyukai Basket.” Kata Xun masuk bermain. “Xun… Maaf…” Kata ku benar –benar tak kuasa menahan air mata. Baru beberapa menit pertandingan di mulai Xun sudah memasukan angka. Aku tak tahu harus melakukan apa lagi… Senang karena Xun mencetak angka? Tidak mungkin. Dia sedang marah pada ku bahkan dia ikut bermain walau kaki nya cidera karena dia marah atas perkataan ku. Lebih baik aku pergi saja. Aku pun mengangkat kaki ku berniat meninggalkan ruang latihan. Tiba –tiba Brukkk!!! Hantaman keras mengenai belakang kepala ku. Aku pun terjatuh. “Seichi –kun!!!” Teriak Xun menghampiri ku. Terlihat wajah tampannya tampak samar dan akhirnya aku pun pingsan.
Di ruang Kesehatan “Ng…” Kata ku bangun dari pingsan ku. Terlihat Xun yang tertidur di dekat ku. “Xun…” Kata ku dengan mata sayu. Aku sangat takut saat ini. Sepertinya aku memang tak pantas untuknya. Aku telah membuat nya menangis semalam dan sekarang aku telah membuatnya marah pada ku. Ya Tuhan… Apa yang harus ku lakukan? Aku mengelus pelan rambut Xun. “Maafkan aku Xun… Aku tak bisa lebih dari ini. Aku tak sanggup untuk terus mencintai mu dan mempertahankan mu. Aku terlalu bodoh dan rendah… Maafkan aku, Aku tak bisa lagi bersama mu…” Kata ku dengan air mata. Aku pun perlahan turun dari ranjang. “Aku mencintai mu.” Kata ku tersenyum miris. “Rupanya kau telah sadar?” Terdengar suara yang ku kenal. “… Kau… Kak Yu’Er?” Kata ku terkejut melihat Malaikat Yunani ku. “Kau mau kemana? Apa kepala mu sudah mendingan?” Kata Kak Yu’er yang mengenakan baju putih seperti Dokter (?) “Ah. Ya. Aku suda h tak apa.” Kata ku menjawab pertanyaannya. “Apa yang di lakukan Xun? Apa dia berbuat ulah lagi?” Tanya Yu’er yang sekarang menanyakan tentang Xun. “Tidak. Dia tak berbuat apapun.” Kata ku dengan gelengan kecil. “Kakinya terkilir sangat parah dan ia pun sangat lelah… Apa dia memaksa kan diri lagi?” Tanya Yu’er lagi.  “Benarkah? Sepertinya begitu. Itu semua salah ku…” Kata Ku tertunduk. Yu’er pun mendekati ku dan memelukku. “Bukan. Bukan salah mu…” Kata Yu’er. Aku berusaha melepas pelukannya tapi tak bisa dia memelukku semakin erat. “Kak…” Kata ku berniat memintanya untuk melepaskan pelukannya. Yu’er pun dengan cepat mencium bibir ku. Lagi –lagi dia melakukan hal ini. Aku hanya dapat terkejut mendapatkannya. “Kyakkkk!!!” Kata ku melepaskan ciumannya setelah berusaha dengan sekuat tenaga. Aku mundur beberapa langkah berniat sedikit menjauh. Tapi aku menabrak sesuatu di belakang ku. “Xun!?” Kata ku berbalik yang ternyata di belakang ku adalah Xun. Apa dia melihatnya? “Xun… Kau sudah bangun? Sejak kapan?” Kata Yu’er dengan senyumnya. “Jangan pura –pura tak tahu. Kau sudah tahu bukan?” Kata Xun dengan wajah kesal. “Ya.” Jawab Yu’er dengan gampangnya. “Kenapa Kau lakukan ini lagi Yu’er!?” Bentak Xun. “Kenapa? Tentu saja karena aku mau. Oh ya. Apa kau telah membicarakan pada kekasih mu tentang semalam?” Kata Yu’er. “Tentang apa?” Tanya Ku yang benar –benar tidak mengetahui. “Ternyata belum ya?” Kata Yu’er. “Tak ada yang perlu di beritahu kepada nya.” Kata Xun. “Seichi –kun… Apa kau ingat kejadian semalam saat aku masak dengan mu?” Tanya Yu’er kepada ku. Aku terkejut ketika dia menanyakan -nya. “Ah… Me…Memang nya ada apa?” Kata ku sedikit ragu –ragu karena Yu’er mengungkit masalah semalam. “Diam Yu’er!” Bentak Xun. “Xun tahu bahwa aku dan kau bercumbu semalam.” Kata Yu’er menghiraukan kata –kata Xun. Aku lagi –lagi terkejut mendengarnya. “Xun…” Kata ku dengan air mata melihat Xun. “Kau masih ingat Xun menangis semalam bukan? Perlu kau tahu dia menangis karena dia melihat semua itu… Semua yang ku lakukan kepada mu.” Kata Yu’er yang membuat ku takut. “Jangan dengar kan dia Seichi –kun…” Bisik Xun memegang tangan ku. “Sudah sampai di sini Yu’er jangan bicara lagi…” Kata Xun yang seperti nya mengetahui aku menangis. “Memang kenapa?” Tanya Yu’er  menantang. “Karena aku muak mendengar Kata –kata bodoh mu itu…” Kata Xun dingin. “Ayo Sei… Kita pergi.” Kata Xun mengajak ku.


Di lobi. Aku menghentikan langkah ku. “Ada apa?” Tanya Xun. “Sudah sampai di sini saja…” Kata ku. “Apa maksud mu?” Kata Xun tak mengerti. “Kita akhiri sampai sini saja hubungan kita.” Kata ku memberanikan diri. “Kenapa? Apa karena di latihan basket tadi?” Tanya Xun. Aku menggeleng. “Bukan hanya itu… Aku hanya berpikir bahwa kita tak mungkin bersama. Kita ini laki –laki… Tak mungkin bersama.” Kata Ku. “Kenapa begitu? Ku kira kau mencintai ku?” Kata Xun. “Tidak. Aku tidak mencintai mu… Sama sekali tidak. Aku hanya ingin bermain –main… Jarang ada yang mengungkap kan ‘Cinta’ kepada ku. apa lagi Laki –laki. Bukankah itu menarik? Karena itu aku terima hanya untuk keingingan sesaat ku saja dan ternyata Kakak mu juga sama menyukai ku… Itu tak masuk dalam perhitungan ku. Aku hanya coba –coba dan sekarang sudah sedikit melenceng dari jalannya jadi ku harap kita akhiri semua sampai di sini saja.” Kata Ku berusaha menutupi perasaan ku sesungguhnya. Maafkan aku Xun… Aku tak bisa bersama mu lagi. aku tak pantas ada di sisimu apa lagi mengisi hati mu… “Benarkah…? Aku tak yakin… Jika begitu tunjukan kepada ku. Apa pun itu untuk dapat meyakinkan Diri ku bahwa benar  semua ini hanya permainan belaka?” Kata Xun dengan tatapan serius.


 

Ashiteru Yo! (Part 2)

Author:Yolan

Yolan hadir di sini membawa Cerita Lanjutan sblumnya Aishiteru Yo! Cerita sebelumnya Seichi yang terkurung di selamatkan Xun dan setelah itu mereka pun menjalin kasih (?) walau baru berjalan beberapa Jam hubungan mereka, Sudah mendapat masalah. CkCkckckckc… Ya ampun… Bagaimana nanti.
Di sini Seichi akan tambah saling mengenal lagi. Siapa yang penasaran?        -_____-  *Hening…*  Ya udah deh… Yang penting Jadi ceritanya. Selamat membaca  :D 


“Tuhan… Kenapa semua ini harus terjadi?” Kata ku menangis. Aku sedang berada di Perpustakaan menangis di antara tumpukan buku yang ada. “Apa yang harus ku lakukan?” Kata Ku  menangis. “Seharusnya aku yang bertanya kenapa kau lakukan itu?” Terdengar suara ke arah ku. Aku pun mengangkatkankan kepala melihat siapa ia. Tampak wajahnya yang sangat tampan begitu serius memandang ku. “Kenapa?” Kata nya ikut duduk di lantai. “A…Aku…” kata ku memalingkan wajah ku aku benar –benar  tak bisa menjawab pertanyaan nya. Karena diriku pun bertanya demikian. “Maaf…” Kata nya lembut tiba –tiba memelukku. Aku hanya terdiam karna terkejut. “Seharusnya aku tahu. Bahwa kau tak menyukainya…” Kata Xun masih memelukku. Pelukkannya terasa hangat tapi kenapa hatiku masih merasa sakit? . “Apanya!? Kenapa harus meminta maaf. “ Kata ku sedikit tinggi. Ia pun melepaskan pelukannya perlahan. “Kau tak suka orang lain tahu hubungan kita kan?” Kata Xun balik bertanya. “Aku… Aku…” Kata ku hanya dapat menatap nya dengan air mata.  Ia terdiam menunggu jawaban.  “Bukan begitu. Bukannya tak suka. Tapi… Aku hanya takut.” Kata ku tertunduk. “Jangan khawatir sayang…” Kata Xun meraih dagu ku hingga mata ku dapat melihat kilauan hangat dari matanya. “Aku janji. Aku akan merahasiakan nya jika kau mau.” Kata nya lalu mendekatkan bibirnya ke bibirku. “Aku pun membalas ciumnya dengan lembut. “Maafkan aku Xun…” Kata ku sedikit bersalah karena telah egois mengatur nya begitu saja. “ Apanya? Buat apa sayang? Kau tak salah. Tak ada yang perlu minta maaf di sini.” Kata Xun dengan sedikit tawa. “Kau menertawakan ku?” Kata ku tiba –tiba ketus. Ia pun terkejut atas tingkah ku. “Eh? Maaf. Kau tak suka ya?” Kata Xun dengan mata apology nya. Aku pun tertawa. “Hey! Kenapa kau malah tertawa?” Kata nya tersenyum dan juga heran. “Kau bilang… Tak ada yang perlu minta maaf. Tapi… Nyatanya kau sendiri yang meminta maaf.” Kata ku sambil menghabiskan sisa tawa ku. Tawa ku segera hilang ketika wajah nya tak tersenyum dan hanya ada wajah datar melihatku. “? Kau… Kau kenapa!? Kenapa menatap ku seperti itu?” Kata meninju kecil pundaknya. Ia tak menjawab. “Hey! Jawab aku! Aku tak suka ini!” Kata ku sedikit takut jikalau dia marah. Jika memang iya, Ya Tuhan… Apa yang harus ku perbuat? Aku telah membuat malaikat utusan mu marah!  Apa aku masih akan di beri kesempatan lagi? Ia pun mendekatkan tubuhnya ke arah ku. “Apa yang kau inginkan?” Kata ku semakin mundur dan akhirnya aku terjebak diantara Rak buku di belakan ku dan Xun yang tengah mendekati ku. Aku pun memejamkan mata ku. Kecupan nya pun mendarat kembali di bibir ku. Lidahnya dengan lihai memainkan lidah ku. Sekarang tubuh ku dengan tubuhnya sangat dekat dan tampaknya ia tak akan melepaskan ku sekarang. “Humpptt…” Kata masih memejamkan mata dengan erat. Perlahan kecupannya turun menuju leherku. Dengan lembut ia kecup leherku dan sesekali ia menggigit leherku pelan. “Aucch!” Kata ku kesakitan ketika dia menggigitku agak kuat. Ia terhenti sejenak lalu melanjutkannya. Ia pun kembali menuju bibir ku. Air liur kami pun bercampur kembali. Seperti sebelumnya ia memainkan lidah ku dengan penuh hasrat.

Malam ini. Aku tak dapat tidur. Aku tersenyum menatap langit –langit di atas. “Ya Tuhan… Dia benar –benar kebahagiaan untuk ku.” Kata dalam hati. “Seichi!” Terdengar suara Ayah ku memanggil. “Sebentar!” Seruku bergegas turun. “Ada apa?” Tanya ku kepadanya. “Ini. cepat antar pesanan ke alamat ini.” Kata Ayah memberikan kotak makan. Keluarga kami adalah keluarga kecil yang memiliki restaurant mie. Walau tidak besar tapi restaurant kami meliki beberapa pelanggan tetap yang cukup menjanjikan. “Tapi aku ada PR.” Kata ku menolak. “Jangan membantah! Ayo cepat!” Kata Ayah memukul punggung ku agar cepat pergi. “Ya. Iya.” Kata ku segera berangkat.
“Di Hotel ini?” Kata ku melihat Gedung bertingkat itu. Aku tak menyangka pelanggan tetap Ayah ku adalah orang yang tinggal di apartemen yang mewah dan juga bergengsi. Aku pun tanpa basa –basi lagi melangkah kan kaki ku masuk. “Ada yang bisa saya bantu?” Kata penjaga yang menghampiri ku. “Saya mengirimkan pesanan.” Kata ku. “Oh Ya. Biar saya antar. Ikuti saya.” Kata Penjaga itu. Aku pun mengikuti nya di belakang. “Boleh ku tahu di kamar mana?” Tanyanya. Aku pun menyerahkan sepucuk kertas alamat yang di berikan ayah ku. Penjaga itu pun mengantarkan ke kamar yang di tuju. “Terimakasih.” Kata ku. “Ya. Sama –sama.” Kata Penjaga sebelum akhirnya ia pergi.  Aku pun mengetuk pintu. “Sebentar.” Terdengar suara dari dalam. Aku pun menunggu. “Ya? Ada apa?” Tanya seorang pria dengan handuk yang melingkari pinggangnya itu. Aku pun terkejut melihatnya hingga kotak makanan yang ku bawa terjatuh. Entah kenapa aku mematung melihat dirinya. Tuhan … siapa gerangan? Malaikat mu lagi? Aku tak bisa melepaskan pandangan ku dari malaikat di depan ku. Tubuh nya tampak begitu indah bak patung Yunani. “Kau tak apa?” Tanya nya heran. “I…Iya.” Kata ku masih tak dapat melepas pandangan ku darinya. “Benarkah? Wajah mu tampak merah.” Kata Pria itu. “Ah!? benarkah?” Kata ku baru keluar dari lamun ku. “Astaga! Mie – nya!!!” Kata ku terkejut baru menyadari mie yang ku bawa jatuh. Aku pun berjongkok merapikan kotak mie ku. “Hm… Ya. Ngomong –ngomong apa itu mie ku?” Tanya nya melihat ku dengan wajah kecewa(?). “Ah… Ya. Maaf. Aku akan segera kembali untuk membawa lagi.” Kata ku menundukan kepala. Bodoh!!!! Kenapa aku harus seperti ini!!! Kyakkk!!! Ini memalukan! “Sayang sekali. Tapi aku sudah lapar. Kau sudah jauh –jauh ke sini juga…” Kata pria dengan wajah Manisnya. Shit! Berapa umurnya!? Dia tampak lebih tua dari ku. Tapi kenapa dia bisa begitu manis?  “Sekali lagi. Aku minta maaf. Aku akan segera kembali membawa yang baru.” Kata ku benar –benar tak tahu apa yang harus ku perbuat. Aku Malu dan sangat terkesima dengan ketampanannya. “Tak usah. Bagaimana  jika kau membuatkan mie di sini saja. Jadi tak akan memakan waktu banyak.” Kata nya tersenyum. “Apa?” Kata ku tak percaya. “Ya. Kau akan memasak di sini. Aku tak bisa menunggu mu lebih lama lagi. Jika kau kembali akan sangat lama bukan? Lebih baik kau masakan mie untuk ku di sini.” Kata Pria itu menjelaskan dengan senyum yang tak lepas dari vivir merah nya itu. “Tapi… Aku hanya di tugaskan mengantarkan makanan. Aku tak pernah memasak mie untuk pelanggan sebelumnya… Aku tak bisa tuan.” Kata ku menolak. “Ayolah… Bukan berarti kamu sama sekali tak bisa masak mie bukan? Aku akan membayar 2 kali lipat jika kau mau memasak untuk ku.” Kata Pria itu memaksa ku. “Tapi…”
Pada akhirnya aku pun memasakan Mie untuknya. Tak ku sangka di dalam kulkasnya penuh dengan beraneka bahan –bahan dan juga makanan. Lalu kenapa ia harus memesan makanan di luar?  Aku pun menyiapkan bahan –bahan yang ku perlukan. Ya Tuhan aku belum pernah memasak untuk pelanggan sebelumnya. Bahkan Ayah ku tak pernah memakan mie ku. Bagaimana jika tak enak? Aku hanya dapat pasrah dan membuat mie yang biasa aku buat untuk diriku. Pria itu melihat ku terus menerus memperhatikan setiap gerakan ku. “Hm… Lebih baik Tuan duduk saja. Biar saya yang mengantarkannya.” Kata ku masih sibuk dengan kegiatan ku. aku sama sekali tak melihatnya bukan karna tak ingin tapi aku hanya tegang. “Tidak. aku ingin membantumu.” Kata nya. “Apa?” Lagi –lagi dia membuat ku terkejut. Sebenarnya apa maunya? “Aku ingin membantu mu. Apa yang bisa saya bantu?” Kata Pria itu. Aku pun menatapnya sejenak lalu mengambil napas panjang. “Baiklah… Coba kau bersihkan ayam ini.” Kata ku memberikan sepiring penuh dengan daging ayam. “Baiklah.” Kata nya menerimanya. Aku pun sedkit tertawa ketika melihatnya membersihkan ayam itu. Sepertinya ia belum pernah melakukannya tampak ia sangat amatir. Ia hanya tersenyum manis membalas tawa ku. Aku pun terdiam melihatnya lalu menyelesaikan tugas ku lagi. Ya Tuhan… Bagaimana aku bisa tenang? Aku benar –benar sangat gugup. “Auchhh!!” Kata nya berteriak. “Ada apa?” Kata ku mendekatinya. “Jariku ter iris.” Katanya menunjukan luka kecil di jarinya. Aku pun spontan langsung menghisap darah di jarinya. “Kau sangat cantik.” Kata nya membuat ku menghentikan kecupan di jarinya Aku pun terdiam melihatnya. “Apa?” Kata ku sangat pelan. “Kau cantik sayang.” Katanya. Apa dia bilang? Aku cantik? Aku terdiam mematung. “Kau akan tampak lebih cantik lagi ketika melepas kaca mata mu itu.” Katanya Pria itu membuka kaca mata ku. “Tuh kan benar.” Katanya tersenyum. “Ah! Mie ku!” Kata ku teringat dengan mie yang ku buat. Dengan segera aku belari mematikan mie ku. “Syukurlah tak gosong.” Kata ku setelah melihat di dalam panci. “Ya syukurlah…” Katanya memeluk ku dari belakang. Aku benar –benar terkejut karna perlakuannya. “Tuan… Apa yang kau lakukan?” Kata ku sedikit canggung. “Aku sangat lapar cantik.” Katanya berbisik di telinga ku. Suara nya benar –benar membuat ku geli. “Sebentar. Aku akan segera menyelesaikannya.” Kata ku mencoba melepaskan pelukannya. “Tidak.” Katanya lagi. mengeratkan kembali pelukannya. “Apa maksud Tuan? Apa tuan tak mau makan?” Kata ku sedikit takut. “Bukan begitu.” Katanya. Perlahan tangan kirinya masuk ke dalam celemek ku. “Jadi?” Tanya ku ragu “Aku ingin memakan mu.” Kata Pria itu berusaha melepaskan kancing celana ku. Aku pun memegang tangannya. “Ku mohon jangan.” Kata ku mencoba menghentikannya. “Kenapa?” Katanya lembut. Aku terdiam. “Apa kau takut?” Tanyanya. Aku mengangguk pelan. Ia pun tengah berhasil membuka kancing celana ku. “Tenang saja. Kau tak perlu takut.” Katanya mencium leherku. Aku pun memejam kan mataku. Entah apa  perasaan ku saat ini. Aku benar –benar tidak tahu apa yang harus ku lakukan. Dengan perlahan tangan kiri meremas kemaluan ku dan lidahnya terus menjilati seluk beluk leherku. “Aku pulang!” Terdengar suara seseorang masuk. “Ah! Dia sudah pulang.” Kata nya menghentikan. kegiatannya “Kak… Apa yang kau lakukan?” Terdengar suara orang yang tadi masuk. Apa!? Apa dia adiknya? Aku dengan segera merapikan celana ku. Aku bingung apa yang harus ku lakukan? Ya Tuhan… Kenapa begini. Aku benar –benar takut. Tak ku sadari air mata ku pun terjatuh. “Apa yang kau lakukan dengannya? Siapa dia?” Tanya pria yang masuk. Aku sama sekali tak berani untuk melihatnya. Aku sungguh Malu dan takut. “Dia anak pemilik restoran Mie.” Jawab Kakaknya datar. “Restoran Mie?” Tanya adiknya tampak sedikit curiga. Tuhan… Apa dia melihatnya? Aku benar –benar takut. “Permisi. Aku sebaiknya pergi.” Kata ku masih tertunduk. Aku menghapus air mata ku lalu belari untuk pergi. “Tungu Seichi –Kun!” Panggilnya menghentikan langkah ku. Apa!? Dia… Dia mengenal ku!? “Apa benar kau Seichi –kun?” Katanya mendekati ku. Aku pun memberanikan diri berbalik melihantnya. Dia tersenyum melihat ku. “Ternyata benar kau. Kenapa kau bisa kemari?” Tanyanya dengan senyum yang menawan. “Xun…” Kata ku menjatuhkan air mata ku kembali. Aku pun langsung memeluknya. “Kau kenapa Sei?” Tanyanya heran. “Kau kenal dia Xun?” Tanya Kakaknya Xun mendekati. “Ya. Dia kekasih ku.” Jawab Xun mengelus rambut ku. “Apa?” Kata Kakaknya Xun tak percaya. “Ya. Dia pacar ku. Kekasih ku. My Boyfriend.” Kata Xun lalu melepas perlahan pelukan ku. Ia pun menatap Kakaknya. “Pacar mu? Benarkah?” Tanya Kakaknya Xun masih tak percaya. “Ya, Nama nya Seichi. Dia yang pernah ku ceritakan pada Kakak.” Kata Xun tersenyum. Dia pernah cerita ke Kakaknya? “Aku tak menyangka. Kalian bisa bertemu secepat ini. padahal aku ingin memperkenalkan Sei Minggu nanti. Tapi…” Xun pun tertawa sedikit. Seperti nya dia tak tahu apa yang telah terjadi. Dia tak tahu apa yang di lakukan Kakaknya kepada ku barusan? “Kau tau dari mana alamat rumah ku?” Kata Xun berbalik bertanya pada ku. “… A… Aku…” Kata ku terbata. Sulit untuk berkata sekarang apa lagi dengan kondisi ku yang tengah Shock. Aku benar –benar tak menyangka jika Pria itu adalah Kakak nya Xun. Bagaimana jika Xun tahu apa yang di lakukan kakaknya kepada ku? Aku takut mereka akan bertengkar. :( “ Seperti yang ku katakan sebelumnya… Dia anak pemilik restoran Mie. Aku memesan makanan dan ia mengantarkannya.” Kata Kakak Xun menjawab pertanyaan Xun. Atmosfer yang di keluarkan Kakaknya Xun kini berbeda dengan sebelumnya. Tampak dingin dan Kaku “Lalu kenapa Seichi –kun bisa masuk ke dalam rumah kita? Bukankah dia hanya mengantar?” Kata Xun yang sepertinya curiga. “Dia terkejut melihat ku tanpa mengenakan baju. Dan akhirnya kotak yang di bawanya jatuh… Karna itu aku menyuruhnya untuk membuat mie di sini.” Jawab Kakaknya Xun jujur. Xun melihat kusekilas. “Sudah ku bilang berapa kali. Kenakan pakaian mu terlebih dahulu ketika ada tamu. Tak bisa kah kau biasakan mengenakan pakaian terlebih dahulu sebelum menghadapi tamu?” Kata Xun menasehati Kakaknya. “Adik ku yang tampan. Aku sudah bosan mendengarkan perkataan mu seperti itu. Memang apa salahnya?” Kata Kakaknya meraih dagu Xun. “Lepaskan Yu’er.” Kata Xun melepas genggaman Kakaknya. “Aku hanya ingin menolong mu Yu’er. Tak lebih.” Kata Xun dengan nada kesal. “Menolong apanya? Jangan sok perhatian pada ku Xun.” Kata Yu’er dengan senyum dingin yang menertawakan. “Sei… Biar ku antar kau pulang.” Kata Xun kepada ku. Ia pun meraih tangan ku. “Aku ikut.” Kata Yu’er. “Buat apa kau ikut?” Kata Xun menatap sinis Yu’er. “Karena aku punya mobil.” Jawab Yu’er dengan mudah. Xun pun mendesah.”Cepatlah.” Kata Xun tampak kesal. Yu’er pun segera pergi ke kamar nya.
Aku dan Xun pun duduk di sofá menunggu Yu ‘er. “ Kau tak apa kan Sayang?” Tanya Xun mengenggam tangan ku. Tangannya yang lembut menggenggam ku dengan erat. Aku mengangguk. Menyenderkan kepala ku ke pundaknya. “Jangan dekati Yu’er.” Kata Xun pelan. “Apa?” Kata ku melihatnya. “Jangan dekati dia…” Kata Xun lagi. “Kenapa?” Kata ku membenarkan posisi duduk ku kembali. “Aku tak suka dia dan entah kenapa aku takut jika kau bersama nya.” Jawab Xun tanpa melihat ku. wajah tertunduk dan mata nya tampak berkaca. “Xun…” Kata ku pelan. Xun memejamkan mata dan menjatuhkan wajahnya dalam kedua telapak tangannya. Aku mengelus pundaknya. Sepertinya ia sedang menangis. Tapi kenapa?             “Ayo cepat Xun!” Kata Yu’er yang sudah selesai mengenakan pakaiannya. “Ya.” Kata Xun mengusap matanya. Tampak matanya sedikit merah. Benar sepertinya ia tadi menangis. Aku dan Xun pun bangkit dari sofá hambir bersamaan. “Kalian benar –benar serasi.” Kata Yu’er dengan senyum menggoda. Matanya menatap ku tajam. “Diam kau! Biar aku yang menyetir.” Kata Xun mengambil kunci di atas meja lalu keluar duluan. “Xun…” Kata ku mengejarnya.

Di perjalanan. Udara di dalam mobil terasa sangat dingin di tambah dengan adanya AC. Aku duduk di sebelah Xun dan Yu’er di belakang. “Oh Ya Sei.” Kata Yu’er memecahkan keheningan. “Ah. Iya?” Kata ku spontan. “Kau sekolah bareng Xun ya?” Kata Yu’er. “Ya. Hanya satu sekolah tapi tak sekelas.” Kata ku menjawab. “Syukurlah.” Kata Yu’er. “Apa maksud mu ‘Syukurlah’?” Tanya Xun ketus. “Sudah berapa lama kalian saling kenal?” Tanya Yu’er menghiraukan pertanyaan Xun. Aku terdiam sejenak melihat Xun yang tampak kesal. “… Baru beberapa hari yang lalu.” Jawab ku ragu. Sebenarnya aku bingung apa harus aku menjawab pertanyaan Yu’er atautidak. Soalnya wajah Xun seperti tak menyukainya. “Wah! Benarkah? Beberapa hari sudah menjalin cinta?” Kata Yu’er menanggapi perkataan ku. Aku hanya mengangguk pelan. “Apa kau tahu… Jika aku dan Xun adalah saudara tiri?” Kata Yu’er mengganti topik pembicaraan. “Diam lah Yu’er!” Bentak Xun tapi matanya tetap fokus kepada jalan. Aku yang mendengarnya sedikit terkejut. “… Kami berdua itu musuh. Dia sangat membenci ku kau tahu kenapa?” Kata Yu’er benar –benar menguji kesabaran Xun. “Yu’er tidak bisakah kau diam!? Kau cerewet sekali!” Kata Xun kesal. “Sudah lah Tuan… Jangan bahas lagi.” Kata ku mulai takut dengan keadaan yang menegang. “Tidak apa. Kau kan pacarnya Xun. Jadi harus tau.” Kata Yu’er. “… Tadi sampai mana? Oh Ya. Dia membenci ku karena Ayah ku adalah suami pertama dari ibu kami…” Kata Yu’er benar –benar keras kepala. Xun pun menyalakan musik dengan kerasnya. Aku hanya terdiam tak tahu apa yang harus ku perbuat. Yu’er tertawa. Suaranya terdengar samar bercampur dengan Alunan keras lagu yang tengah di nyalakan. “Kau benar –benar marah Xun kecil ku? Kau kekanankan sekali.” Kata Yu’er masih dalam tawanya. Xun tak menjawab. “Dan perlu kau ketahui lagi.” Kata Yu’er mematikan lagu. “Bahwa Ayah Xun lah yang telah membunuh Ibu kami.” Kata Yu’er. Aku terkejut mendengarnya. “Xun…” Kata ku melihat Xun yang masih fokus menyetir. Air mata Xun telah memenuhi seluk beluk matanya. Xun pun menghentikan mobil di depan rumah ku. “Ah? Sudah sampai.” Kata ku baru menyadari. “Xun… Aku pamit dulu.” Kataku mengelus tangan Xun. “Iya. Pergilah.” Kata Xun lirih. Sepertinya dia berusaha untuk tidak menangis. “Maaf…” Kata ku bersalah. Entah kenapa aku merasa sangat bersalah kepada nya. “Sebentar…” Kata Yu’er menghentikan ku yang hendak keluar mobil. “Ya?” Kata ku melihat Yu’er. Tiba –tiba. Kecupan lembut di layang kan Yu’er di bibir ku. Aku benar –benar terkejut. Xun pun ikut terkejut melihat kejadian itu. “Lepaskan dia! Yu’er!” Kata Xun mendorong Yu’er ke belakang. Semua pun menjadi hening. Xun melihat Yu’er sinis. Aku hanya dapat terdiam.