Kamis, 09 Juli 2015

Aishiteru Yo!! (Part 5)

Author: Yolan
            Yolan gak bakal banyak Omong Di Sini.  #Gak seperti biasanya? Biarin…. Soalnya Yolan mau kasih Kata –kata dari Sei… Buatan Septian, Tapi… Kayaknya ini sich bukan buat Cerita tapi Buat pacarnya??? @Wew@ #Plakkk!


 “Langit tampak cerah Tapi… Kenapa aku merasa begitu dingin? Waktu terus berjalan Tapi… Kenapa aku merasa hidup ku berhenti? Apa kau tahu itu semua akan ku rasakan setiap kali aku Tanpa mu? Aku mengerti kita berbeda dan tak mungkin sama. Tapi… Aku adalah seseorang yang mengharapkan mu walau aku memaksa mu untuk menjauh dan bersembunyi. Semua itu ku lakukan untuk melindungi mu… Aku tak ingin kau terluka hanya karena Kau memiliki Diri ku yang tak berharga ini.”
            Hiks,Hiks Kata –katanya membuat Yolan Nangis nie… :’( Yolan kali ini ingin membuat Konflik lagi (?) dan Sei yang kembali Luluh akan cinta Xun yang sangat BESAR! :D Horeee! Udah ah~ Yolan Takut lupa kalo bakal gak Omong Panjang kali ini. Selamat Membaca. :d

            “Kau tak apa?” Tanya Xun yang pertama kali ku dengar ketika aku siuman. Aku mengangguk pelan. “Seichi Apa kau sakit? Kita ke Rumah Sakit saja ya?” Kata Xun masih mencemaskan ku. “Tak Usah. Aku baik –baik saja.” Kata ku bangun dengan lemas. “Tapi… “ Kata Xun. “Sudahlah Xun… Aku tak …” Kata ku terhenti ketika melihat air mata nya sudah memenuhi matanya yang lembut itu. “Xun… Kau…” Kata ku, Tiba –tiba Xun memelukku dengan erat. Aku terkejut sejenak. “Aku… Aku sangat mencintai mu… Ku mohon biarkan aku memeluk mu sejenak… Biarkan aku mencium bau mu lebih dekat…” Kata Xun terdengar seperti sedang menangis. Apa dia benar –benar menangis? Aku pun melepas pelukannya. Ia menatap ku heran. Seperti anak kecil yang merindukan Ibunya, dia menatap ku dengan penuh air mata. Aku juga… Aku juga sangat mencintai mu… Bahkan aku rela mati sekarang dalam pelukan mu… “Xun…” Tanpa ku sadar tangan ku meraih wajahnya. Ku dekatkan wajahnya dan ku pun mengecup lembut bibirnya. Perlahan ia pun memainkan lidahnya menyelusuri rongga di mulut ku.
            Pagi. Di kelas. Ku masukan buku ke dalam tas karena pelajaran jam pertama telah usai sudah. Aku tersenyum sambil bersenandung kecil. Entah kenapa hati ku merasa sangat bahagia. Apa yang terjadi dengan ku? Apa aku senang karena telah mengatakannya… Mengatakan bahwa aku juga sangat mencintai nya dan tak rela kehilangannya?? Oh My God! Dan akhirnya kami pun berpacaran lagi  “Kau kenapa Seichi tampaknya kau sangat senang?” Tanya seorang teman ku. Aku menggeleng. “Tak apa. Aku hanya lega saja pelajaran selesai.” Jawab ku masih tersenyum. “Benarkah? Tak seperti biasanya.” Kata teman ku ikut tersenyum. Aku hanya membalas senyumnya.
            Seperti biasa aku melangkah kan kaki mencari Xun ketika istirahat tiba. Tapi… Kemana dia? Sudah banyak tempat aku cari. Dia tak ada di mana –mana. Dengan rasa kecewa aku berusaha mencarinya di halaman belakang. Tak ada…? Ya Tuhan… Kemana dia? Terdengar suara napas ku yang sudah terengah dan dapat ku rasakan keringat ku yang sudah membasahi kemeja ku. Langkah ku pun perlahan mencarinya lagi. ku lihat ada Gudang. Apa aku akan menemukannya? Di tempat itu… Mungkin bodoh. Tapi langkah ku tetap mencarinya di dalam. “Xun…” Panggil ku pelan membuka pintu gudang yang sudah berkarat. Tampak ruangan yang gelap dan juga lembab. Aku pun perlahan masuk ke dalam. Banyak barang yang tak terpakai yang dapat ku temui. “Apa ini?” Kata ku mengambil boneka kelinci yang sudah rusak dan kusam. Brukkk!! Terdengar pintu Gudang tertutup dengan kasar. “Ah!?” Kata ku terkejut melihat ke arah pintu yang telah tertutup. Dengan segera aku menuju pintu. “Ya Tuhan! Terkunci!?” Kata ku tak percaya pintu terkunci. Aku pun berusaha membukanya dengan kuat. “Sial.” Kata ku yang tak bisa membukanya. Terdengar samar suara orang di balik pintu, aku pun mendekatkan kuping ku agar dapat mendengar siapa dia. Walau terdengar samar aku bisa mengetahui itu adalah suara Steven dan Reza!!! Kyakkk! Mereka lagi!? Apa mau mereka? “Kyakkkk!!! Cepat buka pintunya Steven! Reza!!” Kata ku memukul pintu Gudang. Tak ada jawaban. Bel Sekolah pun berbunyi. “Apa!? Sudah masuk?” Kataku mulai cemas. Terdengar suara langkah belari pergi menjauh. Aku pun menjatuhkan diri ku. Aku pasrah dengan apa yang terjadi. AKu hanya dapat menangis. Sepertinya sampai kapan ku aku tak akan pernah berhasil seperti sebelumnya… Mungkin ini saat nya aku mati  “Hah~~” Kata ku menghela napas panjang. Aku mengubah posisi ku menjadi tidur. Merasakan lantai yang begitu dingin. Aku memeluk boneka kelinci yang ku temukkan sebelumnya. Dengan suara lirih aku bersenandung. Air mata ku mengalir begitu saja. Sampai malam pun akhirnya datang.
            Mata ku menjadi sembab, Karena menangis terus. Bahkan suara ku habis… Mungkin karena Dehidrasi atau tidak karena terus bernyanyi untuk menghibur hati? Yang pasti… Aku hanya dapat pasrah. Aku buka Hand Phone ku yang berwalpaper Xun. “Xun…” Kata ku mengingatnya. Aku pun bangun dari posisi tidur ku.”Akhhhh…” Kata ku sakit Terasa kaki ku sangat kaku. Sepertinya kram karena sedari tadi kaki ku berada di posisi yang sama. Aku pun berusaha untuk bangkit sambil menahan sakit di kaki ku. Mata dengan segera mencari –cari barang yang bisa membantu ku. Ada apa dengan diriku? Beberapa Jam yang lalu… Aku sangat putus asa dan berpikir ingin mati saja disini. Tapi… Sekarang setelah hanya melihat wallpaper Xun. Aku berniat untuk Keluar? Oh Tuhan… Kenapa dengan ku… Apa aku benar –benar tak ingin mati karena nya? Aku pun menemukan sebalok kayu dengan tenaga yang tersisa aku ambil balok kayu itu. Lalu aku pun memukul Pintu dengan keras agar terbuka. “Kyakkk!!!” Kata ku berusaha. Tapi… Pintu terbuka. Pukulan balok yang ku layangkan tak sengaja mengenai seseorang yang membuka pintu. “Akkkhh!!” Teriaknya kesakitan, Ia mundur beberapa langkah. “Kau tak apa?” Kata temannya melihat nya berdarah. “Sialan Kamu sei!” Kata Steven menahan sakit akibat pukulan di kepalanya. “Ah… Ma…” Aku menghentikan perkataan dan berpikir lagi. Buat apa aku meminta maaf? Mereka yang mengunci ku… Mereka pantas mendapatkannya. “Rasakan itu!” Kata ku mengubah nada suara. “Apa!?” Kata Reza kesal. “Hajar dia!” Kata Steven. Mereka pun memukul ku hingga terjatuh, Kayu balok yang ku pegang pun dengan mudah mereka rebut dari tangan lemah ku. “Shit!” Kata ku Tahu tak bisa berbuat banyak. Steven pun memukul balok ke kepala ku dengan keras. Seketika darah keluar dan Spontan aku menjerit kesakitan. “Rasakan! Itu balasan nya karena telah memukul Ku.” Kata Steven dengan tawa. “Seichi –kun!?” Terdengar suara yang menghampiri ku. “Xun!?” Kata ku tak percaya. “Apa yang kalian lakukan Huh!?” Kata Xun memelukku. “Kenapa kau di sini? Memang nya dia siapa mu!? Dia hanya lah serangga yang tak berguna!” Kata Reza memaki. “Aishh … Kurang ajar…” Kata Xun tampak kesal. Tangan ku menghalangi nya yang ingin bangkit. ia pun menatap ku. Aku menggeleng. Jangan… Jangan bertengkar dan buat masalah… Dia menatap ku sejenak, lalu melepas tangan ku yang lemas. “Ohw Ya? Kita lihat siapa lebih rendah… Kami si serangga, Atau kalian yang sampah?” Kata Xun dengan nada menghina. Aku hanya dapat menghela napas panjang, Pasrah apa yang terjadi.
            “Kau tak apa?” Tanya Xun kepada ku yang di gendong di belakang punggungnya.  Aku mengangguk. “Maaf…” Kata ku dengan air mata. Karena aku… Dia terluka … karena aku dia harus berkelahi … Apa yang harus ku lakukan? Bagaimana jika Steven dan Reza membuat cerita seakan –akan mereka yang di serang? Dan akhirnya nama Baik Xun hancur seketika hanya karena diri ku … Oh Tuhan!! Seberapa tidak bergunanya aku? “Sei… Jangan menangis lagi, Sebentar lagi kita akan pulang…Dan kau bisa istirahat dengan nyaman.” Kata Xun yang lebih menkhawatirkan luka ku di banding dirinya sendiri.

            Di apartemen Xun. “Kyakkkk!!! Akhirnya sampai juga!” Kata Xun menjatuhkan diri di sofá. “Hm… Xun, Aku mandi dulu ya?” Kata ku meminta ijin. “Ya, setelah itu sembuhkan dirimu…” Kata Xun tersenyum ke arah ku. Entah kenapa senyumnya itu… Senyum hangat yang benar –benar menakjubkan membuat hati ku meleleh seketika. “A… A… Aku mengerti.” Kata terbata –bata karena Salah tingkah.
            Setelah mandi. Xun langsung mengobati ku. “Kepala mu pasti sangat sakit sekali.” Kata Xun membalut luka ku dengan perban. Aku hanya diam tak menjawab. “Besok… Aku ingin mengajak mu ke taman bermain. Kau mau Seichi –kun?” Tanya Xun dengan senyuman lembutnya yang lagi –lagi sukses membuat ku terpana.”A… Ya.” Jawab ku spontan. “Kalau begitu… Sekarang kita tidur, Ayo pangeran kecil ku.” Kata Xun yang tiba –tiba menggendong ku. Aku terkejut dan sedkit berteriak karena terkejut. “A… Apa yang kau lakukan?” Kata ku sedikit gugup. “Membawa mu ke ranjang My Darling…” Kata Xun dengan Senyum nakalnya. Deg!
            Paginya. Sesuai janji Xun ia mengajak ku untuk pergi ke taman bermain. Tapi … Aku merasa belum siap, Karena… Semalam aku di buat tak bisa tidur oleh Xun. =_=a Bukan karena tingkahnya tapi kehadiran nya. Jantung ku terus berdetak tak karuan mengingat dia tidur seranjang dengan ku. Oh Tuhan!? 
            Malam sebelumnya. “Tidurlah…” Kata ku Xun membaringkan ku di ranjang Bak Seorang Suami yang menggendong istri nya dan siap untuk melakukan malam pertama (?) 0/////0)/ Ada apa dengan ku? Ya Tuhan… Dia pun duduk di sebelah ku. “Selamat malam Manis…” Kata Xun mendekati wajah nya kepada ku. AKu pun menutup mata ku. Chu~  Ciuman ringan ia layangkan di kening ku. Sesaat aku masih memejamkan mata ku hingga akhirnya hela napas nya tak terasa lagi… “Ah…” Kata ku tak percaya. Aku sudah memikirkan yang tidak –tidak. Aku pikir dia akan melakukan… Melakukannya!? Tapi… Sampai pagi pun tak ada hal yang terjadi… Padahal aku sudah Was Was dan siap kan hati. Mungkin saja malam itu aku tidak perjaka lagi? (o.Laaaa~~~.o)
            “Kau kenapa Seichi –kun? Apa kau tak enak badan?” Tanya Xun khawatir. “Ah? Tidak apa.” Jawab ku yang setengah jiwa ku masih tertinggal dengan pikiran gila ku. “… Jika kau sakit … Kita undur saja acaranya.” Kata Xun yang benar –benar mencemaskan keadaan ku. “Tak apa kok. Kamu tak percaya aku ya?” Kata Ku sedikit tak nyaman atas tingkah nya yang terlalu mencemaskan ku. Ya… Walau pun aku senang juga ada yang memperhatikan ku… Selama ini, aku belum pernah di perhatikan sampai seperti ini. “Tidak… Ayo kita pergi.” Kata ku belari agar dia mengikutiku. Ia tersenyum lalu berlari mengejarku. “Hey! Tunggu Seichi –kun!”
            “Hm… Kamu mau naik ini?” Kata Xun memperlihatkan peta Wahana bermain. “Hm …” Aku menggeleng. “Bagaimana dengan ini? Kita akan naik ke atas kira –kira 8 Meter dan turun dengan cepat?” Kata Xun memberitahu Wahana. “Tidak… Bagaimana dengan ini? Apa ini?” Kata ku menunjuk salah satu Wahana di peta. “Ini … Kita akan di guncangkan berputar seperti Kapal dalam Ombak? Kau tahu?” Kata Xun menjelaskan dengan senyum. “Ah… Tidak jadi, Yang lain saja.” Kata ku mencari –cari lagi wahana di peta. “Bagaimana dengan ini? Pasti menyenangkan… Walau nanti kita akan ganti baju setelah ini karena basah.” Kata Xun antusias. Aku terdiam sejenak, Berpikir apa yang ingin dia lakukan setelah wahana itu. Kyakkk! Kenapa pikiran kotor selalu menyelimuti otak ku ketika bersama nya?? “Ng … Yang ini? Apa ini?” Kata ku menghiraukannya dan beralih melihat Peta lagi. “…? Ah? Itu … Dunia cermin … Banyak cermin di sana dan seperti labirin kita akan mencari jalan keluar.” Jawab Xun. “Jangan yang itu … Aku tidak mau.” Kata ku. “Hm … Lalu yang mana? Yang ini?” Kata Xun menunjuk salah satu wahana. Aku menggeleng dengan bibir cemberut ku. Xun menghela napas. “Baiklah … Kita jalan –jalan saja dulu. Sekalian kita lihat wahana lalu berpikir apa kita akan menaikinya atau tidak.” Kata Xun. “… Xun, boleh tanya sesuatu?” Kata ku sedikit khawatir. Dia menatap ku sejenak. “Ya apa itu?” Tanya nya. “Hm … Kau marah ya?” Tanya ku. Entah kenapa aku merasa dia marah karena sikap ku dan membuatnya jadi bosan. Dia diam sejenak lalu tertawa. “Kau ini … ada –ada saja. Buat apa aku marah kepada mu?” Kata Xun mengacak rambut ku. “Ihhh …” Kata ku manja merapikan rambut. “Oh … Ya, Aku punya hadiah kecil untuk mu.” Kata Xun mengeluarkan sesuatu dalam sakunya. “Tarraaaa…” Kata Xun menunjukan dua gelang pasangan. “Apa ini?” Tanya ku menatap matanya. “Ini … Tanda Couple kita. Dengan ini … Orang lain tak boleh mendekati mu karena kau sudah menjadi kekasih ku.” Kata Xun menggenakan gelang di tangan ku. Gelang kayu berwarna coklat dengan Tali hitam yang menjadi pengikat dan ukiran ‘X Still For Me.’ Dan yang lainya bertulis ‘Me Still for S.’ “Bagaimana? Apa kau suka?” Tanya Xun. Aku menggangguk dengan senyum. “Dan satu lagi … Selama di Arena ini … Kita tak boleh terpisah dan jangan lupa saling menggenggam tangan yang lainnya kemana pun kita pergi. Oke?” Kata Xun menggenggam tangan ku. … “Apa sich?” Kata ku ketus. Xun melihat ku dengan heran. “Berani nya membuat peraturan tanpa aku tahu.” Kata ku dengan senyum manja. Xun hanya membalas dengan tawa kecil.
            Banyak Wahana yang aku tolak, dan ada juga yang aku tolak mentah –mentah :p Aku langsung kabur menariknya. Hahahahaha , Alasannya sich banyaaakk … dari diriku yang takut ketinggian,Takut gelap, tak mau basah, tak mau pusing karena harus berputar –putar, Tak suka ini , Tak suka itu … Bla bla bla Pokonya banyak. Tapi Xun sama sekali tak pernah mengeluh dan per masalahkan hal itu dan hanya tertawa atau tersenyum. Terimakasih … Kata yang ingin ku ucapkan dan sekarang waktunya makan siang. “Hahahaha bagaimana? Apa kau senang?” Tanya Xun memakan kentang gorengnya. “Kau pasti yang tidak senang …” Kata ku dengan wajah bersalah. “Eh? Kamu ini kenapa? Sudahlah … Lagi pula aku sudah bosan, semuanya sudah aku naiki.” Kata Xun masih asyik dengan kentang nya. “Benarkah? Memangnya sudah berapa kali kau datang ke sini?” Tanya ku. “Hm … Tak terhitung.” Katanya dengan tawa. “Apa?” Kata ku tak percaya. “Yup… Hampir setiap ada waktu, Aku akan datang kesini. Dan ada beberapa wahana yang sudah ku naiki berpuluh kali.” Lanjutnya. “Uhuk…” Kata ku yang sedang minum pun tersedak karena mendengarnya. “Yang benar saja? Lalu kenapa kau ajak aku kesini? Jika seperti itu … Pasti kau sudah bosan kemari bukan?” Kata ku dengan nada sedikit tinggi. Dia menggeleng. “Justru aku punya alasan yang pasti . Karena alasan itu, Aku tak pernah bosan untuk datang, karena alasan itu, menjadikan tempat ini menjadi tempat yang berharga untuk ku, karena alasan itu aku mengajak mu kemari.” Kata Xun dengan senyum menjawab ku. “Lalu… Alasan apa itu?” Kata ku sedikit melunak. “ … Keluarga,” Jawabnya. “Apa?” Tanya ku tak mengerti. “ … Di tempat ini keluarga ku pernah tersenyum dan juga menangis.” Kata Xun melanjutkan. “Apa maksud mu?” Tanya ku yang penasaran. “Dulu … Aku dan keluarga ku sering berkunjung kemari setiap ada wahana baru dan Kami selalu senang dan semua tampak sangat indah tapi suatu waktu kami mengalami musibah salah satu wahana mengalami kerusakan dan jatuh. Kebetulan saat itu orang tua ku menaiki wahana itu dan mereka pun menjadi korban.” Kata Xun tersenyum miris. Aku terdiam mendengarnya. Aku merasa sangat bersalah. “Maaf …” Kata ku. Xun menggeleng. “Ayo … Kita lanjutkan lagi.” Kata Xun bangkit dari kursinya. “Xun …”

            Kami pun melanjutkan acara kami yang sempat tertunda karena acara makan siang. Tangan hangat nya tak pernah lepas menggenggam ku. “Xun … Boleh aku tanya sesuatu?” Tanya ku menghentikan langkahnya. “Ya? Apa itu?” Tanya Xun balik. “Maaf sebelumnya … Jika kau tak suka kau tak apa tak menjawab.” Kata ku sebelum bertanya. Xun hanya menunggu pertanyaan. “ … Wahana apa yang di naiki oleh orang tua mu?” Tanya ku. Xun terdiam sebelum menjawab. “Wahana yang pertama kali kau tolak.” Jawab Xun dengan tawa. “Pertama kali?” Tanya ku menyakinkan. Xun mengangguk. “Ya… Gondola.” Kata Xun memastikan jawaban. “Lalu kenapa kau menyarankannya pertama?” Tanya ku. “Karena wahana itu yang ku lihat pertama kali di peta.” Jawab Xun asal. “Ahhh… Jawab yang benar.” Kata ku kesal. “… Entahlah. Aku hanya ingin bertanya. Tapi untung kau menolaknya.” Kata Xun. “Bagaimana jika tidak? Jika aku tak menolaknya dan memaksa untuk naik.” Tanya ku kepada nya. “Ayo … Itu jawaban ku.” Kata Xun. “Tapi … Bukankah wahana itu …” Kata ku menatapnya dengan sedih. “Kenapa? Jika kau mau apa salahnya? Walau aku takut setengah mati naik wahana tersebut tapi jika kau mau, aku akan naik dan jika akhirnya kita akan jatuh sama seperti Orang Tua ku, Kita pasti akan mati dalam cinta abadi kita.” Kata Xun menjawab.
            Kami pun berbelanja beberapa barang untuk di bawa pulang. Dan setelah itu kami berniat untuk pulang. Tiba –tiba aku merasa berputar seakan –akan di ombang ambing oleh Ombak badai. Pandangan ku pun menggelap , keringat dingin pun jatuh. Rasanya kepala ku sangat sakit. Kaki ku pun tiba –tiba berhenti dan ngenggaman ku terlepas darinya. Banyak kerumunan yang beralu lalang di sekitar kami. “Ada apa?” Tanya Xun pelan. Ia pun kembali mendekati ku. “Pergilah…” Kata ku mengusirnya. “… Sudah ku bilang dari awal kan!? Kita akan bersama dan berpengangan hingga pulang!” Katanya dengan nada sedikit tinggi. Aku pun terhentak dan bahkan pandangan  orang –orang pun tertuju ke kami. Dapat terlihat samar wajah Tampan Xun begitu tegas. Air mata jatuh tanpa ku sadar. “Bodoh.” Kata ku tiba –tiba jatuh pingsan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar