Rabu, 08 Juli 2015

Definitely Today


@OfficialPoo_
Tittle : Definitely Today
Cast : Kim Himchan (B.A.P) and Park hye Sun (OC)
Bae Suzy (Miss A) as Bae Soo Ji
Suport Cast:Byun Baekhyun (EXO) dan dua OC
Genre : Sad (maybe)
Author :  Hara Yumi (Facebook:Hara Yumi)
Ranting :  T-AU-PG
Length :  One Shot

Definitely Today merupakan FF ke-4 yang aku publikasikan sesudah Save Me, Where Are You, dan Ceonsa (belum selesai akan di post minggu ini juga)

Warning : banyak penulisan kata yang tidak di perjelas di sini terlebih saat kata yang di ucapkan di lain waktu atau kata hari dan bayangan hanya saja saat dalam bayangan akan ada tanda (---) sebagai pemulai dan akhir.
aku tidak tau apa ini menarik atau tidak karea saya menulis apa yang terlistas di kepala saya dan saya juga meresa ini sama seperti FF saya sebelumnya terlalu monoton dan membosankan dengan Genre yang sama juga.
tapi saya harap anda bisa memberi kritik dan saran untuk saya... sekian terimakasih

selamat membaca!!!! Feedback ya!!!
' ' ' ' ' ' ' ' ' ' ' ' ' ' ' ' ' '

Definitely Today
Hara Yumi

Bukankah kenangan kita adalah kenangan yang menakjubkan, tapi… apa ini semua berarti saat kita telah saling menjauh?? Pasti hari ini…
‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘
“Aku memantapkan hatiku saat pagi tlah menungguku lagi, ya semua kehidupanku akan terulang kembali saat aku mulai membuka kedua mataku dan mulai melakukan aktifitasku. Apa ini terlalu berat untukku?? Jawabannya hanya pada saat aku bisa melupakan kenangan itu meski itu hanya hari ini. Aku masih disini?? Bagaimana denganmu?? Apa kamu bisa melupakan kenangan yang menakjubkan di antara kita atau sama sepertiku terjebak dalam bayangan masa lalu yang pernah kita buat?? Ini membuatku sangat tertekan!! Bisakah aku menemukan kehidupan baruku meski hanya hari ini saja”
Sebuah denting jam membangunkan Himchan yang masih tertidur di atas lantai yang beralaskan itu. Terulurlah tangan panjangnya untuk menggapai jam yang berdenting. Setelah tidak ada lagi suara yang mengganggunya dia pun mulai memejamkan kembali mata bundarnya dan mulai menyelimuti lagi tubuhnya dengan seprai yang tak pernah dia cuci selama beberapa bulan yang lalu. Seprai yang entah seperti apa baunya saat ini.
Beberapa menit kemudian denting jam mulai terdengar lagi oleh Himchan dan membuatnya segera terduduk menatap jam tersebut dengan tatapan sinisnya. Dengan enggan dia mulai berdiri berjalan menuju jendela Apartemennya tanpa mematikan jam yang terus saja berbunyi, ini benar-benar membisingkan telinga siapa saja yang mendengarnya, tapi tidak dengan Himchan karena itu adalah pekerjaan sehari-harinya mendengarkan dentingan yang menyeruak, itulah cara Himchan membuat dirinya tenang dan bisa melupakan sedikit demi sedikit apa yang pernah terjadi. Meski dalam lubuk hati masih berharap tapi harapan itu tak pernah terkabul di dalam kehidupan nyatanya, semua berbanding terbalik dengan impian dan hayalannya. 
“apa anda tau betapa besarnya hati ini mengatakan tidak untuk tak perfikir tentangmu, meski aku berkata ini akan baik-baik saja dan ini akan lebih baik tapi ini bukanlah hal yang semudah itu. Ini sangat menyakitkan untukku, melihatmu pergi tanpa kata dan menghilang bagaikan angin, apa anda seorang Hantu. Apa ini juga bagian dari sekenario dalam kehidupan yang sudah dirancang oleh anda. Apa ini juga impian anda membuat seseorang yang lemah sepertiku menjadi lebih lemah lagi karena sekenario anda. Apa anda pernah berfikir satu kata tentangku, apa hanya aku. Apa hanya aku yang terjebak dalam bayangan masa lalu yang pernah kita buat dengan mudah. Apa hanya aku yang tak bisa melupakan ini. Tolong jawab aku”
Himchan masih termenung menatap jauh di bawah sana, menatap orang-orang yang mulai melakukan aktifitas paginya dengan semangat dan canda mereka membuat Himchan harus mengeluarkan senyum sinisnya lagi di pagi ini. Himchan berbalik tepat saat denting jam tersebut berhenti dan dia mulai melangkahkan kakinya untuk mengambil kemeja putih yang terletak di kasur dengan warna yang sama juga. Dengan perlahan Himchan mulai memakainya dan berjalan keluar dari kamarnya dengan wajah tanpa ekspresi sedikit pun.
-----“apa dia datang lagi hari ini?” ucap Himchan lirih menatap belanjaan yang masih berantakan di atas meja makannya. Tanpa mempedulikan lagi Himchan mulai meminum jus yang sedari tadi di pegangnya.
“oh apa kau baru bangun?” teriak seseorang dari belakang Himchan dan membuatnya berbalik menatap orang tersebut.
"apa kau melakukan ini lagi?”
“emm aku melakukannya apa kau tidak menyukainya??”
“aku lebih suka kau tetap di rumahmu dipagi hari dari pada kau berkeliaran di dalam apartementku sepagi ini dan membawa banyak sayuran ?”
“aku tau, aku juga ingin setiap hari seperti itu tapi, aku tau kau pasti tidak akan makan jika aku tak datang kesini benarkan?”
“apa aku semudah itu di tebak olehmu”
“mmm, sup rumput laut mungkin cocok untukmu saat ini”
“apa yang kau katakan?”
“duduklah aku akan membuatkan masakan untukmu pagi ini”----
Lagi-lagi Himchan tersenyum sinis saat dia menyadari bahwa dia berhalusinasi lagi di pagi ini. Tidak ada sayuran, tidak ada jus, dan tidak ada sup rumput laut di pagi ini. Dapur ini terasa kosong dan sunyi, bahkan udara dingin menusuk kesela-sela tulang Himchan di musim semi ini.
“apa aku benar-benar sebodoh ini” gumamnya sebelum dia berbalik dan masuk kedalam kamarnya.
‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘

Matahari belum terlalu tinggi pagi ini tapi Himchan sudah berdiri di depan cermin merapikah pakaiannya. Lagi-lagi kemeja putih yang ia kenakan di pagi ini, tak lupa dengan mantel coklat yang pas di kenakannya. Sepintas dia menatap gitar usangnya. Namun, Himchan hanya menatapnya lalu berjalan keluar kamarnya tanpa melirik lagi gitar tersebut. Tapi, seketika Himchan berhenti dan berbalik lagi untuk mengambil gitarnya sebelum dia benar-bener pergi meninggalkan kamarnya dan Apartemennya.
Langkah demi langkah Himchan mulai melalui anak tangga dengan gitar yang ia pegang erat, menggenggamnya dengan erat seperti dia benar-benar takut akan kehilanggannya.
“apa anda tau? meski melalui beribu anak tangga ini hatiku masih tetap berkata nama anda dan otakku masih merekam anda yang sedang tersenyum. Aku hanya bisa tersenyum sinis saat memori ini mengingatkanku pada anda. Kenapa anda harus meninggalkan memori ini dalam otakku, kenapa anda meninggalkannya?.”
Dengan pandangannya yang kosong Himchan mulai menyusuri setapak demi setapak kemana arah kakinya berjalan. Himchan hanya bisa melihat orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya tanpa ingin tahu siapa dan apa yang ingin mereka lakukan dipagi ini.
Himchan sempat berhenti saat dia menatap sebuah rumah yang sudah lama tak berpenghuni. Rumah yang kusam dan tua dengan warna cat yang sudah luntur dan mulai terkelupas.
“Meski aku mencoba memanggil nama anda, anda tidak akan pernah menatap ke arahku lagi yang sekarang berada di belakang anda? Apa aku sangat terlihat menyedihkan bagi anda? Hingga anda tak mampu untuk menatap ke arah belakang lagi? Aku tau itu,aku terlalu berharap pada anda, berharap anda akan menatapku lagi dan bersamaku. Aku berharap hari ini adalah hari yang pasti dimana aku bisa melepas anda dan tidak mencoba memanggil nama anda lagi”
----- Himchan mematung berdiri di depan rumah tersebut dengan membawa serangkai bunga yang baru di belinya. Tanpa sedikitpun iya menyentuh daur pintu tersebut dan tidak sedikit pun ia mengeluarkan suaranya untuk memanggil sang penghuni yang berda di dalamnya. Dia hanya bisa mematung dan menanti di depan pintu dengan menatap bunga yang dia bawanya.
Sekali lagi dia hanya menatap pintu putih tersebut sebelum dia akhirnya berbalik dan duduk di anak tangga, masih dengan bunga yang dia pegangnya.
Menunggu dan terus menunggu itulah yang Himchan lakukan hingga hari berubah menjadi petang dan udara dingin semakin menusuknya. Tak sekali pun dia mengeluh karena menunggu. Tak sekali pun juga ia pergi meninggalkan tepatnya duduk. Himchan sekali menatap bunganya dan membenarkan tata letaknya dan tersenyum manis menatapnya. Hanya itu yang sedari tadi dia lakukan untuk menunggu sang pemilik pulang.
Tak lama seorang perumpuan berdiri di depan Himchan, membuatnya langsung berdiri dan tersenyum pada perempuan tersebut.
“apa aku menyuruh anda untuk menungguku?” ucapnya sinis.
“tidak, tapi kita harus bicara”
“apa lagi yang akan kamu katakan? Bukankah semuanya sudah cukup?” ucapnya dan melangkah melewati di mana Himchan berdiri.
“apa ini caramu?” wanita tersebut berhenti.
“iya, bahkan ini baru permulaan, aku benar-benar muak denganmu, bisakah kau enyah sekarang?” ucapnya tanpa berbalik menatap Himchan.
“apa ini terlihat lucu untukmu?”
“ani?” ucapnya dan diapun berbalik menatap Himchan, “Himchan-a bisakah aku pergi?”-----
Seseorang tak sengaja menyenggol bahu Himchan dan membuat Himchan tersadar dari halusinasinya saat ini. Dia masih menatap rumah tersebut dengan pandangan getir dan tak bisa terbaca oleh kata-kata.
“Baekhyun-a!!!” teriak seseorang yang tak sengaja menyenggol bahu Himchan tadi dan teriakannya mampu membuat Himchan berbalik dan menatap seseorang tersebut. 
“apa kamu sudah menunggu lama” ucapnya pada Baekhyun lelaki yang dipanggil Young Gi (wanita yang menyenggol Himchan) sebelumnya. Baekhyun menggangguk membuat Young Gi jadi kikuk di depannya.”wae??” ucapnya malu-malu saat Baekhyun menatapnya dari rambut hingga kaki Young Gi.
“ani, hanya saja kamu terlihat seperti orang akan berkencan, apa kau mengganti model rambutmu lagi, kenapa jadi seperti ini?” ucap Baekhyun sambil memegang keriting rambut Young Gi
“hyaa!! Apa ini terlihat begitu berbeda? Apa aku terlihat cantik? Iya kan? Iya kann?” ucap Young Gi menatap Baekhyun bermaksud mendengar apa yang akan keluar dari mulut Baekhyun.
“ani, kau terlihat jelek hari ini” ucap Baekhyun dan meninggalkan Young Gi.
“ya ya ya!! Mau kemana Hyun-ah, apa kau cemburu jika aku cantik?” kejar Young Gi membuat Baekhyun berhenti dan menatap Young Gi yang langsung berhenti tepat di depan Baekhyun.
Baekhyun menatap tajam pada Young Gi membuat Young Gi marasa lebih bersalah lagi “aku hanya tidak suka kau terlihat cantik di depan laki-laki lain” Young Gi memaku sebelum akhirnya dia tersenyum lebar mendengar ucapan Baekhyun tadi.
“apa kau menyukaiku?? Iya kan kau menyukaiku?” Baekhyun tak menjawab dia berjalan meninggalkan Young Gi dan Young Gi berjalan di belakangnya dengan masih menanyainya tentang ucapannya tadi. “Baekhun-a kau pasti menyukaiku kan??”
Dari jauh di belakangnya Himchan masih menatap Young Gi dan Baekhyun yang kini pergi menjauh dari Himchan. Sebuah senyum terukir di bibir Himchan. Kali ini bukan sebuah senyuman sinis yang terlihat tapi sebuah senyuman hangat yang tiba-tiba muncul saat melihat tingkah Young Gi dan Baekhyun tadi.
‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘

Himchan terduduk di sebuah taman yang sunyi dimana hanya ada dirinya disana. Sambil memegang gitarnya petikan demi petikan mengalun indah dari goresan tangan Himchan saat ini. Sebuah instrumen lama yang Himchan mulai mainkan. Instrumen dimana pertama dan terakhir kalinya dia nyanyikan untuk seseorang yang dia nanti selama ini. Seseorang yang tak pernah bisa dia hilangkan dari otaknya selama ini. Himchan menganggkat kepalanya,
---’oppa bisakah kau memainkannya lagi??” Himchan terdiam menatap perempuan yang tengah berjongkok di depannya sambil menatap gitar yang dia pegang.”wa..wae?? Kenapa menatapku se..” -cupp- Tanpa memberikannya kesempatan untuk bicara lagi Himchan mengecup lembut bibir wanita yang tengah berjongkok tepat di depannya. Himchan tersenyum saat dia melepas kecupannya dan menatap wanita tersebut yang saat ini merasa sedikit gugup.
“wae??” ucap Himchan saat menatap wanita yang ada di hadapannya semakin terlihat gugup. Ia menggelengkan kepalanya tanpa bersuara sedikitpun dan menatap Himchan. Tak lama kemudian ia menelunkupkan kepalanya pada dua lututnya dan membuat Himchan semakin khawatir saat melihatnya.
“wae?? Wae oppa??” ucapnya yang masih membenamkan kepalanya. Himcham hanya bisa mematung tanpa bisa berbuat apa-apa saat melihat Park Hye Sun yang membenamkan kepalanya.
“a.. Hye Sun-a mi..mian” ucap Himchan dengan susah payah dia ucapkan. Hye Sun menatap Himchan dengan mata sendunya lalu tersenyum manis padanya.
“apa actingku bagus” ucapnya membuat Himchan terpaku dengan ucapan Hye Sun sendiri.
“apa kau sedangan mempermainkanku huh” ucap Himchan sambil mengacak-acak rambut Hye Sun.
“oppa kau membuat jantungku hampir berhenti begitu saja tadi?” Hye Sun mengubah posisinya duduk di sebelah Himchan.
“apa kau ingin aku melakukannya lagi”
“ani” teriak Hye Sun sambil menetup bibirnya dengan kedua tangannya. “oppa kenapa kau selalu memainkan instrumen itu?”
“bukankah ini bagus??”
“itu sangat membosankan, oppa bisakah kau memainkan yang lainnya?”
Sesaat Himchan terdiam memikirkan lagu yang tepat yang akan dia nyanyikan untuk Hye Sun yang sedari tadi merajuk padanya. Setelah lama terdiam Himcahn mulai memetik gitarnya.---

There’s Nothing like us
There’s nothing like you and me 
Together through the strom
There’s nothing like us
There’s nothing like you and me together
I give you everything babe
Well, everything i had to give
Girl? Why would you pust me away?
Lost in confusion, like on illusion
You know i’m used to making your day
But that is the past now, we didn’t last now.... (Justin Bieber)
“permisi?? Apa ini punyamu?” Himchan membuka matanya dan memandang gadis kecil yang berdiri di depannya dengan menyodorkan sebuah foto usang pada Himchan. Himchan tersenyum menatap foto tersebut dan mengambilnya dari tangan gadis tersebut.
‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ 

Himchan mematung menatap sebuah foto di mana dia berdiri tepat di tempat yang sama persis dengan tempat yang berada di dalam foto tersebut sebuah Mercusuar di dekat pantai yang tenang dengan pasir yang putih. Himchan hanya menatap foto tersebut dan mercusuar yang berada tak jauh dari tempatnya.
“apa setiap kehidupan tidak berubah? Kenapa tempat ini dan aku tidak berubah sama sekali?” lirih Himchan sambil melangkah menuju Mercusuar.
Sesekali angin pantai membelai tiap kulit putih yang tengah berjalan menerobos ribuan angin yang tak terlihat dalam diam dan tanpa ekspresi sedikitpun. Apa ini yang dikatakan ingin melakukan perubahan, jika dia saja tidak ingin melakukannya. Dia selalu terperangkat dalam bayangan masa lalu dan kenangan yang dia miliki. Kenangan yang membuatnya tak bisa melewatinya sendiri dan membuatnya menjadi orang yang lebih dingin dari es di Kutub.
“aku tidak percaya jika kehidupan ini sangat berat, sesekali aku hanya membayangkan kehidupan yang lebih ironis dari apa yang sedang aku lakukan? Mencoba terlihat baik untuk menunjukannya pada anda tapi apa? Aku semakin terperangkap jauh ke lubang hitam tanpa ujung ini. Apa anda tersenyum puas jika anda mengetahui ini?”
Segerombolan remaja berjalan melewati Himchan yang berdiri tegak menatap pantai lepas tersebut dalam diam. Himchan menatap beberapa remaja yang masih sekolah berjalan melewatinya. Mereka terlihat tanpa beban dan hanya ada keceriyaan yang terihat dimata Himchan. Sebuah senyum dari seorang anak remaja yang masih mencoba menemukan arti kedewasaan.
“apa yang anda lihat dari mereka?” sebuah suara tiba-tiba mengalihkan pandangan Himchan. Himchan menatap seseorang perempuan yang sedang berdiri di sampingnya yang tak menatapnya -Park Jiyeol- itu nama yang tertangkap oleh mata Himchan saat ia menatap Name Tag di baju seragamnya. ”apa anda melihat sesuatu yang menarik dari lelaki itu??” ucapnya tanpa menatap Himchan. “aku melewatkan kelasku setiap pagi hanya untuk melihatnya, aku bahkan selalu mengikutinya kemana pun dia pergi, apa aku terlihat bodoh?” lanjutnya dan membuat Himchan menatap sosok remaja laki-laki yang di bicarakan itu.
“apa anda pernah merasakan ini pada saat anda seusiaku?” ucapnya lagi sesaat hanya suara angin yang bisa terdengar oleh masing-masing telinga duan insang tersebut. “anda pasti merasakan yang lebih sakit dari pada hanya mengikutinya” ucapnya saat dia menatap mata kosong Himchan. “aku akan mengatakannya hari ini” ucapnya dan berjalan menjauhi Himchan yang masih mematung tanpa suara sedikitpun.
“ah” desisnya sebelum dia berbalik menatap Himchan, “aku tidak tau tentang hidup ini, tapi bisakah anda berfikir satu kali saja dan bertanya pada diri anda -siapa anda sebenarnya?- aku berfikir bahwa anda butuh itu dan meyakinkannya. Karena, semua yang di hidupkan tidak ada yang tidak berguna” ucapnya tersenyum manis pada Himchan dan Jiyeol berbalik lagi meninggalkan Himchan.
“aku berharap anda tidak menunjukan pandangan itu lagi jika kita bertemu suatu saat nanti, anda harus melepasnya” teriak Jiyeol yang masih berjalan melangkah mendekati lelaki yang dia sukai.
Himchan masih memandang Jiyeol yang berjalan menjauhinya. Suara Jiyeol masih terdengar menggema ditelinganya tentang apa yang baru saja dia dengar dari seseorang yang tidak tau arti hidup dalam tubuhnya.
“aku?” lirih Himchan bertanya pada dirinya sendiri dan matanya tak lepas dari JiYeol yang sedang berbicara pada lelaki yang dia sukainya.
‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ‘
Himchan berjalan menyusuri jalan setapak dimana dia juga pernah melaluinya beberapa waktu yang panjang itu. Dengan mengikuti sebuah bayangan yang hanya bisa dilihatnya dia melangkah dan terus melangkah hingga akhirnya dia berhenti di sebuah Cafe kecil.
Himchan mulai melangkahkan kakinya memasuki Cafe tersebut dan memesan Coffee kesukaannya. Himchan terdiam menatap keluar Cafe.
----”oppa?” Himchan menengok ketempat duduk depannya di mana Hye Sun tengah duduk dan tersenyum manis padanya. “apa yang sedang kamu lihat”
“sesuatu yang menarik”
“apa aku tidak menarik??”
“sedikit, emm tapi kalo dilihat lagi kau sangat menarik” Hye Sun tersenyum malu mendengar penjelasan Himchan.
“Gojitmal!!” ucap Hye Sun kemudian.
“sedikit benar!!” 
“oppa!”---
“ini pesanan anda, silahkan dinikmati?” ucap seorang pelayan saat dia meletakkan Coffee pesanan Himchan. Tak menjawab Himchan hanya mengangguk pada pelayan tersebut.
Decitan pintu terdengar nyaring ditelinga Himchan saat dia tengah mematung menatap Coffee yang dia pesan. Tak sedikit pun Himchan terganggu oleh setiap decitan pintu yang berbunyi ketika para pelanggan keluar masuk dari Cafe. Sampai sebuah suara yang terdengar tak asing membuat Himchan harus memutar kembali memorinya agar bisa mengingat siapa pemilik suara yang pernah dia dengar juga di masa lalu. Himchan berbalik dan menatap orang tersebut tapi bukan dia. Bukan orang itu yang dia cari selama ini.
“o.. Annyeonghaseyo?” Himchan kembali berbalik saat seseorang yang baru masuk menyapa para pelanggan lainnya.
Wanita itu mematung saat tak sengaja matanya bertemu dengan sosok Himchan yang juga menatapnya dari tempatnya.
“bukankah ini sudah cukup lama untuk saling bertemu kembali Park Hye Sun?” Himchan membuka percakapan saat mereka tengah duduk berhadapan.
“ini sangat canggung untukku” terang Hye Sun. “apa kau baik” ucap Hye Sun ragu tanpa menatap Himchan.
“hmm” Hye Sun masih tak menatap Himchan yang berada di depannya. Di teguknya coffee yang baru saja datang oleh Hye Sun. Hye Sun tersedak saat tau bahwa Coffee tersebut masih terasa panas untuk di nikmatinya. Himchan menatapnya dan mengulurkan sapu tangannya.
“trimakasih” ucap Hye Sun serasa mengambil sapu tangan milik Himchan.
“apa..?” ucap Himchan terputus saat dia menatap sebuah cincin dijari manis Hye Sun. Untuk pertama kalinya Hye Sun menatap Himchan sejak tadi, Hye Sun tersadar kemana arah mata Himchan tertuju dan cepat-cepat dia menyembunyikan tangannya.
“oh, aku sudah bertunangan bulan lalu” ucapnya lirih. 
“eoh,,” Tanpa menunjukan ekspresi yang sebenarnya Himchan meneguk minumannya sembari menatap Hye Sun yang tengah berfikir.
“dua tahun la..”
“aku sudah lupa semuanya” potong Himchan.
“benarkah?? Lalu kenapa kamu bisa ada disini dan itu?” Hye Sun menunjuk foto mecusuar yang terjatuh. “apa kamu sedang tidak menipuku lagi seperti dulu?” tegas Hye Sun. Himchan tak bersuara dia hanya menatap Hye Sun dengan senyum sinis yang tiba-tiba muncul lagi dari wajahnya. “apa kau akan menyalahkanku juga tentang hal itu, kau benar-benar tak berubah sedikitpun!”
“ya... Aku sedang menipumu bahkan saat aku tau kau sudah bertunangan aku menipumu”
“Chan-i!!”
“bahkan kau akan meninggalkanku lagi setelah pertemuan ini kan? Bagaimana dengan cita-citamu? Kau juga menipuku saat itu?”
“HImchan!!”
“apa tidak ada lagi kata yang bisa kau ucapkan selain memanggil namaku?”
“jika waktu itu kau datang, ini tidak akan terjadi pada kita?”
“apa kau tidak mendengar suaraku waktu itu? Kau bahkan tak mengangkat panggilanku”
“a..aku?”
“aku masih menyukaimu sampai saat ini” Hye Sun terdiam mendengar ucapan Himchan yang terdengar begitu saja. Hye Sun menggelengkan kepalanya seraya menyangkal apa yang baru saja dia dengar. “apa kau tau aku selalu membayangkanmu bahkan saat kau benar-benar manyakitiku” Hye Sun terdiam dan tersenyum tak percaya pada Himchan.
“aku tau ini akan terjadi padaku?”
“apa kau benar-benar terluka olehku?”
“apa sangat bahagia?”
“apa aku yang memintamu seperti ini?”
“kenapa kau meninggalkanku?” Hye Sun tak melanjutkan lagi pertanyaannya dia terdiam saat Himchan menyatakan kenapa dia meninggalkannya. “kenapa kau menjadi bisu”
“aku harus pergi” ucap Hye Sun dan dia beranjak dari duduknya dan melangkah meninggalkan Himchan.
“Hye Sun-a, bisakah kau kembali padaku?” Hye Sun berhenti melangkah dan berbalik menatap Himchan. Hye Sun menggelengkan kepalanya dengan lemah “Himchan-i?” ucapnya lirih. 
Himchan terdiam lama di tempatnya dengan tatpan Hye Sun yang masih dengan sendu terarah padanya. Tak menunggu waktu lama Himchan tersenyum menatap Hye Sun dan beranjak dari duduknya menghampiri Hye Sun. “bisakah kita berteman” ucap Himchan sambil mengulurkan tangannya. 
Hye Sun menatap Himchan tanpa bergumam sedikit pun, "bisakah kita berteman” ulang Himchan dengan tangan yang masih terulur. Setelah mendengar ucapan Himchan yang kedua kalinya Hye Sun sekarang yakin dan tersenyum pada Himchan sebelum akhirnya uluran tangan Himchan di sambut hangat oleh Hye Sun.
“aku tidak tau kenapa aku bisa melepasnya begitu saja saat melihatnya. Tidak ada penjelasan lagi dari mulutnya tapi, aku paham apa yang dia rasakan. Hari ini.. Hidup baruku di mulai.. Hari ini aku juga melepaskannya untuk orang lain dan hari ini juga aku menjadi diriku yang dulu. Bukan saat aku merasa frustasi pada kenyataan tapi kembali di saat aku tak mengenalnya dan menjalani hidup ini lebih lama dengannya. Apa aku merasa hebat setelah melepasmya?? Tentu itu hal yang tepat bukan?? Lalu sebenarnya apa yang aku nanti selama ini ? Kenapa aku merasa sangat tertekan olehnya yang meninggalkanku. Apa karena dia tiba-tiba meninggalkanku tanpa berkata lagi?
Dia telah berubah dia bukan gadis kecil yang harus aku jaga lagi, dia bahkan sudah menentukan keputusan yang pasti untuk menemukan jalannya meski dia harus meninggalkanku yang kesepian dan Frustasi selama ini. Aku tau itu. Pasti hari ini, ya ini lah hari itu dimana aku harus membuang semuanya!
Dan sekarang aku tau apa arti dari menunggu itu, meski itu terlalu lama dan apa yang kita harapkan tidak seperti yang kita bayangkan tapi ini membuat kita lebih nyaman dari sebelumnya. Aku juga tau bahwa hidupku berharga saat ini. -Teman- bukankah itu tidak terlalu buruk untuk kita? Karena aku tak ingin merasakan yang terlalu berat lagi dan tak ingin mengulang kejadian itu lagi” Himchan tersenyum menatap  lepas pantai di depannya.
Jiyeol melambai kearah Himchan berdiri saat ini, dengan menggenggam tangan lelaki yang dia ceritakan pada Himchan beberapa waktu tadi dia juga memberikan jempolnya untuk Himchan.
“kenapa dia cepat sekali berubah? Apa orang dewasa juga masih mengalami Pubertas sama seperti remaja” ucap Ji Yeol. Sekali lagi Ji Yeol melambai pada Himchan dan berjalan pergi.
“semua berakhir dan aku tidak mendapatkannya lagi. Tapi kenapa aku sangat senang?”

-The End-

*sebelumnya aku ingin membuat Park Hye Sun itu sudah menikah dan mereka bertemu lagi tapi itu terlalu rumit dan pada akhirnya saya membuat lagi yang ini hhh
*terimakasih sudah membaca karya Ye Poo (Hara Yumi) *bow
jelek kan??

Tidak ada komentar:

Posting Komentar