

Cast : - Park Jung Ah
Angin
sepoi berseruak merdu, melantunkan nyanyian musim yang lembut. Mata nya menikmati sekeliling. Ia mencintai
musim ini, tak hentinya senyuman bahagia hiasi wajah putihnya. “ Waa~ Indah
nya,” serunya bersemangat. Jemari nya mencoba tuk menangkap kelopak sakura yang
di terbangkan oleh angin, dan sesekali dengan lompatan kecil menemani
langkahnya.
“
Oppa, bagaimana menurut mu?” tanya nya menatap ku. Mata lembutnya, terpancar
indah. Dia memang indah, apa lagi jika ia tampak bahagia.
“ Hm
… Kimi wa kawai ne,” ucap ku membalas senyum nya.
“ Ng?” wajah nya tampak kesal, bibir merah muda itu
membentuk kerucut kecil. “ Apa ?” tanya ku, dengan menahan tawa. Ia tampak lucu
seperti itu. “ Apa artinya ?” tanya nya padaku. “ Aniyo … Kau tak usah tahu,”
Ku mendekati nya, dan melangkah melewati nya. “ Oppa… kau curang” rengek nya,
bibir mungil nya itu kembali menunjukkan rasa kesal nya.
Aku
suka mengusik nya, melihat nya seperti itu. Ya, ku sering menggunakan bahasa
yang tidak ia mengerti, bahasa yang berasal dari negri sakura, Nihon-Go.
Sebenarnya,
ku bukanlah penduduk negri ginseng ini. Ku disini karna pertukaran pelajar
antar Jepang dengan Korea. Itu berarti, tak ada kata ‘ tinggal tuk waktu lama’.
“ Bagaimana
di sana ?” tanya nya lagi, dan berlari kecil tuk mengejar langkah kaki ku yang
sedari tadi berada di depannya. “ Apa nya?” tanya ku balik, dan menatapnya yang
sudah berada di sampingku. “ Jepang… Bunga sakura disana, apakah seindah
Korea?” dengan polosnya, ia bertanya. Ku tertawa pelan, dan mencoba kembali
menahan tawaku ketika melihat wajah nya yang merasa tak suka di tertawakan.
Sungguh, ini pertanyaan konyol untukku.
“ Mana jawaban ku ?” tanya nya lagi, untuk
menagih jawaban. “ Bakaru oeh? Di manapun sakura berada … Ia kan tetap sama,
ketika mereka mekar mereka kan tampak cantik dan tetap kan tersenyum pada musim
ini. Mereka kan berikan keanggunan nya, dan membiarkan mahkotanya terbawa
angin.” Jelasku, mata ku teralih menatap dahan pohon sakura yang tertiup angin.
“ Hm, ne.” angguk nya. Kami pun melanjutkan acara jalan-jalan kami.
“ Aku
lelah,” ucapnya pelan. Ku tatap ia, wajah nya sudah memucat. “ Ayo kita pulang”
ajak ku. “ Ani …” ia menggeleng pelan. “ Kureom, mari istirahat.”
Kami pun
duduk di kursi taman. Tak henti-henti nya angin menyobongkan keelokkan sang
sakura. Wajah nya, kini memucat. Ku tak bisa menerima kenyataan yang
sesungguhnya. Pasti ia benar-benar merasakan sakit saat ini. Namun mengapa? Senyuman
itu tetap ada. Tetap tersenyum, walau derita terasa. Mata bulatnya sibuk
mengamati sekeliling. “Jangan paksakan dirimu.” Suara ku bergetar, ia
membalikkan arah pandang nya dan menatap ku.“ Aku menyayangi mu,” tuturku lagi,
entah kenapa rasa takut merasuk dalam benak ku. “ Ne,” jawab nya dengan senyum,
dan kembali sibuk dengan memperhatikan sekeliling. Seakan – akan wanita ini tak
pernah bosan melakukan nya.
Ku genggam
jemarinya yang lembut, ku dekap erat. “ Aku takut … kehilangan mu,” lirihku
berbisik, bisikan yang sangat pelan. “ Hm …?” ia menatap ku kembali, dan
terdiam sejenak. “ Apa yang kau katakan tadi, oppa?” tanya nya, tampaknya
bisikan ku memang tak terdengar. “ Iie”
jawab ku, menggeleng pelan.
Saat ini,
ku tak mampu tuk menatap nya. Ku terlalu takut, tapi ku ingin terus mendekapnya
erat. Kenapa dengan diri ku oeh? Kenapa seperti ini? Kenapa ku tak dapat
kendalikan emosiku …? Kenapa?
“ Oppa …”
suara kecil nya memanggilku, ia mengguncang tubuh ku pelan. “ Bagaimana jika
kita membuat beberapa foto ?” tanya nya. “ Ne, itu ide baik” jawab ku tersenyum
tipis. Sesungguhnya, ku benci lakukan ini, ya ... untuk sekarang. Karna
kemungkinan foto ini adalah foto pertama ku dengan nya, dan juga foto terakhir
ku dengannya.
“ Han … Dul
… Set … Kimchi ~”
Jepretan
demi jepretan kami ambil.
“ Waa~
Oppa, kau jelek sekali ~” ejek nya tuk bergurau. “ Mana ? mari ku lihat” pinta
ku. “ Aniyo …” ia menggelengkan kepalanya. “ Aish, kau ini …” Ku pun mencoba
mengambil kamera yang Jung-ah pegang. “ Kkk~ ani … Ani …” kata nya dengan
sedikit kekehan kecil dan mencoba menghalangi ku tuk mendapatkan kameranya. Ia
berlari, saat ku coba mengambil kamera nya. Dan akhir nya, kami saling kejar
mengejar.
“ Huwaa …
capai nya,” kami jatuhkan diri ke atas rerumputan. “ Berikan kamera nya
padaku,” ucap ku kelelahan, dengan sesekali nafas berat ku hembuskan. “ Kkk~
aniyo,” jawab nya, tanpa milirik ku yang berada di sampingnya. Ia masih bisa
tertawa pelan, padahal sangat jelas ia tampak sangat kelelahan. Peluhnya tampakbasahi
keningnya. “ Anata …” ucap ku, pura-pura kesal. Aku pun memalingkan tubuh ku,
dan membelakangi nya. “ Oppa, jangan seperti itu ah~ Oppa Kyeopta” ia mendekati
ku, membujukku dengan sedikit guncangan pelan.
“ Habis kau
ini, aku hanya ingin melihat hasil nya.” Jelasku. “ Ne, kau boleh melihatnya.
Tapi …,” ucap nya, kalimat nya menggantung. “ Tapi apa?” tanya ku dan
membalikkan badan. “ Belikan aku minum dan ajari aku bahasa mu,” ia tersenyum
menatap ku. Kami pun saling pandang memandang.
“ Sho !”
seruku dan mengubah posisiku menjadi duduk. Ia pun mengikuti ku. “ Apa yang kau
inginkan ?” tanya ku sebelum pergi. “ Hm, aku mau ice cream~” ucap nya manja,
dan menggoyangkan badan bagian atas nya layak nya seorang anak kecil yang
memohon. “ Haha. Allright,” ku terkekeh pelan dan bergegas membeli apa yang
Jung-ah inginkan.
Ku
melangkah kembali, ketika mendapatkan benda yang di inginkan. Walau pun ada
sedikit belanjaan yang ku beli, ketika berjalan kembali ketempat Jung-Ah
berada. Sesekali ku melihat isi dari kantung belanjaan yang tergantung manis di
lengan ku. “ Jung-ah … aku bawakan kau ice cream.” Ku terdiam mengalihkan
pandangan, kepada wajah gadis yang sedang menungguku.
“ Jung Ah
?” kata ku sekali lagi.
Ku tak
dapati sosok dirinya … di manakah ia?
“ Jung-ah!”
panggil ku mencari nya, ku berlari. Dengan liar mata ku menyapu setiap tempat
yang ku lewati. “ Tak ada, tak ada …” ucap ku lirih. Mata ku mulai mebulirkan
air mata. Kemana ia? Aku sungguh merasa takut. Jantung ku pun berdetak kencang.
Ku terhenti
ketika melihat sosok nya, akhir nya terketemukan.
“ Jung – ah … Kau disini,” lirihku, suara ku
sangat terdengar gemetar. “ O-O-ppa-a …” lirih nya, terdengar isakan dari nada
yang terlantun. “ Tenanglah, semuakan baik-baik saja.” Ucap ku, mencoba
tersenyum tuk menghibur diri ku dan dirinya. Ia tak menatap ku, membelakangi
ku. Perlahan ku melangkah mendekati nya. “ Ani, Jangan … jangan dekati ku” ucap
nya pelan. “ Wae?” tanya ku.” Jantungku berdetak kencang, sangat kencang.
“ Aniyo,
nae gwenchanna” ucapnya lemah, dan gelengan. Ia merangkul sebuah buku ditanganya.
Sangat erat, seperti nya ia tahu apa yang kan terjadi padanya. “ Jung-ah, kau
kan baik-baik saja. Tenanglah, kita kan bersama.” Ucap ku memberanikan diri
mendekatinya, dan mengelus bahunya. “ Ti-tida-k Oppa jangan pulang. Jangan
pulang ke Jepang.” Ucapnya. Walau tak terlalu jelas, tampaknya ia memang sedang
menangis. Buliran air matanya jatuh, satu persatu. “ Tidak.”
Hari ini
adalah hari di mana aku harus kembali. Ya, masa didik ku di sini telah usai.
Berpisah dengan nya sungguh sulit. Karna nya, aku mulai mencintai negri ini.
Tapi, aku tak mungkin disini. Ini bukan tempat ku, ku harus kembali. Maaf,
Ia terdiam,
sepertinya air mata nya semakin deras basahi liuk wajahnya. “ Lalu, kenapa?
Kenapa masih disini?” tanya nya, suara nya berusaha sembunyikan isakan tangis.
“ Karna,” ku tak berani mengatakan segala alasan ku adalah …dirinya. Jika ku
berkata demikian, ku kan di racuni dengan kata-kata itu. Kata-kata yang membuat
ku berubah pikiran dan tak ingin kembali ke Jepang.
“ Ne,
arraseoyo” bisik nya pelan, sepertinya ia sudah menetralkan suasana hatinya.
Tangan kanan nya menggenggam tangan kiriku yang berada di pundaknya. Sentuhan
yang lembut, eratan tangan nya berkata lain, ia masih tak menginginkan ku
pergi. Tak berani melepasku. “ Kau … kau berdarah Jung-ah?” tanya ku, mengamati
jemarinya yang dibercaki darah. Ia menggeleng pelan.
“ Ka-jja
kita kerumah sakit.” Ajak ku menarik pergelangan nya. Ia tetap terdiam disana,
menolak ajakan ku. “ O-ppa …” ia terisak kembali. Ia memegang dada nya, buku
yang ia genggam di depan dadanya pun terjatuh. “ Jung-ah please, aku tak mau
seperti ini.” Lirihku. Kenapa dengan ku ? aku bukanlah apa-apa untuknya,
sekedar teman. Dan tujuan utama ku disini bukanlah untuk seperti ini. Hanya
belajar, ya … hanya itu.
“ Kau pasti tahu, iyakan?” tanya nya padaku. Ku
tundukkan kepala ku dalam. “ Kenapa? Tak pernah memberi tahu ku?” tanya nya
lagi. Ku tahu, semua yang menimpa dirimu. Tapi … karna ku tahu, ku ingin
pungkiri semuanya, ku tak dapat menerimanya. “ Sakura sungguh indah, suatu saat
nanti … ku ingin melihat indah nya bunga sakura di negri nya, Jepang. Ya, suatu
saat aku ingin mengunjungi Jepang menikmati musim semi di sana.” Ucap nya
menatap langit. “ Bersama mu,” lanjutnya lagi.
“ Tentu.”
Buliran mata ku, tak sanggup ku tuk menahan nya terlalu lama. Aku tahu, ini
adalah akhir dimana kita kan bertemu. Itu pernyataan konyol para ahli medis.
Mereka konyol, tak sepantas nya. Mereka mengukur umur seseorang, seperti itu.
Ini bukan hari akhir ku dapat bertemu dengan mu. Ini bukan perpisahan yang
sesungguhnya.
“ Pasti,
kitakan bertemu. Tidak, jangan musim semi saja. Kau harus menikmati perayaan
lainnya” ucap ku, menghapus air mata. “ Ne,” ia membalikkan badannya, dan
berikan senyuman indahnya. Mata nya, memancarkan ketenangan namun juga
kesedihan.
“ Tempat
apa yang akan kita kunjungi?” tanya nya, ia menggenggam tangan ku erat. Sangat
erat. “ Hm, Bagaimana kita ke Kyoto, saat musim semi? Lalu jika di musim dingin,
kita ke Hokaido. Dan kau harus rasakan daging sapi kobe, ya walau harga
selangit setidak nya aku bisa membelinya dengan uang tabung ku selama ini.”
Ucap ku menatapnya. “ Mahal ne? tak usah, yang sederhana saja … hm, Sushi, soba
atau … Ramen? Apakah rasanya sama dengan milik Korea?”.
Matahari
mulai menguning, hilangnya kehangatan yang tadi terasa. Kami sedang melangkah
menuju jalan pulang. “ Aku kan menghilang …” bisiknya tertunduk. “ Apa? Aniyo …
tidak, kau kan jadi bunga sakura walau musim terus berganti.” Aku tak berani
menatapnya, jangan berkata demikian Jung-ah.
“ Gomawo…” bisiknya, tak terdengar. Ia
terbatuk, “ Uhuk …” darah segar keluar dari mulutnya, mata nya berair. Ia
menangis. Bercakkan darah pun mengenai kelopak bunga yang sudah bertaburan di
tanah. Berulang kali ia terbatuk. “Ayo kita ke rumah sakit.” Ucapku, ketakutan.
Ia menggeleng pelan, “ aku ingin bersama mu.” Perlahan ia terjatuh, ku pun
segera mendekap nya.
“
Bertahanlah,” isakku. “ Kita kan bertemu lagi kan? Pastikan ?” tanya nya
menatap ku. Mata binarnya terasa, menyedihkan. Mata indah yang buat ku bahagia,
kini buat ku tersendu. Tubuh nya terasa dingin. “ Ne,” angguk ku. “ Yakso ?”
tanya nya, memberikan kelingkingnya. “ Yeah, promise.” Sahut ku memberikan
kelingking ku juga.
“ Oppa, kau
kan ajari aku bahasa Jepang kan ?” tanya nya lagi. “ Ha’I desu.” Ku angguk
pelan. “ Apa arti dari bahasa jepang yang kau ucapkan? ‘Kimi wa kawaii’ ?”. “
Kau cantik.” Jawab ku lesu. “ Gomapta, jika … aku cinta kamu?”.
“ Aishiteru yo” jawabku.
“ Sarangeul …” balas nya dan perlahan menutup mata. Dengan
senyuman mengakhiri.
Selama nya …
Kita berbeda,
kita memang tak sama.
Namun
perbedaan ini yang membuat ku belajar,
Apa arti
memahami, apa arti menghargai
Dan semua
keindahan dan kebahagiaan mu
Membuat ku
jatuh cinta
Kimi o
Aishiteru dan Sarangeul …

Tidak ada komentar:
Posting Komentar