Aishiteru yo!!!
(Part 6)
Fanfict-Yaoi
Author: Yolan
Konichiwa :D Sekarang Yolan bawa Kata –kata Xun buat Xun(?) :D Bingung? Hahahahaha… Lanjut aja Ya?“Apa kau tahu? Kau adalah Hidup ku? Kehadiran mu bagai warna dalam hidup ku, Senyum mu… Bagaikan tenaga yang membuat Jantung ku berdetak. Entah apa jadinya jika aku tanpa mu … Mungkin hidup ku akan kelabu, Dan aku pun hidup bagaikan Mayat Hidup? Antara Mati dan tidak. Ah… Bahkan mungkin aku rela kehilangan tangan dan kaki ku asal kau bahagia :’) Mungkin terdengar konyol, Tapi inilah aku… Pria yang mencintai mu hingga napasku tak terhembus lagi.” Huaaaaa!!!! Walau beda Genre nya sama Sei. Tapi keduanya sama –sama Romance :3 Switt Swittt … Di cerita sebelumnya. Sei dan Xun kembali menjadi sepasang kekasih. Dan Xun mengajak Sei ke Taman bermain tapi… Ketika pulang Sei pingsan!!? Omo! Apa yang terjadi pada Sei??
Selamat Membaca ^-^)///////////////////////////////////////////
Terasa air mata yang membasahi pipi
ku. Perlahan aku pun membuka mataku. Terlihat samar wajahnya. “Dia menangis?”
Kata ku dalam hati. Aku baru sadar dari pingsan ku. “Sei…” Lirih nya dengan
senyum ketika menyadari aku bangun. “Xun…” Kata ku lemas. Xun pun mencium
tangan ku yang di genggamnya. “Aku mencintai mu.” Katanya dan dengan air mata.
“Aku juga mencintai mu.” Jawab ku tersenyum.
Pulangnya. “Hari ini kau harus
istirahat penuh Ok?” Kata Xun membuka pintu Apartemen. Aku menggeleng. “AKu tak
mau.” Kata ku cemberut. “Kenapa tak mau?” Tanya Xun seraya masuk. Aku
mengikutinya dari belakang. “Ku bilang aku tak mau.” Kata ku dengan sedikit
manja. “Sei… Jangan begitu. Kau baru siuman dan kau harus istirahat.” Kata Xun
yang mulai kesal dengan sifat keras kepala ku. “… Kenapa memangnya? Seperti aku
baru siuman dari koma saja.” Kata ku becanda dengan senyum. Xun terdiam.
Matanya berubah tampak menjadi sayu. “Kenapa?” Tanya ku khawatir. “Ya, Kau baru
saja sadar dari Koma mu.” Kata Xun memberitahu. “What? Jangan becanda Xun? AKu
hanya pingsan satu hari atau tidak beberapa hari… Iya kan?” Tanya ku yang tak
percaya. Xun menggeleng. “Tidak. Kau tak sadarkan diri selama sebulan.” Kata
Xun meluruskan. “Kau pasti bohong! Itu tak mungkin!!!” Bentak ku. Entah kenapa
sekarang aku merasa takut sekali. Apa kini Ia mengetahui semuanya? Apa dia tahu
tentang penyakit ku? Oh Tuhan … “Aku tahu sekarang … Kenapa kau tak memberitahu
ku sebelumnya? Kenapa? AKu pacar mu Sei…” Kata Xun lembut. “Diam kau! Kau tak
tahu apa –apa Xun! Jangan berkata yang tidak –tidak!!!” Bentak ku takut. Air
mata mulai membasahi mata ku. Shit! “Jangan sembunyikan lagi!” Bentak Xun
balik. AKu terkejut mendengarnya. “Aku tahu semuanya! Jadi ku mohon jangan
sembunyikan apapun kepada ku lagi!” Kata Xun dengan nada tinggi. “Tidak! Tak
mungkin kau tahu!” Kata ku tak kalah tinggi. “Seichi –kun… Ku mohon, AKu tahu
penyakit mu. Apa kau merahasiakannya karena takut aku menjauhi mu?” Kata Xun
tampak prihatin. Kenapa… Kenapa matanya melihat ku begitu? Kau tak perlu
menatap ku prihatin begitu! Aku bukan anjing kecil yang pantas di kasihani. Aku
benar –benar bingung harus berkata apa. Dia kini telah mengetahui semua. Aku
pun belari. Ya, Mungkin ini adalah jalan –jalan satu –satunya yang bisa ku
lakukan sekarang. “Sei!” Panggil Xun tapi ku hiraukan. Aku pun belari sambil
menangis. Aku tak menyangka dia mengetahuinya! Kenapa dia harus tahu Tuhan!!
Kenapa kau tak biarkan dia tidak tahu dan biarkan aku menyimpannya sendiri?
Di Taman. Aku menangis sejadi
–jadinya. Rembulan penuh pun tak bisa menyembunyikan duka ku. Kenapa? Kenapa
harus begini … Ayah, Bawa aku dengan mu… Ku mohon. “Sedang apa kau di sini?”
Tanya Suara yang ku kenal. AKu pun melihat ke arah suara. “Yu’er?” Kata ku
melihat malaikat Yunani ku. Dia hanya terdiam dingin melihat ku. Aku pun bangun
dari duduk ku. “Ada apa?” Tanya ku dengan sedkit segukan. Plakkk!!! Yu’er
menampar ku dengan keras. Aku pun terjatuh. AKu benar –benar tak percaya dia
melakukan ini kepada ku. “Kau gila Huh!!? Dasar rendahan! Kau sengaja ingin
melakukannya! Kau sengaja ingin membunuh ku! Jawab aku!” Kata Yu’er menendang
ku. “Ma… Maaf … Memang saya salah apa Kak? Maaf kan saya.” Kata memeluk
kakinya. “Jangan sentuh aku!” Bentak nya menendang kepala ku. hingga pelipis ku
berdarah. “Kau… Ingin membunuh ku dengan penyakit mu itukan! Apa mau mu Huh!?
Menggoda ku dan ingin menyebarkan HIV mu!!!” Bentak Yu’er Marah. Aku terkejut
mendengar nya. Kak … Kak Yu’er tahu itu? Bagaimana ini? Apa yang harus ku
lakukan … Aku pun mundur beberapa langkah karena takut. “Jika aku terkena
penyakit menular itu… AKan ku tuntut dan ku bunuh kau!” Kata Yu’er dengan nada
menggelegar. Air mata ku pun terjatuh. “Maaf …” Bisik ku pelan. “Kau pikir kata
Maaf mu bisa menghapus semua?? Huh!!!?” Kata nya lagi –lagi memukul ku. Aku
hanya dapat menangis menerima semua pukulan darinya. Mungkin ini cara untuk ku
untuk mengakhiri semua. Bunuh saja aku Kak Yu’er … Aku akan sangat
berterimakasih sekali akan hal itu. Aku pun muntah darah setelah Kak Yu’er
menendang tepat di dada ku. Rasanya tulak rusuk ku patah di buatnya. “Belum
selesai …” Kata Kak Yu’er masih dengan wajah dinginnya. Aku hanya dapat
memegang dada ku yang sakit. Kak Yu’er pun memukul ku lagi. Bruukkkk!! Aku pun
terjatuh. “Huh …Huh …” Kata ku sulit bernapas. Mata ku terasa berkunang
–kunang. “Untuk sekarang cukup sampai di sini. Ini hanya sebagai peringatan
untuk mu! Selanjutkan akan lebih buruk darii ni.” Kata Yu’er lalu pergi
meninggalkan ku. Aku hanya membaringkan diri ku di tanah. Sakit, Sakit rasanya…
Air mata ku pun terjatuh dengan lembut di pipi ku. “Ayah … Kau di mana? Sei …
Sei…” Kata ku tak kuasa. AKu menutup mata dan membiarkan diri ku menangis di
bawah naugan gelapnya malam. Aku tersenyum miris mengingat kenangan ku dengan
ayah ku.
“Akkhhh!!!” Aku terjatuh karena
tersandung. “ Kau tak apa sayang?” Tanya Ayah menghampiri ku terjatuh. Saat itu
umur ku 5 tahun dan aku telah kehilangan ibu sebelumnya. “Hiks…” Kata ku
menangis. “Sudah .. jangan menangis. Kau harus kuat. Sebagai laki -laki kau
harus kuat mengerti?” Kata Ayah. Aku pun menghapus air mata ku. “Iya, Ayah. Aku
mencintai mu.” Kata ku dengan senyum. “Ayah akan menjaga mu selamanya ayah
janji.” Kata nya tersenyum tapi matanya menunjukan bahwa ia sedih.
“Uhuk … Uhuk…” Kata ku mencoba
bangun. Sakit sekali rasanya … Bukan hanya tubuh ku tapi juga hati ku. Aku …
Aku… Ingin mati. Aku menutup mata, air mata pun jatuh. “Sei…” Panggil seseorang
lembut. Aku pun membuka mata melihatnya. “Xun?” Tanya ku dengan air mata. “Ayo
pulang.” Ajaknya lembut dengan senyum. AKu menggeleng. Aku mundur beberapa
langkah. “Kenapa?” Tanya nya sedih. “Aku tak mau!” bentak ku lalu melangkah
pergi perlahan. Ku coba berjalan dengan kaki yang terasa sakit. “Kau mau
kemana?” Tanya Xun yang ternyata masih mengikuti ku. “Jangan ikuti aku!” Kata
ku tanpa melihatnya. “Tidak, aku akan terus mengikuti mu. Bagai bayangan… Jika
kau tak bisa pulang kembali. Biar aku saja yang mengikuti mu…” Kata Xun pelan.
“Bodoh! Pulanglah… AKu tak mau itu! Memangnya kau tidak jijik apa? Bukannya kau
sudah tahu semua! Penyakit ku HIV menular! Kau tak takut apa!?” Tanya ku. Dia
menggeleng. “Tidak, sekarang tidak. Saat awal aku memang sedikit takut. Tapi,
ketika berpikir akan kehilangan mu … Aku merasa akan sangat sakit lagi.” Kata
Xun. “Bohong.” Kata ku melanjutkan jalan ku. “… Apa kau tak mencintai ku lagi?”
Tanya nya yang mengikuti di belakang. Aku tak menjawab. “Kau tahu, Aku juga
pernah merasa putus asa seperti mu … ketika Ibu ku meninggal …” Kata nya pelan.
AKu menghentikan langkah ku. Dia pun demikian. “… Dia meninggalkan ku dengan
Kak Yu’er. Kami berusaha keras untuk tetap bertahan hidup. Untungnya… Kak Yu’er
berhasil menjalankan perusahaan peninggala orang tua kami. Walau demikian aku
merasa kesepian selalu… sendiri, sangat sendiri.” Kata nya sedkit serak. Aku
tak mengungbris sama sekali. “… Aku juga pernah ingin bunuh diri karena
kesepian.” Lanjut Xun dengan sneyum miris. “Diamlah.” Kata ku pelan. “Apa?”
Tanyanya. “Ku bilang diam … Aku tak mau mendengar kesedihan mu. Dasar bodoh.”
Kata ku menyuruhnya. “Benar juga. Baiklah.”
Balasnya. Aku pun melangkahkan lagi kaki ku tanpa arah tujuan. Ia tetap
mengikuti ku bagai bayangan. Sesekali aku berhenti tiba –tiba. Membuatnya
menanbrak ku dan ia hanya tertawa kecil. Sampai pagi pun tiba. “Matahari …?
Indahnya.” Bisik ku berhenti. Aku pun menoleh ke belakang karena tak mendengar
suara kakinya di belakang ku. “Xun …” Lirih ku. Melihat nya terbaring jauh
beberapa kaki di belakang ku. Aku pun belari. “Xun!” Kata ku segera memeluknya.
“Kau tak apa?” Tanya ku menepuk pipinya yang terasa hangat. Senyuman manis
terukir di wajah nya yang pucat. “Maaf… Ayo kita lanjutkan lagi.” Katanya
bangun. Dia pun berniat melanjutkan langkah kami. Aku melihatnya dengan air
mata. “Xun …Kau kan bayangan ku.” Kata ku menghentikan nya. Ia melihat ku
dengan wajah polosnya. “Tetaplah di belakang ku… sebagai bayangan ku. Tetap
menemani ku… jangan pergi.” Kata ku dengan air mata. Ia tersenyum di hiasi
sinar matahari fajar. Tangannya meraih wajah ku. Ia pun mencium bibir ku. Aku
menutup mata.
Setelah
itu, kami pulang dan segera pergi ke sekolah. Saat dijalan hampir dekat sekolah
kami berpisah. Agar tak membuat kecurigaan. Xun pun masuk sekolah duluan. Tak
lama aku pun pergi. Sesampainya. Entah
kenapa, anak –anak di sekolah melihat ku dengan tatapan aneh. Aku melihat
mereka bingung. Ku coba untuk hiraukan saja. Aku pun masuk ke kelas. Mereka pun
sama melihat ku. Sepertinya mereka suadah tahu tentang penyakit ku juga.
Mungkin Kak Yu’er yang member tahu. Sudahlah … dari awal sekolah hingga akhirnya
pulang semua mencoba menghindar dari ku, tak ada yang ingin mendekati ku.
Termasuk Reza dan Steven yang malah menghina ku.
“Bagaimana sekolah mu cantik?” Tanya
Xun kepada ku yang baru pulang. “Baik.” Kata ku menyembunyikan. “Sebentar lagi
kita akan lulus, tenang saja.” Kata Xun seperti menyemangati ku. “Iya.” Jawab
ku dengan senyum.
Singkat cerita. Setelah ujian
sekolah selesai kami semua pun di nyatakan lulus. Xun di ajak oleh team
Nasional basket untuk bergabung. Dan itu seperti hadiah besar untuknya. Tanpa
pikir panjang ia pun menerimanya. Kami tetap hidup bersama. Sayangnya, Kak
Yu’er tampak menjauhi kami semenjak malam itu. Tapi… Kata Xun dia justru senang
dan menyuruh ku utnuk tak memikirkannya.
“Sei… Kemarilah.” Panggil Xun
menepuk sebelah sofa, menyuruh ku duduk. “Ada apa?” Tanya ku seraya duduk di
sebelahnya. Dia terdiam sejenak. “Ini untuk mu.” Katanya mengeluarkan sebuah
kotak kecil dari sakunya. “Apa itu?” Tanya ku. “Bukalah…” Katanya memberikan
kotak itu. Aku pun menatapnya Tanya sebelum akhirnya membuka kotak. “Ini …
Cincin?” Tanya ku tak mengerti. Dia mengangguk. “Untuk apa?” Kata ku kepadanya.
“Aku melamar mu.” Katanya membuat ku terkejut. “WHAT!?” Kata ku sedikit tinggi.
Ia tertawa. “Aisshh… Kau ini, kenapa?” Tanya nya dengan senyum. “Kau gila?”
Tanya ku. Dia menggeleng. “Aku tak minta jawabannya sekarang. Kau bisa
memikirkan dulu.” Kata nya bangkit meninggalkan ku.
Malamnya. Aku tak bisa tidur sama
sekali. Dan beberapa kali aku mencoba menghindar darinya. Aku bingung… Kenapa
dia secepat itu memikirkan untuk menikah? Ah ! tidak! Dia gila! Kita laki
–laki! Aku berkata demikian bukan karena tidak mencintainya. Melainkan aku
sangat mencintainya … Karena kita laki
–laki aku tak bisa. Bagaimana jika orang lain tahu? Apa yang akan terjadi?
Mereka tahu hubungan kami… mereka pasti akan menghina kami. Jika hanya aku sih
taka pa… Tapi jika xun juga? Aishhhh … Aku memang senang ia mengatakan itu…
Tapi… Apa kami bisa bahagia ketika banyak penolakan yang akan segera
menghancurkan kami ???
Esok paginya. Aku berncana pergi ke tempat Xun. Hari ini dia agak
sibuk karena harus menjadi model iklan. Ya, semenjak dia dan team nya menjuarai
pertandingan se Asia dia mulai mendapatkan Job di bidang entertaint dan juga
mendapatkan banyak Fans. Tak mengejutkan, Hal itu sudah sangat bisa untuknya
yang sebagai anak popular di sekolah. Dia pun menjadi sangat super sibuk. Ya …
Setidaknya dia bahagia. Taka pa… Aku pun
mencarinya. Untuk membicarakan masalah kemarin yang benar –benar membuat kiu
terkjut. Aku ingin memintanya untuk meikirkan matang –matang.
“Permisi? Apa anda melihat Xun?” Tanya ku kepada Managernya yang
berada di depan ruang rias yang bertulis ‘Xun Liu’. “Ah? Sebentar.” Katanya
mengakhiri percakapan di telephone-nya dulu. “Ya?” Tanya nya. “Apa kau tahu Xun
dimana?” Tanya ku ulang. “Ohw… Dia ada … Di…” Pria itu mencoba mengingat. Aku
diam menunggu jawaban. “Ah! Dia tadi ijin ke toilet sebentar… Coba cari saja
dia.” Kata Manager. “Ah terimakasih.” Kata ku dengan senyum.
Aku pun mencoba mencari nya. Tapi… Saat ku menemukannya. Langkah ku
terhenti. Air mata ku pun tergumpal di seluk mata ku. Sakit sekali hati ku,
napas ku pun terasa sangat sesak. “Xun …” Kata ku mendapatkan Xun sedang
berciuman dengan seorang wanita. Wanita yang menjadi model bersama nya. Tak
mungkin … Xun… Kenapa??? Kenapa kau seperti ini?