Fanfict -Yaoi Story
Author: Yolan
Holaaaa!!! Di sini Yolan. Kenal Yolan? Ituloh Yolan Cie MaCAn (Manis Cantik) Baday membahana. Masih kurang lengkap? Yolan, satu –satunya Cewek di Community **** (Sensor, Gak di ijinin sebut nama sama Fael. =.=) Yang cerewet suara nya cempreng gimanaaaaa ghitu. *Tetep gak kenal? Aduhhhh emang nasib Yolan gak di kenal ya? T_T
Kalian pasti tahu dong FF? (*K-Pop lover biasanya tau.) mungkin cerita kayak ghtu jgha. Tapi… Kalo Yolan bedanya tentang orang di sekeliling Yolan tepatnya temen Communty. Dan ini… Tentang ‘Yaoi’. Ada beberapa cerita REAL And HoaK *Imajinasi Author* Udah… deh, dari pada lama. Semoga kalian suka. Amieeennn ^^.
Hidup ku adalah cerita sepi ku… Dimana aku terjebak di dalam kegelapan
yang sunyi. Aku tahu orang tua ku adalah orang yang berada dan sering kali
memanjakan ku dengan kemewahan harta mereka. Tapi bukan itu yang ku mau.
Keberadaan mereka yang ku butuhkan, Kasih sayang mereka yang ku inginkan… Tapi
setiap kali aku meminta mereka untuk bersama ku di saat Libur mereka terus
menolak dan menyuruh ku belibur dengan teman –teman ku. Mungkin hal ini berbeda
dengan kehidupan orang biasanya, Tapi inilah hidupku. Hidup yang telah ku
lalui. Rasa sepi dan dingin selalu ku rasakan. Tak ada pengangan yang dapat
menghangatkan di dalam sini. Bisakah aku keluar!? Itulah kata –kata yang selalu
terbayang. Aku hanyalah seorang yang dapat menerima sakit ini dan hanya terdiam
saja. Dan mungkin hanya itu yang ku bisa. Tapi akhir –akhir ini, entah kenapa
hidup ku mulai berubah… dan semua itu tampak lebih baik lagi ketika aku bertemu
dengan mu… Seorang yang akan tersenyum lembut dengan setiap kasih yang
menghapus luka dalam pikiranku. Ya, di mulai saat itu… Aku memiliki kembali
senyum ku yang sempat hilang. Kini terukir kembali di wajah ku.
Seperti biasanya. Aku selalu di
tindas oleh teman –teman sekelasku. Seperti yang ku rasakan sekarang. “Lepaskan
aku!” Teriak ku. “Cepat Masuk!” Kata ‘Steven’ mendorong ku masuk lemari
peralatan. “Kyakkk!!!” Kata ku berteriak berusaha lepas dari genggaman mereka.
“Jangan memberontak!” Kata ‘Reza’ memukul keras wajah ku. Aku kembali di dorong
masuk ke dalam lemari itu lagi dengan kasar. Sekali lagi aku pun merintih
kesakitan. Mereka dengan cepat mengunci ku di lemari. “Kyakk!!! Cepat buka!
Keluarkan aku!!” Kata ku terus memukul pintu lemari. “Diam kau!” Kata Steven
memukul pintu dengan keras. “Cepat buka! Apa yang kalian inginkan!? Cepat
buka!” Kata ku mencoba mendorong pintu lemari. Tapi hasilnya sia –sia. Pintu
itu telah terkunci dengan kuat. Kau ingin tahu kenapa? Karna kau tidak berguna!
Karna itu! Apa kau mengerti!!?” Kata Reza dengan tawa puas. “Kyakkk!! Cepat
lepaskan aku!! Memang apa salah ku! Hingga kalian terus melakukan ini! Aku tak
pernah jahat dengan kalian!!” Kata ku
kembali berteriak dan memukul pintu lemari. “Diam kau!” Bentak Reza kasar.
“Kau… Tahu? Sejak kau datang ke sekolah ini. Hidup ku susah! Karna itu! Karna
kau hidup! Tak seharusnya kau hidup!” Kata Steven. “Apa? Itu tak masuk akal.”
Kata ku masih memukul pintu. “Beraninya kau!” Teriak Steven marah. “Sudah.
Stev. Kita pergi aja. Biarin dia membusuk di sini.” Kata Reza dengan tawa
evilnya. “Ya.” Kata Steven setuju. Aku dapat mendengar langkah kaki mereka yang
perlahan menjauh. “Kyakkkk!!! Cepat buka! Hey! Jangan tinggalkan aku!!” Kata ku
mendorong –dorong pintu dengan keras.
Sudah berjam –jam aku terkunci di
dalam lemari. Tangan ku pun sampai lecet karna berusaha membuka sisi pintu.
“Bagaimana ini? Apa bisa aku membuka kuncinya dengan merusak knock nya?” Kata
ku mencoba berpikir. Tangan ku mencari –cari apa saja yang mungkin bisa merusak
kunci ini. “Ah! Ketemu.” Kata ku menemukan sebuat silet yang sudah rusak
sebagian dan mulai berkarat. Aku pun mencoba merusak knock itu. “Ayo Seichi…
Berjuang.” Kata ku menyemangati diri sendiri. “Auchhh!” Rintihku karna tergores
silet. Ternyata sia –sia saja. Aku mencoba merusak. Yang nyatanya malah silet
ku yang rusak dan jari –jari ku pun ikut terluka. “Sial!” Kata ku yang sudah
berusaha berkali –kali. “Bagaimana ini tuhan…” Kata ku menjatuhkan diri. Tiba
–tiba lampu pun mati. “Ya Tuhan!” Kata ku terkejut. semua tampak menjadi gelap
gulita. “Ya ampun, apa sekarang sudah tengah malam?” Kata ku yang teringat
bahwa setiap tengah malam lampu sekolah akan mati sendiri dengan otomatis.
“Tuhan. Bagaimana ini… Tolonglah aku.” Kata ku mengepalkan tanganku dengan mata
yang terpejam karna takut. Sejak kecil aku takut dengan kegelapan. Mulut ku pun
terus berkomat kamit membaca doa agar Tuhan segera menolongku. Klekkkk…
Terdengar suara pintu terbuka. “Apa itu? Apa itu hantu?” Kata ku yang
berpikir tidak –tidak, karna takut.
Lampu pun kembali menyala. “Ah! Nyala lagi.” Kata ku senang. “Apa ada orang!?”
Tanya ku pada diri sendiri. Aku pun langsung memukul kembali pintu lemari.
“Tolong! Siapa pun! Cepat buka!” Kata ku berusaha meminta tolong. “Kyakkkk!!
Ada hantu!” Terdengar teriakan histeris wanita. “hey! Tunggu!” Terdengar suara
lainnya. “Hey! Tolong! Cepat! Aku bukan hantu!” Kata ku terus memukul –mukul
pintu. Klekkk! Pintu pun terbuka. Aku yang senang langsung memeluk sang
penolong ku. “Terimakasih…” Kata ku yang masih takut. “Eh? Kamu ngapain.”
Katanya. Aku pun terdiam sejenak masih dalam pelukannya. “Eh? Suara laki –laki?
Apa dia laki –laki? Tuhan. Bagaimana ini?” Kata ku dalam hati. Aku pun mem-
beranikan diri melihat sang penolong ku itu. “Tuhan… Siapakah ia? Tampak begitu
indah? Apa dia Malaikat utusan mu?” Kata ku dalam hati. Aku hanya dapat terdiam
melihat wajahnya yang begitu Tampan (?) “Ka…Kamu, Gak apa kan?” Tanya nya
sedikit ragu. “A… A…” Kata ku terbata. Tak bisa berkata. “A… Ya, Ampun!
Bagaimana ini!” Kata nya mengerutu sendiri. “Ma…Maaf.” Kata ku sedikit
bersalah. Sepertinya dia menjadi salah tingkah karna aku. “Ah? Kenapa harus
minta maaf. Kamu gak salah kok.” Kata nya mencoba meluruskan. “Ah. Ya. Maaf dan
terimakasih.” Kata ku tertunduk karna aku masih malu dengan perlakuan bodoh ku.
Sungguh aku gak ngerti apa yang terjadi dan gak tahu harus ngapain lagi. “Ah…
Jangan gitu dong.” Kata nya mengangkat dagu ku agar melihatnya. “Eh?” Kata nya
melihat mata ku. Mata nya tampak begitu indah dengan kilauan. “Maaf. Tak
seharusnya.” Kata nya melepas daguku. “Kyakkk!! Apa yang telah ku lakukan!”
Kata nya menggerutu membelakangiku. “Ah… Maaf.” Kata ku merasa bersalah lagi.
“Sebenarnya dia kenapa? Aneh sekali. =,=” Kata ku dalam hati. “Kamu…Kamu
ngapain kunci diri di lemari?” Katanya tiba –tiba. “Eh?” Kata ku tak percaya
dia menanyakan hal itu. “Eh… Salah ya?” Katanya lagi. aku hanya mengangguk.
“Bukan mengunci. Tapi… Di kunci dari luar. Aku tidak sebodoh itu mengunci
diriku di lemari dan berteriak minta tolong untuk di keluarkan.” Kata ku
sedikit kesal. Dia terdiam. Aku hanya menatapnya dengan tanya. “Kenapa?” Tanya
ku. “Ah tidak. Tak apa.” Jawabnya mengalihkan pandangan. “Ya sudah terserah
kamu.” Kata ku. “Mau ku antar?” Tanyanya. “Antar?” Tanya ku balik. “Ya antar
pulang. Ke rumah mu.” Ucapnya.
“Siapa nama mu?” Tanya ku kepadanya.
“Xun. Kamu?” Tanyanya. “Seichi. Tadi kamu ngapain di sekolah?” Kata ku bertanya
padanya. “A.. Aku… tadi di sekolah aku berniat mencari sesuatu.” Jawab Xun.
“Apa yang kau cari sehingga kau harus kembali lagi ke sekolah walau sudah
malam.” Kata ku penasaran. “Sebuah... Buku kecil.” Kata Xun tertunduk. “Buku
kecil?” Tanya ku lagi. “Ya. Buku tentang hari –hari ku. Aku sering menulis
setiap perasaan dan cerita hidupku di dalamnya.” Kata Xun. “Maksud mu sebuah
Diary?” Kata ku menangkap maksud Xun. Ia mengangguk. “Jika ketahuan oleh orang
lain aku bisa mati.” Ujar Xun. “Berarti sangat penting ya? Seperti apa Diary mu
itu? Dan bagaimana bisa kau menghilangkannya di tempat seperti itu?” Tanya ku
untuk sekian kalinya. “Satu –satu dong…” Kata nya tersenyum. “Maaf.” Balas ku.
“Buku kecil berwarna biru tua. Di sekitar sisi nya terdapat garis Silver. Aku
kehilangannya karna wanita tadi yang bersama ku menyembunyikannya di sekitar
sana. Tapi sayangnya ia lupa tepatnya dimana.” Kata nya memberi tahu. “Hm,
Begitu ya.” Kata ku paham.
Malamnya Aku tak dapat tidur. Aku
masih memikirkan buku kecil yang di miliki Pangeran penolongku itu. “Cerita
seperti apa yang dia tulis di dalam buku itu ya?” Kata Aku berbicara sendiri.
“Oh! Besok pagi sekali aku akan mencarinya! Sebagai tanda terimakasih ku.” Kata
ku tersenyum senang. Entah kenapa aku merasa senang sekali. Apa itu karna aku
dapat bertemu dengan Pangeran tampan itu lagi? entah lah. Terpenting sekarang
aku harus tidur. Agar pagi dapat datang lebih awal.
“Di mana ya kira –kira?” Kata ku
mencari –cari. Ku temukan sebuah tas tua yang sudah rusak dan tampak dekil. Aku
pun membuka tas tersebut. “Ah! Uereeka!!!!” Kata ku senang menemukan buku yang
telah ku cari. Glek! Aku pun menelan ludah ketika pikiran nakal ku menyuruh
untuk membaca buku tersebut. “Ayoolah. Sedikit saja. Toh! Aku juga telah
menolongnya menemukannya? Apa salahnya jika aku tahu sedikit?” Kata ku berdebat
dengan diri ku sendiri. Apa ini tidak dosa? Seberapa tak sopan kah diriku
membuka Diary orang yang telah menolong ku? Entah pikiran lain mencoba mengingatkan
dan menghentikan langkah ku ini. “Benar juga ya?” Kata ku menghela napas. Aku
pun bangkit dari posisi jongkok ku. “Apa itu?” Tanya ku ketika melihat sepucuk
surat jatuh dari buku Diary. Aku pun mengambilnya. Surat itu berwarna Biru muda
dan di hiasi satu tanda ‘Love merah hati’ kecil yang manis di sisi kanan nya.
“Surat cinta? Siapakah dia yang beruntung mendapatkan hati Xun?” Kata ku
sedikit cemburu dan putus asa karena Xun mencintai seorang wanita. Pasti dia
cantik, Manis, Baik, Pintar, Kaya raya, Sexy dan sangat begitu sempurna.
Pikiran ku mulai membayangkan wanita yang telah meruntuhkan semangat ku. “Kyakkk! Cantik sekali dia! Tak sebanding
dengan ku.” Kata ku menggerutu sendiri. Daripada penasaran lebih baik ku lihat
untuk siapa surat itu. Apa ini sopan? Sudah! Tak usah memikirkan sopan santun
ketika sedang patah hati seperti ini! Aku pun membuka surat itu.
Sejak awal ku melihat mu, Hatiku telah merasa
getaran itu.
Getaran cinta yang membuat ku tak nyenyak tidur
karna terus memikirkan mu.
Tapi tak masalah karena aku memang mencintai mu.
Tapi aku bingung bagaimana cara ku mendekati mu.
Selama ini aku terus mencari tahu tentang mu secara diam –diam. Maaf jika tak
sopan.
Ku tahu kau sama sekali tak mengetahui siapa
diriku.
Tapi jika boleh ijinkan aku mengenggam cinta mu
dan menjaga setiap hati dan perasaan mu itu.
Dan jadikanlah aku Sebagai Pangeranmu.
yang akan selalu ada mengisi kekosongan dalam hidupmu.
yang akan selalu ada mengisi kekosongan dalam hidupmu.
Panas mata ku ketika membacanya. Kenapa dengan diriku? Baru kemarin
aku bertemu dengannya dan mengetahui namanya, Tapi kenapa aku harus secemburu
itu? Tidak justru itu tidak adil. Aku baru bertemu dan hanya sebentar
berbincang dengannya dan sekarang aku harus melepas nya dalam hatiku dan
terluka begitu saja karna wanita bodoh yang telah merebut hatinya duluan. Air
mata ku pun mulai membasahi mata ku. Aku pun melanjutkan baca ku mencari siapa
wanita yang beruntung itu.
Untuk mu Seichi
–Kun Dari Xun,
Seorang yang aku
cintai.
Yang mencintai mu
“Sei… Seichi?” Kata ku tak
percaya. “Apa itu aku? Wanita bodoh itu aku?” Tanya ku lagi mencoba membaca
tulisan terakhir. Aku pun menghapus air mata ku. Aku senang sekali. Mungkin
hanya dia yang bisa menerima ku, menyanyangi ku. Tapi seperti yang di ketahui
‘Cinta sesama jenis itu dilarang!’. Yes! I know! And so Know it! Pantas saja
sangat penting dan ia tak ingin orang lain mengetahuinya. Terimakasih telah
mencintai ku. Terimakasih… Walau pada akhirnya aku akan terluka karna harus
berpura –pura tidak tahu dan menyimpan semuanya sendiri itu tapi tak apa. Aku
pun memasukan kembali surat itu ke dalam Amplop nya.
“Seichi –kun?” Terdengar suara Xun di belakangku. Aku yang terkejut
langsung berbalik melihatnya. “Ah, Xun.” Kata ku berusaha tersenyum. “Sedang
apa… Itu…” Kata Xun pun terhenti ketika melihat buku Diary dan surat cintanya
di tangan ku. “ini…” Kata ku memberikannya. “Te…Terima kasih.” Kata Xun
menerimanya. “Tidak. Anggap saja itu balas budi ku.” Kata ku tersenyum
melihatnya sejenak. Kilauan lembut matahari pun mulai terlihat dan menyinari
ruangan ini. wajah Xun yang tampak menawan menjadi sangat mengagumkan dengan di
hujani kilauan itu. Aku pun mulai melangkahkan kaki ku. Mungkin ini adalah saat
terakhir ku untuk bertemu lagi dengannya. Mungkin… “Seichi –kun.” Pangginya
membuat langkah ku terhenti. “Ada apa Xun?” Kata ku tak berani melihatnya
karena aku tak mau dia melihat air mata ku yang sudah memenuhi beluk mata ku.
“Aku mencintai mu.” Kata Xun tiba –tiba memelukku. Suara nya terdengar sangat
lembut saking lembut nya hingga hampir tak terdengar oleh ku. “Apa?” Kata ku
spontan. “Aku mencintai mu, Sayang…” Bisik Xun sekali lagi di kuping ku. “A… A…
Aku..” Kata ku tak dapat berkata. Air mata ku pun jatuh dengan derasnya tak
dapat ku kendalikan. Aku pun menangis. Xun melepas pelukan hangatnya. Tampak
dari matanya ia terkejut. “Tuhan… Kenapa aku malah menangis? Ini memalukan!
Cepat berhenti Seichi. Ayolah!” Keluh ku memarahi diri ku sendiri. “Maaf… Aku
tahu perasaan ku salah…” Kata Xun bersalah sekaligus kecewa. Ya ampun bukan itu
Xun. Bukan karena itu. Aku ingin menghentikannya yang terus meminta maaf. Tapi
aku tidak bisa karena aku terjebak dalam isak ku. Kenapa juga dengan ku?
“Maafkan ku Seichi –kun maaf… Mungkin ini tampak bodoh dan konyol, Ya I know
it. Awalnya aku juga berpikir begitu. Tapi… Sekarang aku tahu bahwa benar aku
mencintai mu dan bukan hanya rasa sekilas saja. Sekarang kau tahu apa yang
kurasakan selama ini. Terserah kau ingin mengolok dan memberi tahu yang lain…
Atau juga kau ingin menghindar dari Pria menjijikan seperti ku ini...Hmppt!”
Kecupan ku pun menghentikan
perkataannya. Ia tampak sangat terkejut. “Terimakasih.” Kata ku yang sudah
mulai tenang. “Sei… Seichi kun..” Kata nya masih terkejut. “Aku mencintai mu
juga Sayang…” Kata ku menjawab alasan kenapa aku menciumnya. “Be…Benar…” Lagi
–lagi aku menciumnya. Tapi kini dengan penuh perasaan. Aku mengecupnya dengan
dalam. Setelah aku merasa cukup untuk meyakinkannya bahwa ‘Aku juga
mencintainya’ aku pun melepasnya perlahan. Tapi ia menarik wajah ku hingga
bibir kita bertemu lagi. Dia mengecupku dengan kuat. Menekan ku dalam
pelukannya yang erat. Ia pun mengelamkan diri ku dalam cintanya.
Di kelas. Aku tak bisa berhenti memikirkan Xun. Otak ku di penuhi
olehnya matanya yang bersinar itu, Bibirnya yang manis, Wajahnya yang tampan.
Tuhan! Apa dia malaikat yang di utus oleh mu sebagai kebahagian dalam hidup
suram ku ini? Entahlah yang ku tahu. Aku tak pernah sebahagia ini…
Istirahat. Aku
berniat untuk mengembalikan buku yang ku pinjam dari perpustakaan. “Seichi
–kun!” Panggil Xun menghampiri ku. Hati ku senang sekali dapat melihat nya
tapi… “Xun~” Seorang wanita mendekati Xun duluan. Aku yang melihatnya hanya
dapat menghentikan langkah dan kecewa. “Xun ayo
kita makan bareng di kantin.” Ajak Gadis itu. Kenapa baru aku sadari
bahwa aku dan Xun sangat berbeda. Ia adalah anak yang tampan, Pintar, dan juga
popular di Kalangan anak –anak. Tidak seperti aku. Aku hanyalah anak laki –laki
biasa yang menjadi sasaran bulan –bulanan. Aku pun tertunduk dan tersenyum
miris. “Selamat Tinggal.” Bisik ku sebelum akhirnya aku melangkah kan kaki ku
berbalik meninggalkannya. “Seichi –Kun.” Panggilnya meraih tangan ku. Aku pun
langsung berbalik memandangnya. “Kau mau makan bareng dengan ku?” Kata Xun
mengajak. Aku menggeleng dengan wajah sedih. Entah apa dia dapat melihat dari
mataku bahwa aku sangat terluka dan sedih sekarang?. “Kau kira kau siapa!?
Lepaskan tangan ku!” Kata ku dengan nada tinggi melepas genggamannya kasar.
“Kenapa?” Tanya nya kecewa. “Apa kau tak tahu sekarang aku sedang cemburu dan
putus asa?” Kata ku menjawab dalam hati. “Aku tak mengenalmu. Jangan sok
akrab.” Kata ku berlawanan dengan Hatiku. Ia pun mundur beberapa langkah.
“Maaf. Kalo begitu. Permisi Seichi –kun.” Kata nya pamit dengan membungkukan
badan. “Xun…” Panggil ku hampir tak terdengar. “Apa?” Tanyanya lagi. “A…Apa!?
Aku tak bilang apa –apa!” Bentak ku. “Benarkah?” Tanya nya lagi. “Sudah lah
Xun… Tak usah memikirkan laki –laki ini. sudah untung di ajak tapi malah
menolak dengan kasarnya.” Kata Gadis itu mendorong bahu ku. “Apa yang kau
lakukan!?” Kata Xun marah. “Apa? Kok kamu marah sama aku?” Kata Gadis itu
heran. Xun pun mentapku sejenak. Terlihat dari matanya banyak pertanyaan yang
ingin di ajukan kepada ku. aku hanya dapat menatapnya dan bersalah. “Aku jadi
malas ke kantin. Kau saja.” Kata Xun melangkah menabrak bahu ku. Ia pun
melangkah berlalu begitu saja. Aku pun meremas tangan ku menahan perasaan yang
ada.”Maaf…” Bisik ku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar