Rabu, 08 Juli 2015

My Fault [ Part 2]

Author: Fdlyssa (Facebook:Fdlyssa)
Genre: Horror

Note: Don't COPAS without permission/ give your like or comment to me. 


“ Aku belum mengenal mu, maka… Izinkan ku mengenal mu”

Di jembatan yang sunyi. Mata keabuan Will kini hanya terpaku kearah lurus. Sesekali, ia menghela nafas. “ Aku bersalah…” Ucapnya dalam. Ia membenamkan wajahnya, dalam satu dekapan. Udara malam menyapu wajahnya. Seakan angin tengah berbisik tak rasional. Will menikmati bintang dan rembulan. Mencoba tenang, tapi hatinya tengah bergemuruh. Ia menyesal, ia ingin meminta maaf. Tapi, rasa gengsi mungkinnyaris menggerogoti tubuhnya. Linda bukan pembohong. Itu memang terjadi padanya. Sekarang, Will sedkit mengenal Linda. Sedikit…


Pada Januari 1st
Linda akan mengaung atau mengamuk. Pada tanggal ini, Linda kehilangan kekasihnya.
Pada Febuary 14th
Linda akan menangis sendu, seharian. Tak henti. Tanggal ini adalah hari ulang tahun kekasihnya, dan hari pertama kali ia bertemu dengan kekasihnya.
 Pada October 18th Linda akan diam tak bicara, tak makan, hanya berdiam diri dengan tatapan kosong. Hari ini adalah hari ulang tahunnya, dan dimana ia bertunangan dengan kekasihnya.
Pada Oktober 18th
Linda akan diam tak berbicara, tak makan, hanya berdiam diri dengan tatapan kosong. Hari ini adalah hari ulang tahunnya, dan dimana ia bertunangan dengan kekasih nya.



Semua ini terus terjadi berulang kali. Dan ia tak kan mengingat apa yang terjadi pada tanggal tersebut. Karna itu semua, Linda memutuskan untuk tinggal di rumah sakit kejiwaan, yang dimana dulu… Kekasihnya bekerja.


“ Will” Suara Linda memecahkan lamun Will. Wanita itu berdiri manis, dengan baju kehijauannya. Will menoleh dan menatap Linda “ Nyonya Linda…” Ucap Will. “ Maafkan aku,” suara Linda terdengar lirih. Bukan, bukan seharusnya ia yang meminta maaf.


Will terpaku, mulutnya kelut, dan tubuhnya sulit bergeming. Ada apa ini? Sesak, sulit bernafas. Perlahan dengan samar. Will melihat sosok seorang pria, tidak terlalu jelas. Tapi, lebih tepatnya… Pria itu berdiri di samping Linda. Menatapnya datar. Siapa ia? Sejak kapan ia disana?. “ Linda…” Akhirnya, mulut Will bisa terbuka. “ Lin…” Panggil Will lagi. Linda menatap Will. Matanya terbelalak. Seakan ia merasakan takut yang sangat hebat. Tubuh Linda bergetar, ia mundur beberapa langkah. “ Linda…? Kau baik-baik saja?” Tanya Will mencoba mendekat. “ Ti-tidak… Ku mohon, jangan mendekat!” Pinta Linda, suaranya masih memancarkan rasa takut. “ Lin…” Panggil Will lagi. Linda pun langsung berlari meninggalkan Will. “ Linda! Tunggu!” Panggil Will, dan mencoba mengejar. Pandangannya, pandangan Will… Perlahan-lahan buram. Buram, sirna… Dan…


“ Kegelapan hilang… Termakan cahya”

Langit-langit putih terpapar tampak jelas. Baling-baling kipas yang terpajang di langit-langit, tampak berputar dengan simetris. “Ah?” Gumam Will, matanya terbuka tapi tatapannya kosong. “Apa kau sudha sadar Will?” Suara seorang wanita. Ah, iya… Ini ruang istirahat para perawat. Will terbangun, dan mengubah posisinya menjadi duduk. “Ada apa?” Tanya nyinya Gwen, yang tengah berada di ruangan yang sama. “Seharus nya aku yang bertanya tenyang masalah itu…” Ucap nyonya Gwen, tersenyum. “Aku tak ingat …” Kata Will tertunduk. “Kemarin malam, kami menemukan mu di sekitar taman dan kau sedang tersungkur di tanah.” Jelas nyonya Gwen. “Aku pingsan?” Tanya Will, menatap wanita yang baru saja memberikan penjelasan. “Mungkin,” Wanita itu mengangkat kedua bahu nya, lalu ia memberikan secangkir teh kepada Will. “Kenapa teh? Tidak Kopi?” Tanya Will lagi, dan menerima minuman yang diberikan. “Itu teh herbal. Mungkin kau kelelahan… Teh herbal mampu menenangkan pikiran” Wanita tua itu pun pindah kesebelah Will. “Aku lebih suka kopi, mereka harum.” Celetus Will. “Haha, teh herbal pun demikian, sepertinya kau belum pernah mencoba. Iya kan?” Kini giliran nyonya Gwen yang bertanya. Will menganggukan kepalanya tanda mengiyakan. “Kalau begitu, cobalah” Saran nyonya Gwen. Tanpa pikir panjang Will langsung meneguk dengan sekali teguk. “Uhuk!” Will terbatuk. Nyonya Gwen pun menggeleng pelan. “Kau ini, senikmat apapun minuman nya… Jika sekali teguk teguk tak’kan berarti. Pelan-pelanlah, lagi pula minum seperti itu tidak baik” Nasehat wanita tua itu, ia pun mengelus pundak anak muda di depan nya. “Iya” Ucap Will, dan minum kembali dengan perlahan.

“Akankah, ku menemukan bintang di negeri angan ku?”

Sejak saat itu Will dan Linda, tidak dekat lagi. Will bukannya tidak ingin mengakui kesalahan, tetapi Linda kini yang menjauh. Menjauh seakan-akan takut kepada Will.

Bulan Januari pun berlalu. Kini saat nya bulan Febuari yang tersenyum. Hari demi hari berjalan seperti biasana. Will menatap almanak, tampak tanggal ke-14 di lingkarkan. Tanggal ini, mungkin ditunggu-tunggu oleh Will. Untuk memastikan.
Mata biru itu memerah. Tak henti-henti nya buliran air mata terjun, menyelusiki liuk wajah Linda. Benar-benar terjadi. “Aethan…” Isak Linda dalam tangis. Ia tak henti-hentinya, menangisi sosok yang telah hilang itu. Seakan-akan kejadian itu, kembali terulang.
“Siapa Aethan?” Tanya Will kepada nyonya Gwen. Will terus memperhatikan Linda dari pintu. “Aethan adalah kekasih Linda.” Jelas nyonya Gwen. “Tampaknya, Linda sangat menyukai sosok Aethan.” Ucap Will, tanpa melepaskan pandangan nya kepada Linda. “Bukan menyukai, tapi sangat mencintai.” Tutur nyonya Gwen. “Terserah lah…” Will melangkah masuk ke kamar Linda. “Bisakah kau menjaga Linda Will?” Tanya nyonya Gwen. “Ya,”

Sesekali wanita bertubuh langsing ini menghentikan tangisnya, walau isakkan masih terdengar. Pasti sangat melelahkan, pikir Will. Will duduk di samping Linda. “Lin… Sudahlah,” ucap Woll, dna mendekap jemari Linda yang lembut. Wanita itu hanya membenamkan wajah nya, dalam dekapan bantal. Linda menangis, terus begitu. Seakan tak kan ada akahirnya. Menderita, sangat tersiksa. “Linda,” bisik Will dan mencoba memeluk Linda. “Tenanglah” Will memeluk dengan kehangatan. Mengelus lembut, helaian rambut Linda yang berwarna kecoklattan itu. Linda menangis dalam dekapan Will.

Malam pun Tiba, kini Linda dalam ketenangan. Wajah nya kini tak menunjukkan air mata yang hiasi pipi putih nya. Kelelahan, tampak di wajah wanita yang memiliki paras awet muda ini. “Will…” Panggil nyonya Gwen lembut. Wanita ini mengguncang tubuh Will pelan. “Ya?” Gumam Will. “Sebaiknya kau pulang ke rumah mu, sudah malam.” Ucap nyonya Gwen. “Ah ya, seperti nya aku tertidur” Dengan setengah sadar Will berkata. “Ayo bangun, tak baik seorang proa tidur di ranjang wanita” Ucap nyonya Gwen menepuk pelan bahu Will. “Wanita? Ah apa!?” Will membuka matanya. Dan mendapati sosok Linda dalam pelukannya. “Ayo, cepat bangun. Bergegas pulang sebelum larut malam.” Seru nyonya Gwen. Will pun bangkit dari kasur, dan melihat sudut ruangan. Sosok itu… Pria itu…
Dia lagi…


-TBC- 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar