Author: Fdlyssa (Facebook:Fdlyssa)
Genre: Horror

Note: Don't COPAS without permission/ give your like or comment to me.
“ Aku belum mengenal mu, maka…
Izinkan ku mengenal mu”
Di jembatan
yang sunyi. Mata keabuan Will kini hanya terpaku kearah lurus. Sesekali, ia
menghela nafas. “ Aku bersalah…” Ucapnya dalam. Ia membenamkan wajahnya, dalam
satu dekapan. Udara malam menyapu wajahnya. Seakan angin tengah berbisik tak
rasional. Will menikmati bintang dan rembulan. Mencoba tenang, tapi hatinya
tengah bergemuruh. Ia menyesal, ia ingin meminta maaf. Tapi, rasa gengsi
mungkinnyaris menggerogoti tubuhnya. Linda bukan pembohong. Itu memang terjadi
padanya. Sekarang, Will sedkit mengenal Linda. Sedikit…
Pada Januari 1st
Linda akan
mengaung atau mengamuk. Pada tanggal ini, Linda kehilangan kekasihnya.
Pada Febuary 14th
Linda akan
menangis sendu, seharian. Tak henti. Tanggal ini adalah hari ulang tahun
kekasihnya, dan hari pertama kali ia bertemu dengan kekasihnya.
Pada October 18th Linda akan diam tak bicara,
tak makan, hanya berdiam diri dengan tatapan kosong. Hari ini adalah hari ulang
tahunnya, dan dimana ia bertunangan dengan kekasihnya.
Pada Oktober 18th
Linda
akan diam tak berbicara, tak makan, hanya berdiam diri dengan tatapan kosong.
Hari ini adalah hari ulang tahunnya, dan dimana ia bertunangan dengan kekasih
nya.
Semua ini
terus terjadi berulang kali. Dan ia tak kan mengingat apa yang terjadi pada
tanggal tersebut. Karna itu semua, Linda memutuskan untuk tinggal di rumah
sakit kejiwaan, yang dimana dulu… Kekasihnya bekerja.
“ Will”
Suara Linda memecahkan lamun Will. Wanita itu berdiri manis, dengan baju
kehijauannya. Will menoleh dan menatap Linda “ Nyonya Linda…” Ucap Will. “
Maafkan aku,” suara Linda terdengar lirih. Bukan, bukan seharusnya ia yang
meminta maaf.
Will
terpaku, mulutnya kelut, dan tubuhnya sulit bergeming. Ada apa ini? Sesak,
sulit bernafas. Perlahan dengan samar. Will melihat sosok seorang pria, tidak
terlalu jelas. Tapi, lebih tepatnya… Pria itu berdiri di samping Linda.
Menatapnya datar. Siapa ia? Sejak kapan ia disana?. “ Linda…” Akhirnya, mulut
Will bisa terbuka. “ Lin…” Panggil Will lagi. Linda menatap Will. Matanya
terbelalak. Seakan ia merasakan takut yang sangat hebat. Tubuh Linda bergetar,
ia mundur beberapa langkah. “ Linda…? Kau baik-baik saja?” Tanya Will mencoba
mendekat. “ Ti-tidak… Ku mohon, jangan mendekat!” Pinta Linda, suaranya masih
memancarkan rasa takut. “ Lin…” Panggil Will lagi. Linda pun langsung berlari
meninggalkan Will. “ Linda! Tunggu!” Panggil Will, dan mencoba mengejar.
Pandangannya, pandangan Will… Perlahan-lahan buram. Buram, sirna… Dan…
“ Kegelapan hilang… Termakan cahya”
Langit-langit
putih terpapar tampak jelas. Baling-baling kipas yang terpajang di
langit-langit, tampak berputar dengan simetris. “Ah?” Gumam Will, matanya
terbuka tapi tatapannya kosong. “Apa kau sudha sadar Will?” Suara seorang
wanita. Ah, iya… Ini ruang istirahat para perawat. Will terbangun, dan mengubah
posisinya menjadi duduk. “Ada apa?” Tanya nyinya Gwen, yang tengah berada di
ruangan yang sama. “Seharus nya aku yang bertanya tenyang masalah itu…” Ucap
nyonya Gwen, tersenyum. “Aku tak ingat …” Kata Will tertunduk. “Kemarin malam,
kami menemukan mu di sekitar taman dan kau sedang tersungkur di tanah.” Jelas
nyonya Gwen. “Aku pingsan?” Tanya Will, menatap wanita yang baru saja
memberikan penjelasan. “Mungkin,” Wanita itu mengangkat kedua bahu nya, lalu ia
memberikan secangkir teh kepada Will. “Kenapa teh? Tidak Kopi?” Tanya Will
lagi, dan menerima minuman yang diberikan. “Itu teh herbal. Mungkin kau
kelelahan… Teh herbal mampu menenangkan pikiran” Wanita tua itu pun pindah
kesebelah Will. “Aku lebih suka kopi, mereka harum.” Celetus Will. “Haha, teh
herbal pun demikian, sepertinya kau belum pernah mencoba. Iya kan?” Kini
giliran nyonya Gwen yang bertanya. Will menganggukan kepalanya tanda
mengiyakan. “Kalau begitu, cobalah” Saran nyonya Gwen. Tanpa pikir panjang Will
langsung meneguk dengan sekali teguk. “Uhuk!” Will terbatuk. Nyonya Gwen pun
menggeleng pelan. “Kau ini, senikmat apapun minuman nya… Jika sekali teguk
teguk tak’kan berarti. Pelan-pelanlah, lagi pula minum seperti itu tidak baik”
Nasehat wanita tua itu, ia pun mengelus pundak anak muda di depan nya. “Iya”
Ucap Will, dan minum kembali dengan perlahan.
“Akankah, ku menemukan bintang di
negeri angan ku?”
Sejak saat
itu Will dan Linda, tidak dekat lagi. Will bukannya tidak ingin mengakui
kesalahan, tetapi Linda kini yang menjauh. Menjauh seakan-akan takut kepada
Will.
Bulan
Januari pun berlalu. Kini saat nya bulan Febuari yang tersenyum. Hari demi hari
berjalan seperti biasana. Will menatap almanak, tampak tanggal ke-14 di
lingkarkan. Tanggal ini, mungkin ditunggu-tunggu oleh Will. Untuk memastikan.
Mata biru
itu memerah. Tak henti-henti nya buliran air mata terjun, menyelusiki liuk
wajah Linda. Benar-benar terjadi. “Aethan…” Isak Linda dalam tangis. Ia tak
henti-hentinya, menangisi sosok yang telah hilang itu. Seakan-akan kejadian
itu, kembali terulang.
“Siapa
Aethan?” Tanya Will kepada nyonya Gwen. Will terus memperhatikan Linda dari
pintu. “Aethan adalah kekasih Linda.” Jelas nyonya Gwen. “Tampaknya, Linda
sangat menyukai sosok Aethan.” Ucap Will, tanpa melepaskan pandangan nya kepada
Linda. “Bukan menyukai, tapi sangat mencintai.” Tutur nyonya Gwen. “Terserah
lah…” Will melangkah masuk ke kamar Linda. “Bisakah kau menjaga Linda Will?”
Tanya nyonya Gwen. “Ya,”
Sesekali
wanita bertubuh langsing ini menghentikan tangisnya, walau isakkan masih
terdengar. Pasti sangat melelahkan, pikir Will. Will duduk di samping Linda.
“Lin… Sudahlah,” ucap Woll, dna mendekap jemari Linda yang lembut. Wanita itu
hanya membenamkan wajah nya, dalam dekapan bantal. Linda menangis, terus
begitu. Seakan tak kan ada akahirnya. Menderita, sangat tersiksa. “Linda,”
bisik Will dan mencoba memeluk Linda. “Tenanglah” Will memeluk dengan
kehangatan. Mengelus lembut, helaian rambut Linda yang berwarna kecoklattan
itu. Linda menangis dalam dekapan Will.
Malam pun
Tiba, kini Linda dalam ketenangan. Wajah nya kini tak menunjukkan air mata yang
hiasi pipi putih nya. Kelelahan, tampak di wajah wanita yang memiliki paras
awet muda ini. “Will…” Panggil nyonya Gwen lembut. Wanita ini mengguncang tubuh
Will pelan. “Ya?” Gumam Will. “Sebaiknya kau pulang ke rumah mu, sudah malam.”
Ucap nyonya Gwen. “Ah ya, seperti nya aku tertidur” Dengan setengah sadar Will
berkata. “Ayo bangun, tak baik seorang proa tidur di ranjang wanita” Ucap
nyonya Gwen menepuk pelan bahu Will. “Wanita? Ah apa!?” Will membuka matanya.
Dan mendapati sosok Linda dalam pelukannya. “Ayo, cepat bangun. Bergegas pulang
sebelum larut malam.” Seru nyonya Gwen. Will pun bangkit dari kasur, dan
melihat sudut ruangan. Sosok itu… Pria itu…
Dia lagi…
-TBC-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar