Author:Yolan
Yolan hadir di sini membawa Cerita Lanjutan sblumnya Aishiteru Yo! Cerita sebelumnya Seichi yang terkurung di selamatkan Xun dan setelah itu mereka pun menjalin kasih (?) walau baru berjalan beberapa Jam hubungan mereka, Sudah mendapat masalah. CkCkckckckc… Ya ampun… Bagaimana nanti.
Di sini Seichi akan tambah saling mengenal lagi. Siapa yang penasaran? -_____- *Hening…* Ya udah deh… Yang penting Jadi ceritanya. Selamat membaca :D
“Tuhan… Kenapa semua ini harus terjadi?” Kata ku menangis. Aku sedang
berada di Perpustakaan menangis di antara tumpukan buku yang ada. “Apa yang
harus ku lakukan?” Kata Ku menangis.
“Seharusnya aku yang bertanya kenapa kau lakukan itu?” Terdengar suara ke arah
ku. Aku pun mengangkatkankan kepala melihat siapa ia. Tampak wajahnya yang
sangat tampan begitu serius memandang ku. “Kenapa?” Kata nya ikut duduk di
lantai. “A…Aku…” kata ku memalingkan wajah ku aku benar –benar tak bisa menjawab pertanyaan nya. Karena
diriku pun bertanya demikian. “Maaf…” Kata nya lembut tiba –tiba memelukku. Aku
hanya terdiam karna terkejut. “Seharusnya aku tahu. Bahwa kau tak menyukainya…”
Kata Xun masih memelukku. Pelukkannya terasa hangat tapi kenapa hatiku masih
merasa sakit? . “Apanya!? Kenapa harus meminta maaf. “ Kata ku sedikit tinggi.
Ia pun melepaskan pelukannya perlahan. “Kau tak suka orang lain tahu hubungan
kita kan?” Kata Xun balik bertanya. “Aku… Aku…” Kata ku hanya dapat menatap nya
dengan air mata. Ia terdiam menunggu
jawaban. “Bukan begitu. Bukannya tak
suka. Tapi… Aku hanya takut.” Kata ku tertunduk. “Jangan khawatir sayang…” Kata
Xun meraih dagu ku hingga mata ku dapat melihat kilauan hangat dari matanya. “Aku
janji. Aku akan merahasiakan nya jika kau mau.” Kata nya lalu mendekatkan
bibirnya ke bibirku. “Aku pun membalas ciumnya dengan lembut. “Maafkan aku
Xun…” Kata ku sedikit bersalah karena telah egois mengatur nya begitu saja. “
Apanya? Buat apa sayang? Kau tak salah. Tak ada yang perlu minta maaf di sini.”
Kata Xun dengan sedikit tawa. “Kau menertawakan ku?” Kata ku tiba –tiba ketus.
Ia pun terkejut atas tingkah ku. “Eh? Maaf. Kau tak suka ya?” Kata Xun dengan
mata apology nya. Aku pun tertawa. “Hey! Kenapa kau malah tertawa?” Kata nya
tersenyum dan juga heran. “Kau bilang… Tak ada yang perlu minta maaf. Tapi…
Nyatanya kau sendiri yang meminta maaf.” Kata ku sambil menghabiskan sisa tawa
ku. Tawa ku segera hilang ketika wajah nya tak tersenyum dan hanya ada wajah
datar melihatku. “? Kau… Kau kenapa!? Kenapa menatap ku seperti itu?” Kata
meninju kecil pundaknya. Ia tak menjawab. “Hey! Jawab aku! Aku tak suka ini!”
Kata ku sedikit takut jikalau dia marah. Jika memang iya, Ya Tuhan… Apa yang
harus ku perbuat? Aku telah membuat malaikat utusan mu marah! Apa aku masih akan di beri kesempatan lagi?
Ia pun mendekatkan tubuhnya ke arah ku. “Apa yang kau inginkan?” Kata ku
semakin mundur dan akhirnya aku terjebak diantara Rak buku di belakan ku dan
Xun yang tengah mendekati ku. Aku pun memejamkan mata ku. Kecupan nya pun
mendarat kembali di bibir ku. Lidahnya dengan lihai memainkan lidah ku.
Sekarang tubuh ku dengan tubuhnya sangat dekat dan tampaknya ia tak akan
melepaskan ku sekarang. “Humpptt…” Kata masih memejamkan mata dengan erat.
Perlahan kecupannya turun menuju leherku. Dengan lembut ia kecup leherku dan
sesekali ia menggigit leherku pelan. “Aucch!” Kata ku kesakitan ketika dia
menggigitku agak kuat. Ia terhenti sejenak lalu melanjutkannya. Ia pun kembali
menuju bibir ku. Air liur kami pun bercampur kembali. Seperti sebelumnya ia
memainkan lidah ku dengan penuh hasrat.
Malam ini. Aku tak dapat tidur. Aku tersenyum menatap langit –langit
di atas. “Ya Tuhan… Dia benar –benar kebahagiaan untuk ku.” Kata dalam hati.
“Seichi!” Terdengar suara Ayah ku memanggil. “Sebentar!” Seruku bergegas turun.
“Ada apa?” Tanya ku kepadanya. “Ini. cepat antar pesanan ke alamat ini.” Kata
Ayah memberikan kotak makan. Keluarga kami adalah keluarga kecil yang memiliki
restaurant mie. Walau tidak besar tapi restaurant kami meliki beberapa
pelanggan tetap yang cukup menjanjikan. “Tapi aku ada PR.” Kata ku menolak.
“Jangan membantah! Ayo cepat!” Kata Ayah memukul punggung ku agar cepat pergi.
“Ya. Iya.” Kata ku segera berangkat.
“Di Hotel ini?” Kata ku melihat Gedung bertingkat itu. Aku tak
menyangka pelanggan tetap Ayah ku adalah orang yang tinggal di apartemen yang
mewah dan juga bergengsi. Aku pun tanpa basa –basi lagi melangkah kan kaki ku
masuk. “Ada yang bisa saya bantu?” Kata penjaga yang menghampiri ku. “Saya
mengirimkan pesanan.” Kata ku. “Oh Ya. Biar saya antar. Ikuti saya.” Kata
Penjaga itu. Aku pun mengikuti nya di belakang. “Boleh ku tahu di kamar mana?”
Tanyanya. Aku pun menyerahkan sepucuk kertas alamat yang di berikan ayah ku.
Penjaga itu pun mengantarkan ke kamar yang di tuju. “Terimakasih.” Kata ku.
“Ya. Sama –sama.” Kata Penjaga sebelum akhirnya ia pergi. Aku pun mengetuk pintu. “Sebentar.” Terdengar
suara dari dalam. Aku pun menunggu. “Ya? Ada apa?” Tanya seorang pria dengan
handuk yang melingkari pinggangnya itu. Aku pun terkejut melihatnya hingga
kotak makanan yang ku bawa terjatuh. Entah kenapa aku mematung melihat dirinya.
Tuhan … siapa gerangan? Malaikat mu lagi? Aku tak bisa melepaskan pandangan ku
dari malaikat di depan ku. Tubuh nya tampak begitu indah bak patung Yunani.
“Kau tak apa?” Tanya nya heran. “I…Iya.” Kata ku masih tak dapat melepas
pandangan ku darinya. “Benarkah? Wajah mu tampak merah.” Kata Pria itu. “Ah!?
benarkah?” Kata ku baru keluar dari lamun ku. “Astaga! Mie – nya!!!” Kata ku
terkejut baru menyadari mie yang ku bawa jatuh. Aku pun berjongkok merapikan
kotak mie ku. “Hm… Ya. Ngomong –ngomong apa itu mie ku?” Tanya nya melihat ku
dengan wajah kecewa(?). “Ah… Ya. Maaf. Aku akan segera kembali untuk membawa
lagi.” Kata ku menundukan kepala. Bodoh!!!! Kenapa aku harus seperti ini!!!
Kyakkk!!! Ini memalukan! “Sayang sekali. Tapi aku sudah lapar. Kau sudah jauh
–jauh ke sini juga…” Kata pria dengan wajah Manisnya. Shit! Berapa umurnya!?
Dia tampak lebih tua dari ku. Tapi kenapa dia bisa begitu manis? “Sekali lagi. Aku minta maaf. Aku akan segera
kembali membawa yang baru.” Kata ku benar –benar tak tahu apa yang harus ku
perbuat. Aku Malu dan sangat terkesima dengan ketampanannya. “Tak usah.
Bagaimana jika kau membuatkan mie di
sini saja. Jadi tak akan memakan waktu banyak.” Kata nya tersenyum. “Apa?” Kata
ku tak percaya. “Ya. Kau akan memasak di sini. Aku tak bisa menunggu mu lebih
lama lagi. Jika kau kembali akan sangat lama bukan? Lebih baik kau masakan mie
untuk ku di sini.” Kata Pria itu menjelaskan dengan senyum yang tak lepas dari
vivir merah nya itu. “Tapi… Aku hanya di tugaskan mengantarkan makanan. Aku tak
pernah memasak mie untuk pelanggan sebelumnya… Aku tak bisa tuan.” Kata ku
menolak. “Ayolah… Bukan berarti kamu sama sekali tak bisa masak mie bukan? Aku
akan membayar 2 kali lipat jika kau mau memasak untuk ku.” Kata Pria itu
memaksa ku. “Tapi…”
Pada akhirnya aku pun memasakan Mie untuknya. Tak ku sangka di dalam
kulkasnya penuh dengan beraneka bahan –bahan dan juga makanan. Lalu kenapa ia
harus memesan makanan di luar? Aku pun
menyiapkan bahan –bahan yang ku perlukan. Ya Tuhan aku belum pernah memasak
untuk pelanggan sebelumnya. Bahkan Ayah ku tak pernah memakan mie ku. Bagaimana
jika tak enak? Aku hanya dapat pasrah dan membuat mie yang biasa aku buat untuk
diriku. Pria itu melihat ku terus menerus memperhatikan setiap gerakan ku. “Hm…
Lebih baik Tuan duduk saja. Biar saya yang mengantarkannya.” Kata ku masih
sibuk dengan kegiatan ku. aku sama sekali tak melihatnya bukan karna tak ingin
tapi aku hanya tegang. “Tidak. aku ingin membantumu.” Kata nya. “Apa?” Lagi
–lagi dia membuat ku terkejut. Sebenarnya apa maunya? “Aku ingin membantu mu.
Apa yang bisa saya bantu?” Kata Pria itu. Aku pun menatapnya sejenak lalu
mengambil napas panjang. “Baiklah… Coba kau bersihkan ayam ini.” Kata ku
memberikan sepiring penuh dengan daging ayam. “Baiklah.” Kata nya menerimanya.
Aku pun sedkit tertawa ketika melihatnya membersihkan ayam itu. Sepertinya ia
belum pernah melakukannya tampak ia sangat amatir. Ia hanya tersenyum manis
membalas tawa ku. Aku pun terdiam melihatnya lalu menyelesaikan tugas ku lagi.
Ya Tuhan… Bagaimana aku bisa tenang? Aku benar –benar sangat gugup. “Auchhh!!”
Kata nya berteriak. “Ada apa?” Kata ku mendekatinya. “Jariku ter iris.” Katanya
menunjukan luka kecil di jarinya. Aku pun spontan langsung menghisap darah di
jarinya. “Kau sangat cantik.” Kata nya membuat ku menghentikan kecupan di
jarinya Aku pun terdiam melihatnya. “Apa?” Kata ku sangat pelan. “Kau cantik
sayang.” Katanya. Apa dia bilang? Aku cantik? Aku terdiam mematung. “Kau akan
tampak lebih cantik lagi ketika melepas kaca mata mu itu.” Katanya Pria itu
membuka kaca mata ku. “Tuh kan benar.” Katanya tersenyum. “Ah! Mie ku!” Kata ku
teringat dengan mie yang ku buat. Dengan segera aku belari mematikan mie ku.
“Syukurlah tak gosong.” Kata ku setelah melihat di dalam panci. “Ya syukurlah…”
Katanya memeluk ku dari belakang. Aku benar –benar terkejut karna perlakuannya.
“Tuan… Apa yang kau lakukan?” Kata ku sedikit canggung. “Aku sangat lapar
cantik.” Katanya berbisik di telinga ku. Suara nya benar –benar membuat ku
geli. “Sebentar. Aku akan segera menyelesaikannya.” Kata ku mencoba melepaskan
pelukannya. “Tidak.” Katanya lagi. mengeratkan kembali pelukannya. “Apa maksud
Tuan? Apa tuan tak mau makan?” Kata ku sedikit takut. “Bukan begitu.” Katanya.
Perlahan tangan kirinya masuk ke dalam celemek ku. “Jadi?” Tanya ku ragu “Aku
ingin memakan mu.” Kata Pria itu berusaha melepaskan kancing celana ku. Aku pun
memegang tangannya. “Ku mohon jangan.” Kata ku mencoba menghentikannya.
“Kenapa?” Katanya lembut. Aku terdiam. “Apa kau takut?” Tanyanya. Aku
mengangguk pelan. Ia pun tengah berhasil membuka kancing celana ku. “Tenang
saja. Kau tak perlu takut.” Katanya mencium leherku. Aku pun memejam kan
mataku. Entah apa perasaan ku saat ini.
Aku benar –benar tidak tahu apa yang harus ku lakukan. Dengan perlahan tangan
kiri meremas kemaluan ku dan lidahnya terus menjilati seluk beluk leherku. “Aku
pulang!” Terdengar suara seseorang masuk. “Ah! Dia sudah pulang.” Kata nya
menghentikan. kegiatannya “Kak… Apa yang kau lakukan?” Terdengar suara orang
yang tadi masuk. Apa!? Apa dia adiknya? Aku dengan segera merapikan celana ku.
Aku bingung apa yang harus ku lakukan? Ya Tuhan… Kenapa begini. Aku benar
–benar takut. Tak ku sadari air mata ku pun terjatuh. “Apa yang kau lakukan
dengannya? Siapa dia?” Tanya pria yang masuk. Aku sama sekali tak berani untuk
melihatnya. Aku sungguh Malu dan takut. “Dia anak pemilik restoran Mie.” Jawab
Kakaknya datar. “Restoran Mie?” Tanya adiknya tampak sedikit curiga. Tuhan… Apa
dia melihatnya? Aku benar –benar takut. “Permisi. Aku sebaiknya pergi.” Kata ku
masih tertunduk. Aku menghapus air mata ku lalu belari untuk pergi. “Tungu
Seichi –Kun!” Panggilnya menghentikan langkah ku. Apa!? Dia… Dia mengenal ku!?
“Apa benar kau Seichi –kun?” Katanya mendekati ku. Aku pun memberanikan diri
berbalik melihantnya. Dia tersenyum melihat ku. “Ternyata benar kau. Kenapa kau
bisa kemari?” Tanyanya dengan senyum yang menawan. “Xun…” Kata ku menjatuhkan
air mata ku kembali. Aku pun langsung memeluknya. “Kau kenapa Sei?” Tanyanya
heran. “Kau kenal dia Xun?” Tanya Kakaknya Xun mendekati. “Ya. Dia kekasih ku.”
Jawab Xun mengelus rambut ku. “Apa?” Kata Kakaknya Xun tak percaya. “Ya. Dia
pacar ku. Kekasih ku. My Boyfriend.” Kata Xun lalu melepas perlahan pelukan ku.
Ia pun menatap Kakaknya. “Pacar mu? Benarkah?” Tanya Kakaknya Xun masih tak
percaya. “Ya, Nama nya Seichi. Dia yang pernah ku ceritakan pada Kakak.” Kata
Xun tersenyum. Dia pernah cerita ke Kakaknya? “Aku tak menyangka. Kalian bisa
bertemu secepat ini. padahal aku ingin memperkenalkan Sei Minggu nanti. Tapi…”
Xun pun tertawa sedikit. Seperti nya dia tak tahu apa yang telah terjadi. Dia
tak tahu apa yang di lakukan Kakaknya kepada ku barusan? “Kau tau dari mana
alamat rumah ku?” Kata Xun berbalik bertanya pada ku. “… A… Aku…” Kata ku
terbata. Sulit untuk berkata sekarang apa lagi dengan kondisi ku yang tengah
Shock. Aku benar –benar tak menyangka jika Pria itu adalah Kakak nya Xun. Bagaimana
jika Xun tahu apa yang di lakukan kakaknya kepada ku? Aku takut mereka akan
bertengkar. :( “ Seperti yang ku katakan sebelumnya… Dia anak pemilik restoran
Mie. Aku memesan makanan dan ia mengantarkannya.” Kata Kakak Xun menjawab
pertanyaan Xun. Atmosfer yang di keluarkan Kakaknya Xun kini berbeda dengan
sebelumnya. Tampak dingin dan Kaku “Lalu kenapa Seichi –kun bisa masuk ke dalam
rumah kita? Bukankah dia hanya mengantar?” Kata Xun yang sepertinya curiga.
“Dia terkejut melihat ku tanpa mengenakan baju. Dan akhirnya kotak yang di
bawanya jatuh… Karna itu aku menyuruhnya untuk membuat mie di sini.” Jawab
Kakaknya Xun jujur. Xun melihat kusekilas. “Sudah ku bilang berapa kali.
Kenakan pakaian mu terlebih dahulu ketika ada tamu. Tak bisa kah kau biasakan mengenakan
pakaian terlebih dahulu sebelum menghadapi tamu?” Kata Xun menasehati Kakaknya.
“Adik ku yang tampan. Aku sudah bosan mendengarkan perkataan mu seperti itu.
Memang apa salahnya?” Kata Kakaknya meraih dagu Xun. “Lepaskan Yu’er.” Kata Xun
melepas genggaman Kakaknya. “Aku hanya ingin menolong mu Yu’er. Tak lebih.”
Kata Xun dengan nada kesal. “Menolong apanya? Jangan sok perhatian pada ku
Xun.” Kata Yu’er dengan senyum dingin yang menertawakan. “Sei… Biar ku antar
kau pulang.” Kata Xun kepada ku. Ia pun meraih tangan ku. “Aku ikut.” Kata
Yu’er. “Buat apa kau ikut?” Kata Xun menatap sinis Yu’er. “Karena aku punya
mobil.” Jawab Yu’er dengan mudah. Xun pun mendesah.”Cepatlah.” Kata Xun tampak
kesal. Yu’er pun segera pergi ke kamar nya.
Aku dan Xun pun duduk di sofá menunggu Yu ‘er. “ Kau tak apa kan
Sayang?” Tanya Xun mengenggam tangan ku. Tangannya yang lembut menggenggam ku
dengan erat. Aku mengangguk. Menyenderkan kepala ku ke pundaknya. “Jangan
dekati Yu’er.” Kata Xun pelan. “Apa?” Kata ku melihatnya. “Jangan dekati dia…”
Kata Xun lagi. “Kenapa?” Kata ku membenarkan posisi duduk ku kembali. “Aku tak
suka dia dan entah kenapa aku takut jika kau bersama nya.” Jawab Xun tanpa
melihat ku. wajah tertunduk dan mata nya tampak berkaca. “Xun…” Kata ku pelan. Xun
memejamkan mata dan menjatuhkan wajahnya dalam kedua telapak tangannya. Aku
mengelus pundaknya. Sepertinya ia sedang menangis. Tapi kenapa? “Ayo cepat Xun!” Kata Yu’er yang
sudah selesai mengenakan pakaiannya. “Ya.” Kata Xun mengusap matanya. Tampak
matanya sedikit merah. Benar sepertinya ia tadi menangis. Aku dan Xun pun
bangkit dari sofá hambir bersamaan. “Kalian benar –benar serasi.” Kata Yu’er
dengan senyum menggoda. Matanya menatap ku tajam. “Diam kau! Biar aku yang
menyetir.” Kata Xun mengambil kunci di atas meja lalu keluar duluan. “Xun…”
Kata ku mengejarnya.
Di perjalanan. Udara di dalam mobil terasa sangat dingin di tambah
dengan adanya AC. Aku duduk di sebelah Xun dan Yu’er di belakang. “Oh Ya Sei.”
Kata Yu’er memecahkan keheningan. “Ah. Iya?” Kata ku spontan. “Kau sekolah
bareng Xun ya?” Kata Yu’er. “Ya. Hanya satu sekolah tapi tak sekelas.” Kata ku
menjawab. “Syukurlah.” Kata Yu’er. “Apa maksud mu ‘Syukurlah’?” Tanya Xun
ketus. “Sudah berapa lama kalian saling kenal?” Tanya Yu’er menghiraukan
pertanyaan Xun. Aku terdiam sejenak melihat Xun yang tampak kesal. “… Baru
beberapa hari yang lalu.” Jawab ku ragu. Sebenarnya aku bingung apa harus aku
menjawab pertanyaan Yu’er atautidak. Soalnya wajah Xun seperti tak menyukainya.
“Wah! Benarkah? Beberapa hari sudah menjalin cinta?” Kata Yu’er menanggapi
perkataan ku. Aku hanya mengangguk pelan. “Apa kau tahu… Jika aku dan Xun
adalah saudara tiri?” Kata Yu’er mengganti topik pembicaraan. “Diam lah Yu’er!”
Bentak Xun tapi matanya tetap fokus kepada jalan. Aku yang mendengarnya sedikit
terkejut. “… Kami berdua itu musuh. Dia sangat membenci ku kau tahu kenapa?”
Kata Yu’er benar –benar menguji kesabaran Xun. “Yu’er tidak bisakah kau diam!?
Kau cerewet sekali!” Kata Xun kesal. “Sudah lah Tuan… Jangan bahas lagi.” Kata
ku mulai takut dengan keadaan yang menegang. “Tidak apa. Kau kan pacarnya Xun.
Jadi harus tau.” Kata Yu’er. “… Tadi sampai mana? Oh Ya. Dia membenci ku karena
Ayah ku adalah suami pertama dari ibu kami…” Kata Yu’er benar –benar keras kepala.
Xun pun menyalakan musik dengan kerasnya. Aku hanya terdiam tak tahu apa yang
harus ku perbuat. Yu’er tertawa. Suaranya terdengar samar bercampur dengan
Alunan keras lagu yang tengah di nyalakan. “Kau benar –benar marah Xun kecil
ku? Kau kekanankan sekali.” Kata Yu’er masih dalam tawanya. Xun tak menjawab.
“Dan perlu kau ketahui lagi.” Kata Yu’er mematikan lagu. “Bahwa Ayah Xun lah
yang telah membunuh Ibu kami.” Kata Yu’er. Aku terkejut mendengarnya. “Xun…”
Kata ku melihat Xun yang masih fokus menyetir. Air mata Xun telah memenuhi
seluk beluk matanya. Xun pun menghentikan mobil di depan rumah ku. “Ah? Sudah
sampai.” Kata ku baru menyadari. “Xun… Aku pamit dulu.” Kataku mengelus tangan
Xun. “Iya. Pergilah.” Kata Xun lirih. Sepertinya dia berusaha untuk tidak
menangis. “Maaf…” Kata ku bersalah. Entah kenapa aku merasa sangat bersalah
kepada nya. “Sebentar…” Kata Yu’er menghentikan ku yang hendak keluar mobil.
“Ya?” Kata ku melihat Yu’er. Tiba –tiba. Kecupan lembut di layang kan Yu’er di
bibir ku. Aku benar –benar terkejut. Xun pun ikut terkejut melihat kejadian
itu. “Lepaskan dia! Yu’er!” Kata Xun mendorong Yu’er ke belakang. Semua pun
menjadi hening. Xun melihat Yu’er sinis. Aku hanya dapat terdiam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar