Author: Yolan
Aku memulai ritual mandi sore ku. Untungnya aku telah membeli peralatan mandi sebelum aku datang ke sini. Jadi aku tak perlu repot –repot memusingkan harus menggunakan apa. Air dengan beruntun membasahi tubuh ku rasanya begitu hangat memanjakan tubuh ku yang merasa sangat lelah sekali. Tuhan… Terimakasih kepada mu. Yang telah membantu ku untuk tinggal sementara di sini. Walau sebenarnya aku lebih suka mati di banding harus hidup tanpa ayah ku. Tapi… Setidaknya aku bisa menikmati hidup dengan Xun sebelum akhirnya Penyakit ku memakan nyawa ku perlahan. “Akhhh…” Rintih ku. Tiba –tiba kepala ku terasa sangat sekali. Pandangan ku pun memudar. Kenapa? Kenapa dengan ku? Aku pun segera mengakhiri mandi ku.
AnnyeoNg Minna –San! Yolan minta Maaf agak terlalu lama ceritanya… Krena Smpat VaCum Bebrapa hari Karena Yolan TrlalU sibuk menangis :’( Krena salah satu perihal Teman Yolan… Hiks. Hiks. Hiks #Lupakan! Klo Di bhas lagi Yolan bisa nangis (LAGI) # Kali ini Yolan mau buat Cerita dimana Sei dan Xun putus Hubungan tapi semakin dekat...??? Maksudnya? @.@? Yolan Gak bisa jelasiN Di Sini,,,, Baca Aja Sndiri Ya?? :D Di Crita Sblumnya, Sei yang merasa tak pantas dirinya ada di dekat Xun pun membuat rangkaian cerita bohong untuk menjauhi Xun dan memutuskan hubungan. Tapi… Xun Malah menantang balik dengan berkata “Benarkah…? Aku tak yakin… Jika begitu tunjukan kepada ku. Apa pun itu untuk dapat meyakinkan Diri ku bahwa benar semua ini hanya permainan belaka?”
“Cepat Tunjukan!” Kata Xun sedikit
membentak dapat terdengar dari suaranya bahwa dia sangat takut kehilangan ku
walau hanya samar. Aku terdiam menatap nya. Otak ku berusaha mencari –cari cara
agar dia Yakin. “Ku Bilang buktikan!” Kata Xun lagi, tak kalah dengan
perkataannya sebelumnya. Plakkk! Aku menamparnya keras. Membuat pipi Xun yang
putih tampak memerah. Xun sangat terkejut ketika aku menamparnya. Butiran air
mata pun terjatuh dengan lembut di pipinya. “Puas? Apa dengan itu… Aku bisa
meyakinkan mu?” Kata Ku menahan tangis. Xun tidak menjawab dia masih terkejut
atas apa yang ku lakukan. “ Dan perlu kau tahu lagi… Setelah ini, jangan pernah
berpikir bahwa kau pernah mengenal ku apa lagi Sok akrab dan menganggap ku
adalah teman dekat mu. Itu tampak sangat Konyol sekali dan memalukan…” Kata ku
dingin. Aku berusaha sedemikian rupa untuk membentuk kata –kata agar dia
membenci ku dan menjauhi ku. Ku mohon… Tolong mengertilah. Aku pun berjalan
melewatinya. Aku coba untuk menahan air mata yang sudah siap membasahi pipi ku.
“Sei… Kimi dake Aishite iru…” Kata Xun menghentikan langkah ku. “ Kau bilang
hanya aku? Apanya yang Cuma aku? Kau pasti bercanda. Banyak orang yang lebih
baik dari ku lebih sempurna di bandingkan aku.” Kata ku tak berbalik hanya
dapat terdiam membelakangi. “… Kimi wa Watashi no Kokoro. Watashi No sekai Tame
Kimi o.” Kata Xun. Terdengar dari suaranya ia sedang menangis sekarang. Aku
tertegun mendengarnya. Tak mungkin… jangan seperti ini… berhentilah mencintai
ku dan berkata hanya aku yang ada dalam hidup mu. “Kau pasti bohong! Tak
mungkin hanya aku! Dan apanya hidup mu untuk ku!? Kau punya segalanya!
Popularitas… Kekayaan… Wajah yang sempurna… Carisma… Banyak cinta… dan juga
tubuh yang selalu Fit jarang sakit… Bukan kah kau sempurna? Tak mungkin aku
dapat di bandingkan dengan kehidupan mu itu. Jangan buat lolucon yang tak masuk
akal lagi. Bakaru.” Kata ku lalu pergi meninggalkannya.
Waktu pulang. Hujan pun turun dengan
derasnya mendukung setiap hati ku yang sedang gelisah dan juga terluka. Aku
memainkan jemari ku di bawah tetesan air yang jatuh dari payung ku. Langkah ku
terasa sangat malas untuk pulang. Tapi mau bagaimana lagi… Aku harus pulang,
jika tidak. Aku pasti akan di marahi. Ah Tidak! Bahkan walau pulang juga aku
pasti akan di marahi lagi. Tiba –tiba pemandangan yang tak inginkan pun ku
terima. Restoran sekaligus rumah ku terbakar oleh api besar. Payung yang ku
bawa pun terjatuh . Beberapa Unit pemadam berusaha memadamkan api yang terus
menjalar tak karuan. “Tak mungkin.” Kata
ku tak percaya. “Ayah!!!!” Kata ku belari untuk masuk. “Jangan nak. Tenang
lah.” Kata salah satu pemadam menghentikan ku untuk masuk. “Tapi ayah ku ada di
dalam! Ayah ku ada di sana’!!!” Kata ku berteriak histeris. Aku benar –benar
takut dan sangat terkejut. Tuhan!! Kenapa kau biarkan semua ini terjadi? Kenapa
rumah ku bisa terbakar? Bagaimana dengan ayah ku? Dia adalah satu –satunya
keluarga yang ku miliki sejak aku baru lahir dan bernapas di dunia mu.
Dan akhirnya ayah ku tak dapat di
selamatkan ayah ku telah terbakar sampai tak dapat di kenali lagi oleh siapa
pun dan termasuk aku putranya yang telah di rawat olehnya sampai besar seperti
ini. Hanya ada beberapa barang yang selamat seperti 3 helai baju termasuk baju
seragam yang ku pakai, Surat –surat penting yang selamat karena di simpan di
brankas besi, dan juga boneka kesayangan ku boneka panda ku yang di berikan
oleh ibu sebelum ia melahirkan ku. Esoknya aku dengan sedih hanya bisa
termenung di kelas dan sesekali menangis.
Waktu istirahat. Dengan seketika
kelas ku menjadi kosong karena para murid berlari keluar setelah mendengar bel
Istirahat di bunyikan. Hanya ada aku di kelas ini. Aku pun menangis sejadi
–jadinya. Aku benar –benar bingung dan sangat takut. Kenapa… Kenapa baru saja
aku melepas Xun dari sisi ku sekarang aku harus kehilangan lagi? kehilangan
Ayah dan semua yang ku miliki. Aku bukankah apa –apa lagi… AKu tak punya apa
pun lagi. Aku hanya sendiri… Kenapa Ayah tega meninggalkan ku sendiri?? Aku pun
mengambil pisau lipat peninggalan ayah ku. “Ayah… hanya ini yang tersisa dari
mu… dan dengan ini pula aku akan menyusul mu ke alam sana. Agar kita dan ibu
bisa bersatu kembali.” Kata ku membuka pisau lipat itu dan menggoreskannya
perlahan di lengan kiri ku. Tiba –tiba. “Kyakkk!! Sakit! Lepaskan aku!” Kata ku
berteriak ketika tangan seseorang memegangku sangat kuat menghentikan apa yang
ku lakukan. “Lepaskan aku!” Kata ku berteriak lagi. “Kau Gila apa!? Kau bisa
mati tau!?” Kata Xun merebut pisau ku. “Aku memang mau mati!” Kata ku
membalasnya. “Kenapa!? Karena Ayah mu sudah tidak ada? Apa karena itu Huh!?”
Kata Xun kesal dengan tingkah laku ku. “Xun! Kau tak tahu apa –apa!?” Kata ku
marah. “Apanya yang tak tahu! Aku tahu semuanya Seichi –kun!” Kata Xun marah
tak kalah dengan suara ku. “Aku tak punya apa –apa lagi… dan sekarang mungkin
tak dapat lama lagi bertahan untuk hidup.” Kata ku Xun hanya terdiam melihat
ku. “…Daripada mati di jalan tanpa tempat tinggal lebih baik aku mati di
sekolah.” Kata ku dengan suara yang vegetar karena menangis. “Baiklah terserah
kau.” Kata Xun menggores tangan kanan nya hingga berdarah. Untung bukan Kiri
yang dia gores. “Apa kau gila!?” Kata ku berteriak kepada nya. Dia mengagguk
pelan. “Seichi –kun tinggalah di rumah ku.” Kata Xun. “Aku tak mau.” Kata ku
menolak dengan dingin. “Baiklah… Jika kau tak mau. Berarti kau akan bunuh diri
agar tak mati konyol? Jika kau memutuskan saraf nadi mu. Aku juga. Aku akan
memotong Nadi ku juga.” Kata Xun malah balik menantang ku seakan ingin memaksa
ku tinggal dengannya. “Tidak mau.” Kata ku dengan air mata. Xun tersenyum
miris. Ia pun menggores perlahan pergelangan kirinya. “Jangan!!!” Teriak ku
menghentinkan nya. Aku pun menjatuhkan diri ku. Rasanya badan ku sangat lemas
hingga tak kuat menompang tubuh ku. Xun menatap ku dengan sedih dan bingung. Ya
Tuhan… Kenapa kau biarkan ini terjadi? Kenapa tidak biarkan aku mati begitu
saja tanpa anda beban dan rasa penyesalan? Kenapa harus kau bawa Malaikat mu
ini… Untuk menghentikan ku? Aku sangat takut Dan Bingung Tuhan… “Jangan… Jangan
lakukan lagi… Ku mohon pada mu demi seluruh napas yang ku miliki ku mohon
jangan lakukan hal Bodoh itu.” Kata ku menangis. Tiba –tiba Xun memelukku.
“Seichi… Maaf. Tapi aku tak bisa membiarkan mu sendiri apa lagi membiarkan mu
pergi sendiri meninggalkan ku… Jadi ku mohon… Tinggalah bersama ku.” Kata Xun
mengelus rambut ku. Terasa Air matanya jatuh dengan hangat di kemeja ku. Aku
menggeleng pelan. “Tidak… AKu tak ingin.” Kata ku. ia pun melepas pelukan ku
dan melihat wajah dengan penuh perasaan. “Tapi… Jika begitu ijinkan aku ikut
dengan mu…” Kata Xun seperti anak kecil yang meminta ikut ibunya yang hendak
keluar berbelanja. “Tidak. Sudah ku bilang… AKu membenci mu.” Kata ku lagi. Ia
terkejut untuk sekian kalinya. Ia pun mengambil pergelangan kiri ku. “Luka ini
harus di sembuhkan… Jika tidak akan terinfeksi dan akan parah.” Kata Xun
berusaha tersenyum. Aku hanya diam melihatnya. Ia pun menjilat pergelengan
tangan ku. “Apa yang kau lakukan!?” Kata ku terkejut. “Membersihkan darah mu.”
Kata nya datar lalu menjilat darah dari pergelangan tangan kiri ku. “Aku memang
tidak mau.” Kata Ku tanpa melihatnya. Dia menghiraukan dan tetap menjilat
tangan ku yang sudah bersih. “AKu tidak mau tinggal jika Cuma –Cuma… Aku akan
membayarnya.” Kata ku lagi. Xun pun menghentikan kegiatannya. “Apa? Apa benar?
Tadi kau bilang apa?” Kata Xun terlihat sangat terkejut. “Aku bilang aku mau.
Tapi… Aku akan membayar nya.” Kata ku mengulang maksud ku. “Horee!!” Kata Xun
mencium ku singkat dan langsung bangkit. “Terimakasih Seichi –kun… Teirmakasih
banyak.” Kata Xun sangat senang. “Tapi… AKu tak akan tinggal sekarang di rumah
mu. Soalnya aku belum punya pekerjaan dan apa lagi uang untuk membayar.” Kata
ku memberitahu dia. “Pekerjaan?” Tanya nya dengan wajah nya bisa di bilang
polos/Bodoh? Entahlah… Aku bangkit dan mengangguk pelan tanda mengiyakan. “Jika
begitu kau bekerja saja di rumah ku. Jadi kau bisa tinggal dan dapat uang juga
bukan?” Kata Xun membuat ku tak percaya di buatnya. Aku terdiam sejanak karena
terkejut dan lalu mengangguk. “Ya… Aku akan menerimanya.” Kata ku tersenyum.
“Baguslah jika begitu. Kau bisa kerja mulai pulang ini.” Kata Xun. “Pulang?
Yang benar saja?” Kata ku. “Ya pulang ini… Memang kenapa? Bukankah kau tak
punya tempat untuk tidur?” Kata Xun. “Sial kau.” Kata ku dengan sedikit tawa.
Ia hanya tersenyum dengan manis menatap ku dengan dalam. “Ah. Cepat sana
pergi.” Kata ku memalingkan muka. “Ya, Sayang. Aku akan segera pergi.” Kata Xun
belari. “Sayang?” Kata ku.
Pulangnya. Pada akhirnya aku benar
–benar akan bekerja dan tinggal di Apartemen Xun. “Aku akan bekerja apa?” Kata
ku kepada Xun. Kami sedang melewati lobi Hotel. “Merapikan rumah ku.” Jawab
Xun. Ia pun membuka pintu Apartemen-nya. “Bukankah itu Apartemen mu?” Kata ku
menunjuk pintu Apartemen di sebelah. Xun tertawa kecil. “Bukan… Bukan lagi.”
Jawab Xun masih dengan tawa. “Kenapa?” Tanya ku. “Ayo masuk dulu.” Kata Xun
mempersilahkan. Aku pun masuk ketika pintu sudah terbuka. “Jadi? Kenapa?” Kata
ku mengulang pertanyaan. Xun masuk ke dapur mengambil 2 cangkir Teh hangat.
“Karena aku tak betah. Jadi aku minta pindah saja.” Kata Xun memberikan ku teh.
“Jadi baru –baru ini?” Tanya ku lagi setelah menerimanya. “Ya. Baru saja pagi
ini.” Kata Xun membuat ku tersedak ketika meminum Teh ku. “Uhuk.Uhuk. Uhuk.”
Kata ku terbatuk. “Ah… Kau tak apa Seichi –kun.” Kata Xun menepuk nepuk
punggung ku. Aku menggeleng pelan. “Ya, Aku tak apa.” Jawab ku dengan sedikit
batuk yang tersisa. Ia pun tersenyum kembali melihat ku. “Apa sich!?” Kata Ku
SalTing. “Nggak. AKu Cuma takjub dengan mahluk Tuhan di depan ku.” Kata Xun
dengan Senyum. “Bakaru.” Kata ku memalingkan wajah ku malu. “Oeh Ne. Seichi
–kun…” Serunya. “Jangan panggil Aku Seichi –Kun. Panggil nama saja.” Kata Ku
yang merasa tak Nyaman karena melihat status dia adalah majikan ku sekarang.
“Hm… Baiklah… Sei.” Katanya tersenyum.
AKu hanya melihat nya datar. “… Ayo Kita main Play Station.” Ajak Xun
tiba –tiba. Aku tak percaya dia akan mengatakan itu. “Apa?” Tanya ku. “Apa?
Apanya?” Tanya Nya balik yang sepertinya tak dapat menangkap maksud pertanyaan
ku. “Kau mengajak ku main Play Station? Kau gila Ya?” Kata ku lebih memperjelas
pertanyaan ku. “Oh, Tidak. Aku hanya tergila –gila oleh mu.” Canda Xun dengan
sedkit Tawa. “Tak Lucu. AKu serius Xun.” Kata ku. “Ok,Ok. Aku ngerti kok maksud
kamu. Mungkin kamu adalah si Genius yang pintar dalam Pelajaran apa lagi dalam
Hitung menghitung… Tapi sepertinya kau tak pandai dalam bermain Game.” Kata Xun
membuat ku tambah tidak mengerti. “Apa hubungannya diriku dengan Game?” Tanya
ku lagi. Dia tersenyum sejenak sebelum menjawab pertanyaan ku. “… Oleh karena
itu. Aku akan menganjarkan mu bermain Game. Kau maukan?? Menjadi anak biasanya
menikmati hidup dengan bersenang –senang?” Kata Xun dengan mata yang mempesona.
Mata nya seakan akan bisa menghipnotis ku hingga tak berdaya lagi. Tuhan… “Hey?
Mau tidak?” Tanya Xun menunggu jawaban. “Tapi… Tapi aku di sini untuk bekerja
bukan untuk bermain.” Kata ku mencoba menolak. “Ayolah, Aku akan menambah
pekerjaan mu untuk menemani ku bermain juga…dan Tenang saja aku pasti akan
menaikan Gaji mu.” Kata Xun bersi Keras.
“Ini…” Kata Xun memberi Stik Play
Station. Aku hanya diam melihatnya. “Ayo ambil.” Kata Xun yang tak sabar
melihatku. Ia pun menyerahkan Stik itu ke tangan ku. “Bagaimana cara mainnya?”
Tanya ku. “Ini… Stik untuk mengatur. Kau lihat 4 Panah ini? ini… Untuk
mengarahkan…” Kata nya mengajarkan ku dan ia memberitahu semua yang dia
ketahui. Ternyata tak seburuk apa yang ku pikirkan. Game itu ternyata
menyenangkan. Terimakasih Xun… AKu menatap Xun dengan dalam. Aku mencintai mu…
Aku senang ketika kau ada di sisi ku… Tapi maaf aku tak bisa. Tak bisa seperti
Seichi sebelumnya, Aku tak ingin membuat mu lebih mencinta ku. Mencintai
seseorang yang tak pantas ada di hidup mu apa lagi mengisi hati mu. Entah
kenapa air mata ku mulai terjatuh tanpa ku sadari. “Horee!!! Kita menang Seichi
–kun!” Kata Xun senang menyelesaikan Game nya. “Seichi? Kau kenapa?” Tanya Xun
yang menyadari aku menangis. “Ah? Apa? AKu tak kenapa –napa kok.” Kata Ku
berpaling membelakanginya. Tangan ku dengan cepat menghapus air mata yang membasahi.
“Kau yakin?” Tanya Xun di belakang ku. “Ya. Tentu saja.” Kata Ku berbalik
kembali. Chuuuuu~ Ciuman nya tiba –tiba melayang mengenai Bibirku. AKu terkejut
mendapatkannya. Lidah nya pun mulai memainkan lidah ku. Tuhan!!! Apa yang harus
ku lakukan!? Aku pun memejamkan mata. Entah kenapa aku malah menikmatinya dan
melupakan bahwa seharusnya aku menolak Karena aku harus menjauh darinya.
“Maaf…” Kata Xun setelah melepas
ciuman. Aku mengangguk pelan atau mungkin Lemas setelah mendapat kecupan dari
nya. “… Tidak seharusnya aku mencium mu Seichi –kun… Aku minta maaf. Tapi…
Perlu kau ketahui entah kenapa setiap kali aku melihat mu menangis ingin
rasanya Bibir ku mencium bibir indah mu itu.” Kata Xun tertunduk. Tampaknya Dia
sangat sedih. Kenapa? Bukankah seharusnya dia senang? Atau karena… “Ya. Tak
seharusnya kau mencium ku.” Kata ku dingin. Aku bangkit dari duduk ku dan
menghapus ciuman nya di bibir Ku. “Maaf.” Katanya lagi melihat ku dengan mata
berkaca –kaca. Aku cukup merasa tak enak hati ketika harus berusaha dingin dan
menghidar darinya. Tapi… Ini adalah jalan yang telah ku pilih. Jalan yang
dingin dan sangat menyakitkan. “Sudahlah lupakan… AKu ingin mandi saja.” Kata
ku berjalan menjauh. “Tunggu…” Bisik nya pelan walau hampir tidak terdengar
tapi aku tahu dia menyuruh ku untuk berhenti. Aku pun menghentikan langkah ku,
Terdiam menunggu kelanjutan perkataannya. “Aku mencium mu… Karena aku berharap
dengan Ciuman ku itu aku bisa menghapus setiap Luka dan air mata yang tengah
kau rasakan, Lagi pula ketika aku melihat mu menangis rasanya napas dan jantung
ku berhenti dengan sendirinya. Karena itu ijinkan lah aku melakukan nya.” Kata
Xun melanjutkan perkataannya. Aku terdiam sejenak mencoba menyimak dalam arti
perkataannya. Setelah itu aku langsung pergi tanpa memandangnya sedikit pun.
Aku memulai ritual mandi sore ku. Untungnya aku telah membeli peralatan mandi sebelum aku datang ke sini. Jadi aku tak perlu repot –repot memusingkan harus menggunakan apa. Air dengan beruntun membasahi tubuh ku rasanya begitu hangat memanjakan tubuh ku yang merasa sangat lelah sekali. Tuhan… Terimakasih kepada mu. Yang telah membantu ku untuk tinggal sementara di sini. Walau sebenarnya aku lebih suka mati di banding harus hidup tanpa ayah ku. Tapi… Setidaknya aku bisa menikmati hidup dengan Xun sebelum akhirnya Penyakit ku memakan nyawa ku perlahan. “Akhhh…” Rintih ku. Tiba –tiba kepala ku terasa sangat sekali. Pandangan ku pun memudar. Kenapa? Kenapa dengan ku? Aku pun segera mengakhiri mandi ku.
Aku pun mengambil baju dari tas ku.
Tiba –tiba ada yang memeluk ku dari belakang. “Xun?” Kata ku berbalik
melihatnya. Ternyata bukan… “KakYu’er?” Kata ku terkejut. “Xun? Kenapa kau
pikir Xun?” Kata Yu’er terlihat tak
senang. “ Maaf…” kata ku. “Aku senang melihat mu tak mengenakan baju dan hanya
di tutupi dengan sehelai handuk.” Kata Yu’er dengan mata nakalnya menatap ku.
“Ah? Memang kenapa?” Kata ku sedikit takut. “Karena aku dengan mudah bisa
melihat tubuh kecil mu itu.” Jawab Yu’er melepas handuk ku dengan mudah.
“Kyakkk!!” Kata ku Berteriak ketika handuk ku jatuh. “Kenapa? Kita sama –sama
laki –laki? Tak usah takut. Apa harus aku membuka celana ku juga manis?” Kata
Yu’er mulai meraba Paha atas ku. “Kak…” Kata ku pelan. Aku benar –benar tidak
tahu apa yng harus ku lakukan. Yu’er pun mencium bibir ku panas. Ia dengan
cepat memainkan lidah ku. Sesekali menggigit Lidah dan bibir ku. Aku hanya
dapat sedikit merintih ketika aku menikmati sensasi dan perasaan yang bercampur
aduk tak karuan. Tangan nya pun mulai meraba mendekati kemaluan ku. Aku
mencegahnya menyentuhnya. Tangan kiri Yu’er pun memegang kepala ku agar aku tak
melepaskan ciumannya itu. Dan tangan kanannya membuka seleting celananya dan
mebiarkan Juniornya menyentuh junior ku. Aku terkejut ketika dia melakukannya
apa lagi ketika dia mulai menggesekan tubuhnya.
“Brengsek! Lepasin Seichi –kun!”
Kata Xun yang tiba –tiba datang mendorong Yu’er hingga terjatuh. Tanpa sadar
aku langsung memeluk Xun. “Kuranga ajar! Berani nya Kau Yu’er melakukan Itu!”
Kata Xun marah. Yu’er hanya tersenyum mengejek. “Apanya sayang? Aku hanya baru
mencicipi Junior nya sejenak. Kau malah sudah marah kepada ku setengah mati.
Ini baru permulaan Sayang.” Kata Yu’er Bangun. “Pergi Yu’er keluar dari sini!
Aku tak mau melihat Brengsek kayak kamu masuk kedalam Apartemen kami!” Kata Xun
menyuruh Yu’er keluar. “Ok.Ok. santai saja Xun.” Kata Yu’er dengan senyum
mengejeknya itu. Ia pun segera melangkah pergi meninggalkan kami. “Kau tak apa
Sei?” Kata Xun cemas setelah Yu’er keluar. Aku hanya dapat mengangguk pelan.
“Syukurlah.” Kata Xun memelukku dan menangis. “Maafkan AKu Seichi –kun.” Kata
Xun terisak. “Akhhh!” Kata ku merintih yang lagi –lagi merasakan sakit di
bagian kepalaku. “Sei! Kamu nggak apa?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar