Kamis, 09 Juli 2015

Aishiteru yo! (Part 6)

Aishiteru yo!!! (Part 6)

Fanfict-Yaoi 
Author: Yolan
            Konichiwa :D Sekarang Yolan bawa Kata –kata Xun buat Xun(?) :D Bingung? Hahahahaha… Lanjut aja Ya?“Apa kau tahu? Kau adalah Hidup ku? Kehadiran mu bagai warna dalam hidup ku, Senyum mu… Bagaikan tenaga yang membuat Jantung ku berdetak. Entah apa jadinya jika aku tanpa mu … Mungkin hidup ku akan kelabu, Dan aku pun hidup bagaikan Mayat Hidup? Antara Mati dan tidak.  Ah… Bahkan mungkin aku rela kehilangan tangan dan kaki ku asal kau bahagia :’) Mungkin terdengar konyol, Tapi inilah aku… Pria yang mencintai mu hingga napasku tak terhembus lagi.”            Huaaaaa!!!! Walau beda Genre nya sama Sei. Tapi keduanya sama –sama Romance :3 Switt Swittt … Di cerita sebelumnya. Sei dan Xun kembali menjadi sepasang kekasih. Dan Xun mengajak Sei ke Taman bermain tapi… Ketika pulang Sei pingsan!!? Omo! Apa yang terjadi pada Sei??
Selamat Membaca ^-^)///////////////////////////////////////////

            Terasa air mata yang membasahi pipi ku. Perlahan aku pun membuka mataku. Terlihat samar wajahnya. “Dia menangis?” Kata ku dalam hati. Aku baru sadar dari pingsan ku. “Sei…” Lirih nya dengan senyum ketika menyadari aku bangun. “Xun…” Kata ku lemas. Xun pun mencium tangan ku yang di genggamnya. “Aku mencintai mu.” Katanya dan dengan air mata. “Aku juga mencintai mu.” Jawab ku tersenyum.
            Pulangnya. “Hari ini kau harus istirahat penuh Ok?” Kata Xun membuka pintu Apartemen. Aku menggeleng. “AKu tak mau.” Kata ku cemberut. “Kenapa tak mau?” Tanya Xun seraya masuk. Aku mengikutinya dari belakang. “Ku bilang aku tak mau.” Kata ku dengan sedikit manja. “Sei… Jangan begitu. Kau baru siuman dan kau harus istirahat.” Kata Xun yang mulai kesal dengan sifat keras kepala ku. “… Kenapa memangnya? Seperti aku baru siuman dari koma saja.” Kata ku becanda dengan senyum. Xun terdiam. Matanya berubah tampak menjadi sayu. “Kenapa?” Tanya ku khawatir. “Ya, Kau baru saja sadar dari Koma mu.” Kata Xun memberitahu. “What? Jangan becanda Xun? AKu hanya pingsan satu hari atau tidak beberapa hari… Iya kan?” Tanya ku yang tak percaya. Xun menggeleng. “Tidak. Kau tak sadarkan diri selama sebulan.” Kata Xun meluruskan. “Kau pasti bohong! Itu tak mungkin!!!” Bentak ku. Entah kenapa sekarang aku merasa takut sekali. Apa kini Ia mengetahui semuanya? Apa dia tahu tentang penyakit ku? Oh Tuhan … “Aku tahu sekarang … Kenapa kau tak memberitahu ku sebelumnya? Kenapa? AKu pacar mu Sei…” Kata Xun lembut. “Diam kau! Kau tak tahu apa –apa Xun! Jangan berkata yang tidak –tidak!!!” Bentak ku takut. Air mata mulai membasahi mata ku. Shit! “Jangan sembunyikan lagi!” Bentak Xun balik. AKu terkejut mendengarnya. “Aku tahu semuanya! Jadi ku mohon jangan sembunyikan apapun kepada ku lagi!” Kata Xun dengan nada tinggi. “Tidak! Tak mungkin kau tahu!” Kata ku tak kalah tinggi. “Seichi –kun… Ku mohon, AKu tahu penyakit mu. Apa kau merahasiakannya karena takut aku menjauhi mu?” Kata Xun tampak prihatin. Kenapa… Kenapa matanya melihat ku begitu? Kau tak perlu menatap ku prihatin begitu! Aku bukan anjing kecil yang pantas di kasihani. Aku benar –benar bingung harus berkata apa. Dia kini telah mengetahui semua. Aku pun belari. Ya, Mungkin ini adalah jalan –jalan satu –satunya yang bisa ku lakukan sekarang. “Sei!” Panggil Xun tapi ku hiraukan. Aku pun belari sambil menangis. Aku tak menyangka dia mengetahuinya! Kenapa dia harus tahu Tuhan!! Kenapa kau tak biarkan dia tidak tahu dan biarkan aku menyimpannya sendiri?
            Di Taman. Aku menangis sejadi –jadinya. Rembulan penuh pun tak bisa menyembunyikan duka ku. Kenapa? Kenapa harus begini … Ayah, Bawa aku dengan mu… Ku mohon. “Sedang apa kau di sini?” Tanya Suara yang ku kenal. AKu pun melihat ke arah suara. “Yu’er?” Kata ku melihat malaikat Yunani ku. Dia hanya terdiam dingin melihat ku. Aku pun bangun dari duduk ku. “Ada apa?” Tanya ku dengan sedkit segukan. Plakkk!!! Yu’er menampar ku dengan keras. Aku pun terjatuh. AKu benar –benar tak percaya dia melakukan ini kepada ku. “Kau gila Huh!!? Dasar rendahan! Kau sengaja ingin melakukannya! Kau sengaja ingin membunuh ku! Jawab aku!” Kata Yu’er menendang ku. “Ma… Maaf … Memang saya salah apa Kak? Maaf kan saya.” Kata memeluk kakinya. “Jangan sentuh aku!” Bentak nya menendang kepala ku. hingga pelipis ku berdarah. “Kau… Ingin membunuh ku dengan penyakit mu itukan! Apa mau mu Huh!? Menggoda ku dan ingin menyebarkan HIV mu!!!” Bentak Yu’er Marah. Aku terkejut mendengar nya. Kak … Kak Yu’er tahu itu? Bagaimana ini? Apa yang harus ku lakukan … Aku pun mundur beberapa langkah karena takut. “Jika aku terkena penyakit menular itu… AKan ku tuntut dan ku bunuh kau!” Kata Yu’er dengan nada menggelegar. Air mata ku pun terjatuh. “Maaf …” Bisik ku pelan. “Kau pikir kata Maaf mu bisa menghapus semua?? Huh!!!?” Kata nya lagi –lagi memukul ku. Aku hanya dapat menangis menerima semua pukulan darinya. Mungkin ini cara untuk ku untuk mengakhiri semua. Bunuh saja aku Kak Yu’er … Aku akan sangat berterimakasih sekali akan hal itu. Aku pun muntah darah setelah Kak Yu’er menendang tepat di dada ku. Rasanya tulak rusuk ku patah di buatnya. “Belum selesai …” Kata Kak Yu’er masih dengan wajah dinginnya. Aku hanya dapat memegang dada ku yang sakit. Kak Yu’er pun memukul ku lagi. Bruukkkk!! Aku pun terjatuh. “Huh …Huh …” Kata ku sulit bernapas. Mata ku terasa berkunang –kunang. “Untuk sekarang cukup sampai di sini. Ini hanya sebagai peringatan untuk mu! Selanjutkan akan lebih buruk darii ni.” Kata Yu’er lalu pergi meninggalkan ku. Aku hanya membaringkan diri ku di tanah. Sakit, Sakit rasanya… Air mata ku pun terjatuh dengan lembut di pipi ku. “Ayah … Kau di mana? Sei … Sei…” Kata ku tak kuasa. AKu menutup mata dan membiarkan diri ku menangis di bawah naugan gelapnya malam. Aku tersenyum miris mengingat kenangan ku dengan ayah ku.
            “Akkhhh!!!” Aku terjatuh karena tersandung. “ Kau tak apa sayang?” Tanya Ayah menghampiri ku terjatuh. Saat itu umur ku 5 tahun dan aku telah kehilangan ibu sebelumnya. “Hiks…” Kata ku menangis. “Sudah .. jangan menangis. Kau harus kuat. Sebagai laki -laki kau harus kuat mengerti?” Kata Ayah. Aku pun menghapus air mata ku. “Iya, Ayah. Aku mencintai mu.” Kata ku dengan senyum. “Ayah akan menjaga mu selamanya ayah janji.” Kata nya tersenyum tapi matanya menunjukan bahwa ia sedih.

            “Uhuk … Uhuk…” Kata ku mencoba bangun. Sakit sekali rasanya … Bukan hanya tubuh ku tapi juga hati ku. Aku … Aku… Ingin mati. Aku menutup mata, air mata pun jatuh. “Sei…” Panggil seseorang lembut. Aku pun membuka mata melihatnya. “Xun?” Tanya ku dengan air mata. “Ayo pulang.” Ajaknya lembut dengan senyum. AKu menggeleng. Aku mundur beberapa langkah. “Kenapa?” Tanya nya sedih. “Aku tak mau!” bentak ku lalu melangkah pergi perlahan. Ku coba berjalan dengan kaki yang terasa sakit. “Kau mau kemana?” Tanya Xun yang ternyata masih mengikuti ku. “Jangan ikuti aku!” Kata ku tanpa melihatnya. “Tidak, aku akan terus mengikuti mu. Bagai bayangan… Jika kau tak bisa pulang kembali. Biar aku saja yang mengikuti mu…” Kata Xun pelan. “Bodoh! Pulanglah… AKu tak mau itu! Memangnya kau tidak jijik apa? Bukannya kau sudah tahu semua! Penyakit ku HIV menular! Kau tak takut apa!?” Tanya ku. Dia menggeleng. “Tidak, sekarang tidak. Saat awal aku memang sedikit takut. Tapi, ketika berpikir akan kehilangan mu … Aku merasa akan sangat sakit lagi.” Kata Xun. “Bohong.” Kata ku melanjutkan jalan ku. “… Apa kau tak mencintai ku lagi?” Tanya nya yang mengikuti di belakang. Aku tak menjawab. “Kau tahu, Aku juga pernah merasa putus asa seperti mu … ketika Ibu ku meninggal …” Kata nya pelan. AKu menghentikan langkah ku. Dia pun demikian. “… Dia meninggalkan ku dengan Kak Yu’er. Kami berusaha keras untuk tetap bertahan hidup. Untungnya… Kak Yu’er berhasil menjalankan perusahaan peninggala orang tua kami. Walau demikian aku merasa kesepian selalu… sendiri, sangat sendiri.” Kata nya sedkit serak. Aku tak mengungbris sama sekali. “… Aku juga pernah ingin bunuh diri karena kesepian.” Lanjut Xun dengan sneyum miris. “Diamlah.” Kata ku pelan. “Apa?” Tanyanya. “Ku bilang diam … Aku tak mau mendengar kesedihan mu. Dasar bodoh.” Kata ku menyuruhnya. “Benar juga. Baiklah.”  Balasnya. Aku pun melangkahkan lagi kaki ku tanpa arah tujuan. Ia tetap mengikuti ku bagai bayangan. Sesekali aku berhenti tiba –tiba. Membuatnya menanbrak ku dan ia hanya tertawa kecil. Sampai pagi pun tiba. “Matahari …? Indahnya.” Bisik ku berhenti. Aku pun menoleh ke belakang karena tak mendengar suara kakinya di belakang ku. “Xun …” Lirih ku. Melihat nya terbaring jauh beberapa kaki di belakang ku. Aku pun belari. “Xun!” Kata ku segera memeluknya. “Kau tak apa?” Tanya ku menepuk pipinya yang terasa hangat. Senyuman manis terukir di wajah nya yang pucat. “Maaf… Ayo kita lanjutkan lagi.” Katanya bangun. Dia pun berniat melanjutkan langkah kami. Aku melihatnya dengan air mata. “Xun …Kau kan bayangan ku.” Kata ku menghentikan nya. Ia melihat ku dengan wajah polosnya. “Tetaplah di belakang ku… sebagai bayangan ku. Tetap menemani ku… jangan pergi.” Kata ku dengan air mata. Ia tersenyum di hiasi sinar matahari fajar. Tangannya meraih wajah ku. Ia pun mencium bibir ku. Aku menutup mata.


            Setelah itu, kami pulang dan segera pergi ke sekolah. Saat dijalan hampir dekat sekolah kami berpisah. Agar tak membuat kecurigaan. Xun pun masuk sekolah duluan. Tak lama aku pun pergi. Sesampainya.  Entah kenapa, anak –anak di sekolah melihat ku dengan tatapan aneh. Aku melihat mereka bingung. Ku coba untuk hiraukan saja. Aku pun masuk ke kelas. Mereka pun sama melihat ku. Sepertinya mereka suadah tahu tentang penyakit ku juga. Mungkin Kak Yu’er yang member tahu. Sudahlah … dari awal sekolah hingga akhirnya pulang semua mencoba menghindar dari ku, tak ada yang ingin mendekati ku. Termasuk Reza dan Steven yang malah menghina ku.
           “Bagaimana sekolah mu cantik?” Tanya Xun kepada ku yang baru pulang. “Baik.” Kata ku menyembunyikan. “Sebentar lagi kita akan lulus, tenang saja.” Kata Xun seperti menyemangati ku. “Iya.” Jawab ku dengan senyum.
            Singkat cerita. Setelah ujian sekolah selesai kami semua pun di nyatakan lulus. Xun di ajak oleh team Nasional basket untuk bergabung. Dan itu seperti hadiah besar untuknya. Tanpa pikir panjang ia pun menerimanya. Kami tetap hidup bersama. Sayangnya, Kak Yu’er tampak menjauhi kami semenjak malam itu. Tapi… Kata Xun dia justru senang dan menyuruh ku utnuk tak memikirkannya.
            “Sei… Kemarilah.” Panggil Xun menepuk sebelah sofa, menyuruh ku duduk. “Ada apa?” Tanya ku seraya duduk di sebelahnya. Dia terdiam sejenak. “Ini untuk mu.” Katanya mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. “Apa itu?” Tanya ku. “Bukalah…” Katanya memberikan kotak itu. Aku pun menatapnya Tanya sebelum akhirnya membuka kotak. “Ini … Cincin?” Tanya ku tak mengerti. Dia mengangguk. “Untuk apa?” Kata ku kepadanya. “Aku melamar mu.” Katanya membuat ku terkejut. “WHAT!?” Kata ku sedikit tinggi. Ia tertawa. “Aisshh… Kau ini, kenapa?” Tanya nya dengan senyum. “Kau gila?” Tanya ku. Dia menggeleng. “Aku tak minta jawabannya sekarang. Kau bisa memikirkan dulu.” Kata nya bangkit meninggalkan ku.
            Malamnya. Aku tak bisa tidur sama sekali. Dan beberapa kali aku mencoba menghindar darinya. Aku bingung… Kenapa dia secepat itu memikirkan untuk menikah? Ah ! tidak! Dia gila! Kita laki –laki! Aku berkata demikian bukan karena tidak mencintainya. Melainkan aku sangat mencintainya …  Karena kita laki –laki aku tak bisa. Bagaimana jika orang lain tahu? Apa yang akan terjadi? Mereka tahu hubungan kami… mereka pasti akan menghina kami. Jika hanya aku sih taka pa… Tapi jika xun juga? Aishhhh … Aku memang senang ia mengatakan itu… Tapi… Apa kami bisa bahagia ketika banyak penolakan yang akan segera menghancurkan kami ???

Esok paginya. Aku berncana pergi ke tempat Xun. Hari ini dia agak sibuk karena harus menjadi model iklan. Ya, semenjak dia dan team nya menjuarai pertandingan se Asia dia mulai mendapatkan Job di bidang entertaint dan juga mendapatkan banyak Fans. Tak mengejutkan, Hal itu sudah sangat bisa untuknya yang sebagai anak popular di sekolah. Dia pun menjadi sangat super sibuk. Ya … Setidaknya dia bahagia. Taka pa…  Aku pun mencarinya. Untuk membicarakan masalah kemarin yang benar –benar membuat kiu terkjut. Aku ingin memintanya untuk meikirkan matang –matang.
“Permisi? Apa anda melihat Xun?” Tanya ku kepada Managernya yang berada di depan ruang rias yang bertulis ‘Xun Liu’. “Ah? Sebentar.” Katanya mengakhiri percakapan di telephone-nya dulu. “Ya?” Tanya nya. “Apa kau tahu Xun dimana?” Tanya ku ulang. “Ohw… Dia ada … Di…” Pria itu mencoba mengingat. Aku diam menunggu jawaban. “Ah! Dia tadi ijin ke toilet sebentar… Coba cari saja dia.” Kata Manager. “Ah terimakasih.” Kata ku dengan senyum.

Aku pun mencoba mencari nya. Tapi… Saat ku menemukannya. Langkah ku terhenti. Air mata ku pun tergumpal di seluk mata ku. Sakit sekali hati ku, napas ku pun terasa sangat sesak. “Xun …” Kata ku mendapatkan Xun sedang berciuman dengan seorang wanita. Wanita yang menjadi model bersama nya. Tak mungkin … Xun… Kenapa??? Kenapa kau seperti ini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar