Author: Yolan
Yolan gak bakal banyak Omong Di Sini. #Gak seperti biasanya? Biarin…. Soalnya Yolan mau kasih Kata –kata dari Sei… Buatan Septian, Tapi… Kayaknya ini sich bukan buat Cerita tapi Buat pacarnya??? @Wew@ #Plakkk!
“Langit tampak cerah Tapi… Kenapa aku merasa begitu
dingin? Waktu terus berjalan Tapi… Kenapa aku merasa hidup ku berhenti? Apa kau
tahu itu semua akan ku rasakan setiap kali aku Tanpa mu? Aku mengerti kita
berbeda dan tak mungkin sama. Tapi… Aku adalah seseorang yang mengharapkan mu
walau aku memaksa mu untuk menjauh dan bersembunyi. Semua itu ku lakukan untuk
melindungi mu… Aku tak ingin kau terluka hanya karena Kau memiliki Diri ku yang
tak berharga ini.”
Hiks,Hiks Kata –katanya membuat
Yolan Nangis nie… :’( Yolan kali ini ingin membuat Konflik lagi (?) dan Sei
yang kembali Luluh akan cinta Xun yang sangat BESAR! :D Horeee! Udah ah~ Yolan
Takut lupa kalo bakal gak Omong Panjang kali ini. Selamat Membaca. :d
“Kau tak apa?” Tanya Xun yang
pertama kali ku dengar ketika aku siuman. Aku mengangguk pelan. “Seichi Apa kau
sakit? Kita ke Rumah Sakit saja ya?” Kata Xun masih mencemaskan ku. “Tak Usah.
Aku baik –baik saja.” Kata ku bangun dengan lemas. “Tapi… “ Kata Xun. “Sudahlah
Xun… Aku tak …” Kata ku terhenti ketika melihat air mata nya sudah memenuhi matanya
yang lembut itu. “Xun… Kau…” Kata ku, Tiba –tiba Xun memelukku dengan erat. Aku
terkejut sejenak. “Aku… Aku sangat mencintai mu… Ku mohon biarkan aku memeluk
mu sejenak… Biarkan aku mencium bau mu lebih dekat…” Kata Xun terdengar seperti
sedang menangis. Apa dia benar –benar menangis? Aku pun melepas pelukannya. Ia
menatap ku heran. Seperti anak kecil yang merindukan Ibunya, dia menatap ku
dengan penuh air mata. Aku juga… Aku juga sangat mencintai mu… Bahkan aku rela
mati sekarang dalam pelukan mu… “Xun…” Tanpa ku sadar tangan ku meraih
wajahnya. Ku dekatkan wajahnya dan ku pun mengecup lembut bibirnya. Perlahan ia
pun memainkan lidahnya menyelusuri rongga di mulut ku.
Pagi. Di kelas. Ku masukan buku ke
dalam tas karena pelajaran jam pertama telah usai sudah. Aku tersenyum sambil
bersenandung kecil. Entah kenapa hati ku merasa sangat bahagia. Apa yang
terjadi dengan ku? Apa aku senang karena telah mengatakannya… Mengatakan bahwa
aku juga sangat mencintai nya dan tak rela kehilangannya?? Oh My God! Dan
akhirnya kami pun berpacaran lagi “Kau
kenapa Seichi tampaknya kau sangat senang?” Tanya seorang teman ku. Aku
menggeleng. “Tak apa. Aku hanya lega saja pelajaran selesai.” Jawab ku masih
tersenyum. “Benarkah? Tak seperti biasanya.” Kata teman ku ikut tersenyum. Aku
hanya membalas senyumnya.
Seperti biasa aku melangkah kan kaki
mencari Xun ketika istirahat tiba. Tapi… Kemana dia? Sudah banyak tempat aku
cari. Dia tak ada di mana –mana. Dengan rasa kecewa aku berusaha mencarinya di
halaman belakang. Tak ada…? Ya Tuhan… Kemana dia? Terdengar suara napas ku yang
sudah terengah dan dapat ku rasakan keringat ku yang sudah membasahi kemeja ku.
Langkah ku pun perlahan mencarinya lagi. ku lihat ada Gudang. Apa aku akan
menemukannya? Di tempat itu… Mungkin bodoh. Tapi langkah ku tetap mencarinya di
dalam. “Xun…” Panggil ku pelan membuka pintu gudang yang sudah berkarat. Tampak
ruangan yang gelap dan juga lembab. Aku pun perlahan masuk ke dalam. Banyak
barang yang tak terpakai yang dapat ku temui. “Apa ini?” Kata ku mengambil
boneka kelinci yang sudah rusak dan kusam. Brukkk!! Terdengar pintu Gudang
tertutup dengan kasar. “Ah!?” Kata ku terkejut melihat ke arah pintu yang telah
tertutup. Dengan segera aku menuju pintu. “Ya Tuhan! Terkunci!?” Kata ku tak
percaya pintu terkunci. Aku pun berusaha membukanya dengan kuat. “Sial.” Kata
ku yang tak bisa membukanya. Terdengar samar suara orang di balik pintu, aku
pun mendekatkan kuping ku agar dapat mendengar siapa dia. Walau terdengar samar
aku bisa mengetahui itu adalah suara Steven dan Reza!!! Kyakkk! Mereka lagi!?
Apa mau mereka? “Kyakkkk!!! Cepat buka pintunya Steven! Reza!!” Kata ku memukul
pintu Gudang. Tak ada jawaban. Bel Sekolah pun berbunyi. “Apa!? Sudah masuk?”
Kataku mulai cemas. Terdengar suara langkah belari pergi menjauh. Aku pun
menjatuhkan diri ku. Aku pasrah dengan apa yang terjadi. AKu hanya dapat
menangis. Sepertinya sampai kapan ku aku tak akan pernah berhasil seperti
sebelumnya… Mungkin ini saat nya aku mati
“Hah~~” Kata ku menghela napas panjang. Aku mengubah posisi ku menjadi
tidur. Merasakan lantai yang begitu dingin. Aku memeluk boneka kelinci yang ku
temukkan sebelumnya. Dengan suara lirih aku bersenandung. Air mata ku mengalir
begitu saja. Sampai malam pun akhirnya datang.
Mata ku menjadi sembab, Karena
menangis terus. Bahkan suara ku habis… Mungkin karena Dehidrasi atau tidak
karena terus bernyanyi untuk menghibur hati? Yang pasti… Aku hanya dapat
pasrah. Aku buka Hand Phone ku yang berwalpaper Xun. “Xun…” Kata ku
mengingatnya. Aku pun bangun dari posisi tidur ku.”Akhhhh…” Kata ku sakit
Terasa kaki ku sangat kaku. Sepertinya kram karena sedari tadi kaki ku berada
di posisi yang sama. Aku pun berusaha untuk bangkit sambil menahan sakit di
kaki ku. Mata dengan segera mencari –cari barang yang bisa membantu ku. Ada apa
dengan diriku? Beberapa Jam yang lalu… Aku sangat putus asa dan berpikir ingin
mati saja disini. Tapi… Sekarang setelah hanya melihat wallpaper Xun. Aku
berniat untuk Keluar? Oh Tuhan… Kenapa dengan ku… Apa aku benar –benar tak
ingin mati karena nya? Aku pun menemukan sebalok kayu dengan tenaga yang
tersisa aku ambil balok kayu itu. Lalu aku pun memukul Pintu dengan keras agar
terbuka. “Kyakkk!!!” Kata ku berusaha. Tapi… Pintu terbuka. Pukulan balok yang
ku layangkan tak sengaja mengenai seseorang yang membuka pintu. “Akkkhh!!”
Teriaknya kesakitan, Ia mundur beberapa langkah. “Kau tak apa?” Kata temannya
melihat nya berdarah. “Sialan Kamu sei!” Kata Steven menahan sakit akibat
pukulan di kepalanya. “Ah… Ma…” Aku menghentikan perkataan dan berpikir lagi.
Buat apa aku meminta maaf? Mereka yang mengunci ku… Mereka pantas
mendapatkannya. “Rasakan itu!” Kata ku mengubah nada suara. “Apa!?” Kata Reza
kesal. “Hajar dia!” Kata Steven. Mereka pun memukul ku hingga terjatuh, Kayu
balok yang ku pegang pun dengan mudah mereka rebut dari tangan lemah ku.
“Shit!” Kata ku Tahu tak bisa berbuat banyak. Steven pun memukul balok ke
kepala ku dengan keras. Seketika darah keluar dan Spontan aku menjerit
kesakitan. “Rasakan! Itu balasan nya karena telah memukul Ku.” Kata Steven
dengan tawa. “Seichi –kun!?” Terdengar suara yang menghampiri ku. “Xun!?” Kata
ku tak percaya. “Apa yang kalian lakukan Huh!?” Kata Xun memelukku. “Kenapa kau
di sini? Memang nya dia siapa mu!? Dia hanya lah serangga yang tak berguna!” Kata
Reza memaki. “Aishh … Kurang ajar…” Kata Xun tampak kesal. Tangan ku
menghalangi nya yang ingin bangkit. ia pun menatap ku. Aku menggeleng. Jangan…
Jangan bertengkar dan buat masalah… Dia menatap ku sejenak, lalu melepas tangan
ku yang lemas. “Ohw Ya? Kita lihat siapa lebih rendah… Kami si serangga, Atau
kalian yang sampah?” Kata Xun dengan nada menghina. Aku hanya dapat menghela
napas panjang, Pasrah apa yang terjadi.
“Kau tak apa?” Tanya Xun kepada ku
yang di gendong di belakang punggungnya.
Aku mengangguk. “Maaf…” Kata ku dengan air mata. Karena aku… Dia terluka
… karena aku dia harus berkelahi … Apa yang harus ku lakukan? Bagaimana jika
Steven dan Reza membuat cerita seakan –akan mereka yang di serang? Dan akhirnya
nama Baik Xun hancur seketika hanya karena diri ku … Oh Tuhan!! Seberapa tidak
bergunanya aku? “Sei… Jangan menangis lagi, Sebentar lagi kita akan pulang…Dan
kau bisa istirahat dengan nyaman.” Kata Xun yang lebih menkhawatirkan luka ku
di banding dirinya sendiri.
Di apartemen Xun. “Kyakkkk!!!
Akhirnya sampai juga!” Kata Xun menjatuhkan diri di sofá. “Hm… Xun, Aku mandi
dulu ya?” Kata ku meminta ijin. “Ya, setelah itu sembuhkan dirimu…” Kata Xun
tersenyum ke arah ku. Entah kenapa senyumnya itu… Senyum hangat yang benar
–benar menakjubkan membuat hati ku meleleh seketika. “A… A… Aku mengerti.” Kata
terbata –bata karena Salah tingkah.
Setelah mandi. Xun langsung
mengobati ku. “Kepala mu pasti sangat sakit sekali.” Kata Xun membalut luka ku
dengan perban. Aku hanya diam tak menjawab. “Besok… Aku ingin mengajak mu ke
taman bermain. Kau mau Seichi –kun?” Tanya Xun dengan senyuman lembutnya yang
lagi –lagi sukses membuat ku terpana.”A… Ya.” Jawab ku spontan. “Kalau begitu…
Sekarang kita tidur, Ayo pangeran kecil ku.” Kata Xun yang tiba –tiba menggendong
ku. Aku terkejut dan sedkit berteriak karena terkejut. “A… Apa yang kau
lakukan?” Kata ku sedikit gugup. “Membawa mu ke ranjang My Darling…” Kata Xun
dengan Senyum nakalnya. Deg!
Paginya. Sesuai janji Xun ia
mengajak ku untuk pergi ke taman bermain. Tapi … Aku merasa belum siap, Karena…
Semalam aku di buat tak bisa tidur oleh Xun. =_=a Bukan karena tingkahnya tapi
kehadiran nya. Jantung ku terus berdetak tak karuan mengingat dia tidur
seranjang dengan ku. Oh Tuhan!?
Malam sebelumnya. “Tidurlah…” Kata
ku Xun membaringkan ku di ranjang Bak Seorang Suami yang menggendong istri nya
dan siap untuk melakukan malam pertama (?) 0/////0)/ Ada apa dengan ku? Ya
Tuhan… Dia pun duduk di sebelah ku. “Selamat malam Manis…” Kata Xun mendekati
wajah nya kepada ku. AKu pun menutup mata ku. Chu~ Ciuman ringan ia layangkan di kening ku.
Sesaat aku masih memejamkan mata ku hingga akhirnya hela napas nya tak terasa
lagi… “Ah…” Kata ku tak percaya. Aku sudah memikirkan yang tidak –tidak. Aku
pikir dia akan melakukan… Melakukannya!? Tapi… Sampai pagi pun tak ada hal yang
terjadi… Padahal aku sudah Was Was dan siap kan hati. Mungkin saja malam itu
aku tidak perjaka lagi? (o.Laaaa~~~.o)
“Kau kenapa Seichi –kun? Apa kau tak
enak badan?” Tanya Xun khawatir. “Ah? Tidak apa.” Jawab ku yang setengah jiwa
ku masih tertinggal dengan pikiran gila ku. “… Jika kau sakit … Kita undur saja
acaranya.” Kata Xun yang benar –benar mencemaskan keadaan ku. “Tak apa kok.
Kamu tak percaya aku ya?” Kata Ku sedikit tak nyaman atas tingkah nya yang
terlalu mencemaskan ku. Ya… Walau pun aku senang juga ada yang memperhatikan
ku… Selama ini, aku belum pernah di perhatikan sampai seperti ini. “Tidak… Ayo
kita pergi.” Kata ku belari agar dia mengikutiku. Ia tersenyum lalu berlari
mengejarku. “Hey! Tunggu Seichi –kun!”
“Hm… Kamu mau naik ini?” Kata Xun
memperlihatkan peta Wahana bermain. “Hm …” Aku menggeleng. “Bagaimana dengan
ini? Kita akan naik ke atas kira –kira 8 Meter dan turun dengan cepat?” Kata
Xun memberitahu Wahana. “Tidak… Bagaimana dengan ini? Apa ini?” Kata ku
menunjuk salah satu Wahana di peta. “Ini … Kita akan di guncangkan berputar
seperti Kapal dalam Ombak? Kau tahu?” Kata Xun menjelaskan dengan senyum. “Ah…
Tidak jadi, Yang lain saja.” Kata ku mencari –cari lagi wahana di peta. “Bagaimana
dengan ini? Pasti menyenangkan… Walau nanti kita akan ganti baju setelah ini
karena basah.” Kata Xun antusias. Aku terdiam sejenak, Berpikir apa yang ingin
dia lakukan setelah wahana itu. Kyakkk! Kenapa pikiran kotor selalu menyelimuti
otak ku ketika bersama nya?? “Ng … Yang ini? Apa ini?” Kata ku menghiraukannya
dan beralih melihat Peta lagi. “…? Ah? Itu … Dunia cermin … Banyak cermin di
sana dan seperti labirin kita akan mencari jalan keluar.” Jawab Xun. “Jangan
yang itu … Aku tidak mau.” Kata ku. “Hm … Lalu yang mana? Yang ini?” Kata Xun
menunjuk salah satu wahana. Aku menggeleng dengan bibir cemberut ku. Xun
menghela napas. “Baiklah … Kita jalan –jalan saja dulu. Sekalian kita lihat
wahana lalu berpikir apa kita akan menaikinya atau tidak.” Kata Xun. “… Xun,
boleh tanya sesuatu?” Kata ku sedikit khawatir. Dia menatap ku sejenak. “Ya apa
itu?” Tanya nya. “Hm … Kau marah ya?” Tanya ku. Entah kenapa aku merasa dia
marah karena sikap ku dan membuatnya jadi bosan. Dia diam sejenak lalu tertawa.
“Kau ini … ada –ada saja. Buat apa aku marah kepada mu?” Kata Xun mengacak
rambut ku. “Ihhh …” Kata ku manja merapikan rambut. “Oh … Ya, Aku punya hadiah
kecil untuk mu.” Kata Xun mengeluarkan sesuatu dalam sakunya. “Tarraaaa…” Kata
Xun menunjukan dua gelang pasangan. “Apa ini?” Tanya ku menatap matanya. “Ini …
Tanda Couple kita. Dengan ini … Orang lain tak boleh mendekati mu karena kau
sudah menjadi kekasih ku.” Kata Xun menggenakan gelang di tangan ku. Gelang
kayu berwarna coklat dengan Tali hitam yang menjadi pengikat dan ukiran ‘X
Still For Me.’ Dan yang lainya bertulis ‘Me Still for S.’ “Bagaimana? Apa kau
suka?” Tanya Xun. Aku menggangguk dengan senyum. “Dan satu lagi … Selama di
Arena ini … Kita tak boleh terpisah dan jangan lupa saling menggenggam tangan yang
lainnya kemana pun kita pergi. Oke?” Kata Xun menggenggam tangan ku. … “Apa
sich?” Kata ku ketus. Xun melihat ku dengan heran. “Berani nya membuat
peraturan tanpa aku tahu.” Kata ku dengan senyum manja. Xun hanya membalas
dengan tawa kecil.
Banyak Wahana yang aku tolak, dan
ada juga yang aku tolak mentah –mentah :p Aku langsung kabur menariknya.
Hahahahaha , Alasannya sich banyaaakk … dari diriku yang takut ketinggian,Takut
gelap, tak mau basah, tak mau pusing karena harus berputar –putar, Tak suka ini
, Tak suka itu … Bla bla bla Pokonya banyak. Tapi Xun sama sekali tak pernah
mengeluh dan per masalahkan hal itu dan hanya tertawa atau tersenyum.
Terimakasih … Kata yang ingin ku ucapkan dan sekarang waktunya makan siang.
“Hahahaha bagaimana? Apa kau senang?” Tanya Xun memakan kentang gorengnya. “Kau
pasti yang tidak senang …” Kata ku dengan wajah bersalah. “Eh? Kamu ini kenapa?
Sudahlah … Lagi pula aku sudah bosan, semuanya sudah aku naiki.” Kata Xun masih
asyik dengan kentang nya. “Benarkah? Memangnya sudah berapa kali kau datang ke
sini?” Tanya ku. “Hm … Tak terhitung.” Katanya dengan tawa. “Apa?” Kata ku tak
percaya. “Yup… Hampir setiap ada waktu, Aku akan datang kesini. Dan ada
beberapa wahana yang sudah ku naiki berpuluh kali.” Lanjutnya. “Uhuk…” Kata ku
yang sedang minum pun tersedak karena mendengarnya. “Yang benar saja? Lalu
kenapa kau ajak aku kesini? Jika seperti itu … Pasti kau sudah bosan kemari
bukan?” Kata ku dengan nada sedikit tinggi. Dia menggeleng. “Justru aku punya
alasan yang pasti . Karena alasan itu, Aku tak pernah bosan untuk datang,
karena alasan itu, menjadikan tempat ini menjadi tempat yang berharga untuk ku,
karena alasan itu aku mengajak mu kemari.” Kata Xun dengan senyum menjawab ku.
“Lalu… Alasan apa itu?” Kata ku sedikit melunak. “ … Keluarga,” Jawabnya.
“Apa?” Tanya ku tak mengerti. “ … Di tempat ini keluarga ku pernah tersenyum
dan juga menangis.” Kata Xun melanjutkan. “Apa maksud mu?” Tanya ku yang
penasaran. “Dulu … Aku dan keluarga ku sering berkunjung kemari setiap ada wahana
baru dan Kami selalu senang dan semua tampak sangat indah tapi suatu waktu kami
mengalami musibah salah satu wahana mengalami kerusakan dan jatuh. Kebetulan
saat itu orang tua ku menaiki wahana itu dan mereka pun menjadi korban.” Kata
Xun tersenyum miris. Aku terdiam mendengarnya. Aku merasa sangat bersalah.
“Maaf …” Kata ku. Xun menggeleng. “Ayo … Kita lanjutkan lagi.” Kata Xun bangkit
dari kursinya. “Xun …”
Kami pun melanjutkan acara kami yang
sempat tertunda karena acara makan siang. Tangan hangat nya tak pernah lepas
menggenggam ku. “Xun … Boleh aku tanya sesuatu?” Tanya ku menghentikan
langkahnya. “Ya? Apa itu?” Tanya Xun balik. “Maaf sebelumnya … Jika kau tak
suka kau tak apa tak menjawab.” Kata ku sebelum bertanya. Xun hanya menunggu
pertanyaan. “ … Wahana apa yang di naiki oleh orang tua mu?” Tanya ku. Xun
terdiam sebelum menjawab. “Wahana yang pertama kali kau tolak.” Jawab Xun
dengan tawa. “Pertama kali?” Tanya ku menyakinkan. Xun mengangguk. “Ya…
Gondola.” Kata Xun memastikan jawaban. “Lalu kenapa kau menyarankannya
pertama?” Tanya ku. “Karena wahana itu yang ku lihat pertama kali di peta.”
Jawab Xun asal. “Ahhh… Jawab yang benar.” Kata ku kesal. “… Entahlah. Aku hanya
ingin bertanya. Tapi untung kau menolaknya.” Kata Xun. “Bagaimana jika tidak?
Jika aku tak menolaknya dan memaksa untuk naik.” Tanya ku kepada nya. “Ayo …
Itu jawaban ku.” Kata Xun. “Tapi … Bukankah wahana itu …” Kata ku menatapnya
dengan sedih. “Kenapa? Jika kau mau apa salahnya? Walau aku takut setengah mati
naik wahana tersebut tapi jika kau mau, aku akan naik dan jika akhirnya kita
akan jatuh sama seperti Orang Tua ku, Kita pasti akan mati dalam cinta abadi
kita.” Kata Xun menjawab.
Kami pun berbelanja beberapa barang
untuk di bawa pulang. Dan setelah itu kami berniat untuk pulang. Tiba –tiba aku
merasa berputar seakan –akan di ombang ambing oleh Ombak badai. Pandangan ku
pun menggelap , keringat dingin pun jatuh. Rasanya kepala ku sangat sakit. Kaki
ku pun tiba –tiba berhenti dan ngenggaman ku terlepas darinya. Banyak kerumunan
yang beralu lalang di sekitar kami. “Ada apa?” Tanya Xun pelan. Ia pun kembali
mendekati ku. “Pergilah…” Kata ku mengusirnya. “… Sudah ku bilang dari awal
kan!? Kita akan bersama dan berpengangan hingga pulang!” Katanya dengan nada
sedikit tinggi. Aku pun terhentak dan bahkan pandangan orang –orang pun tertuju ke kami. Dapat
terlihat samar wajah Tampan Xun begitu tegas. Air mata jatuh tanpa ku sadar.
“Bodoh.” Kata ku tiba –tiba jatuh pingsan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar