Author: Fdlyssa (Facebook:Fdlyssa)
Genre: Horror

Note: Don't COPAS without permission/ give your like or comment to me.
My Fault
BAB
1
Angin
bertiup dengan lembut, memanjakan pipi putih yang tampak tirus. Mata gadis itu
berkaca-kaca. Entah apa yang ia tengah pikirkann. Pandangannya, ia lemparkan ke
angkasa. Cuaca yang cerah. Dengan sinar matahari menggelitik, bersahabat.
" Aku tak kan
membiarkan mu mengatakan, Good Bye"
Kenyataan
yang pedih. Kasih pergi, layaknya film berakhir. Tragis. Lantunan musik indah,
tak lagi terbisikan.
January - 01 - 2013
Dentangan
lonceng masih terdengar, walau senyap. Hari ini adalah awal tahun baru. Dimana,
pertengahan malam tadi, orang- orang bersorak ria. Hari yang mungkin, sebagian
orang berkata, hari yang indah untuk memulai hari baru. Hidup kembali.
BRAKK.
Ini
seharusnya, menjadi tempat yang tenang. Ruangan yang di dominasikan dengan
warna langit, yang tak tampak seperti rumah sakit pada umumnya. Mungkin, untuk
membuat kesan nyaman. "Akkh! Tidak!!" pekik seorang wanita, yang
sudah 2 tahun berada di sini. Linda Novano. "Tenanglah" bujuk si
perawat pria, yang tampak sangat muda.
Matanya
menatap tajam ke sekeliling. Mengerikan. " Tenanglah nyonya Linda..."
Bujuk si perawat lainnya. Wanita itu tak hentinya berteriak. Teriakannya,
menjulang tinggi. Memecahkan keheningan yang seharusnya terjadi.
Butuh
beberapa jam, ruangan yang di buat khusus Linda kembali tenang. Malah sangat
sepi. Mungkin sebentar lagi akan kembali kacau, pikir perawat muda itu. Mata
keabuannya hanya menangkap sosok Linda dengan penuh tanya. Kenapa wanita ini
dapat kesini? Pertanyaan yang ia ajukan. Entah, kepada siapa.
"nyonya
Linda..." Sapa perawat muda ini,
bangkit dari kursi lipat yang letaknya, tepat di ujung ruangan. Linda
mengalihkan pandangannya kepada sumber suara. Perawat itu pun duduk di samping
Linda. Namun di balas dengan Linda yang mencoba menjauh. Mata yang indah itu
tampak menjaga jarak. Takut? Atau hanya semacam menjaga diri, dari orang asing.
"
Perkenalkan, saya William" Pria muda itu pun, mengulurkan tanggannya.
Jabatan tangan, pengenalan.
Lindapun
membalas uluran tangan pria di sampingnya. " Panggil saja Will"
lanjut perawat yang baru 1 bulan yabng lalu, bekerja di rumah sakit ini. "
Nyonya Linda... Apakah saya boleh bertanya?" Tanya Will. Sekilas Linda
membuang pandangannya ke sudut yang kosong, lalu kembali kepad aWill. "
Ada apa?" Tanya Will, dengan hadapan wajah kepada Linda namun arah
matanyya berfokus pada tempat yang tadi sempat mengalihkan pandangan Linda
padanya. " Tidak bisa" Ucap Linda, terdengar seperti bisikan. "
Apa yang tidak bisa?" Will pun mengajukan pertanyaan lagi. " Kau tak
bisa bertanya pada ku. Karna aku, tak kan menjawab." Jelas Linda. Ia pun
melipat kakinya dan merangkulnya. "Kenapa begitu? Jadi... Saya tak boleh
bertanya?" Will tak paham dengan makna kata yang Linda ucapkan. "
Dilarang.. Bukan tak boleh. Tapi dilarang" Suara Linda terdengar datar.
" Lalu, siapakah yang melarang ku? Atau mungkin... Melarang mu?"
Heran, itulah yang terlihat dari raut wajah Will. " ..." Suara yang
sangat samar. Bahkan, William pun tak yakin bahwa wanita ini sedang berbicara
padanya. " Apa? Bisakah kau ulangi?"
Di depan
pintu kamar Linda. Minuman kaleng rasa Coffee pun terangkul di telapak tangan
Will. Waktu istirahat. Untuk menghabiskan waktu, William lebih memilih
menghabiskan beberapa Coffee dari pada mencicipi bir kalengan. Pria itu meneguk
dalam satu tegukan. " Uhuk!" Batuknya, karna terburu-buru. " Kau
terdesak?" Tanya perawat wanita, yang baru keluar dari ruangan kelas VVIP
itu. Ruang Linda.
" Ah,
tidak! " Kelak Will, dan menaruh Coffeenya, di setempat duduk di
sebelahnya. " Pelan-pelan saja Will..." Ucapperawat itu dan ikut
duduk, di bangku tunggi bernuanda biru laut dalam.
" Ada
apa dengannya?" Kata William mencoba memulai percakapan yang lebih
panjang. " Apa maksud mu Will?" Tanya perawat itu tak paham. "
Kenapa Linda..." Sebelum Will melanjutkan kata-katanya wanita di
sebelahnya mmotong. " Nyonya Linda, apakah kau tahu? Ia lebih tua dari mu,
beberapa tahun" . " Be-benarkah?" Ucap Will tak percaya. "
Dia, tampak sebaya dengan ku." Lanjut Will. " Haha, kau ini... Sudah
lanjutkan saja pa yang ingin kau bicarakan tadi" Perawat di sebelahnya
Will tersenyum seakan geli dengan tingkah Will. "Ehm, baiklah. Linda... Ah
tidak, maksud ku nyonya Linda... Kenapa ia bisa berada di sini?" Ucap
Will, melanjutkan pertanyaannya tadi. " Ah, sudah ku duga kau ingin
menanyakan hal itu. Begini... Mungkin orang-orang kan bertanya-tanya kenapa
wanita semapan ia. Wanita yang memiliki harta berlimpahsepertinya, wanita yang
sangat cantik walau sudah memegang kepala 3" penjelasan perawat itu pun
berhenti. " Ke-kepala 3 !? Maksud mu 30 tahunan!?" Tanya Will, mata
pria ini benar-benar tak percaya dengan apa yang ia dengar. " Iya, lebih
tepatnya... 32 tahun" respon si
perawat, dengan kekehan kecil. " Ku kira... Ia berusia 21 tahun" ujar
Will dengan wajah, ya... Mungkin tampak syok? Haha. " Sudah ku bilang...
Lebih tua, dari mu ' beberapa tahun' . Apakah kau masih inin mendengar cerita
ku?" Tanya si perawat. " Ah
maaf, silahkan di lanjutkan. " . " Baiklah, ah... Tadi sampai mana
ya... Oh ya. Hidupnya tampak sempurna. Namun, ketika ia kehilangan tunangannya,
hidupnya berubah. Cahaya di wajahnya redup sektika. Sangat di sayyangkan... Ia
adalah wanita yang baik , memiliki kehidupan... Ya, bisa di bilang sempurna,
dan ia sangat sering menolong orang-orang di sekitarnya. Entahlah, mungkin
sepertii malaikat kehilangan sayapnya?" Jelas perawat itu, mengakhiri
cerita. " Malaikat? Kau terlalu berlebihan ... Haha" Kini gantian
Will, yang menertawakan si perawat. " Kau belum mengenalnya..."
Dari
semalam Will tak dapat tidur. Entah apa yang tengah mengusik pikirannya.
Sepanjang malam, Will terus memperhatikan Linda.
Esok pagi,
di taman.
"
Linda! Ah, maksud ku nyonya Linda!" Panggil Will, kepada Linda yang tengah
berjalan menyelusuri jalan setapak. " Ya?" Linda merespon dan
berpaling kepada pria yang memanggilnya. " Ah?" Will pun terhenti 5
langkah di depan Linda. Tak berkata. Berbeda, mungkin itu yang sedang Wil
pikirkan. Linda hari ini berbeda, dari yang kemarin. Cahayanya kini, memancar begitu terang. " Cantik"
ucap Will tak sadar. " Hihi, terimakasih." Balas Linda lembut. "
Oh ya, apa yang ingin anda bicarakan?" Lanjut Linda. Will terdiam. Aku
benar-benar belum mengenalnya, pikir Will. " Tuan ?" Ucap Linda,
sekali lagi. " Ah ya?" Will pun terbuyar dalam lamunnya. " Jadi?"
Mata bulat Linda tampak indah dengan iris mata kebiruannya. Sempurna.
"Ng..." Will berelut, seakan ia lupa apa yang harus ia katakan.
" Maaf tuan, jika tak ada urusan saya harus pergi... Mungkin, kita bicara
kan lagi nanti." . " Hm, bailklah... Maaf mengganggu mu" ucap
Will. Linda pun memberi salam, dan pergi melanjutkan langkahnya. " Aku,
memang belum mengenalnya..."
Mungkin
benar, apa yang di katakan perawat itu. Tapi, itu juga masih berlebihan. Will
terus berpikir, di spanjang koridor. Mata keabuaanya terus mengamati, dan
menangkap sosok yang di sebut malaikat itu. Dengan ramahnya, ia berbagi kaih.
Dengan mudahnya, ia memancarkan kebahagiaannya. Yang membuatnya bahagia, prang
pun bahagia. Bukankah ia, memang tampak begitu terang?
Ketika
Linda sudah selesai dengan kegiatannya. Will pun mencoba untuk memberanikan
diri, menyapanya sekali lagi. " Nyonya Linda," panggil Will. "
Ya, pasti ingin membicarakan masalah tadi pagi kan?" Ucap Linda, seakan
tahu apa tujuan Will. Will hanya membalas dengan anggukan dan senyuman tipis.
" Kalau begitu. Ayo, duduk." Ucap Linda mempersilahkan. Mereka pun
duduk di kursi taman. " Nyonya Linda, sepertinya kau tampak berbeda dari
yang kemarin." Ucap Will, mengutarakan pendapatnya. " Benarkah?"
Wajah putih susunya tampak manis dengan semburat merah muda di pipinya. "
Ya." Jelas Will, singkat. " Kalau boleh tahu... Siapa nama mu?
" Tanya Linda. Kaki jenjang wanita
ini, mengayun-ayun pelan bergantian. Kedepan dan kebelakang, seperti anak
kecil. " Apa maksud mu?" Tanya Tanya Will. " Ng? Apakah ada yang
salah?" Tanya Linda balik. " Sebelumnya, aku pernah memperkenalkan
diri u padamu. Tepatnya, itu terjadi kemarin" Jelas Will. Ia lupa? .
" Begitukah? Aku tak yakin. Bahkan, rasanya aku baru mengenal mu. "
Ungkap Linda. Dia sungguh lupa.
" Ah,
kalau begitu... Izinkan ku, untuk memperkenalkan diri ku sekali lagi. Namaku,
William. Panggil saja Will" Ucap Will, mengulang pengenalannya. " Ah,
Will... Jadi nama mu Will. Ok, aku Linda..." Balas Linda, mengulurkan
tangannya. Ada apa dengan wanita ini? Aneh, pikir Will. Will pun membalas
uluran tangan Linda. " Senang bertemu dengan mu, Will" Lanjut Linda,
dengan bersahabat. Ia tersenyum, membuat smile Eyes di matanya. " Linda,
apakah kau tak benar-benar ingat tentang kemarin?" Tanya Will agak ragu.
Wanita ini pun menggeleng. Polos, tampak lucu. " Tak satu pun?" Tanya
Will lagi. " Jika yang kau maksud bertemu dengan mu... Ku rasa, tidak.
Bukankah, kemarin berjalan seperti bisaanya?" Linda menatap Will dengan
aneh. Entah kata 'aneh' di pikirannya itu, di tunjukan untuknya... Atau
mungkin, kepada pria di sampingnya. " Jika berjalan seperti bisaa,
kira-kira apa yang kau lakukan kemarin?" . " Seperti hari ni, ku
menyapa semuanya, berbagi makanan, bermain bersama, membantu wanita tua di
ujung lorong sana..." Jelas Linda. Jawabannya bertolak belaka dengan
kejadian kemarin. Dia berbohong, atau memang tak mengenal apa yang terjadi
kemarin?
"
Seberapa sering kau melakukan itu semua?"
"
Sesering yang ku bisa. Kurasa, setiap hari?" Jelas Linda. Kegiatan monoton.
Mungkin, ia hanya mengingat dan melakukan hal yang sudah menjadi kebisaaannya.
Terus begitu, berulang kali.
"
Jika, ku bilang... Kau telah mengalami amnesia?" . " Amnesia?"
Mata Linda, tampak lugu. Tak mungkin, berbohong.
" Ya,
amnesia. Kira-kira bagaimana tanggapan mu?" Will terus mengajukan
pertanyaan setiap pertanyaan yang di pikirannya. Menyelidiki, tau mengenal
Linda lebih dalam. " Apakah amnesia ku parah, dok?" Tanya Linda,
matanya kini menunjukkan ke khawatiran . Dok? Bahkan Will pun tak pantas di
panggil ' Dokter' oleh Linda. Ia bukan lulusan dari dunia medis. " Ah,
tidak. Kurasa hanya amnesia ringan" Jelas Will seperti ahlinya. "
Begitukah? Terimakasih, dok!" ucap riang Linda. Haha, kau ini. " Will
pun bangkit dari kursi. " Mau kemana?" Tanya Linda, dan menatap Will.
" Kurasa, hari ini cukup untuk berbicara dengan mu nyonya Linda."
Jawab Will. "Hm, Jika... Ku bilang tentang amnesia itu adalah sebuah
kebohongan bagaimana?" Lanjut Will, sebelum pergi. " Ke-kebohangan!?
Kau jahat dok, kau membuatku khawatir." . " Dan juga, jangan panggil
aku 'dok' karna aku, bukan dokter. Bye!"
Esok hari. January - 03 - 2013.
Hujan. Hari
ini tak cerah, awan Cumulus Nimbus betebaran di langit. Kesan abu megah. Kini
suhu udara mampu membuat manusia berhibernasi. Ya, malas tuk beranjak dari
ranjang mereka. Walau begitu, mata indah itu tampak tak kenal redup. Bersinar,
seakan menyulap ruangan di sekitarnya.
Menjadi hangat dannyaman. Linda, selalu sukses membagi kebahagiaannya. Tawa canda seakan tak pernah henti hiasi
kehidupannya.
Berkumpul
bersama pun selesai. Kini, semua kembali ke kamarnya masing-masing. Dan hari
ini, William pun mencoba tuk menyempatkan diri bertemu dengan Linda. Mereka pun
bertemu di persimpangan menuju kamar para pasien. " Nyonya Linda, apakah
anda mengingat saya?" Kalimat ini yang terucap pertama kali dari mulut
Will, hari ini. " Tentu saja" Jawab Linda tersenyum ramah.
"Syukurlah," lega Will. Mungkin, sebuah hal yang menjengkelkan, jika
ia harus memperkenalkan dirinya terus
menerus, setiap hari, kepada orang yang sama. Menjengkelkan. " Apakah kita
pernah berbincang sebelumnya?" Tanya Will. " Ah, tuan Will. Jangan
menakut-nakuti aku seperti itu."
Respon Linda, tampak mencoba menerka apa yang ada di pikiran Will.
" Haha, baiklah... Aku hanya becanda. Tampaknya, kau tak termakan lelucon
ku" Ucap Will berbohong. Bukankah seseungguhnya, ia benar-benar ingin
mengetahui apakah nyonya Linda di depannya ini, benar-benar melupakan kejadian
2 hari yang lalu. Penasaran.
" Maaf
tuan Will, aku harus bergegas pergi" Ucap Linda berpamitan.
Untuk memastikan, Will
terus menanyakan ' Apa yang terjadi kemarin' kepada Linda. Respon Linda selalu
sama. Mengingatnya. Ia ingat segala yang terjadi tempo hari, kecuali January -
01 - 2013.
Will pergi
mencari Linda, dan ia pun mendapati Linda di atap gedung dimana banyak sekali
kincir angitn. “Hei, ternyata kau disini?” Sapa Will kepada Linda. “Ya,” Linda
melirik kea rah Will dan tersenyum hangat. Sungguh tempat nya cocok untuk orang
seperti nya. Lembut dan damai. “Kenapa kau disini?” Tanya Will. “Ah, aku… Mmm,”
Linda terlihat kebingungan. “Ada apa?” Tanya Will ragu. “Ah…” Ah Linda terlihat
sangat aneh, ia mengkerutkan kedua alis nya. Kebingungan kah? “Kau kenapa
nyonya Linda?” Tanya Will. “Aku tak apa.” Linda kembali tersenyum. “Mmm,
benarkah?” Will mencoba memastikan. Linda mengangguk. “Aku suka tempat ini. Ada
seorang pria yang mengajarkan ku akan semua. Ia juga yang membuat semua kincir
angin disini.” Linda menatap langit. Tapi, perlahan air mata nya mengalir. “Ada
apa?” Tanya Will cemas. Pria ini khawatir akan keadaan wanita di depannya.
“Kenapa kau disini? Sejak kapan, kau dan aku saling kenal. Pergilah!” Ucap
Linda kesal. “Kau aneh nyonya Linda.” Will heran, apa yang dimaksud oleh Linda.
“Jangan becanda nyonya Linda” Will bertanya kembali. “Aku hanya lelah
berpura-pura. Sudah cukup aku akan pergi.” Linda melangkah pergi. Ada apa
dengan Linda? Ia dingin? Apa maksud nya? Dan rasanya ia benar-benar berubah. Mungkinkah,
ini kebohongan belaka?
" Kau
berbohong, nyonya Linda" ucap Will terdengar layaknya desahan kesal.
" Apa maksud mu?" Linda menatap Will tak percaya, tak percaya pada
dirinya bahwa ia pernah membohongi Will. " Kau pikir, kau amnesia... Atau,
entahlah... Penyakit mu itu, mudah melupakan sesuatu dan membuat mu di
rehabilitasi di tempat semacam ini. " Nada yang keluar dari Will terdengar
kesal. " Aku, aku masih belum mengerti tuan Will" Ucap Linda,
tampaknya Linda merasa takut. Suaranya bergetar, karna perubahan sikap Will
yang dingin padanya. " Aku salah! Sepertinya, kau memang berniat membodohi
ku! Berpura-pura lupa ketika kita bertemmu oertama kali. Lupa dengan amukan mu
saat itu" Jelas Will, mengutarakan isi hatinya. Sakit, Will tak tahu apa
yang membuatnya merasakan hal seperti ini. Apa karna, ia memang bukan type
orang yang tak suka di bodohi atau pun di bohongi? . Tangannya, mengepal erat.
Entahlah, jika Linda seorang pria, mungkin ia akan menghajar orang di
sebelahnya ini. " Aku... Mengamuk?" Tanya Linda. " Ya"
Jawab Will singkat. Rasanya, sangat malas untuk berbincang dengan orang yang
kita benci. " Jika, itu yang terjadi... Bisakah kau menceritakannya pada
ku?" Ucap Linda tampak ragu. Ia takut mengatakan atau berbuat kesalahan,
ketika Will dalam mood yang buruk. " Tanyakan saja hal itu pada diri mu
sendiri" Ucap Will, ketus. Will pun pergi, menghiraukan kehadiran Linda di
sampingnya.
Setelah itu
semua, Will tak pernah mengunjungi Linda. Tak sekali pun. Ia lebih baik memilih
menghindari sosok Linda, ketika ia kebetulan melihat Linda dari kejauhan. Atau
pun, menjaga jarak tanpa berkomunikasi sama sekali kepada Linda.
Suatu hari,
Will mengalami kecelakaan. Entah apa yang membuat tangannya berdarah. Ia tak
ingat, hanya saja yang ia pikirkan sekarang adalah ia mendapatkan luka. Luka
yang cukup parah.
"Kau
tak apa Will?" Tanya nyonya Gwen . " Iya, " ringisan terdengar
ketika Will mencoba untuk menahan sakit. " Sini, biar ku bantu..."
Ucap Linda dengan baju terusan feminim. " Aku tak perlu bantuan mu, pergi
sana!" Usir Will, seraya menepis kasar
tangan Linda ketika mencoba membantu. " Maafkan aku," Linda pun
langsung tertunduk, sendu. " Kenapa kau masih disini? Aku tak butuh
bantuan mu." Lagi-lagi Will melemparkan kata-kata kasarnya. Tanpa ambil
waktu, Linda pun langsung berlari pergi. Buliran air mata, mengiringinya.
" Kau
terlalu kasar padanya" ucap nyonya Gwen, selesai memerban telapak tangan
Will. Will tak menyahut ucapan nyonya Gwen. Aku tak salah, pikir Will. Jelas
sangat kekanakan. Nyonya Gwen Tersenyum, seperti bisaa ia menertawakan tingkah
kekanakannya Will. “ Will, maaf sebelumnya. Apakah kau tahu? Hampir orang-orang
disini meragukan mu. Meragukan atas keterampilan mu, meragukan bahwa kau pantas
atau tidak bekerja disini. Mereka banyak berpikir, bahwa kau dapat kerja disini
bukan karna kemampuan mu… Melainkan, karna kakek mu adalah seorang presdir
disini.” Kata nyonya Gwen, le,but. “ Aku tahu itu semua, mereka terus
membicarakan ku di belakang. Semua, kecuali kau… Nyonya Gwen.”Tungkas Will,
merespon. “ Ya, dan juga Linda” Ucap nyonya Gwen, melanjutkan kata-kata Will. “
Linda?” Will menatap nyonya Gwen, ia tak paham makna dari perkataan nyonya
Gwen. “ Ya, suatu hari.. Ia membela mu, ketika orang-orang tengah membicarakan
mu. Ia berkata banyak hal tentang kebaikan mu, dan bahwa kau layak bekerja
disini.” Jelas nyonya Gwen. “Meskipun begitu, ia tetap saja membuat ku
marah” Will pun mengubah posisi
duduknya, menjadi lebih serius. “ Apapun alasan mu,tolong jangan membenci
nyonya Linda. Ia sangat baik, ia sering menanyakan kabar mu pada ku. Saat kau
menjauhinya, ia merasa bersalah. Berhari-hari ia menangis do sepanjang malam”
Nyonya Gwen menceritakan apa yang terjadi. Will pun menatap dalam nyonya Gwen.
Apakah Linda benar-benar melakukan hal itu? “ Sensitif sekali. Ah ya… Aku lupa,
mungkin karna itu, ia masuk rumah sakitini. Gila, penyakit sensitif dan
membohongi orang.” Nyonya Gwen menatap Will tajam, ia tak setuju dengan
perkataan Will. “ Jangan berkata seperti itu, Will. Jika kau masih ingin layak
bekerja disini. Jangan pernah menghina pasien mu. Setidaknya, perlakukan mereka
dengan baik, mungkin itu akan mampu membuat mereka berubah pikiran mengenai mu”
Nasehat nyonya Gwen. “ Ah, maaf.” Will menyadari, ucapannya sudah keterlaluan.
“ Dan, apa maksud mu dengan ‘berbohong’?” Tanya nyonya Gwen.
Will
terdiam sejenak, ia menatap pergelangannya yang terperban. “ Ada apa dengan
Linda?” Ucap Will terdengar berbisik. Nyonya Gwen tak ingin berkata, mungkin
diam untuk sekarang adalah yang terbaik. “ Kenapa dengan wanita itu?” Lagi-lagi
berbisik, bisikan yang sangat pelan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar