Author: Yolan
Annyeong! Konichiwa! Halooooo!!!!? Kembali lagi dengan Yolan di sini! :D Akhirnya FF ini sampai di bagian ke 3. (Hore!!!) Saya terlebih dahulu ingin berterima kasih kepada Teman Saya (Septian ) #Tiup2x Terompet# Dialah yang menjadi inspirasi (Soalnya dia suka cerita TentAng kehidupan dan kasih saran :D), Pembaca setia (Cuma Septian doank yG Antusias baca Crita2x Yolan di Communitas TT_TT Hks But No Pro!), Dialah yang selalu nyemangati Yolan! Horass!!! DLL #Plakkk! Kok jadi CurCol?# LanjUuuuuuuTttttt .….Di cerita sebelumnya Sei dan Xun yang baru menjalin hubungan beberapa jam sudah mendapatkan cobaan. Bagaimana jika selanjutnya? Hm… Dan di cerita 2 (sebelumnya) Sei yang di suruh mengantar Mie dan ketemu dengan Malaikat Yunani. Tanpa di duga Malaikat Yunani itu adalah Kakaknya Xun!!! Dan di saat terakhir Xun di buat sangat marah Karna hal yang mengejutkan.!!! Yaitu KaK Yu’Er mencium Sei @o@)/// OMO!! Bagaimana dengan cerita selanjutnya baca saja :D
“Xun… Aku pamit dulu.” Kataku mengelus tangan Xun. “Iya. Pergilah.”
Kata Xun lirih. Sepertinya dia berusaha untuk tidak menangis. “Maaf…” Kata ku
bersalah. Entah kenapa aku merasa sangat bersalah kepada nya. “Sebentar…” Kata
Yu’er menghentikan ku yang hendak keluar mobil. “Ya?” Kata ku melihat Yu’er.
Tiba –tiba. Kecupan lembut di layang kan Yu’er di bibir ku. Aku benar –benar
terkejut. Xun pun ikut terkejut melihat kejadian itu. “Lepaskan dia! Yu’er!”
Kata Xun mendorong Yu’er ke belakang. Semua pun menjadi hening. Xun melihat
Yu’er sinis. Aku hanya dapat terdiam. “Apa yang kau lakukan! Dia bukan milik
mu! Dia hanya milikku!” Kata Xun marah. “Xun… Tenang lah.” Kata Ku membujuk Xun
agar tenang. “Memang kenapa adik kecil ku? Apa salahnya aku mencium pacar mu?
Kau tak mau membagi kebahagiaan mu pada Saudara mu Hah!?” Kata Yu’er malah
balas menantang. “Kau boleh mengambil semua yang ku miliki! Bahkan kau boleh
mengambil Nyawa ku! Tapi tidak! Untuk Seichi –kun! Dia milikku! Hanya aku!”
Kata Xun membentak Kakaknya. Baru pertama kali aku lihat Wajahnya yang begitu
marah. Aku menundukan kepala ku. Entah
kenapa air mata ku mengalir. Kenapa aku menangis? Apa karena sikap Xun yang
sangat menjaga ku? Apa itu artinya dia benar –benar mencintai ku? “Xun…” Bisik
ku dalam tangis. “Sei… Kau kenapa?” Tanya Xun dengan lembut ia melihat ku
khawatir. “Maaf… Maafkan aku Xun.” Kata ku tak mampu melihat wajah Xun. “Kau
kenapa? Apa kau sakit? Beritahu aku… Jangan membuat ku cemas begini dong…” Kata
Xun mencemaskan keadaan ku. Aku menggeleng. “Maaf… “ Kata ku lagi. “Lihat aku
Sei… Lihat aku. Jangan menangis seperti ini.” Kata Xun mengelus rambut ku.
“Tidak! Maafkan aku Xun… Maafkan aku…” Kata Ku tak karuan. “Sei!” Kata Xun
dengan nada tinggi. Membuat ku terhentak mendengarnya. Aku pun melihatnya
dengan penuh air mata. Tiba –tiba Chu~ Xun mencium bibir ku dalam. Mata ku
melebar ketika dia menciumku. Aku benar –benar tak menyangka dia akan mencium
ku di depan Kakaknya. Memang nya tak masalah? Bagaimana ini? Aku pun memejamkan
mataku. Mencoba melupakan masalah itu… dan menikmati seluk beluk mulutnya. Tes!
Terasa tetesan air mengenai pipi ku. Aku pun membuka mata ku. “Xun? Kau
menangis?” Kata ku dalam hati melihat Xun yang masih menciumku. Pipinya sudah
di penuhi oleh air matanya begitu pula pipi ku. Air matanya turut membasahi
pipi ku. Klik! Suara jepretan Camera
dari arah belakang. “Gambar yang bagus.” Kata Yu’er yang diam –diam mengambil
Foto kami. Aku pun segera melepas ciuman Xun. “Kyak!!! Apa kau Gila!? Dasar
Cabul!” Kata Xun. “Ah. Ah. Ah. Aku tak cabul. Honey… Ini moment sempurna yang
pantas di abadikan.” Kata Yu’er seakan tak bersalah. “Cepat Kau hapus foto gila
itu!” Kata Xun. “Tak akan. Ini milikku ha…nya… mi… likku… Lagi pula siapa yang gila? Kalian? Ingat loh kalian yang aku
foto. Dan satu lagi ini tak Cabul kecuali kalian buka pakaian kalian baru
namanya Cabul.” Kata Yu’er. “Sialan kau…” Kata Xun. Aku menatap Xun tanda tak
suka perkataannya barusan. “Ah. Maaf Seichi –kun.” Kata Xun menyadari ketidak
sukaan ku. “Oh Ya. Ini uang untuk mu. Aku hampir Lupa.” Kata Yu’er mengeluarkan
uang dari dompetnya. “Ah… Iya. Terimakasih Tuan…” Kata ku menerimanya dengan
sedikit ragu. Xun hanya diam melihanya. “Sudah larut Sei… Sebaiknyakau segera
pergi.” Nasehat Yu’er. Aku mengangguk. “Selamat malam Xun.” Kata ku mencium
pipinya sebelum akhirnya aku pergi dari Mobil.
“Tuhan!! Kenapa jadi begini!? Kenapa ke dua malaikat Utusan mu jadi
bertengkar?” Kata ku bicara dengan diriku sendiri. Aku membuka Hand Phone ku
yang Ber wallpaper Xun. “Xun…” Kata ku mengingat ketika Xun mencium ku dan
menangis. Jari telunjuk ku mengusap lembut bibir ku. Aku pun kembali mengingat
kejadian saat Yu’er mencium ku dan
menyentuh ku saat di Arpatement nya. Aku pun memejamkan mata. Air mata tanpa
seijinku mulai membasahi pipi ku. “Maafkan aku Xun…” Kata ku lirih memeluk
bantal.
Di sekolah. “Kyakkkk!!! Itu Xun!” Teriak histeris kerumunan wanita
melihat Sang pangeran hati ku datang. Aku pun tersenyum dan ikut masuk dalam
kerumunan itu. “Xun~ Sayang… Met Pagi.” Sapa Seorang cewek mengandeng Pangeran
ku. Terbesit rasa cemburu dalam hati ku. Sabar… Sabar lah Seichi. Aku berusaha
menenangkan diri ku. “Met Pagi Seichi –kun.” Sapa Xun yang ternyata menyadari
keberadaan ku. “Ah?” Semua nya terkejut dan melihat ku. “Kau mengenalnya?”
Tanya salah satu murid. “Dia… Seichi dari ruang 10-A?” Kata yang lain. “Aku tak
mengenalnya… Siapa dia Xun?” Kata teman Xun lagi. “Dia sahabat ku. Teman
hatiku.” Kata Xun menjawab dengan senyum begitu indah bak Sang surya memanggil
Dunia. “Apa!!!??” Kata kerumunan itu serentak. Mereka tak percaya bahwa Xun
benar –benar mengenal ku. “Ah!? Satu lagi. dia adalah My Idol.” Kata Xun tak
lepas dari senyumnya. “Gak mungkin!!!” Teriak seorang wanita. “Ya. Gak
mungkin’! Xun yang tampan dan Hebat tak mungkin Ngefans sama anak Payah kayak
dia!” Sahut siswi yang lain. “Apa maksud mu!? Jangan hina Seichi –kun seperti
itu!” Kata Xun marah. “Kenapa kau harus pedulikan dia Xun? Dia sudah membentak
dan menolak tawaran mu kemarin… Kenapa masih peduli dengan anak seperti dia?”
Kata Wanita yang mengandeng tangan Xun. “Ya. Kamu siapa memangnya Huh!?” Kata
Wanita lain kepada ku. “Kalian kira aku suka Apa!? Aku juga tak suka! Dia saja
yang bodoh!” Kata ku Dingin. Xun hanya melihat ku dengan heran. “Aku… sama
sekali tak mengenalnya. Dan apanya teman? Bahkan aku saja baru tahu namanya
dari kalian. Aku tak sudi dekat dengan seorang yang hanya mentebarkan pesona
dan ketampanan nya. Tampak sangat bodoh dan juga konyol di mata ku.” Kata ku
dengan nada menghina. “Apa kau bilang!” Kata Wanita –wanita itu tak terima
perkataan ku. Mereka mendorongku hingga terjatuh. “Hey! Apa yang terjadi! Ayo
cepat masuk sebentar lagi kelas akan masuk!” Kata Sensei mengusir kerumunan.
Anak –anak yang lain segera meninggalkan tempat ini dengan cibir dan caci maki
mereka yang tertinggal. Aku hanya terdiam dan tertunduk. Sebenarnya ada apa
dengan diriku? Aku menahan air mata ku yang memenuhi mata ku. “Seichi –kun…”
Kata Xun yangmasih berdiri di tempatnya. Aku pun menatap wajah nya. Dia
tersenyum simpul berjalan ke arah ku. “Seichi –kun ayo masuk…” Kata nya
mengulur kan tangannya. Aku terdiam sejenak. “Tidak pergilah.” Kata ku membuang
muka. Xun ikut duduk di lantai. “Sayang…” Kata Xun lembut. “Aku sangat
mencintai mu… Terimakasih atas perkataan mu barusan. Aku akan segera pergi.”
Bisik Xun di telinga ku. Aku hanya terdiam ketika dia bangkit dan berniat
pergi. “Tunggu…” Kata ku menghentikan langkahnya. “Ya?” Kata Xun tak berbalik.
Aku pun langsung memeluknya. “Gomennasai… Aishiteru Yo…” Kata Ku menjentikan
air mata. “Xun pun berbalik melihat ke arah ku. “Tidak. Kau tak salah… Ashiteru
Yo.” Kata Xun meraih dagu ku lalu mengecup bibir ku. Aku terkejut ketika dia
mencium ku. Aku pun melepas pelan ciumannya setelah beberapa saat. “Jangan…
Jangan di sini.” Kata ku melarangnya. “Lalu dimana? Memangnya kenapa jika di
sini? Di sini tak ada siapa pun hanya kita berdua Sayang…” Kata Xun mengelus
lembut rambut ku. “Aku hanya takut jika ada yang melihatnya…” Kata ku. “Ya. Aku
mengerti.” Kata Xun tersenyum.
Pelajaran Olahraga semua murid berkumpul di Lapangan kecuali aku. Aku
tak ikut dalam setiap pelajaran Olahraga
karena penyakit ku. Aku hanya dapat termenung sendiri ketika yang lain asyik di
lapangan. “Oh Ya. Sekarang kelas 10-B juga Olahraga kan?” Kata ku riang bangkit dari kursi ku.
Xun adalah murid kelas 10 -B Yaitu
kelas untuk para Atlet. Di sekolah ku kelas di bagi –bagi menjadi beberapa
bagian. A : Kelas Dominan pembelajaran Akademik. Jadi biasanya di kelas A
jarang ada yang bisa atau gemar Olahraga dan setiap hari akan selalu ada
pelajaran Matematika jadi Soal hitung menghitung bukanlah kendala bagi anak
kelas A mereka sudah hapal di luar kepala. B : Kelas bagi para Atlet di sekolah
kami. Di kelas B siswa memiliki bidang Olahraga mereka masing –masing dan
mereka memiliki pelajaran Olahraga 4 kali dalam seminggu dan di tambah latihan
Eskul mereka masing –masing 3 kali seminggu. C : Kelas dalam bidang Sains.
Ruang kelas ini lebih menyerupai ruang Lab. Anak –anak di sini adalah anak
–anak yang memiliki kercerdasan Sains di atas rata –rata Atau anak yang lebih
suka belajar aktif. Di dalam kelas ini lebih suka ber eksprerimen atau juga
melakukan kegiatan belajar dengan rangkaian kegiatan. D : Kelas Seni baik dalam
Seni Rupa, Vokal, Sastra, Tari dan sebagainya. Di kelas ini pembelajaran Seni
lebih di tonjolkan atau di ajarkan di kelas ini siswa memiliki Selera seni yang
tinggi.
Aku pun berjalan mencari sosok
Malaikat ku di setiap ruang Olahraga. Aku pun akhirnya menemukannya di ruang
Basket. Mata ku dengan cepat mencari –cari Xun. Anak –anak Basket kebanyakan
adalah anak popular karena wajah mereka yang tampan, Karismanya, Style dan juga
postur tubuh mereka yang tinggi membuat mereka tampak sangat sempurna bagi
sebagian para Siswi. “Ah! Itu Xun!” Kata ku dalam hati. “Tapi… Kenapa dia tak
ikut latihan? Kenapa hanya duduk di kursi cadangan? Bukannya dia adalah kartu
AS di Team nya?” Hati ku bertanya-tanya ketika melihat Xun hanya duduk
memperhatikan. “Xun…” Kata ku mendekatinya. Entah kenapa tubuh ku yang membawa
ku untuk datang mendekati. “Oh… Hye! Seichi –kun.” Sapa Xun ramah. “Boleh aku
duduk?” Kata ku. Xun hanya mengangguk dan bergeser sedikit agar aku dapat
duduk. “Kenapa kau tak ikut latihan?” Tanya ku duduk di sebelahnya. “Kaki ku
terkilir. Jadi harus istirahat…” Kata Xun dengan tawa kecil. “Terkilir? Apa
tidak sakit? Coba… Biar ku lihat?” Kata ku Khawatir dengan Pacar ku. “Sudah
tidak apa –apa kok sekarang. Tadi sudah di obati.” Kata Xun mengurangi
kecemasan ku. “Lalu… Kenapa kau di sini? Tidak ikut dengan teman –teman mu?
Bukankah sekarang kau ada pelajaran Olahraga?” Tanya Xun yang tahu jam Olahraga
dikelas ku. Aku menggeleng dan melihatnya sejenak. “Aku… Aku hanya tak suka
berkeringat itu tampak bodoh bagi ku…” Kata ku menutupi kenyataan sesungguhnya.
Xun melihat ku dengan dalam. “Bodoh?” Tanya Xun dan raut heran. Eh…? Aku salah bicara?
Ya Tuhan! Xun kan sangat suka Olahraga!? Bodohnya Aku menghinanya seperti
itu!!! “A… Bu… Bukan maksud ku begitu…” Kata ku Tertunduk. Aku benar –benar
merasa bersalah. “Ya aku mengerti.” Kata Xun. Aku pun kembali melihat wajah
nya. “Memang… Seseorang yang menghabiskan waktu nya hanya karena Olahraga dan
menguras banyak keringat adalah orang Bodoh bagi mu. Tapi… Jika harus menjadi
orang bodoh sekalipun aku tak keberatan… Kau tahu kenapa?” Kata Xun bangkit
dari duduknya. Aku hanya dapat diam bersalah melihatnya. Ia mengambil bola
basket di dekatnya. “…Karena Olahraga itu menyenangkan.” Kata Xun melempar bola
basket ke Ring. “Xun…” Kata ku benar –benar takut. Sepertinya dia benar –benar
marah pada ku. Ya Tuhan… Apa yang harus ku lakukan? Bodoh nya aku… Aku hanya
tertunduk menahan air mata. “Haide aku gantikan kau.” Kata Xun ikut bermain
kembali ke dalam latihan. “Tapi… Apa kaki mu sudah baik –baik saja?” Tanya
Haide. Xun menggeleng. “Aku ingin memperlihatkan kepada seseorang bahwa aku
sangat menyukai Basket.” Kata Xun masuk bermain. “Xun… Maaf…” Kata ku benar
–benar tak kuasa menahan air mata. Baru beberapa menit pertandingan di mulai
Xun sudah memasukan angka. Aku tak tahu harus melakukan apa lagi… Senang karena
Xun mencetak angka? Tidak mungkin. Dia sedang marah pada ku bahkan dia ikut
bermain walau kaki nya cidera karena dia marah atas perkataan ku. Lebih baik
aku pergi saja. Aku pun mengangkat kaki ku berniat meninggalkan ruang latihan.
Tiba –tiba Brukkk!!! Hantaman keras mengenai belakang kepala ku. Aku pun
terjatuh. “Seichi –kun!!!” Teriak Xun menghampiri ku. Terlihat wajah tampannya
tampak samar dan akhirnya aku pun pingsan.
Di ruang Kesehatan “Ng…” Kata ku bangun dari pingsan ku. Terlihat Xun
yang tertidur di dekat ku. “Xun…” Kata ku dengan mata sayu. Aku sangat takut
saat ini. Sepertinya aku memang tak pantas untuknya. Aku telah membuat nya
menangis semalam dan sekarang aku telah membuatnya marah pada ku. Ya Tuhan… Apa
yang harus ku lakukan? Aku mengelus pelan rambut Xun. “Maafkan aku Xun… Aku tak
bisa lebih dari ini. Aku tak sanggup untuk terus mencintai mu dan
mempertahankan mu. Aku terlalu bodoh dan rendah… Maafkan aku, Aku tak bisa lagi
bersama mu…” Kata ku dengan air mata. Aku pun perlahan turun dari ranjang. “Aku
mencintai mu.” Kata ku tersenyum miris. “Rupanya kau telah sadar?” Terdengar
suara yang ku kenal. “… Kau… Kak Yu’Er?” Kata ku terkejut melihat Malaikat
Yunani ku. “Kau mau kemana? Apa kepala mu sudah mendingan?” Kata Kak Yu’er yang
mengenakan baju putih seperti Dokter (?) “Ah. Ya. Aku suda h tak apa.” Kata ku
menjawab pertanyaannya. “Apa yang di lakukan Xun? Apa dia berbuat ulah lagi?”
Tanya Yu’er yang sekarang menanyakan tentang Xun. “Tidak. Dia tak berbuat
apapun.” Kata ku dengan gelengan kecil. “Kakinya terkilir sangat parah dan ia
pun sangat lelah… Apa dia memaksa kan diri lagi?” Tanya Yu’er lagi. “Benarkah? Sepertinya begitu. Itu semua salah
ku…” Kata Ku tertunduk. Yu’er pun mendekati ku dan memelukku. “Bukan. Bukan
salah mu…” Kata Yu’er. Aku berusaha melepas pelukannya tapi tak bisa dia
memelukku semakin erat. “Kak…” Kata ku berniat memintanya untuk melepaskan
pelukannya. Yu’er pun dengan cepat mencium bibir ku. Lagi –lagi dia melakukan
hal ini. Aku hanya dapat terkejut mendapatkannya. “Kyakkkk!!!” Kata ku
melepaskan ciumannya setelah berusaha dengan sekuat tenaga. Aku mundur beberapa
langkah berniat sedikit menjauh. Tapi aku menabrak sesuatu di belakang ku.
“Xun!?” Kata ku berbalik yang ternyata di belakang ku adalah Xun. Apa dia
melihatnya? “Xun… Kau sudah bangun? Sejak kapan?” Kata Yu’er dengan senyumnya.
“Jangan pura –pura tak tahu. Kau sudah tahu bukan?” Kata Xun dengan wajah
kesal. “Ya.” Jawab Yu’er dengan gampangnya. “Kenapa Kau lakukan ini lagi
Yu’er!?” Bentak Xun. “Kenapa? Tentu saja karena aku mau. Oh ya. Apa kau telah
membicarakan pada kekasih mu tentang semalam?” Kata Yu’er. “Tentang apa?” Tanya
Ku yang benar –benar tidak mengetahui. “Ternyata belum ya?” Kata Yu’er. “Tak
ada yang perlu di beritahu kepada nya.” Kata Xun. “Seichi –kun… Apa kau ingat
kejadian semalam saat aku masak dengan mu?” Tanya Yu’er kepada ku. Aku terkejut
ketika dia menanyakan -nya. “Ah… Me…Memang nya ada apa?” Kata ku sedikit ragu
–ragu karena Yu’er mengungkit masalah semalam. “Diam Yu’er!” Bentak Xun. “Xun
tahu bahwa aku dan kau bercumbu semalam.” Kata Yu’er menghiraukan kata –kata
Xun. Aku lagi –lagi terkejut mendengarnya. “Xun…” Kata ku dengan air mata
melihat Xun. “Kau masih ingat Xun menangis semalam bukan? Perlu kau tahu dia
menangis karena dia melihat semua itu… Semua yang ku lakukan kepada mu.” Kata
Yu’er yang membuat ku takut. “Jangan dengar kan dia Seichi –kun…” Bisik Xun
memegang tangan ku. “Sudah sampai di sini Yu’er jangan bicara lagi…” Kata Xun
yang seperti nya mengetahui aku menangis. “Memang kenapa?” Tanya Yu’er menantang. “Karena aku muak mendengar Kata
–kata bodoh mu itu…” Kata Xun dingin. “Ayo Sei… Kita pergi.” Kata Xun mengajak
ku.
Di lobi. Aku menghentikan langkah ku. “Ada apa?” Tanya Xun. “Sudah
sampai di sini saja…” Kata ku. “Apa maksud mu?” Kata Xun tak mengerti. “Kita
akhiri sampai sini saja hubungan kita.” Kata ku memberanikan diri. “Kenapa? Apa
karena di latihan basket tadi?” Tanya Xun. Aku menggeleng. “Bukan hanya itu…
Aku hanya berpikir bahwa kita tak mungkin bersama. Kita ini laki –laki… Tak
mungkin bersama.” Kata Ku. “Kenapa begitu? Ku kira kau mencintai ku?” Kata Xun.
“Tidak. Aku tidak mencintai mu… Sama sekali tidak. Aku hanya ingin bermain
–main… Jarang ada yang mengungkap kan ‘Cinta’ kepada ku. apa lagi Laki –laki.
Bukankah itu menarik? Karena itu aku terima hanya untuk keingingan sesaat ku
saja dan ternyata Kakak mu juga sama menyukai ku… Itu tak masuk dalam
perhitungan ku. Aku hanya coba –coba dan sekarang sudah sedikit melenceng dari
jalannya jadi ku harap kita akhiri semua sampai di sini saja.” Kata Ku berusaha
menutupi perasaan ku sesungguhnya. Maafkan aku Xun… Aku tak bisa bersama mu
lagi. aku tak pantas ada di sisimu apa lagi mengisi hati mu… “Benarkah…? Aku
tak yakin… Jika begitu tunjukan kepada ku. Apa pun itu untuk dapat meyakinkan
Diri ku bahwa benar semua ini hanya
permainan belaka?” Kata Xun dengan tatapan serius.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar