Rabu, 08 Juli 2015

MY FAULT (part 1)


Author: Fdlyssa (Facebook:Fdlyssa)
Genre: Horror

Note: Don't COPAS without permission/ give your like or comment to me. 



My Fault

BAB 1

Angin bertiup dengan lembut, memanjakan pipi putih yang tampak tirus. Mata gadis itu berkaca-kaca. Entah apa yang ia tengah pikirkann. Pandangannya, ia lemparkan ke angkasa. Cuaca yang cerah. Dengan sinar matahari menggelitik, bersahabat.



" Aku tak kan membiarkan mu mengatakan, Good Bye"



Kenyataan yang pedih. Kasih pergi, layaknya film berakhir. Tragis. Lantunan musik indah, tak lagi terbisikan.


January - 01 - 2013

Dentangan lonceng masih terdengar, walau senyap. Hari ini adalah awal tahun baru. Dimana, pertengahan malam tadi, orang- orang bersorak ria. Hari yang mungkin, sebagian orang berkata, hari yang indah untuk memulai hari baru. Hidup kembali.
BRAKK.
Ini seharusnya, menjadi tempat yang tenang. Ruangan yang di dominasikan dengan warna langit, yang tak tampak seperti rumah sakit pada umumnya. Mungkin, untuk membuat kesan nyaman. "Akkh! Tidak!!" pekik seorang wanita, yang sudah 2 tahun berada di sini. Linda Novano. "Tenanglah" bujuk si perawat pria, yang tampak sangat muda.
Matanya menatap tajam ke sekeliling. Mengerikan. " Tenanglah nyonya Linda..." Bujuk si perawat lainnya. Wanita itu tak hentinya berteriak. Teriakannya, menjulang tinggi. Memecahkan keheningan yang seharusnya terjadi.
Butuh beberapa jam, ruangan yang di buat khusus Linda kembali tenang. Malah sangat sepi. Mungkin sebentar lagi akan kembali kacau, pikir perawat muda itu. Mata keabuannya hanya menangkap sosok Linda dengan penuh tanya. Kenapa wanita ini dapat kesini? Pertanyaan yang ia ajukan. Entah, kepada siapa.
"nyonya Linda..."  Sapa perawat muda ini, bangkit dari kursi lipat yang letaknya, tepat di ujung ruangan. Linda mengalihkan pandangannya kepada sumber suara. Perawat itu pun duduk di samping Linda. Namun di balas dengan Linda yang mencoba menjauh. Mata yang indah itu tampak menjaga jarak. Takut? Atau hanya semacam menjaga diri, dari orang asing.

" Perkenalkan, saya William" Pria muda itu pun, mengulurkan tanggannya. Jabatan tangan, pengenalan.
Lindapun membalas uluran tangan pria di sampingnya. " Panggil saja Will" lanjut perawat yang baru 1 bulan yabng lalu, bekerja di rumah sakit ini. " Nyonya Linda... Apakah saya boleh bertanya?" Tanya Will. Sekilas Linda membuang pandangannya ke sudut yang kosong, lalu kembali kepad aWill. " Ada apa?" Tanya Will, dengan hadapan wajah kepada Linda namun arah matanyya berfokus pada tempat yang tadi sempat mengalihkan pandangan Linda padanya. " Tidak bisa" Ucap Linda, terdengar seperti bisikan. " Apa yang tidak bisa?" Will pun mengajukan pertanyaan lagi. " Kau tak bisa bertanya pada ku. Karna aku, tak kan menjawab." Jelas Linda. Ia pun melipat kakinya dan merangkulnya. "Kenapa begitu? Jadi... Saya tak boleh bertanya?" Will tak paham dengan makna kata yang Linda ucapkan. " Dilarang.. Bukan tak boleh. Tapi dilarang" Suara Linda terdengar datar. " Lalu, siapakah yang melarang ku? Atau mungkin... Melarang mu?" Heran, itulah yang terlihat dari raut wajah Will. " ..." Suara yang sangat samar. Bahkan, William pun tak yakin bahwa wanita ini sedang berbicara padanya. " Apa? Bisakah kau ulangi?"


Di depan pintu kamar Linda. Minuman kaleng rasa Coffee pun terangkul di telapak tangan Will. Waktu istirahat. Untuk menghabiskan waktu, William lebih memilih menghabiskan beberapa Coffee dari pada mencicipi bir kalengan. Pria itu meneguk dalam satu tegukan. " Uhuk!" Batuknya, karna terburu-buru. " Kau terdesak?" Tanya perawat wanita, yang baru keluar dari ruangan kelas VVIP itu. Ruang Linda.
" Ah, tidak! " Kelak Will, dan menaruh Coffeenya, di setempat duduk di sebelahnya. " Pelan-pelan saja Will..." Ucapperawat itu dan ikut duduk, di bangku tunggi bernuanda biru laut dalam.

" Ada apa dengannya?" Kata William mencoba memulai percakapan yang lebih panjang. " Apa maksud mu Will?" Tanya perawat itu tak paham. " Kenapa Linda..." Sebelum Will melanjutkan kata-katanya wanita di sebelahnya mmotong. " Nyonya Linda, apakah kau tahu? Ia lebih tua dari mu, beberapa tahun" . " Be-benarkah?" Ucap Will tak percaya. " Dia, tampak sebaya dengan ku." Lanjut Will. " Haha, kau ini... Sudah lanjutkan saja pa yang ingin kau bicarakan tadi" Perawat di sebelahnya Will tersenyum seakan geli dengan tingkah Will. "Ehm, baiklah. Linda... Ah tidak, maksud ku nyonya Linda... Kenapa ia bisa berada di sini?" Ucap Will, melanjutkan pertanyaannya tadi. " Ah, sudah ku duga kau ingin menanyakan hal itu. Begini... Mungkin orang-orang kan bertanya-tanya kenapa wanita semapan ia. Wanita yang memiliki harta berlimpahsepertinya, wanita yang sangat cantik walau sudah memegang kepala 3" penjelasan perawat itu pun berhenti. " Ke-kepala 3 !? Maksud mu 30 tahunan!?" Tanya Will, mata pria ini benar-benar tak percaya dengan apa yang ia dengar. " Iya, lebih tepatnya... 32  tahun" respon si perawat, dengan kekehan kecil. " Ku kira... Ia berusia 21 tahun" ujar Will dengan wajah, ya... Mungkin tampak syok? Haha. " Sudah ku bilang... Lebih tua, dari mu ' beberapa tahun' . Apakah kau masih inin mendengar cerita ku?"  Tanya si perawat. " Ah maaf, silahkan di lanjutkan. " . " Baiklah, ah... Tadi sampai mana ya... Oh ya. Hidupnya tampak sempurna. Namun, ketika ia kehilangan tunangannya, hidupnya berubah. Cahaya di wajahnya redup sektika. Sangat di sayyangkan... Ia adalah wanita yang baik , memiliki kehidupan... Ya, bisa di bilang sempurna, dan ia sangat sering menolong orang-orang di sekitarnya. Entahlah, mungkin sepertii malaikat kehilangan sayapnya?" Jelas perawat itu, mengakhiri cerita. " Malaikat? Kau terlalu berlebihan ... Haha" Kini gantian Will, yang menertawakan si perawat. " Kau belum mengenalnya..."


Dari semalam Will tak dapat tidur. Entah apa yang tengah mengusik pikirannya. Sepanjang malam, Will terus memperhatikan Linda.

Esok pagi, di taman.
" Linda! Ah, maksud ku nyonya Linda!" Panggil Will, kepada Linda yang tengah berjalan menyelusuri jalan setapak. " Ya?" Linda merespon dan berpaling kepada pria yang memanggilnya. " Ah?" Will pun terhenti 5 langkah di depan Linda. Tak berkata. Berbeda, mungkin itu yang sedang Wil pikirkan. Linda hari ini berbeda, dari yang kemarin. Cahayanya kini,  memancar begitu terang. " Cantik" ucap Will tak sadar. " Hihi, terimakasih." Balas Linda lembut. " Oh ya, apa yang ingin anda bicarakan?" Lanjut Linda. Will terdiam. Aku benar-benar belum mengenalnya, pikir Will. " Tuan ?" Ucap Linda, sekali lagi. " Ah ya?" Will pun terbuyar dalam lamunnya. " Jadi?" Mata bulat Linda tampak indah dengan iris mata kebiruannya. Sempurna. "Ng..." Will berelut, seakan ia lupa apa yang harus ia katakan. " Maaf tuan, jika tak ada urusan saya harus pergi... Mungkin, kita bicara kan lagi nanti." . " Hm, bailklah... Maaf mengganggu mu" ucap Will. Linda pun memberi salam, dan pergi melanjutkan langkahnya. " Aku, memang belum mengenalnya..."

Mungkin benar, apa yang di katakan perawat itu. Tapi, itu juga masih berlebihan. Will terus berpikir, di spanjang koridor. Mata keabuaanya terus mengamati, dan menangkap sosok yang di sebut malaikat itu. Dengan ramahnya, ia berbagi kaih. Dengan mudahnya, ia memancarkan kebahagiaannya. Yang membuatnya bahagia, prang pun bahagia. Bukankah ia, memang tampak begitu terang?

Ketika Linda sudah selesai dengan kegiatannya. Will pun mencoba untuk memberanikan diri, menyapanya sekali lagi. " Nyonya Linda," panggil Will. " Ya, pasti ingin membicarakan masalah tadi pagi kan?" Ucap Linda, seakan tahu apa tujuan Will. Will hanya membalas dengan anggukan dan senyuman tipis. " Kalau begitu. Ayo, duduk." Ucap Linda mempersilahkan. Mereka pun duduk di kursi taman. " Nyonya Linda, sepertinya kau tampak berbeda dari yang kemarin." Ucap Will, mengutarakan pendapatnya. " Benarkah?" Wajah putih susunya tampak manis dengan semburat merah muda di pipinya. " Ya." Jelas Will, singkat. " Kalau boleh tahu... Siapa nama mu? "  Tanya Linda. Kaki jenjang wanita ini, mengayun-ayun pelan bergantian. Kedepan dan kebelakang, seperti anak kecil. " Apa maksud mu?" Tanya Tanya Will. " Ng? Apakah ada yang salah?" Tanya Linda balik. " Sebelumnya, aku pernah memperkenalkan diri u padamu. Tepatnya, itu terjadi kemarin" Jelas Will. Ia lupa? . " Begitukah? Aku tak yakin. Bahkan, rasanya aku baru mengenal mu. " Ungkap Linda. Dia sungguh lupa.

" Ah, kalau begitu... Izinkan ku, untuk memperkenalkan diri ku sekali lagi. Namaku, William. Panggil saja Will" Ucap Will, mengulang pengenalannya. " Ah, Will... Jadi nama mu Will. Ok, aku Linda..." Balas Linda, mengulurkan tangannya. Ada apa dengan wanita ini? Aneh, pikir Will. Will pun membalas uluran tangan Linda. " Senang bertemu dengan mu, Will" Lanjut Linda, dengan bersahabat. Ia tersenyum, membuat smile Eyes di matanya. " Linda, apakah kau tak benar-benar ingat tentang kemarin?" Tanya Will agak ragu. Wanita ini pun menggeleng. Polos, tampak lucu. " Tak satu pun?" Tanya Will lagi. " Jika yang kau maksud bertemu dengan mu... Ku rasa, tidak. Bukankah, kemarin berjalan seperti bisaanya?" Linda menatap Will dengan aneh. Entah kata 'aneh' di pikirannya itu, di tunjukan untuknya... Atau mungkin, kepada pria di sampingnya. " Jika berjalan seperti bisaa, kira-kira apa yang kau lakukan kemarin?" . " Seperti hari ni, ku menyapa semuanya, berbagi makanan, bermain bersama, membantu wanita tua di ujung lorong sana..." Jelas Linda. Jawabannya bertolak belaka dengan kejadian kemarin. Dia berbohong, atau memang tak mengenal apa yang terjadi kemarin?
" Seberapa sering kau melakukan itu semua?"
" Sesering yang ku bisa. Kurasa, setiap hari?" Jelas Linda. Kegiatan monoton. Mungkin, ia hanya mengingat dan melakukan hal yang sudah menjadi kebisaaannya. Terus begitu, berulang kali.
" Jika, ku bilang... Kau telah mengalami amnesia?" . " Amnesia?" Mata Linda, tampak lugu. Tak mungkin, berbohong.

" Ya, amnesia. Kira-kira bagaimana tanggapan mu?" Will terus mengajukan pertanyaan setiap pertanyaan yang di pikirannya. Menyelidiki, tau mengenal Linda lebih dalam. " Apakah amnesia ku parah, dok?" Tanya Linda, matanya kini menunjukkan ke khawatiran . Dok? Bahkan Will pun tak pantas di panggil ' Dokter' oleh Linda. Ia bukan lulusan dari dunia medis. " Ah, tidak. Kurasa hanya amnesia ringan" Jelas Will seperti ahlinya. " Begitukah? Terimakasih, dok!" ucap riang Linda. Haha, kau ini. " Will pun bangkit dari kursi. " Mau kemana?" Tanya Linda, dan menatap Will. " Kurasa, hari ini cukup untuk berbicara dengan mu nyonya Linda." Jawab Will. "Hm, Jika... Ku bilang tentang amnesia itu adalah sebuah kebohongan bagaimana?" Lanjut Will, sebelum pergi. " Ke-kebohangan!? Kau jahat dok, kau membuatku khawatir." . " Dan juga, jangan panggil aku 'dok' karna aku, bukan dokter. Bye!"


Esok hari.  January - 03 - 2013.

Hujan. Hari ini tak cerah, awan Cumulus Nimbus betebaran di langit. Kesan abu megah. Kini suhu udara mampu membuat manusia berhibernasi. Ya, malas tuk beranjak dari ranjang mereka. Walau begitu, mata indah itu tampak tak kenal redup. Bersinar, seakan menyulap ruangan di sekitarnya.  Menjadi hangat dannyaman. Linda, selalu sukses membagi kebahagiaannya.  Tawa canda seakan tak pernah henti hiasi kehidupannya.
Berkumpul bersama pun selesai. Kini, semua kembali ke kamarnya masing-masing. Dan hari ini, William pun mencoba tuk menyempatkan diri bertemu dengan Linda. Mereka pun bertemu di persimpangan menuju kamar para pasien. " Nyonya Linda, apakah anda mengingat saya?" Kalimat ini yang terucap pertama kali dari mulut Will, hari ini. " Tentu saja" Jawab Linda tersenyum ramah. "Syukurlah," lega Will. Mungkin, sebuah hal yang menjengkelkan, jika ia harus  memperkenalkan dirinya terus menerus, setiap hari, kepada orang yang sama. Menjengkelkan. " Apakah kita pernah berbincang sebelumnya?" Tanya Will. " Ah, tuan Will. Jangan menakut-nakuti aku seperti itu."  Respon Linda, tampak mencoba menerka apa yang ada di pikiran Will. " Haha, baiklah... Aku hanya becanda. Tampaknya, kau tak termakan lelucon ku" Ucap Will berbohong. Bukankah seseungguhnya, ia benar-benar ingin mengetahui apakah nyonya Linda di depannya ini, benar-benar melupakan kejadian 2 hari yang lalu. Penasaran.

" Maaf tuan Will, aku harus bergegas pergi" Ucap Linda berpamitan.


Untuk memastikan, Will terus menanyakan ' Apa yang terjadi kemarin' kepada Linda. Respon Linda selalu sama. Mengingatnya. Ia ingat segala yang terjadi tempo hari, kecuali January - 01 - 2013.
Will pergi mencari Linda, dan ia pun mendapati Linda di atap gedung dimana banyak sekali kincir angitn. “Hei, ternyata kau disini?” Sapa Will kepada Linda. “Ya,” Linda melirik kea rah Will dan tersenyum hangat. Sungguh tempat nya cocok untuk orang seperti nya. Lembut dan damai. “Kenapa kau disini?” Tanya Will. “Ah, aku… Mmm,” Linda terlihat kebingungan. “Ada apa?” Tanya Will ragu. “Ah…” Ah Linda terlihat sangat aneh, ia mengkerutkan kedua alis nya. Kebingungan kah? “Kau kenapa nyonya Linda?” Tanya Will. “Aku tak apa.” Linda kembali tersenyum. “Mmm, benarkah?” Will mencoba memastikan. Linda mengangguk. “Aku suka tempat ini. Ada seorang pria yang mengajarkan ku akan semua. Ia juga yang membuat semua kincir angin disini.” Linda menatap langit. Tapi, perlahan air mata nya mengalir. “Ada apa?” Tanya Will cemas. Pria ini khawatir akan keadaan wanita di depannya. “Kenapa kau disini? Sejak kapan, kau dan aku saling kenal. Pergilah!” Ucap Linda kesal. “Kau aneh nyonya Linda.” Will heran, apa yang dimaksud oleh Linda. “Jangan becanda nyonya Linda” Will bertanya kembali. “Aku hanya lelah berpura-pura. Sudah cukup aku akan pergi.” Linda melangkah pergi. Ada apa dengan Linda? Ia dingin? Apa maksud nya? Dan rasanya ia benar-benar berubah. Mungkinkah, ini kebohongan belaka?

" Kau berbohong, nyonya Linda" ucap Will terdengar layaknya desahan kesal. " Apa maksud mu?" Linda menatap Will tak percaya, tak percaya pada dirinya bahwa ia pernah membohongi Will. " Kau pikir, kau amnesia... Atau, entahlah... Penyakit mu itu, mudah melupakan sesuatu dan membuat mu di rehabilitasi di tempat semacam ini. " Nada yang keluar dari Will terdengar kesal. " Aku, aku masih belum mengerti tuan Will" Ucap Linda, tampaknya Linda merasa takut. Suaranya bergetar, karna perubahan sikap Will yang dingin padanya. " Aku salah! Sepertinya, kau memang berniat membodohi ku! Berpura-pura lupa ketika kita bertemmu oertama kali. Lupa dengan amukan mu saat itu" Jelas Will, mengutarakan isi hatinya. Sakit, Will tak tahu apa yang membuatnya merasakan hal seperti ini. Apa karna, ia memang bukan type orang yang tak suka di bodohi atau pun di bohongi? . Tangannya, mengepal erat. Entahlah, jika Linda seorang pria, mungkin ia akan menghajar orang di sebelahnya ini. " Aku... Mengamuk?" Tanya Linda. " Ya" Jawab Will singkat. Rasanya, sangat malas untuk berbincang dengan orang yang kita benci. " Jika, itu yang terjadi... Bisakah kau menceritakannya pada ku?" Ucap Linda tampak ragu. Ia takut mengatakan atau berbuat kesalahan, ketika Will dalam mood yang buruk. " Tanyakan saja hal itu pada diri mu sendiri" Ucap Will, ketus. Will pun pergi, menghiraukan kehadiran Linda di sampingnya.


Setelah itu semua, Will tak pernah mengunjungi Linda. Tak sekali pun. Ia lebih baik memilih menghindari sosok Linda, ketika ia kebetulan melihat Linda dari kejauhan. Atau pun, menjaga jarak tanpa berkomunikasi sama sekali kepada Linda.

Suatu hari, Will mengalami kecelakaan. Entah apa yang membuat tangannya berdarah. Ia tak ingat, hanya saja yang ia pikirkan sekarang adalah ia mendapatkan luka. Luka yang cukup parah.



"Kau tak apa Will?" Tanya nyonya Gwen . " Iya, " ringisan terdengar ketika Will mencoba untuk menahan sakit. " Sini, biar ku bantu..." Ucap Linda dengan baju terusan feminim. " Aku tak perlu bantuan mu, pergi sana!"  Usir Will, seraya menepis kasar tangan Linda ketika mencoba membantu. " Maafkan aku," Linda pun langsung tertunduk, sendu. " Kenapa kau masih disini? Aku tak butuh bantuan mu." Lagi-lagi Will melemparkan kata-kata kasarnya. Tanpa ambil waktu, Linda pun langsung berlari pergi. Buliran air mata, mengiringinya.

" Kau terlalu kasar padanya" ucap nyonya Gwen, selesai memerban telapak tangan Will. Will tak menyahut ucapan nyonya Gwen. Aku tak salah, pikir Will. Jelas sangat kekanakan. Nyonya Gwen Tersenyum, seperti bisaa ia menertawakan tingkah kekanakannya Will. “ Will, maaf sebelumnya. Apakah kau tahu? Hampir orang-orang disini meragukan mu. Meragukan atas keterampilan mu, meragukan bahwa kau pantas atau tidak bekerja disini. Mereka banyak berpikir, bahwa kau dapat kerja disini bukan karna kemampuan mu… Melainkan, karna kakek mu adalah seorang presdir disini.”  Kata nyonya Gwen, le,but.  “ Aku tahu itu semua, mereka terus membicarakan ku di belakang. Semua, kecuali kau… Nyonya Gwen.”Tungkas Will, merespon. “ Ya, dan juga Linda” Ucap nyonya Gwen, melanjutkan kata-kata Will. “ Linda?” Will menatap nyonya Gwen, ia tak paham makna dari perkataan nyonya Gwen. “ Ya, suatu hari.. Ia membela mu, ketika orang-orang tengah membicarakan mu. Ia berkata banyak hal tentang kebaikan mu, dan bahwa kau layak bekerja disini.” Jelas nyonya Gwen. “Meskipun begitu, ia tetap saja membuat ku marah”  Will pun mengubah posisi duduknya, menjadi lebih serius. “ Apapun alasan mu,tolong jangan membenci nyonya Linda. Ia sangat baik, ia sering menanyakan kabar mu pada ku. Saat kau menjauhinya, ia merasa bersalah. Berhari-hari ia menangis do sepanjang malam” Nyonya Gwen menceritakan apa yang terjadi. Will pun menatap dalam nyonya Gwen. Apakah Linda benar-benar melakukan hal itu? “ Sensitif sekali. Ah ya… Aku lupa, mungkin karna itu, ia masuk rumah sakitini. Gila, penyakit sensitif dan membohongi orang.” Nyonya Gwen menatap Will tajam, ia tak setuju dengan perkataan Will. “ Jangan berkata seperti itu, Will. Jika kau masih ingin layak bekerja disini. Jangan pernah menghina pasien mu. Setidaknya, perlakukan mereka dengan baik, mungkin itu akan mampu membuat mereka berubah pikiran mengenai mu” Nasehat nyonya Gwen. “ Ah, maaf.” Will menyadari, ucapannya sudah keterlaluan. “ Dan, apa maksud mu dengan ‘berbohong’?” Tanya nyonya Gwen.


Will terdiam sejenak, ia menatap pergelangannya yang terperban. “ Ada apa dengan Linda?” Ucap Will terdengar berbisik. Nyonya Gwen tak ingin berkata, mungkin diam untuk sekarang adalah yang terbaik. “ Kenapa dengan wanita itu?” Lagi-lagi berbisik, bisikan yang sangat pelan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar