Kamis, 09 Juli 2015

Ashiteru Yo!!! (Part 3)


           Author: Yolan
            Annyeong! Konichiwa! Halooooo!!!!? Kembali lagi dengan Yolan di sini! :D Akhirnya FF ini sampai di bagian ke 3. (Hore!!!) Saya terlebih dahulu ingin berterima kasih kepada Teman Saya (Septian ) #Tiup2x Terompet#  Dialah yang menjadi inspirasi (Soalnya dia suka cerita TentAng kehidupan dan kasih saran :D), Pembaca setia (Cuma Septian doank yG Antusias baca Crita2x Yolan di Communitas TT_TT Hks But No Pro!), Dialah yang selalu nyemangati Yolan! Horass!!! DLL  #Plakkk! Kok jadi CurCol?# LanjUuuuuuuTttttt .….Di cerita sebelumnya Sei dan Xun yang baru menjalin hubungan beberapa jam sudah mendapatkan cobaan. Bagaimana jika selanjutnya? Hm… Dan di cerita 2 (sebelumnya) Sei yang di suruh mengantar Mie dan ketemu dengan Malaikat Yunani. Tanpa di duga Malaikat Yunani itu adalah Kakaknya Xun!!! Dan di saat terakhir Xun di buat sangat marah Karna hal yang mengejutkan.!!! Yaitu KaK Yu’Er mencium Sei @o@)/// OMO!! Bagaimana dengan cerita selanjutnya baca saja :D


“Xun… Aku pamit dulu.” Kataku mengelus tangan Xun. “Iya. Pergilah.” Kata Xun lirih. Sepertinya dia berusaha untuk tidak menangis. “Maaf…” Kata ku bersalah. Entah kenapa aku merasa sangat bersalah kepada nya. “Sebentar…” Kata Yu’er menghentikan ku yang hendak keluar mobil. “Ya?” Kata ku melihat Yu’er. Tiba –tiba. Kecupan lembut di layang kan Yu’er di bibir ku. Aku benar –benar terkejut. Xun pun ikut terkejut melihat kejadian itu. “Lepaskan dia! Yu’er!” Kata Xun mendorong Yu’er ke belakang. Semua pun menjadi hening. Xun melihat Yu’er sinis. Aku hanya dapat terdiam. “Apa yang kau lakukan! Dia bukan milik mu! Dia hanya milikku!” Kata Xun marah. “Xun… Tenang lah.” Kata Ku membujuk Xun agar tenang. “Memang kenapa adik kecil ku? Apa salahnya aku mencium pacar mu? Kau tak mau membagi kebahagiaan mu pada Saudara mu Hah!?” Kata Yu’er malah balas menantang. “Kau boleh mengambil semua yang ku miliki! Bahkan kau boleh mengambil Nyawa ku! Tapi tidak! Untuk Seichi –kun! Dia milikku! Hanya aku!” Kata Xun membentak Kakaknya. Baru pertama kali aku lihat Wajahnya yang begitu marah.  Aku menundukan kepala ku. Entah kenapa air mata ku mengalir. Kenapa aku menangis? Apa karena sikap Xun yang sangat menjaga ku? Apa itu artinya dia benar –benar mencintai ku? “Xun…” Bisik ku dalam tangis. “Sei… Kau kenapa?” Tanya Xun dengan lembut ia melihat ku khawatir. “Maaf… Maafkan aku Xun.” Kata ku tak mampu melihat wajah Xun. “Kau kenapa? Apa kau sakit? Beritahu aku… Jangan membuat ku cemas begini dong…” Kata Xun mencemaskan keadaan ku. Aku menggeleng. “Maaf… “ Kata ku lagi. “Lihat aku Sei… Lihat aku. Jangan menangis seperti ini.” Kata Xun mengelus rambut ku. “Tidak! Maafkan aku Xun… Maafkan aku…” Kata Ku tak karuan. “Sei!” Kata Xun dengan nada tinggi. Membuat ku terhentak mendengarnya. Aku pun melihatnya dengan penuh air mata. Tiba –tiba Chu~ Xun mencium bibir ku dalam. Mata ku melebar ketika dia menciumku. Aku benar –benar tak menyangka dia akan mencium ku di depan Kakaknya. Memang nya tak masalah? Bagaimana ini? Aku pun memejamkan mataku. Mencoba melupakan masalah itu… dan menikmati seluk beluk mulutnya. Tes! Terasa tetesan air mengenai pipi ku. Aku pun membuka mata ku. “Xun? Kau menangis?” Kata ku dalam hati melihat Xun yang masih menciumku. Pipinya sudah di penuhi oleh air matanya begitu pula pipi ku. Air matanya turut membasahi pipi ku.  Klik! Suara jepretan Camera dari arah belakang. “Gambar yang bagus.” Kata Yu’er yang diam –diam mengambil Foto kami. Aku pun segera melepas ciuman Xun. “Kyak!!! Apa kau Gila!? Dasar Cabul!” Kata Xun. “Ah. Ah. Ah. Aku tak cabul. Honey… Ini moment sempurna yang pantas di abadikan.” Kata Yu’er seakan tak bersalah. “Cepat Kau hapus foto gila itu!” Kata Xun. “Tak akan. Ini milikku ha…nya… mi… likku… Lagi pula siapa  yang gila? Kalian? Ingat loh kalian yang aku foto. Dan satu lagi ini tak Cabul kecuali kalian buka pakaian kalian baru namanya Cabul.” Kata Yu’er. “Sialan kau…” Kata Xun. Aku menatap Xun tanda tak suka perkataannya barusan. “Ah. Maaf Seichi –kun.” Kata Xun menyadari ketidak sukaan ku. “Oh Ya. Ini uang untuk mu. Aku hampir Lupa.” Kata Yu’er mengeluarkan uang dari dompetnya. “Ah… Iya. Terimakasih Tuan…” Kata ku menerimanya dengan sedikit ragu. Xun hanya diam melihanya. “Sudah larut Sei… Sebaiknyakau segera pergi.” Nasehat Yu’er. Aku mengangguk. “Selamat malam Xun.” Kata ku mencium pipinya sebelum akhirnya aku pergi dari Mobil.
“Tuhan!! Kenapa jadi begini!? Kenapa ke dua malaikat Utusan mu jadi bertengkar?” Kata ku bicara dengan diriku sendiri. Aku membuka Hand Phone ku yang Ber wallpaper Xun. “Xun…” Kata ku mengingat ketika Xun mencium ku dan menangis. Jari telunjuk ku mengusap lembut bibir ku. Aku pun kembali mengingat kejadian saat Yu’er  mencium ku dan menyentuh ku saat di Arpatement nya. Aku pun memejamkan mata. Air mata tanpa seijinku mulai membasahi pipi ku. “Maafkan aku Xun…” Kata ku lirih memeluk bantal.
Di sekolah. “Kyakkkk!!! Itu Xun!” Teriak histeris kerumunan wanita melihat Sang pangeran hati ku datang. Aku pun tersenyum dan ikut masuk dalam kerumunan itu. “Xun~ Sayang… Met Pagi.” Sapa Seorang cewek mengandeng Pangeran ku. Terbesit rasa cemburu dalam hati ku. Sabar… Sabar lah Seichi. Aku berusaha menenangkan diri ku. “Met Pagi Seichi –kun.” Sapa Xun yang ternyata menyadari keberadaan ku. “Ah?” Semua nya terkejut dan melihat ku. “Kau mengenalnya?” Tanya salah satu murid. “Dia… Seichi dari ruang 10-A?” Kata yang lain. “Aku tak mengenalnya… Siapa dia Xun?” Kata teman Xun lagi. “Dia sahabat ku. Teman hatiku.” Kata Xun menjawab dengan senyum begitu indah bak Sang surya memanggil Dunia. “Apa!!!??” Kata kerumunan itu serentak. Mereka tak percaya bahwa Xun benar –benar mengenal ku. “Ah!? Satu lagi. dia adalah My Idol.” Kata Xun tak lepas dari senyumnya. “Gak mungkin!!!” Teriak seorang wanita. “Ya. Gak mungkin’! Xun yang tampan dan Hebat tak mungkin Ngefans sama anak Payah kayak dia!” Sahut siswi yang lain. “Apa maksud mu!? Jangan hina Seichi –kun seperti itu!” Kata Xun marah. “Kenapa kau harus pedulikan dia Xun? Dia sudah membentak dan menolak tawaran mu kemarin… Kenapa masih peduli dengan anak seperti dia?” Kata Wanita yang mengandeng tangan Xun. “Ya. Kamu siapa memangnya Huh!?” Kata Wanita lain kepada ku. “Kalian kira aku suka Apa!? Aku juga tak suka! Dia saja yang bodoh!” Kata ku Dingin. Xun hanya melihat ku dengan heran. “Aku… sama sekali tak mengenalnya. Dan apanya teman? Bahkan aku saja baru tahu namanya dari kalian. Aku tak sudi dekat dengan seorang yang hanya mentebarkan pesona dan ketampanan nya. Tampak sangat bodoh dan juga konyol di mata ku.” Kata ku dengan nada menghina. “Apa kau bilang!” Kata Wanita –wanita itu tak terima perkataan ku. Mereka mendorongku hingga terjatuh. “Hey! Apa yang terjadi! Ayo cepat masuk sebentar lagi kelas akan masuk!” Kata Sensei mengusir kerumunan. Anak –anak yang lain segera meninggalkan tempat ini dengan cibir dan caci maki mereka yang tertinggal. Aku hanya terdiam dan tertunduk. Sebenarnya ada apa dengan diriku? Aku menahan air mata ku yang memenuhi mata ku. “Seichi –kun…” Kata Xun yangmasih berdiri di tempatnya. Aku pun menatap wajah nya. Dia tersenyum simpul berjalan ke arah ku. “Seichi –kun ayo masuk…” Kata nya mengulur kan tangannya. Aku terdiam sejenak. “Tidak pergilah.” Kata ku membuang muka. Xun ikut duduk di lantai. “Sayang…” Kata Xun lembut. “Aku sangat mencintai mu… Terimakasih atas perkataan mu barusan. Aku akan segera pergi.” Bisik Xun di telinga ku. Aku hanya terdiam ketika dia bangkit dan berniat pergi. “Tunggu…” Kata ku menghentikan langkahnya. “Ya?” Kata Xun tak berbalik. Aku pun langsung memeluknya. “Gomennasai… Aishiteru Yo…” Kata Ku menjentikan air mata. “Xun pun berbalik melihat ke arah ku. “Tidak. Kau tak salah… Ashiteru Yo.” Kata Xun meraih dagu ku lalu mengecup bibir ku. Aku terkejut ketika dia mencium ku. Aku pun melepas pelan ciumannya setelah beberapa saat. “Jangan… Jangan di sini.” Kata ku melarangnya. “Lalu dimana? Memangnya kenapa jika di sini? Di sini tak ada siapa pun hanya kita berdua Sayang…” Kata Xun mengelus lembut rambut ku. “Aku hanya takut jika ada yang melihatnya…” Kata ku. “Ya. Aku mengerti.” Kata Xun tersenyum.
Pelajaran Olahraga semua murid berkumpul di Lapangan kecuali aku. Aku tak  ikut dalam setiap pelajaran Olahraga karena penyakit ku. Aku hanya dapat termenung sendiri ketika yang lain asyik di lapangan. “Oh Ya. Sekarang kelas 10-B juga Olahraga  kan?” Kata ku riang bangkit dari kursi ku. Xun adalah murid kelas   10 -B Yaitu kelas untuk para Atlet. Di sekolah ku kelas di bagi –bagi menjadi beberapa bagian. A : Kelas Dominan pembelajaran Akademik. Jadi biasanya di kelas A jarang ada yang bisa atau gemar Olahraga dan setiap hari akan selalu ada pelajaran Matematika jadi Soal hitung menghitung bukanlah kendala bagi anak kelas A mereka sudah hapal di luar kepala. B : Kelas bagi para Atlet di sekolah kami. Di kelas B siswa memiliki bidang Olahraga mereka masing –masing dan mereka memiliki pelajaran Olahraga 4 kali dalam seminggu dan di tambah latihan Eskul mereka masing –masing 3 kali seminggu. C : Kelas dalam bidang Sains. Ruang kelas ini lebih menyerupai ruang Lab. Anak –anak di sini adalah anak –anak yang memiliki kercerdasan Sains di atas rata –rata Atau anak yang lebih suka belajar aktif. Di dalam kelas ini lebih suka ber eksprerimen atau juga melakukan kegiatan belajar dengan rangkaian kegiatan. D : Kelas Seni baik dalam Seni Rupa, Vokal, Sastra, Tari dan sebagainya. Di kelas ini pembelajaran Seni lebih di tonjolkan atau di ajarkan di kelas ini siswa memiliki Selera seni yang tinggi.
 Aku pun berjalan mencari sosok Malaikat ku di setiap ruang Olahraga. Aku pun akhirnya menemukannya di ruang Basket. Mata ku dengan cepat mencari –cari Xun. Anak –anak Basket kebanyakan adalah anak popular karena wajah mereka yang tampan, Karismanya, Style dan juga postur tubuh mereka yang tinggi membuat mereka tampak sangat sempurna bagi sebagian para Siswi. “Ah! Itu Xun!” Kata ku dalam hati. “Tapi… Kenapa dia tak ikut latihan? Kenapa hanya duduk di kursi cadangan? Bukannya dia adalah kartu AS di Team nya?” Hati ku bertanya-tanya ketika melihat Xun hanya duduk memperhatikan. “Xun…” Kata ku mendekatinya. Entah kenapa tubuh ku yang membawa ku untuk datang mendekati. “Oh… Hye! Seichi –kun.” Sapa Xun ramah. “Boleh aku duduk?” Kata ku. Xun hanya mengangguk dan bergeser sedikit agar aku dapat duduk. “Kenapa kau tak ikut latihan?” Tanya ku duduk di sebelahnya. “Kaki ku terkilir. Jadi harus istirahat…” Kata Xun dengan tawa kecil. “Terkilir? Apa tidak sakit? Coba… Biar ku lihat?” Kata ku Khawatir dengan Pacar ku. “Sudah tidak apa –apa kok sekarang. Tadi sudah di obati.” Kata Xun mengurangi kecemasan ku. “Lalu… Kenapa kau di sini? Tidak ikut dengan teman –teman mu? Bukankah sekarang kau ada pelajaran Olahraga?” Tanya Xun yang tahu jam Olahraga dikelas ku. Aku menggeleng dan melihatnya sejenak. “Aku… Aku hanya tak suka berkeringat itu tampak bodoh bagi ku…” Kata ku menutupi kenyataan sesungguhnya. Xun melihat ku dengan dalam. “Bodoh?” Tanya Xun dan raut heran. Eh…? Aku salah bicara? Ya Tuhan! Xun kan sangat suka Olahraga!? Bodohnya Aku menghinanya seperti itu!!! “A… Bu… Bukan maksud ku begitu…” Kata ku Tertunduk. Aku benar –benar merasa bersalah. “Ya aku mengerti.” Kata Xun. Aku pun kembali melihat wajah nya. “Memang… Seseorang yang menghabiskan waktu nya hanya karena Olahraga dan menguras banyak keringat adalah orang Bodoh bagi mu. Tapi… Jika harus menjadi orang bodoh sekalipun aku tak keberatan… Kau tahu kenapa?” Kata Xun bangkit dari duduknya. Aku hanya dapat diam bersalah melihatnya. Ia mengambil bola basket di dekatnya. “…Karena Olahraga itu menyenangkan.” Kata Xun melempar bola basket ke Ring. “Xun…” Kata ku benar –benar takut. Sepertinya dia benar –benar marah pada ku. Ya Tuhan… Apa yang harus ku lakukan? Bodoh nya aku… Aku hanya tertunduk menahan air mata. “Haide aku gantikan kau.” Kata Xun ikut bermain kembali ke dalam latihan. “Tapi… Apa kaki mu sudah baik –baik saja?” Tanya Haide. Xun menggeleng. “Aku ingin memperlihatkan kepada seseorang bahwa aku sangat menyukai Basket.” Kata Xun masuk bermain. “Xun… Maaf…” Kata ku benar –benar tak kuasa menahan air mata. Baru beberapa menit pertandingan di mulai Xun sudah memasukan angka. Aku tak tahu harus melakukan apa lagi… Senang karena Xun mencetak angka? Tidak mungkin. Dia sedang marah pada ku bahkan dia ikut bermain walau kaki nya cidera karena dia marah atas perkataan ku. Lebih baik aku pergi saja. Aku pun mengangkat kaki ku berniat meninggalkan ruang latihan. Tiba –tiba Brukkk!!! Hantaman keras mengenai belakang kepala ku. Aku pun terjatuh. “Seichi –kun!!!” Teriak Xun menghampiri ku. Terlihat wajah tampannya tampak samar dan akhirnya aku pun pingsan.
Di ruang Kesehatan “Ng…” Kata ku bangun dari pingsan ku. Terlihat Xun yang tertidur di dekat ku. “Xun…” Kata ku dengan mata sayu. Aku sangat takut saat ini. Sepertinya aku memang tak pantas untuknya. Aku telah membuat nya menangis semalam dan sekarang aku telah membuatnya marah pada ku. Ya Tuhan… Apa yang harus ku lakukan? Aku mengelus pelan rambut Xun. “Maafkan aku Xun… Aku tak bisa lebih dari ini. Aku tak sanggup untuk terus mencintai mu dan mempertahankan mu. Aku terlalu bodoh dan rendah… Maafkan aku, Aku tak bisa lagi bersama mu…” Kata ku dengan air mata. Aku pun perlahan turun dari ranjang. “Aku mencintai mu.” Kata ku tersenyum miris. “Rupanya kau telah sadar?” Terdengar suara yang ku kenal. “… Kau… Kak Yu’Er?” Kata ku terkejut melihat Malaikat Yunani ku. “Kau mau kemana? Apa kepala mu sudah mendingan?” Kata Kak Yu’er yang mengenakan baju putih seperti Dokter (?) “Ah. Ya. Aku suda h tak apa.” Kata ku menjawab pertanyaannya. “Apa yang di lakukan Xun? Apa dia berbuat ulah lagi?” Tanya Yu’er yang sekarang menanyakan tentang Xun. “Tidak. Dia tak berbuat apapun.” Kata ku dengan gelengan kecil. “Kakinya terkilir sangat parah dan ia pun sangat lelah… Apa dia memaksa kan diri lagi?” Tanya Yu’er lagi.  “Benarkah? Sepertinya begitu. Itu semua salah ku…” Kata Ku tertunduk. Yu’er pun mendekati ku dan memelukku. “Bukan. Bukan salah mu…” Kata Yu’er. Aku berusaha melepas pelukannya tapi tak bisa dia memelukku semakin erat. “Kak…” Kata ku berniat memintanya untuk melepaskan pelukannya. Yu’er pun dengan cepat mencium bibir ku. Lagi –lagi dia melakukan hal ini. Aku hanya dapat terkejut mendapatkannya. “Kyakkkk!!!” Kata ku melepaskan ciumannya setelah berusaha dengan sekuat tenaga. Aku mundur beberapa langkah berniat sedikit menjauh. Tapi aku menabrak sesuatu di belakang ku. “Xun!?” Kata ku berbalik yang ternyata di belakang ku adalah Xun. Apa dia melihatnya? “Xun… Kau sudah bangun? Sejak kapan?” Kata Yu’er dengan senyumnya. “Jangan pura –pura tak tahu. Kau sudah tahu bukan?” Kata Xun dengan wajah kesal. “Ya.” Jawab Yu’er dengan gampangnya. “Kenapa Kau lakukan ini lagi Yu’er!?” Bentak Xun. “Kenapa? Tentu saja karena aku mau. Oh ya. Apa kau telah membicarakan pada kekasih mu tentang semalam?” Kata Yu’er. “Tentang apa?” Tanya Ku yang benar –benar tidak mengetahui. “Ternyata belum ya?” Kata Yu’er. “Tak ada yang perlu di beritahu kepada nya.” Kata Xun. “Seichi –kun… Apa kau ingat kejadian semalam saat aku masak dengan mu?” Tanya Yu’er kepada ku. Aku terkejut ketika dia menanyakan -nya. “Ah… Me…Memang nya ada apa?” Kata ku sedikit ragu –ragu karena Yu’er mengungkit masalah semalam. “Diam Yu’er!” Bentak Xun. “Xun tahu bahwa aku dan kau bercumbu semalam.” Kata Yu’er menghiraukan kata –kata Xun. Aku lagi –lagi terkejut mendengarnya. “Xun…” Kata ku dengan air mata melihat Xun. “Kau masih ingat Xun menangis semalam bukan? Perlu kau tahu dia menangis karena dia melihat semua itu… Semua yang ku lakukan kepada mu.” Kata Yu’er yang membuat ku takut. “Jangan dengar kan dia Seichi –kun…” Bisik Xun memegang tangan ku. “Sudah sampai di sini Yu’er jangan bicara lagi…” Kata Xun yang seperti nya mengetahui aku menangis. “Memang kenapa?” Tanya Yu’er  menantang. “Karena aku muak mendengar Kata –kata bodoh mu itu…” Kata Xun dingin. “Ayo Sei… Kita pergi.” Kata Xun mengajak ku.


Di lobi. Aku menghentikan langkah ku. “Ada apa?” Tanya Xun. “Sudah sampai di sini saja…” Kata ku. “Apa maksud mu?” Kata Xun tak mengerti. “Kita akhiri sampai sini saja hubungan kita.” Kata ku memberanikan diri. “Kenapa? Apa karena di latihan basket tadi?” Tanya Xun. Aku menggeleng. “Bukan hanya itu… Aku hanya berpikir bahwa kita tak mungkin bersama. Kita ini laki –laki… Tak mungkin bersama.” Kata Ku. “Kenapa begitu? Ku kira kau mencintai ku?” Kata Xun. “Tidak. Aku tidak mencintai mu… Sama sekali tidak. Aku hanya ingin bermain –main… Jarang ada yang mengungkap kan ‘Cinta’ kepada ku. apa lagi Laki –laki. Bukankah itu menarik? Karena itu aku terima hanya untuk keingingan sesaat ku saja dan ternyata Kakak mu juga sama menyukai ku… Itu tak masuk dalam perhitungan ku. Aku hanya coba –coba dan sekarang sudah sedikit melenceng dari jalannya jadi ku harap kita akhiri semua sampai di sini saja.” Kata Ku berusaha menutupi perasaan ku sesungguhnya. Maafkan aku Xun… Aku tak bisa bersama mu lagi. aku tak pantas ada di sisimu apa lagi mengisi hati mu… “Benarkah…? Aku tak yakin… Jika begitu tunjukan kepada ku. Apa pun itu untuk dapat meyakinkan Diri ku bahwa benar  semua ini hanya permainan belaka?” Kata Xun dengan tatapan serius.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar