Kamis, 09 Juli 2015

Aishiteru (Part 1)

Fanfict -Yaoi Story
Author: Yolan


Holaaaa!!! Di sini Yolan. Kenal Yolan? Ituloh Yolan Cie MaCAn (Manis Cantik) Baday membahana. Masih kurang lengkap? Yolan, satu –satunya Cewek di Community **** (Sensor, Gak di ijinin sebut nama sama Fael. =.=) Yang cerewet suara nya cempreng gimanaaaaa ghitu. *Tetep gak kenal? Aduhhhh emang nasib Yolan gak di kenal ya? T_T
            Kalian pasti tahu dong FF? (*K-Pop lover biasanya tau.) mungkin cerita kayak ghtu jgha. Tapi… Kalo Yolan bedanya tentang orang di sekeliling Yolan tepatnya temen Communty. Dan ini… Tentang ‘Yaoi’. Ada beberapa cerita REAL And HoaK *Imajinasi Author* Udah… deh, dari pada lama. Semoga kalian suka. Amieeennn ^^.
               
Hidup ku adalah cerita sepi ku… Dimana aku terjebak di dalam kegelapan yang sunyi. Aku tahu orang tua ku adalah orang yang berada dan sering kali memanjakan ku dengan kemewahan harta mereka. Tapi bukan itu yang ku mau. Keberadaan mereka yang ku butuhkan, Kasih sayang mereka yang ku inginkan… Tapi setiap kali aku meminta mereka untuk bersama ku di saat Libur mereka terus menolak dan menyuruh ku belibur dengan teman –teman ku. Mungkin hal ini berbeda dengan kehidupan orang biasanya, Tapi inilah hidupku. Hidup yang telah ku lalui. Rasa sepi dan dingin selalu ku rasakan. Tak ada pengangan yang dapat menghangatkan di dalam sini. Bisakah aku keluar!? Itulah kata –kata yang selalu terbayang. Aku hanyalah seorang yang dapat menerima sakit ini dan hanya terdiam saja. Dan mungkin hanya itu yang ku bisa. Tapi akhir –akhir ini, entah kenapa hidup ku mulai berubah… dan semua itu tampak lebih baik lagi ketika aku bertemu dengan mu… Seorang yang akan tersenyum lembut dengan setiap kasih yang menghapus luka dalam pikiranku. Ya, di mulai saat itu… Aku memiliki kembali senyum ku yang sempat hilang. Kini terukir kembali di wajah ku.
            Seperti biasanya. Aku selalu di tindas oleh teman –teman sekelasku. Seperti yang ku rasakan sekarang. “Lepaskan aku!” Teriak ku. “Cepat Masuk!” Kata ‘Steven’ mendorong ku masuk lemari peralatan. “Kyakkk!!!” Kata ku berteriak berusaha lepas dari genggaman mereka. “Jangan memberontak!” Kata ‘Reza’ memukul keras wajah ku. Aku kembali di dorong masuk ke dalam lemari itu lagi dengan kasar. Sekali lagi aku pun merintih kesakitan. Mereka dengan cepat mengunci ku di lemari. “Kyakk!!! Cepat buka! Keluarkan aku!!” Kata ku terus memukul pintu lemari. “Diam kau!” Kata Steven memukul pintu dengan keras. “Cepat buka! Apa yang kalian inginkan!? Cepat buka!” Kata ku mencoba mendorong pintu lemari. Tapi hasilnya sia –sia. Pintu itu telah terkunci dengan kuat. Kau ingin tahu kenapa? Karna kau tidak berguna! Karna itu! Apa kau mengerti!!?” Kata Reza dengan tawa puas. “Kyakkk!! Cepat lepaskan aku!! Memang apa salah ku! Hingga kalian terus melakukan ini! Aku tak pernah jahat dengan kalian!!”  Kata ku kembali berteriak dan memukul pintu lemari. “Diam kau!” Bentak Reza kasar. “Kau… Tahu? Sejak kau datang ke sekolah ini. Hidup ku susah! Karna itu! Karna kau hidup! Tak seharusnya kau hidup!” Kata Steven. “Apa? Itu tak masuk akal.” Kata ku masih memukul pintu. “Beraninya kau!” Teriak Steven marah. “Sudah. Stev. Kita pergi aja. Biarin dia membusuk di sini.” Kata Reza dengan tawa evilnya. “Ya.” Kata Steven setuju. Aku dapat mendengar langkah kaki mereka yang perlahan menjauh. “Kyakkkk!!! Cepat buka! Hey! Jangan tinggalkan aku!!” Kata ku mendorong –dorong pintu dengan keras.
            Sudah berjam –jam aku terkunci di dalam lemari. Tangan ku pun sampai lecet karna berusaha membuka sisi pintu. “Bagaimana ini? Apa bisa aku membuka kuncinya dengan merusak knock nya?” Kata ku mencoba berpikir. Tangan ku mencari –cari apa saja yang mungkin bisa merusak kunci ini. “Ah! Ketemu.” Kata ku menemukan sebuat silet yang sudah rusak sebagian dan mulai berkarat. Aku pun mencoba merusak knock itu. “Ayo Seichi… Berjuang.” Kata ku menyemangati diri sendiri. “Auchhh!” Rintihku karna tergores silet. Ternyata sia –sia saja. Aku mencoba merusak. Yang nyatanya malah silet ku yang rusak dan jari –jari ku pun ikut terluka. “Sial!” Kata ku yang sudah berusaha berkali –kali. “Bagaimana ini tuhan…” Kata ku menjatuhkan diri. Tiba –tiba lampu pun mati. “Ya Tuhan!” Kata ku terkejut. semua tampak menjadi gelap gulita. “Ya ampun, apa sekarang sudah tengah malam?” Kata ku yang teringat bahwa setiap tengah malam lampu sekolah akan mati sendiri dengan otomatis. “Tuhan. Bagaimana ini… Tolonglah aku.” Kata ku mengepalkan tanganku dengan mata yang terpejam karna takut. Sejak kecil aku takut dengan kegelapan. Mulut ku pun terus berkomat kamit membaca doa agar Tuhan segera menolongku. Klekkkk… Terdengar suara pintu terbuka. “Apa itu? Apa itu hantu?” Kata ku yang berpikir  tidak –tidak, karna takut. Lampu pun kembali menyala. “Ah! Nyala lagi.” Kata ku senang. “Apa ada orang!?” Tanya ku pada diri sendiri. Aku pun langsung memukul kembali pintu lemari. “Tolong! Siapa pun! Cepat buka!” Kata ku berusaha meminta tolong. “Kyakkkk!! Ada hantu!” Terdengar teriakan histeris wanita. “hey! Tunggu!” Terdengar suara lainnya. “Hey! Tolong! Cepat! Aku bukan hantu!” Kata ku terus memukul –mukul pintu. Klekkk! Pintu pun terbuka. Aku yang senang langsung memeluk sang penolong ku. “Terimakasih…” Kata ku yang masih takut. “Eh? Kamu ngapain.” Katanya. Aku pun terdiam sejenak masih dalam pelukannya. “Eh? Suara laki –laki? Apa dia laki –laki? Tuhan. Bagaimana ini?” Kata ku dalam hati. Aku pun mem- beranikan diri melihat sang penolong ku itu. “Tuhan… Siapakah ia? Tampak begitu indah? Apa dia Malaikat utusan mu?” Kata ku dalam hati. Aku hanya dapat terdiam melihat wajahnya yang begitu Tampan (?) “Ka…Kamu, Gak apa kan?” Tanya nya sedikit ragu. “A… A…” Kata ku terbata. Tak bisa berkata. “A… Ya, Ampun! Bagaimana ini!” Kata nya mengerutu sendiri. “Ma…Maaf.” Kata ku sedikit bersalah. Sepertinya dia menjadi salah tingkah karna aku. “Ah? Kenapa harus minta maaf. Kamu gak salah kok.” Kata nya mencoba meluruskan. “Ah. Ya. Maaf dan terimakasih.” Kata ku tertunduk karna aku masih malu dengan perlakuan bodoh ku. Sungguh aku gak ngerti apa yang terjadi dan gak tahu harus ngapain lagi. “Ah… Jangan gitu dong.” Kata nya mengangkat dagu ku agar melihatnya. “Eh?” Kata nya melihat mata ku. Mata nya tampak begitu indah dengan kilauan. “Maaf. Tak seharusnya.” Kata nya melepas daguku. “Kyakkk!! Apa yang telah ku lakukan!” Kata nya menggerutu membelakangiku. “Ah… Maaf.” Kata ku merasa bersalah lagi. “Sebenarnya dia kenapa? Aneh sekali. =,=” Kata ku dalam hati. “Kamu…Kamu ngapain kunci diri di lemari?” Katanya tiba –tiba. “Eh?” Kata ku tak percaya dia menanyakan hal itu. “Eh… Salah ya?” Katanya lagi. aku hanya mengangguk. “Bukan mengunci. Tapi… Di kunci dari luar. Aku tidak sebodoh itu mengunci diriku di lemari dan berteriak minta tolong untuk di keluarkan.” Kata ku sedikit kesal. Dia terdiam. Aku hanya menatapnya dengan tanya. “Kenapa?” Tanya ku. “Ah tidak. Tak apa.” Jawabnya mengalihkan pandangan. “Ya sudah terserah kamu.” Kata ku. “Mau ku antar?” Tanyanya. “Antar?” Tanya ku balik. “Ya antar pulang. Ke rumah mu.” Ucapnya.
            “Siapa nama mu?” Tanya ku kepadanya. “Xun. Kamu?” Tanyanya. “Seichi. Tadi kamu ngapain di sekolah?” Kata ku bertanya padanya. “A.. Aku… tadi di sekolah aku berniat mencari sesuatu.” Jawab Xun. “Apa yang kau cari sehingga kau harus kembali lagi ke sekolah walau sudah malam.” Kata ku penasaran. “Sebuah... Buku kecil.” Kata Xun tertunduk. “Buku kecil?” Tanya ku lagi. “Ya. Buku tentang hari –hari ku. Aku sering menulis setiap perasaan dan cerita hidupku di dalamnya.” Kata Xun. “Maksud mu sebuah Diary?” Kata ku menangkap maksud Xun. Ia mengangguk. “Jika ketahuan oleh orang lain aku bisa mati.” Ujar Xun. “Berarti sangat penting ya? Seperti apa Diary mu itu? Dan bagaimana bisa kau menghilangkannya di tempat seperti itu?” Tanya ku untuk sekian kalinya. “Satu –satu dong…” Kata nya tersenyum. “Maaf.” Balas ku. “Buku kecil berwarna biru tua. Di sekitar sisi nya terdapat garis Silver. Aku kehilangannya karna wanita tadi yang bersama ku menyembunyikannya di sekitar sana. Tapi sayangnya ia lupa tepatnya dimana.” Kata nya memberi tahu. “Hm, Begitu ya.” Kata ku paham.
            Malamnya Aku tak dapat tidur. Aku masih memikirkan buku kecil yang di miliki Pangeran penolongku itu. “Cerita seperti apa yang dia tulis di dalam buku itu ya?” Kata Aku berbicara sendiri. “Oh! Besok pagi sekali aku akan mencarinya! Sebagai tanda terimakasih ku.” Kata ku tersenyum senang. Entah kenapa aku merasa senang sekali. Apa itu karna aku dapat bertemu dengan Pangeran tampan itu lagi? entah lah. Terpenting sekarang aku harus tidur. Agar pagi dapat datang lebih awal.
            “Di mana ya kira –kira?” Kata ku mencari –cari. Ku temukan sebuah tas tua yang sudah rusak dan tampak dekil. Aku pun membuka tas tersebut. “Ah! Uereeka!!!!” Kata ku senang menemukan buku yang telah ku cari. Glek! Aku pun menelan ludah ketika pikiran nakal ku menyuruh untuk membaca buku tersebut. “Ayoolah. Sedikit saja. Toh! Aku juga telah menolongnya menemukannya? Apa salahnya jika aku tahu sedikit?” Kata ku berdebat dengan diri ku sendiri. Apa ini tidak dosa? Seberapa tak sopan kah diriku membuka Diary orang yang telah menolong ku? Entah pikiran lain mencoba mengingatkan dan menghentikan langkah ku ini. “Benar juga ya?” Kata ku menghela napas. Aku pun bangkit dari posisi jongkok ku. “Apa itu?” Tanya ku ketika melihat sepucuk surat jatuh dari buku Diary. Aku pun mengambilnya. Surat itu berwarna Biru muda dan di hiasi satu tanda ‘Love merah hati’ kecil yang manis di sisi kanan nya. “Surat cinta? Siapakah dia yang beruntung mendapatkan hati Xun?” Kata ku sedikit cemburu dan putus asa karena Xun mencintai seorang wanita. Pasti dia cantik, Manis, Baik, Pintar, Kaya raya, Sexy dan sangat begitu sempurna. Pikiran ku mulai membayangkan wanita yang telah meruntuhkan semangat ku.  “Kyakkk! Cantik sekali dia! Tak sebanding dengan ku.” Kata ku menggerutu sendiri. Daripada penasaran lebih baik ku lihat untuk siapa surat itu. Apa ini sopan? Sudah! Tak usah memikirkan sopan santun ketika sedang patah hati seperti ini! Aku pun membuka surat itu.

Sejak awal ku melihat mu, Hatiku telah merasa getaran itu.
Getaran cinta yang membuat ku tak nyenyak tidur karna terus memikirkan mu.
Tapi tak masalah karena aku memang mencintai mu.
Tapi aku bingung bagaimana cara ku mendekati mu. Selama ini aku terus mencari tahu tentang mu secara diam –diam. Maaf jika tak sopan.
Ku tahu kau sama sekali tak mengetahui siapa diriku.
Tapi jika boleh ijinkan aku mengenggam cinta mu dan menjaga setiap hati dan perasaan mu itu.
Dan jadikanlah aku Sebagai Pangeranmu.
yang akan selalu ada mengisi kekosongan dalam hidupmu.

Panas mata ku ketika membacanya. Kenapa dengan diriku? Baru kemarin aku bertemu dengannya dan mengetahui namanya, Tapi kenapa aku harus secemburu itu? Tidak justru itu tidak adil. Aku baru bertemu dan hanya sebentar berbincang dengannya dan sekarang aku harus melepas nya dalam hatiku dan terluka begitu saja karna wanita bodoh yang telah merebut hatinya duluan. Air mata ku pun mulai membasahi mata ku. Aku pun melanjutkan baca ku mencari siapa wanita yang beruntung itu.


Untuk mu Seichi –Kun                                                                          Dari Xun,

Seorang yang aku cintai.                                                                    Yang mencintai mu





 “Sei… Seichi?” Kata ku tak percaya. “Apa itu aku? Wanita bodoh itu aku?” Tanya ku lagi mencoba membaca tulisan terakhir. Aku pun menghapus air mata ku. Aku senang sekali. Mungkin hanya dia yang bisa menerima ku, menyanyangi ku. Tapi seperti yang di ketahui ‘Cinta sesama jenis itu dilarang!’. Yes! I know! And so Know it! Pantas saja sangat penting dan ia tak ingin orang lain mengetahuinya. Terimakasih telah mencintai ku. Terimakasih… Walau pada akhirnya aku akan terluka karna harus berpura –pura tidak tahu dan menyimpan semuanya sendiri itu tapi tak apa. Aku pun memasukan kembali surat itu ke dalam Amplop nya.

“Seichi –kun?” Terdengar suara Xun di belakangku. Aku yang terkejut langsung berbalik melihatnya. “Ah, Xun.” Kata ku berusaha tersenyum. “Sedang apa… Itu…” Kata Xun pun terhenti ketika melihat buku Diary dan surat cintanya di tangan ku. “ini…” Kata ku memberikannya. “Te…Terima kasih.” Kata Xun menerimanya. “Tidak. Anggap saja itu balas budi ku.” Kata ku tersenyum melihatnya sejenak. Kilauan lembut matahari pun mulai terlihat dan menyinari ruangan ini. wajah Xun yang tampak menawan menjadi sangat mengagumkan dengan di hujani kilauan itu. Aku pun mulai melangkahkan kaki ku. Mungkin ini adalah saat terakhir ku untuk bertemu lagi dengannya. Mungkin… “Seichi –kun.” Pangginya membuat langkah ku terhenti. “Ada apa Xun?” Kata ku tak berani melihatnya karena aku tak mau dia melihat air mata ku yang sudah memenuhi beluk mata ku. “Aku mencintai mu.” Kata Xun tiba –tiba memelukku. Suara nya terdengar sangat lembut saking lembut nya hingga hampir tak terdengar oleh ku. “Apa?” Kata ku spontan. “Aku mencintai mu, Sayang…” Bisik Xun sekali lagi di kuping ku. “A… A… Aku..” Kata ku tak dapat berkata. Air mata ku pun jatuh dengan derasnya tak dapat ku kendalikan. Aku pun menangis. Xun melepas pelukan hangatnya. Tampak dari matanya ia terkejut. “Tuhan… Kenapa aku malah menangis? Ini memalukan! Cepat berhenti Seichi. Ayolah!” Keluh ku memarahi diri ku sendiri. “Maaf… Aku tahu perasaan ku salah…” Kata Xun bersalah sekaligus kecewa. Ya ampun bukan itu Xun. Bukan karena itu. Aku ingin menghentikannya yang terus meminta maaf. Tapi aku tidak bisa karena aku terjebak dalam isak ku. Kenapa juga dengan ku? “Maafkan ku Seichi –kun maaf… Mungkin ini tampak bodoh dan konyol, Ya I know it. Awalnya aku juga berpikir begitu. Tapi… Sekarang aku tahu bahwa benar aku mencintai mu dan bukan hanya rasa sekilas saja. Sekarang kau tahu apa yang kurasakan selama ini. Terserah kau ingin mengolok dan memberi tahu yang lain… Atau juga kau ingin menghindar dari Pria menjijikan seperti ku ini...Hmppt!” Kecupan ku  pun menghentikan perkataannya. Ia tampak sangat terkejut. “Terimakasih.” Kata ku yang sudah mulai tenang. “Sei… Seichi kun..” Kata nya masih terkejut. “Aku mencintai mu juga Sayang…” Kata ku menjawab alasan kenapa aku menciumnya. “Be…Benar…” Lagi –lagi aku menciumnya. Tapi kini dengan penuh perasaan. Aku mengecupnya dengan dalam. Setelah aku merasa cukup untuk meyakinkannya bahwa ‘Aku juga mencintainya’ aku pun melepasnya perlahan. Tapi ia menarik wajah ku hingga bibir kita bertemu lagi. Dia mengecupku dengan kuat. Menekan ku dalam pelukannya yang erat. Ia pun mengelamkan diri ku dalam cintanya.

Di kelas. Aku tak bisa berhenti memikirkan Xun. Otak ku di penuhi olehnya matanya yang bersinar itu, Bibirnya yang manis, Wajahnya yang tampan. Tuhan! Apa dia malaikat yang di utus oleh mu sebagai kebahagian dalam hidup suram ku ini? Entahlah yang ku tahu. Aku tak pernah sebahagia ini…


            Istirahat. Aku berniat untuk mengembalikan buku yang ku pinjam dari perpustakaan. “Seichi –kun!” Panggil Xun menghampiri ku. Hati ku senang sekali dapat melihat nya tapi… “Xun~” Seorang wanita mendekati Xun duluan. Aku yang melihatnya hanya dapat menghentikan langkah dan kecewa. “Xun ayo  kita makan bareng di kantin.” Ajak Gadis itu. Kenapa baru aku sadari bahwa aku dan Xun sangat berbeda. Ia adalah anak yang tampan, Pintar, dan juga popular di Kalangan anak –anak. Tidak seperti aku. Aku hanyalah anak laki –laki biasa yang menjadi sasaran bulan –bulanan. Aku pun tertunduk dan tersenyum miris. “Selamat Tinggal.” Bisik ku sebelum akhirnya aku melangkah kan kaki ku berbalik meninggalkannya. “Seichi –Kun.” Panggilnya meraih tangan ku. Aku pun langsung berbalik memandangnya. “Kau mau makan bareng dengan ku?” Kata Xun mengajak. Aku menggeleng dengan wajah sedih. Entah apa dia dapat melihat dari mataku bahwa aku sangat terluka dan sedih sekarang?. “Kau kira kau siapa!? Lepaskan tangan ku!” Kata ku dengan nada tinggi melepas genggamannya kasar. “Kenapa?” Tanya nya kecewa. “Apa kau tak tahu sekarang aku sedang cemburu dan putus asa?” Kata ku menjawab dalam hati. “Aku tak mengenalmu. Jangan sok akrab.” Kata ku berlawanan dengan Hatiku. Ia pun mundur beberapa langkah. “Maaf. Kalo begitu. Permisi Seichi –kun.” Kata nya pamit dengan membungkukan badan. “Xun…” Panggil ku hampir tak terdengar. “Apa?” Tanyanya lagi. “A…Apa!? Aku tak bilang apa –apa!” Bentak ku. “Benarkah?” Tanya nya lagi. “Sudah lah Xun… Tak usah memikirkan laki –laki ini. sudah untung di ajak tapi malah menolak dengan kasarnya.” Kata Gadis itu mendorong bahu ku. “Apa yang kau lakukan!?” Kata Xun marah. “Apa? Kok kamu marah sama aku?” Kata Gadis itu heran. Xun pun mentapku sejenak. Terlihat dari matanya banyak pertanyaan yang ingin di ajukan kepada ku. aku hanya dapat menatapnya dan bersalah. “Aku jadi malas ke kantin. Kau saja.” Kata Xun melangkah menabrak bahu ku. Ia pun melangkah berlalu begitu saja. Aku pun meremas tangan ku menahan perasaan yang ada.”Maaf…” Bisik ku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar