Kamis, 09 Juli 2015

Blood Day In The Spring

Bloody Day In TheSpring
Author Xue 




Cast : - Park Jung Ah

            Angin sepoi berseruak merdu, melantunkan nyanyian musim yang lembut.  Mata nya menikmati sekeliling. Ia mencintai musim ini, tak hentinya senyuman bahagia hiasi wajah putihnya. “ Waa~ Indah nya,” serunya bersemangat. Jemari nya mencoba tuk menangkap kelopak sakura yang di terbangkan oleh angin, dan sesekali dengan lompatan kecil menemani langkahnya.
           
            “ Oppa, bagaimana menurut mu?” tanya nya menatap ku. Mata lembutnya, terpancar indah. Dia memang indah, apa lagi jika ia tampak bahagia.

            “ Hm … Kimi wa kawai ne,” ucap ku membalas senyum nya.
“ Ng?” wajah nya tampak kesal, bibir merah muda itu membentuk kerucut kecil. “ Apa ?” tanya ku, dengan menahan tawa. Ia tampak lucu seperti itu. “ Apa artinya ?” tanya nya padaku. “ Aniyo … Kau tak usah tahu,” Ku mendekati nya, dan melangkah melewati nya. “ Oppa… kau curang” rengek nya, bibir mungil nya itu kembali menunjukkan rasa kesal nya.

            Aku suka mengusik nya, melihat nya seperti itu. Ya, ku sering menggunakan bahasa yang tidak ia mengerti, bahasa yang berasal dari negri sakura, Nihon-Go.
           
            Sebenarnya, ku bukanlah penduduk negri ginseng ini. Ku disini karna pertukaran pelajar antar Jepang dengan Korea. Itu berarti, tak ada kata ‘ tinggal tuk waktu lama’.

“ Bagaimana di sana ?” tanya nya lagi, dan berlari kecil tuk mengejar langkah kaki ku yang sedari tadi berada di depannya. “ Apa nya?” tanya ku balik, dan menatapnya yang sudah berada di sampingku. “ Jepang… Bunga sakura disana, apakah seindah Korea?” dengan polosnya, ia bertanya. Ku tertawa pelan, dan mencoba kembali menahan tawaku ketika melihat wajah nya yang merasa tak suka di tertawakan. Sungguh, ini pertanyaan konyol untukku.
 “ Mana jawaban ku ?” tanya nya lagi, untuk menagih jawaban. “ Bakaru oeh? Di manapun sakura berada … Ia kan tetap sama, ketika mereka mekar mereka kan tampak cantik dan tetap kan tersenyum pada musim ini. Mereka kan berikan keanggunan nya, dan membiarkan mahkotanya terbawa angin.” Jelasku, mata ku teralih menatap dahan pohon sakura yang tertiup angin. “ Hm, ne.” angguk nya. Kami pun melanjutkan acara jalan-jalan kami.



“ Aku lelah,” ucapnya pelan. Ku tatap ia, wajah nya sudah memucat. “ Ayo kita pulang” ajak ku. “ Ani …” ia menggeleng pelan. “ Kureom, mari istirahat.”

Kami pun duduk di kursi taman. Tak henti-henti nya angin menyobongkan keelokkan sang sakura. Wajah nya, kini memucat. Ku tak bisa menerima kenyataan yang sesungguhnya. Pasti ia benar-benar merasakan sakit saat ini. Namun mengapa? Senyuman itu tetap ada. Tetap tersenyum, walau derita terasa. Mata bulatnya sibuk mengamati sekeliling. “Jangan paksakan dirimu.” Suara ku bergetar, ia membalikkan arah pandang nya dan menatap ku.“ Aku menyayangi mu,” tuturku lagi, entah kenapa rasa takut merasuk dalam benak ku. “ Ne,” jawab nya dengan senyum, dan kembali sibuk dengan memperhatikan sekeliling. Seakan – akan wanita ini tak pernah bosan melakukan nya.

Ku genggam jemarinya yang lembut, ku dekap erat. “ Aku takut … kehilangan mu,” lirihku berbisik, bisikan yang sangat pelan. “ Hm …?” ia menatap ku kembali, dan terdiam sejenak. “ Apa yang kau katakan tadi, oppa?” tanya nya, tampaknya bisikan ku memang tak terdengar. “ Iie”  jawab ku, menggeleng pelan.

Saat ini, ku tak mampu tuk menatap nya. Ku terlalu takut, tapi ku ingin terus mendekapnya erat. Kenapa dengan diri ku oeh? Kenapa seperti ini? Kenapa ku tak dapat kendalikan emosiku …? Kenapa?

“ Oppa …” suara kecil nya memanggilku, ia mengguncang tubuh ku pelan. “ Bagaimana jika kita membuat beberapa foto ?” tanya nya. “ Ne, itu ide baik” jawab ku tersenyum tipis. Sesungguhnya, ku benci lakukan ini, ya ... untuk sekarang. Karna kemungkinan foto ini adalah foto pertama ku dengan nya, dan juga foto terakhir ku dengannya.

“ Han … Dul … Set … Kimchi ~”

Jepretan demi jepretan kami ambil.

“ Waa~ Oppa, kau jelek sekali ~” ejek nya tuk bergurau. “ Mana ? mari ku lihat” pinta ku. “ Aniyo …” ia menggelengkan kepalanya. “ Aish, kau ini …” Ku pun mencoba mengambil kamera yang Jung-ah pegang. “ Kkk~ ani … Ani …” kata nya dengan sedikit kekehan kecil dan mencoba menghalangi ku tuk mendapatkan kameranya. Ia berlari, saat ku coba mengambil kamera nya. Dan akhir nya, kami saling kejar mengejar.

“ Huwaa … capai nya,” kami jatuhkan diri ke atas rerumputan. “ Berikan kamera nya padaku,” ucap ku kelelahan, dengan sesekali nafas berat ku hembuskan. “ Kkk~ aniyo,” jawab nya, tanpa milirik ku yang berada di sampingnya. Ia masih bisa tertawa pelan, padahal sangat jelas ia tampak sangat kelelahan. Peluhnya tampakbasahi keningnya. “ Anata …” ucap ku, pura-pura kesal. Aku pun memalingkan tubuh ku, dan membelakangi nya. “ Oppa, jangan seperti itu ah~ Oppa Kyeopta” ia mendekati ku, membujukku dengan sedikit guncangan pelan.

“ Habis kau ini, aku hanya ingin melihat hasil nya.” Jelasku. “ Ne, kau boleh melihatnya. Tapi …,” ucap nya, kalimat nya menggantung. “ Tapi apa?” tanya ku dan membalikkan badan. “ Belikan aku minum dan ajari aku bahasa mu,” ia tersenyum menatap ku. Kami pun saling pandang memandang.

“ Sho !” seruku dan mengubah posisiku menjadi duduk. Ia pun mengikuti ku. “ Apa yang kau inginkan ?” tanya ku sebelum pergi. “ Hm, aku mau ice cream~” ucap nya manja, dan menggoyangkan badan bagian atas nya layak nya seorang anak kecil yang memohon. “ Haha. Allright,” ku terkekeh pelan dan bergegas membeli apa yang Jung-ah inginkan.

Ku melangkah kembali, ketika mendapatkan benda yang di inginkan. Walau pun ada sedikit belanjaan yang ku beli, ketika berjalan kembali ketempat Jung-Ah berada. Sesekali ku melihat isi dari kantung belanjaan yang tergantung manis di lengan ku. “ Jung-ah … aku bawakan kau ice cream.” Ku terdiam mengalihkan pandangan, kepada wajah gadis yang sedang menungguku.

“ Jung Ah ?” kata ku sekali lagi.

Ku tak dapati sosok dirinya … di manakah ia?

“ Jung-ah!” panggil ku mencari nya, ku berlari. Dengan liar mata ku menyapu setiap tempat yang ku lewati. “ Tak ada, tak ada …” ucap ku lirih. Mata ku mulai mebulirkan air mata. Kemana ia? Aku sungguh merasa takut. Jantung ku pun berdetak kencang.

Ku terhenti ketika melihat sosok nya, akhir nya terketemukan.

“  Jung – ah … Kau disini,” lirihku, suara ku sangat terdengar gemetar. “ O-O-ppa-a …” lirih nya, terdengar isakan dari nada yang terlantun. “ Tenanglah, semuakan baik-baik saja.” Ucap ku, mencoba tersenyum tuk menghibur diri ku dan dirinya. Ia tak menatap ku, membelakangi ku. Perlahan ku melangkah mendekati nya. “ Ani, Jangan … jangan dekati ku” ucap nya pelan. “ Wae?” tanya ku.” Jantungku berdetak kencang, sangat kencang.

“ Aniyo, nae gwenchanna” ucapnya lemah, dan gelengan. Ia merangkul sebuah buku ditanganya. Sangat erat, seperti nya ia tahu apa yang kan terjadi padanya. “ Jung-ah, kau kan baik-baik saja. Tenanglah, kita kan bersama.” Ucap ku memberanikan diri mendekatinya, dan mengelus bahunya. “ Ti-tida-k Oppa jangan pulang. Jangan pulang ke Jepang.” Ucapnya. Walau tak terlalu jelas, tampaknya ia memang sedang menangis. Buliran air matanya jatuh, satu persatu. “ Tidak.”


Hari ini adalah hari di mana aku harus kembali. Ya, masa didik ku di sini telah usai. Berpisah dengan nya sungguh sulit. Karna nya, aku mulai mencintai negri ini. Tapi, aku tak mungkin disini. Ini bukan tempat ku, ku harus kembali. Maaf,

Ia terdiam, sepertinya air mata nya semakin deras basahi liuk wajahnya. “ Lalu, kenapa? Kenapa masih disini?” tanya nya, suara nya berusaha sembunyikan isakan tangis. “ Karna,” ku tak berani mengatakan segala alasan ku adalah …dirinya. Jika ku berkata demikian, ku kan di racuni dengan kata-kata itu. Kata-kata yang membuat ku berubah pikiran dan tak ingin kembali ke Jepang.

“ Ne, arraseoyo” bisik nya pelan, sepertinya ia sudah menetralkan suasana hatinya. Tangan kanan nya menggenggam tangan kiriku yang berada di pundaknya. Sentuhan yang lembut, eratan tangan nya berkata lain, ia masih tak menginginkan ku pergi. Tak berani melepasku. “ Kau … kau berdarah Jung-ah?” tanya ku, mengamati jemarinya yang dibercaki darah. Ia menggeleng pelan.

“ Ka-jja kita kerumah sakit.” Ajak ku menarik pergelangan nya. Ia tetap terdiam disana, menolak ajakan ku. “ O-ppa …” ia terisak kembali. Ia memegang dada nya, buku yang ia genggam di depan dadanya pun terjatuh. “ Jung-ah please, aku tak mau seperti ini.” Lirihku. Kenapa dengan ku ? aku bukanlah apa-apa untuknya, sekedar teman. Dan tujuan utama ku disini bukanlah untuk seperti ini. Hanya belajar, ya … hanya itu.

“  Kau pasti tahu, iyakan?” tanya nya padaku. Ku tundukkan kepala ku dalam. “ Kenapa? Tak pernah memberi tahu ku?” tanya nya lagi. Ku tahu, semua yang menimpa dirimu. Tapi … karna ku tahu, ku ingin pungkiri semuanya, ku tak dapat menerimanya. “ Sakura sungguh indah, suatu saat nanti … ku ingin melihat indah nya bunga sakura di negri nya, Jepang. Ya, suatu saat aku ingin mengunjungi Jepang menikmati musim semi di sana.” Ucap nya menatap langit. “ Bersama mu,” lanjutnya lagi.
“ Tentu.” Buliran mata ku, tak sanggup ku tuk menahan nya terlalu lama. Aku tahu, ini adalah akhir dimana kita kan bertemu. Itu pernyataan konyol para ahli medis. Mereka konyol, tak sepantas nya. Mereka mengukur umur seseorang, seperti itu. Ini bukan hari akhir ku dapat bertemu dengan mu. Ini bukan perpisahan yang sesungguhnya.

“ Pasti, kitakan bertemu. Tidak, jangan musim semi saja. Kau harus menikmati perayaan lainnya” ucap ku, menghapus air mata. “ Ne,” ia membalikkan badannya, dan berikan senyuman indahnya. Mata nya, memancarkan ketenangan namun juga kesedihan.

“ Tempat apa yang akan kita kunjungi?” tanya nya, ia menggenggam tangan ku erat. Sangat erat. “ Hm, Bagaimana kita ke Kyoto, saat musim semi? Lalu jika di musim dingin, kita ke Hokaido. Dan kau harus rasakan daging sapi kobe, ya walau harga selangit setidak nya aku bisa membelinya dengan uang tabung ku selama ini.” Ucap ku menatapnya. “ Mahal ne? tak usah, yang sederhana saja … hm, Sushi, soba atau … Ramen? Apakah rasanya sama dengan milik Korea?”.

Matahari mulai menguning, hilangnya kehangatan yang tadi terasa. Kami sedang melangkah menuju jalan pulang. “ Aku kan menghilang …” bisiknya tertunduk. “ Apa? Aniyo … tidak, kau kan jadi bunga sakura walau musim terus berganti.” Aku tak berani menatapnya, jangan berkata demikian Jung-ah.

 “ Gomawo…” bisiknya, tak terdengar. Ia terbatuk, “ Uhuk …” darah segar keluar dari mulutnya, mata nya berair. Ia menangis. Bercakkan darah pun mengenai kelopak bunga yang sudah bertaburan di tanah. Berulang kali ia terbatuk. “Ayo kita ke rumah sakit.” Ucapku, ketakutan. Ia menggeleng pelan, “ aku ingin bersama mu.” Perlahan ia terjatuh, ku pun segera mendekap nya.

“ Bertahanlah,” isakku. “ Kita kan bertemu lagi kan? Pastikan ?” tanya nya menatap ku. Mata binarnya terasa, menyedihkan. Mata indah yang buat ku bahagia, kini buat ku tersendu. Tubuh nya terasa dingin. “ Ne,” angguk ku. “ Yakso ?” tanya nya, memberikan kelingkingnya. “ Yeah, promise.” Sahut ku memberikan kelingking ku juga.

“ Oppa, kau kan ajari aku bahasa Jepang kan ?” tanya nya lagi. “ Ha’I desu.” Ku angguk pelan. “ Apa arti dari bahasa jepang yang kau ucapkan? ‘Kimi wa kawaii’ ?”. “ Kau cantik.” Jawab ku lesu. “ Gomapta, jika … aku cinta kamu?”.

“ Aishiteru yo” jawabku.
“ Sarangeul …” b­alas nya dan perlahan menutup mata. Dengan senyuman mengakhiri.

Selama nya …


Kita berbeda, kita memang tak sama.
Namun perbedaan ini yang membuat ku belajar,
Apa arti memahami, apa arti menghargai
Dan semua keindahan dan kebahagiaan mu
Membuat ku jatuh cinta

Kimi o Aishiteru dan  Sarangeul …

Tidak ada komentar:

Posting Komentar