Kamis, 09 Juli 2015

Ashiteru Yo! (Part 2)

Author:Yolan

Yolan hadir di sini membawa Cerita Lanjutan sblumnya Aishiteru Yo! Cerita sebelumnya Seichi yang terkurung di selamatkan Xun dan setelah itu mereka pun menjalin kasih (?) walau baru berjalan beberapa Jam hubungan mereka, Sudah mendapat masalah. CkCkckckckc… Ya ampun… Bagaimana nanti.
Di sini Seichi akan tambah saling mengenal lagi. Siapa yang penasaran?        -_____-  *Hening…*  Ya udah deh… Yang penting Jadi ceritanya. Selamat membaca  :D 


“Tuhan… Kenapa semua ini harus terjadi?” Kata ku menangis. Aku sedang berada di Perpustakaan menangis di antara tumpukan buku yang ada. “Apa yang harus ku lakukan?” Kata Ku  menangis. “Seharusnya aku yang bertanya kenapa kau lakukan itu?” Terdengar suara ke arah ku. Aku pun mengangkatkankan kepala melihat siapa ia. Tampak wajahnya yang sangat tampan begitu serius memandang ku. “Kenapa?” Kata nya ikut duduk di lantai. “A…Aku…” kata ku memalingkan wajah ku aku benar –benar  tak bisa menjawab pertanyaan nya. Karena diriku pun bertanya demikian. “Maaf…” Kata nya lembut tiba –tiba memelukku. Aku hanya terdiam karna terkejut. “Seharusnya aku tahu. Bahwa kau tak menyukainya…” Kata Xun masih memelukku. Pelukkannya terasa hangat tapi kenapa hatiku masih merasa sakit? . “Apanya!? Kenapa harus meminta maaf. “ Kata ku sedikit tinggi. Ia pun melepaskan pelukannya perlahan. “Kau tak suka orang lain tahu hubungan kita kan?” Kata Xun balik bertanya. “Aku… Aku…” Kata ku hanya dapat menatap nya dengan air mata.  Ia terdiam menunggu jawaban.  “Bukan begitu. Bukannya tak suka. Tapi… Aku hanya takut.” Kata ku tertunduk. “Jangan khawatir sayang…” Kata Xun meraih dagu ku hingga mata ku dapat melihat kilauan hangat dari matanya. “Aku janji. Aku akan merahasiakan nya jika kau mau.” Kata nya lalu mendekatkan bibirnya ke bibirku. “Aku pun membalas ciumnya dengan lembut. “Maafkan aku Xun…” Kata ku sedikit bersalah karena telah egois mengatur nya begitu saja. “ Apanya? Buat apa sayang? Kau tak salah. Tak ada yang perlu minta maaf di sini.” Kata Xun dengan sedikit tawa. “Kau menertawakan ku?” Kata ku tiba –tiba ketus. Ia pun terkejut atas tingkah ku. “Eh? Maaf. Kau tak suka ya?” Kata Xun dengan mata apology nya. Aku pun tertawa. “Hey! Kenapa kau malah tertawa?” Kata nya tersenyum dan juga heran. “Kau bilang… Tak ada yang perlu minta maaf. Tapi… Nyatanya kau sendiri yang meminta maaf.” Kata ku sambil menghabiskan sisa tawa ku. Tawa ku segera hilang ketika wajah nya tak tersenyum dan hanya ada wajah datar melihatku. “? Kau… Kau kenapa!? Kenapa menatap ku seperti itu?” Kata meninju kecil pundaknya. Ia tak menjawab. “Hey! Jawab aku! Aku tak suka ini!” Kata ku sedikit takut jikalau dia marah. Jika memang iya, Ya Tuhan… Apa yang harus ku perbuat? Aku telah membuat malaikat utusan mu marah!  Apa aku masih akan di beri kesempatan lagi? Ia pun mendekatkan tubuhnya ke arah ku. “Apa yang kau inginkan?” Kata ku semakin mundur dan akhirnya aku terjebak diantara Rak buku di belakan ku dan Xun yang tengah mendekati ku. Aku pun memejamkan mata ku. Kecupan nya pun mendarat kembali di bibir ku. Lidahnya dengan lihai memainkan lidah ku. Sekarang tubuh ku dengan tubuhnya sangat dekat dan tampaknya ia tak akan melepaskan ku sekarang. “Humpptt…” Kata masih memejamkan mata dengan erat. Perlahan kecupannya turun menuju leherku. Dengan lembut ia kecup leherku dan sesekali ia menggigit leherku pelan. “Aucch!” Kata ku kesakitan ketika dia menggigitku agak kuat. Ia terhenti sejenak lalu melanjutkannya. Ia pun kembali menuju bibir ku. Air liur kami pun bercampur kembali. Seperti sebelumnya ia memainkan lidah ku dengan penuh hasrat.

Malam ini. Aku tak dapat tidur. Aku tersenyum menatap langit –langit di atas. “Ya Tuhan… Dia benar –benar kebahagiaan untuk ku.” Kata dalam hati. “Seichi!” Terdengar suara Ayah ku memanggil. “Sebentar!” Seruku bergegas turun. “Ada apa?” Tanya ku kepadanya. “Ini. cepat antar pesanan ke alamat ini.” Kata Ayah memberikan kotak makan. Keluarga kami adalah keluarga kecil yang memiliki restaurant mie. Walau tidak besar tapi restaurant kami meliki beberapa pelanggan tetap yang cukup menjanjikan. “Tapi aku ada PR.” Kata ku menolak. “Jangan membantah! Ayo cepat!” Kata Ayah memukul punggung ku agar cepat pergi. “Ya. Iya.” Kata ku segera berangkat.
“Di Hotel ini?” Kata ku melihat Gedung bertingkat itu. Aku tak menyangka pelanggan tetap Ayah ku adalah orang yang tinggal di apartemen yang mewah dan juga bergengsi. Aku pun tanpa basa –basi lagi melangkah kan kaki ku masuk. “Ada yang bisa saya bantu?” Kata penjaga yang menghampiri ku. “Saya mengirimkan pesanan.” Kata ku. “Oh Ya. Biar saya antar. Ikuti saya.” Kata Penjaga itu. Aku pun mengikuti nya di belakang. “Boleh ku tahu di kamar mana?” Tanyanya. Aku pun menyerahkan sepucuk kertas alamat yang di berikan ayah ku. Penjaga itu pun mengantarkan ke kamar yang di tuju. “Terimakasih.” Kata ku. “Ya. Sama –sama.” Kata Penjaga sebelum akhirnya ia pergi.  Aku pun mengetuk pintu. “Sebentar.” Terdengar suara dari dalam. Aku pun menunggu. “Ya? Ada apa?” Tanya seorang pria dengan handuk yang melingkari pinggangnya itu. Aku pun terkejut melihatnya hingga kotak makanan yang ku bawa terjatuh. Entah kenapa aku mematung melihat dirinya. Tuhan … siapa gerangan? Malaikat mu lagi? Aku tak bisa melepaskan pandangan ku dari malaikat di depan ku. Tubuh nya tampak begitu indah bak patung Yunani. “Kau tak apa?” Tanya nya heran. “I…Iya.” Kata ku masih tak dapat melepas pandangan ku darinya. “Benarkah? Wajah mu tampak merah.” Kata Pria itu. “Ah!? benarkah?” Kata ku baru keluar dari lamun ku. “Astaga! Mie – nya!!!” Kata ku terkejut baru menyadari mie yang ku bawa jatuh. Aku pun berjongkok merapikan kotak mie ku. “Hm… Ya. Ngomong –ngomong apa itu mie ku?” Tanya nya melihat ku dengan wajah kecewa(?). “Ah… Ya. Maaf. Aku akan segera kembali untuk membawa lagi.” Kata ku menundukan kepala. Bodoh!!!! Kenapa aku harus seperti ini!!! Kyakkk!!! Ini memalukan! “Sayang sekali. Tapi aku sudah lapar. Kau sudah jauh –jauh ke sini juga…” Kata pria dengan wajah Manisnya. Shit! Berapa umurnya!? Dia tampak lebih tua dari ku. Tapi kenapa dia bisa begitu manis?  “Sekali lagi. Aku minta maaf. Aku akan segera kembali membawa yang baru.” Kata ku benar –benar tak tahu apa yang harus ku perbuat. Aku Malu dan sangat terkesima dengan ketampanannya. “Tak usah. Bagaimana  jika kau membuatkan mie di sini saja. Jadi tak akan memakan waktu banyak.” Kata nya tersenyum. “Apa?” Kata ku tak percaya. “Ya. Kau akan memasak di sini. Aku tak bisa menunggu mu lebih lama lagi. Jika kau kembali akan sangat lama bukan? Lebih baik kau masakan mie untuk ku di sini.” Kata Pria itu menjelaskan dengan senyum yang tak lepas dari vivir merah nya itu. “Tapi… Aku hanya di tugaskan mengantarkan makanan. Aku tak pernah memasak mie untuk pelanggan sebelumnya… Aku tak bisa tuan.” Kata ku menolak. “Ayolah… Bukan berarti kamu sama sekali tak bisa masak mie bukan? Aku akan membayar 2 kali lipat jika kau mau memasak untuk ku.” Kata Pria itu memaksa ku. “Tapi…”
Pada akhirnya aku pun memasakan Mie untuknya. Tak ku sangka di dalam kulkasnya penuh dengan beraneka bahan –bahan dan juga makanan. Lalu kenapa ia harus memesan makanan di luar?  Aku pun menyiapkan bahan –bahan yang ku perlukan. Ya Tuhan aku belum pernah memasak untuk pelanggan sebelumnya. Bahkan Ayah ku tak pernah memakan mie ku. Bagaimana jika tak enak? Aku hanya dapat pasrah dan membuat mie yang biasa aku buat untuk diriku. Pria itu melihat ku terus menerus memperhatikan setiap gerakan ku. “Hm… Lebih baik Tuan duduk saja. Biar saya yang mengantarkannya.” Kata ku masih sibuk dengan kegiatan ku. aku sama sekali tak melihatnya bukan karna tak ingin tapi aku hanya tegang. “Tidak. aku ingin membantumu.” Kata nya. “Apa?” Lagi –lagi dia membuat ku terkejut. Sebenarnya apa maunya? “Aku ingin membantu mu. Apa yang bisa saya bantu?” Kata Pria itu. Aku pun menatapnya sejenak lalu mengambil napas panjang. “Baiklah… Coba kau bersihkan ayam ini.” Kata ku memberikan sepiring penuh dengan daging ayam. “Baiklah.” Kata nya menerimanya. Aku pun sedkit tertawa ketika melihatnya membersihkan ayam itu. Sepertinya ia belum pernah melakukannya tampak ia sangat amatir. Ia hanya tersenyum manis membalas tawa ku. Aku pun terdiam melihatnya lalu menyelesaikan tugas ku lagi. Ya Tuhan… Bagaimana aku bisa tenang? Aku benar –benar sangat gugup. “Auchhh!!” Kata nya berteriak. “Ada apa?” Kata ku mendekatinya. “Jariku ter iris.” Katanya menunjukan luka kecil di jarinya. Aku pun spontan langsung menghisap darah di jarinya. “Kau sangat cantik.” Kata nya membuat ku menghentikan kecupan di jarinya Aku pun terdiam melihatnya. “Apa?” Kata ku sangat pelan. “Kau cantik sayang.” Katanya. Apa dia bilang? Aku cantik? Aku terdiam mematung. “Kau akan tampak lebih cantik lagi ketika melepas kaca mata mu itu.” Katanya Pria itu membuka kaca mata ku. “Tuh kan benar.” Katanya tersenyum. “Ah! Mie ku!” Kata ku teringat dengan mie yang ku buat. Dengan segera aku belari mematikan mie ku. “Syukurlah tak gosong.” Kata ku setelah melihat di dalam panci. “Ya syukurlah…” Katanya memeluk ku dari belakang. Aku benar –benar terkejut karna perlakuannya. “Tuan… Apa yang kau lakukan?” Kata ku sedikit canggung. “Aku sangat lapar cantik.” Katanya berbisik di telinga ku. Suara nya benar –benar membuat ku geli. “Sebentar. Aku akan segera menyelesaikannya.” Kata ku mencoba melepaskan pelukannya. “Tidak.” Katanya lagi. mengeratkan kembali pelukannya. “Apa maksud Tuan? Apa tuan tak mau makan?” Kata ku sedikit takut. “Bukan begitu.” Katanya. Perlahan tangan kirinya masuk ke dalam celemek ku. “Jadi?” Tanya ku ragu “Aku ingin memakan mu.” Kata Pria itu berusaha melepaskan kancing celana ku. Aku pun memegang tangannya. “Ku mohon jangan.” Kata ku mencoba menghentikannya. “Kenapa?” Katanya lembut. Aku terdiam. “Apa kau takut?” Tanyanya. Aku mengangguk pelan. Ia pun tengah berhasil membuka kancing celana ku. “Tenang saja. Kau tak perlu takut.” Katanya mencium leherku. Aku pun memejam kan mataku. Entah apa  perasaan ku saat ini. Aku benar –benar tidak tahu apa yang harus ku lakukan. Dengan perlahan tangan kiri meremas kemaluan ku dan lidahnya terus menjilati seluk beluk leherku. “Aku pulang!” Terdengar suara seseorang masuk. “Ah! Dia sudah pulang.” Kata nya menghentikan. kegiatannya “Kak… Apa yang kau lakukan?” Terdengar suara orang yang tadi masuk. Apa!? Apa dia adiknya? Aku dengan segera merapikan celana ku. Aku bingung apa yang harus ku lakukan? Ya Tuhan… Kenapa begini. Aku benar –benar takut. Tak ku sadari air mata ku pun terjatuh. “Apa yang kau lakukan dengannya? Siapa dia?” Tanya pria yang masuk. Aku sama sekali tak berani untuk melihatnya. Aku sungguh Malu dan takut. “Dia anak pemilik restoran Mie.” Jawab Kakaknya datar. “Restoran Mie?” Tanya adiknya tampak sedikit curiga. Tuhan… Apa dia melihatnya? Aku benar –benar takut. “Permisi. Aku sebaiknya pergi.” Kata ku masih tertunduk. Aku menghapus air mata ku lalu belari untuk pergi. “Tungu Seichi –Kun!” Panggilnya menghentikan langkah ku. Apa!? Dia… Dia mengenal ku!? “Apa benar kau Seichi –kun?” Katanya mendekati ku. Aku pun memberanikan diri berbalik melihantnya. Dia tersenyum melihat ku. “Ternyata benar kau. Kenapa kau bisa kemari?” Tanyanya dengan senyum yang menawan. “Xun…” Kata ku menjatuhkan air mata ku kembali. Aku pun langsung memeluknya. “Kau kenapa Sei?” Tanyanya heran. “Kau kenal dia Xun?” Tanya Kakaknya Xun mendekati. “Ya. Dia kekasih ku.” Jawab Xun mengelus rambut ku. “Apa?” Kata Kakaknya Xun tak percaya. “Ya. Dia pacar ku. Kekasih ku. My Boyfriend.” Kata Xun lalu melepas perlahan pelukan ku. Ia pun menatap Kakaknya. “Pacar mu? Benarkah?” Tanya Kakaknya Xun masih tak percaya. “Ya, Nama nya Seichi. Dia yang pernah ku ceritakan pada Kakak.” Kata Xun tersenyum. Dia pernah cerita ke Kakaknya? “Aku tak menyangka. Kalian bisa bertemu secepat ini. padahal aku ingin memperkenalkan Sei Minggu nanti. Tapi…” Xun pun tertawa sedikit. Seperti nya dia tak tahu apa yang telah terjadi. Dia tak tahu apa yang di lakukan Kakaknya kepada ku barusan? “Kau tau dari mana alamat rumah ku?” Kata Xun berbalik bertanya pada ku. “… A… Aku…” Kata ku terbata. Sulit untuk berkata sekarang apa lagi dengan kondisi ku yang tengah Shock. Aku benar –benar tak menyangka jika Pria itu adalah Kakak nya Xun. Bagaimana jika Xun tahu apa yang di lakukan kakaknya kepada ku? Aku takut mereka akan bertengkar. :( “ Seperti yang ku katakan sebelumnya… Dia anak pemilik restoran Mie. Aku memesan makanan dan ia mengantarkannya.” Kata Kakak Xun menjawab pertanyaan Xun. Atmosfer yang di keluarkan Kakaknya Xun kini berbeda dengan sebelumnya. Tampak dingin dan Kaku “Lalu kenapa Seichi –kun bisa masuk ke dalam rumah kita? Bukankah dia hanya mengantar?” Kata Xun yang sepertinya curiga. “Dia terkejut melihat ku tanpa mengenakan baju. Dan akhirnya kotak yang di bawanya jatuh… Karna itu aku menyuruhnya untuk membuat mie di sini.” Jawab Kakaknya Xun jujur. Xun melihat kusekilas. “Sudah ku bilang berapa kali. Kenakan pakaian mu terlebih dahulu ketika ada tamu. Tak bisa kah kau biasakan mengenakan pakaian terlebih dahulu sebelum menghadapi tamu?” Kata Xun menasehati Kakaknya. “Adik ku yang tampan. Aku sudah bosan mendengarkan perkataan mu seperti itu. Memang apa salahnya?” Kata Kakaknya meraih dagu Xun. “Lepaskan Yu’er.” Kata Xun melepas genggaman Kakaknya. “Aku hanya ingin menolong mu Yu’er. Tak lebih.” Kata Xun dengan nada kesal. “Menolong apanya? Jangan sok perhatian pada ku Xun.” Kata Yu’er dengan senyum dingin yang menertawakan. “Sei… Biar ku antar kau pulang.” Kata Xun kepada ku. Ia pun meraih tangan ku. “Aku ikut.” Kata Yu’er. “Buat apa kau ikut?” Kata Xun menatap sinis Yu’er. “Karena aku punya mobil.” Jawab Yu’er dengan mudah. Xun pun mendesah.”Cepatlah.” Kata Xun tampak kesal. Yu’er pun segera pergi ke kamar nya.
Aku dan Xun pun duduk di sofá menunggu Yu ‘er. “ Kau tak apa kan Sayang?” Tanya Xun mengenggam tangan ku. Tangannya yang lembut menggenggam ku dengan erat. Aku mengangguk. Menyenderkan kepala ku ke pundaknya. “Jangan dekati Yu’er.” Kata Xun pelan. “Apa?” Kata ku melihatnya. “Jangan dekati dia…” Kata Xun lagi. “Kenapa?” Kata ku membenarkan posisi duduk ku kembali. “Aku tak suka dia dan entah kenapa aku takut jika kau bersama nya.” Jawab Xun tanpa melihat ku. wajah tertunduk dan mata nya tampak berkaca. “Xun…” Kata ku pelan. Xun memejamkan mata dan menjatuhkan wajahnya dalam kedua telapak tangannya. Aku mengelus pundaknya. Sepertinya ia sedang menangis. Tapi kenapa?             “Ayo cepat Xun!” Kata Yu’er yang sudah selesai mengenakan pakaiannya. “Ya.” Kata Xun mengusap matanya. Tampak matanya sedikit merah. Benar sepertinya ia tadi menangis. Aku dan Xun pun bangkit dari sofá hambir bersamaan. “Kalian benar –benar serasi.” Kata Yu’er dengan senyum menggoda. Matanya menatap ku tajam. “Diam kau! Biar aku yang menyetir.” Kata Xun mengambil kunci di atas meja lalu keluar duluan. “Xun…” Kata ku mengejarnya.

Di perjalanan. Udara di dalam mobil terasa sangat dingin di tambah dengan adanya AC. Aku duduk di sebelah Xun dan Yu’er di belakang. “Oh Ya Sei.” Kata Yu’er memecahkan keheningan. “Ah. Iya?” Kata ku spontan. “Kau sekolah bareng Xun ya?” Kata Yu’er. “Ya. Hanya satu sekolah tapi tak sekelas.” Kata ku menjawab. “Syukurlah.” Kata Yu’er. “Apa maksud mu ‘Syukurlah’?” Tanya Xun ketus. “Sudah berapa lama kalian saling kenal?” Tanya Yu’er menghiraukan pertanyaan Xun. Aku terdiam sejenak melihat Xun yang tampak kesal. “… Baru beberapa hari yang lalu.” Jawab ku ragu. Sebenarnya aku bingung apa harus aku menjawab pertanyaan Yu’er atautidak. Soalnya wajah Xun seperti tak menyukainya. “Wah! Benarkah? Beberapa hari sudah menjalin cinta?” Kata Yu’er menanggapi perkataan ku. Aku hanya mengangguk pelan. “Apa kau tahu… Jika aku dan Xun adalah saudara tiri?” Kata Yu’er mengganti topik pembicaraan. “Diam lah Yu’er!” Bentak Xun tapi matanya tetap fokus kepada jalan. Aku yang mendengarnya sedikit terkejut. “… Kami berdua itu musuh. Dia sangat membenci ku kau tahu kenapa?” Kata Yu’er benar –benar menguji kesabaran Xun. “Yu’er tidak bisakah kau diam!? Kau cerewet sekali!” Kata Xun kesal. “Sudah lah Tuan… Jangan bahas lagi.” Kata ku mulai takut dengan keadaan yang menegang. “Tidak apa. Kau kan pacarnya Xun. Jadi harus tau.” Kata Yu’er. “… Tadi sampai mana? Oh Ya. Dia membenci ku karena Ayah ku adalah suami pertama dari ibu kami…” Kata Yu’er benar –benar keras kepala. Xun pun menyalakan musik dengan kerasnya. Aku hanya terdiam tak tahu apa yang harus ku perbuat. Yu’er tertawa. Suaranya terdengar samar bercampur dengan Alunan keras lagu yang tengah di nyalakan. “Kau benar –benar marah Xun kecil ku? Kau kekanankan sekali.” Kata Yu’er masih dalam tawanya. Xun tak menjawab. “Dan perlu kau ketahui lagi.” Kata Yu’er mematikan lagu. “Bahwa Ayah Xun lah yang telah membunuh Ibu kami.” Kata Yu’er. Aku terkejut mendengarnya. “Xun…” Kata ku melihat Xun yang masih fokus menyetir. Air mata Xun telah memenuhi seluk beluk matanya. Xun pun menghentikan mobil di depan rumah ku. “Ah? Sudah sampai.” Kata ku baru menyadari. “Xun… Aku pamit dulu.” Kataku mengelus tangan Xun. “Iya. Pergilah.” Kata Xun lirih. Sepertinya dia berusaha untuk tidak menangis. “Maaf…” Kata ku bersalah. Entah kenapa aku merasa sangat bersalah kepada nya. “Sebentar…” Kata Yu’er menghentikan ku yang hendak keluar mobil. “Ya?” Kata ku melihat Yu’er. Tiba –tiba. Kecupan lembut di layang kan Yu’er di bibir ku. Aku benar –benar terkejut. Xun pun ikut terkejut melihat kejadian itu. “Lepaskan dia! Yu’er!” Kata Xun mendorong Yu’er ke belakang. Semua pun menjadi hening. Xun melihat Yu’er sinis. Aku hanya dapat terdiam. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar